Pengalaman Pertama Saya ‘Mengamuk’ di Bus Transjakarta

    DAMRI Inobus   Kali itu seperti biasa setiap habis jalan-jalan dengan BRT yang bernama Trans Jakarta itu saya selalu memotong di Kuningan Timur jika ingin ke halte Warung Jati dikarenakan lebih dekat walaupun penuh sesak dibandingkan dari stasiun pertama di Dukuh Atas 2. Malam ini antrian bejibun menunggu bus yang lumayan lama datangnya, namun sekalinya datang sekaligus langsung 5 bus berturut turut.

      Bus pertama agak kosong, namun karena antrian bejibun saya malas masuk dan memilih bus belakangnya lagi. Ternyata bus belakangnya lebih hancur lagi, sudah penuh, sesak pula, apa gara-gara ledakan penumpang di GOR Sumantri ya? Tetapi saya menemukan teman satu kos yang menyuruh saya masuk namun saya menolak dengan alasan saya mau naik bus belakangnya lagi.

      Nah, ternyata bus belakangnya memang kosong melompong. Padahal bus di belakangnya masih ada sekitar 2 buah lagi. Saya kira mau BBG, namun berhenti. Sontak saya langsung naik kegirangan campur khawatir, khawatir mungkin karena efek seringnya naik metro mini yang supirnya malas kalau mengangkut sedikit penumpang. Tapi biarlah, semalas-malasnya pramudi Bus Trans Jakarta paling cuma ogah bukain pintu doang.

      Di dalam bus ada 4 orang: supir, onboard, saya, sama petugas numpang yang lagi tidur. Singkatnya, sebagai penumpang memang saya sendirian, mana busnya digelapin lagi. Penghematan? I think not.

      Sesampainya di halte Mampang Prapatan, ternyata dugaan saya salah. Supir membukakan pintunya dan onboardnya memberi jeda untuk mencari barangkali akan ada penumpang yang mau masuk atau keluar. Duren Tiga dan Imigrasi pun demikian, membuat rasa khawatir saya berkurang namun bukan berarti telah hilang seratus persen.

      Saat hampir tiba di Warung Jati, saya justru punya perasaan gak enak, entah apa saya nggak mau diambil pusing. Saya lihat bus di depannya sedang menaikturunkan penumpang saya siap-siap berdiri takut tiba-tiba busnya jalan sewaktu saya mau turun. Sampai akhirnya bus berada tepat di depan halte, dan saya sudah berdiri siap keluar bus. Bus pun berhenti, ya, berhenti… Tapi kenapa pintunya nggak kebuka-buka? Kemudian setelah itu, eh? Busnya bergerak. Bergerak menjauhi halte. Wah kebangetan! Apa yang saya khawatirkan jadi kenyataan. Onboardnya aja tumben gak nengok ke belakang bahwa mau ada penumpang turun, apa memang sudah malas gara-gara 3 halte sebelumnya kosong ya? Biasanya kalo saya kalo sendirian suka ditanya, ‘mau kemana atau turun di mana mas’, tapi yang saya bilang tadi, nengok ke belakang aja nggak. Antara kesal, bingung dan panik, saya gedor saja pintunya.

      “Bog! Bog! Bog! Bog!”

      Bus berhenti, kayaknya pada kaget, setelah itu sang supir membukakan pintunya, tapi jarak tumpuan depan halte dengan pintu belakang bus udah jauh banget sekitar mungkin 1 meter-an, atau bahkan lebih.

      “Mundur! Mundur!” Teriak saya setengah ‘mengamuk’ pada saat itu.

      Saya baru sadar mundur adalah hal yang tidak mungkin mengingat bus di belakangnya sudah mengantri. Onboard pun menghampiri saya sambil berkata ‘belakang, belakang’. Posisi saya pada saat itu sedang memakai headset. Apa? Pindah bus belakangnya aja? Pada saat itu yang masih sempet saya pikirkan adalah 2 kemungkinan, apakah memutar jauh ke Buncit Indah dulu (kejauhan, lagipula udah malem banget), atau terjun dari bus (udah ada JPO, malu keless).

      Saya “ngapain tau” di dalam bus memang memakan waktu cukup lama hingga akhirnya saya memberanikan diri melangkah ke pijakan di pintu halte. Kata onboardnya ‘bisa, bisa (lewat belakang)’. Saya merasa sudah seperti James Bond saja pada saat itu, ini adalah kejadian ke-dua setelah belum lama saya mengalami hal yang serupa (namun tidak fatal hingga mesti menggedor-gedor pintu) di halte Setiabudi Utara AINI.

      Usaha saya berhasil, tapi saya tiba-tiba menjadi ‘artis dadakan’ di halte terkait mengingat petugas PAM malam, kasir, barrier, dan beberapa penumpang lain menonton sebuah acara bus yang mungkin mereka kira mogok itu. Saya malu aja nggak bisa, tapi kalo disebut geli ya memang malu juga. Kemudian PAM malam memberi isyarat kepada supir, ‘sudah, (nggak apa-apa) jalan..! jalan..!’.

      Saya keluar halte, barriernya sambil cengengesan menanyai saya, ‘itu kenapa mas?’. Maka saya jawab,

      “Saya sudah berdiri, tapi pintunya nggak dibukain. Saya gedor aja pintunya. Mungkin saya penumpang sendirian supirnya lupa kali…”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mungkin dia lelah…

2 Comments:

  1. Mungkin maksudnya, “keluar dari pintu belakang”?

    Kalau pintu depan sudah terlewat, pintu belakang masih bisa?

    • Jadi bus dan haltenya 2 pintu, saya duduk paling belakang. Ketika saya ingin turun dan sudah berdiri di depan pintu belakang, justru supir tidak membukakan pintu dan melanjutkan jalan.

      Saya gedorlah pintu belakang bus dan supir mengerem.

      Akhirnya saya masih bisa turun dari pintu belakang bus namun posisinya sudah bergeser ke pintu depan halte.

      Jadi turunnya sebenarnya tidak normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)