Gadis Danau Agung

  Transjakarta          Sore itu seperti biasa ketika berada di dalam bus Trans Jakarta saya selalu mencari-cari halte yang akan disinggahi untuk menunaikan shalat maghrib. Kebetulan pada saat itu saya berada di koridor 12 yang memiliki rute yang bermula dari Landmark Auto Plaza Pluit hingga Sunter Boulevard Barat, tepatnya berada di jalan Landasan Pacu. Karena saya pernah singgah di halte Landasan Pacu Timur sebelumnya, saya berinisiatif ingin turun di halte setelahnya, yaitu halte Danau Agung.

            Setahu saya halte tersebut memiliki posisi yang cukup buruk untuk ukuran sebuah halte Trans Jakarta. Dengan sebab sebelah kiri halte tersebut hanya terdapat sekumpulan usaha-usaha kecil yang menjual kerajinan seperti pot bunga dan lain-lain bersinggungan dengan Kali Sunter. Sementara yang sebelahnya lagi hanya tembok pabrik dan terdapat taman kanak-kanak di sampingnya dengan sebuah gang yang saya tidak yakin terdapat perumahan penduduk di dalamnya.

            Jadi, ketika saya turun untuk mencari masjid di area tersebut, saya suka mengikuti beberapa warga yang memang turun di halte yang bersangkutan pula untuk memudahkan pencarian. ‘Feeling’ saya mereka akan turun dengan mengambil tangga yang bersebelahan dengan tembok yang barusan saya tulis di atas karena tidak jauh dari sana terdapat gang. Namun dugaan saya ternyata salah, beberapa orang mengambil jalur kanan (sebelah kiri halte) untuk turun. Hanya satu orang yang mengambil jalur yang mengarah ke tembok dekat gang tadi.

            Kebetulan yang saya ikuti pada saat itu adalah seorang gadis yang mengambil jalur kanan. Beneran? Ya sudah saya ikuti. Gadis yang mungkin seusia saya tersebut berjalan melewati usaha-usaha pot bunga tersebut, kondisi jalan pun lumayan parah dengan banyaknya tanah-tanah merah lagi tergenang walaupun sebelahnya aspal jalanan. Apa ini? Tidak disediakan trotoarkah?

            Saya jalan mengikuti dan terus mengikuti gadis itu, saya bingung karena sudah lebih dari 100 meter saya belum mengerti ke mana tujuan gadis tersebut. Akhirnya setelah beberapa ratus meter berjalan, akhirnya saya bertemu dengan jembatan besar yang menghubungkan ke kawasan yang bernama Sunter Muara. Di sanalah terdapat perumahan penduduk, dan memang para penumpang tadi yang turun termasuk gadis tersebut semua mengarah ke sana. Saya pikir apakah mereka setiap hari juga berjalan seperti ini demi mendapatkan sebuah transportasi? Apalagi yang saya tahu memang koridor 12 memiliki headway (waktu tunggu) yang sangat buruk.

            Saya tetap mengikuti gadis tersebut selama saya belum menemukan masjid. Bagus, kini saya berada di daerah asing yang saya pun tidak kenal. Saya mengikuti gadis tersebut semakin menyusuri daerah tersebut hingga menuju ke pedalaman. Saya pikir sudah lebih dari 500 meter jalan mengikuti si gadis tersebut dan saya masih belum menemukan masjid. Lalu di mana rumah gadis itu? Sepertinya dia tidak tahu jika saya terus mengikutinya, dia tetap berjalan dengan anggun walaupun nafas saya seperti sudah di ambang tenggorokan karena lelahnya.

            Sampai kemudian saya berhasil menemukan gadis itu masuk ke sebuah lorong kecil yang saya pikir itu akses menuju rumahnya. 500 meter lebih dari halte, mungkin hampir satu kilometer yang pada kenyataannya rumahnya persis di seberang halte tersebut karena terhalang kali. Saya tidak habis pikir, setiap hari dia berjalan ke halte dengan jarak yang menurut saya cukup jauh, apalagi saya tidak bisa memikirkan jika suatu waktu gadis tersebut teringat ada barangnya yang penting tertinggal ketika ia sudah berada di halte.

            Saya teringat dengan keadaan kaum muda sekarang yang memang terlalu mengandalkan kendaraan sehingga mereka tidak mau jika disuruh jalan walau sedikit saja. Gadis tersebut mungkin cocok menjadi motivasi mereka yang nyata-nyata lebih cepat mengeluh dibandingkan dengan perjuangan-perjuangan orang-orang tua dulu yang menempuh jarak hingga lebih dari 2 kilometer setiap hari ketika menuju ke sekolah. Tentu ini merupakan hal yang berbanding terbalik 180 derajat melihat kebanyakan kaum muda saat ini hanya berpaku tentang penampilan fisik, namun bermental manja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)