7 Alasan Mengapa Tidak Ada Hantu Busway

Transjakarta            Kebanyakan film horror yang sering tayang di beberapa layar tontonan pada dasarnya memang terjadi di dunia nyata walaupun sudah ditambah banyak bumbu-bumbu berupa alur cerita. Seperti hantu kereta Manggarai, hantu bus, hantu terminal dan lain sebagainya. Intinya mungkin segala jenis transportasi umum telah ‘dijamah’ oleh cerita-cerita mistik seperti ini, tak terkecuali taksi dan ojeg (meski pasif).

 

            Pikiran saya sempat menjadi ‘nakal’ mengingat hobi saya adalah jalan-jalan dengan menggunakan sebuah moda transportasi umum eksklusif murah yang terletak di Jakarta berupa Bus Rapid Transit yang bernama Transjakarta. Mungkinkah suatu saat nanti ada sebuah cerita horror yang bertema Hantu Busway atau semacamnya? Namun setelah dipikir-pikir rasanya seperti agak membuang-buang waktu untuk membuat ide cerita seperti itu. Jujur saya akan berdecak kagum secara hebat jika benar-benar ada orang yang mengolah gagasan tersebut secara sempurna.

 

            Alasan mengapa saya tidak terlalu berminat menuangkan pikiran saya atas konsep cerita nyata atau fiksi yang bertema tersebut diatas adalah :

 

1. Terletak di tengah jalan.

 

            90% lebih halte busway terletak di tengah jalan membuat hantu mungkin malas untuk ‘hinggap’ di sana. Apalagi jika memang peraturannya harus masuk melalui JPO a.k.a Jembatan Penyebrangan Orang.

 

2. Terletak di tempat yang ramai.

 

            Saya punya keyakinan tersendiri bahwa tidak akan ada halte busway jika tidak ada jalan lain atau gang didekatnya. Lagipula kebanyakan halte memang dibangun di tempat yang kira-kira ramai dan padat penduduk seperti banyaknya pejalan kaki atau pengendara yang lalu lalang di sekitarnya.

 

3. Area sangat sempit dan tidak menyenangkan.

 

            Seluas-luasnya halte Transjakarta tidak seluas bangunan-bangunan di sekelilingnya meskipun halte itu adalah Harmoni Central Busway. Lagipula memang banyak jalan keluar yang dapat diakses sehingga cerita akan cepat berakhir dalam hitungan detik mikro. Ibaratnya baru aja mulai udah kelar. Boring…

 

4. Bus memiliki jalur khusus

 

            Betul-betul sangat tidak lucu jika ada penggagas tentang hantu busway meluapkan ide ceritanya seperti cerita-cerita bus hantu lainnya. Jika diambil contoh, seseorang yang masuk ke dalam bus Transjakarta lalu penumpang tersebut ‘dibawa kabur’ oleh busnya lalu dengan irama plot yang super tidak jelas tiba-tiba bus tersebut masuk ke dalam jurang. Jika memang ada orang yang serius akan ide seperti itu saya harap dia menyempatkan waktu untuk mengunjungi sebuah rumah sakit yang terletak di Grogol (if you know what I mean).

 

5. Banyak keluhan tentang ‘petugas galak’

 

            Sudah tidak dapat ditutup-tutupi tentang buruknya pelayanan Transjakarta terutama atas keramahan petugasnya dalam hal ini kebanyakan adalah kasir. Hingga mungkin BLU kesal atau sesuatu membuatkan seragam khusus 4S untuk kasir Transjakarta walaupun sebenarnya banyak kasir yang memang sangat ramah dan mudah tersenyum.

 

            Lagi-lagi benar-benar gagal menjadi film horror jika pada saat itu ada penumpang hantu yang membeli tiket di loket yang kebetulan kasirnya yang memang lagi sangat tidak bagus mood-nya. Namun, setidaknya hantu penumpang tersebut bisa menang pada akhirnya… iya, hantu itu menang… menang-is…

 

6. Tidak bisa menjadi tempat gelap

 

            Saya rasa tidak usah panjang lebar dibeberkan, mengingat lokasi di tempat ramai, dan halte penuh kaca dan lubang saya rasa halte-halte busway pasti tetap tersorot lampu-lampu disekitarnya.

 

7. Pelayanan tutup jam 23.00 dan paling terakhir jam 23.30

 

            Ini sebenarnya alasan utama mengapa sangat susah untuk membuat cerita horor yang mengangkat tema Bus Rapid Transit (BRT) ini. Sehingga mungkin saya membuat sebuah cerita garing.

 

Stasiun :

 

Ada penumpang perempuan yang memakai gaun putih duduk sendirian.

Petugas : “Mbak, kok sendirian disini?” (Menggoda)

Penumpang yang dimaksud kemudian menengok petugas dengan kondisi muka yang amburadul.

Petugas : “Se… se… setaaannn!” (Ngompol)

 

Terminal :

 

Ada penumpang perempuan yang memakai gaun putih duduk sendirian.

Warga : “Mbak, kok sendirian?” (Menyapa)

Penumpang yang dimaksud kemudian menengok petugas dengan kondisi muka yang amburadul.

Warga : “Se… se… setaaannn!” (Kabur)

 

Halte Busway :

 

            Ada penumpang perempuan yang memakai gaun putih duduk sendirian.

PAM Halte : “Mbak…?” (Penasaran)

Penumpang yang dimaksud kemudian menengok petugas dengan kondisi muka yang amburadul.

PAM Halte : “Harap tidak membuat keanehan di sini. Lagipula mbak harus keluar dari sini. Haltenya udah tutup.”

Hantu : Gabrukkk…

 

Yahhh, begitulah…

2 Comments:

  1. Pingback: Kasir kasir Jutek TransJakarta | agus.com

    • Hal ini dikarenakan sebagian besar petugas lapangan adalah lulusan SMA yang nyatanya belum belajar yang namanya manajemen resiko, customer behavior, dan etos kerja. Bahkan mungkin Transjakarta itu sendiri belum mengajarkan kepada mereka bahwa penumpang adalah customer yang harus diperlakukan seperti raja karena uang gaji mereka berasal dari penumpang.

      Saya aktif menegur petugas dan melaporkan mereka yang membuat penumpang tidak nyaman, bahkan saya pernah menemui langsung direktur utamanya untuk membahas masalah terkait.

      Kamu benar sekali nilai jual mereka masih kalah jauh dengan petugas di minimarket yang selalu mengucapkan salam dan berterima kasih kepada customer. Itulah alasan mengapa sebagian besar mereka takut dipecat.

      Sekarang PT Transjakarta memiliki layanan pengaduan khusus lewat Twitter. Mention saja apa yang membuat tidak nyaman ke @PT_Transjakarta. Insya Allah direspon.

      Terima kasih banyak ya kunjungan dan komentarnya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *