Review Halte Transjakarta, Koridor 1 (04/05/2015)

 Transjakarta    Koridor 1 Transjakarta adalah koridor Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan Terminal Blok M sampai Halte Stasiun Kota. Jalan-jalan yang dilalui koridor 1 adalah sepanjang Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Trunojoyo, Jalan Sisingamangaraja, Sudirman, MH Thamrin, Medan Merdeka Barat, dan Gajah Mada/Hayam Wuruk. Koridor ini terintegrasi dengan Stasiun Sudirman di halte Dukuh Atas dan Stasiun Jakarta Kota di halte Jakarta Kota yang melayani KA Commuter Jabodetabek. Jika MRT selesai dibangun, koridor tersebut akan terintegrasi dengan MRT. Dimulai dari Blok M, berakhir di Stasiun Kota.


  • Blok M

     Nama halte ini berasal dari nama daerah tersebut, yakni Blok M. Memiliki posisi halte yang terhubung langsung dengan pusat perbelanjaan Blok M Square (bukan Blok M Plaza) dan terminal Blok M. Pintu penurunan terpisah dengan pintu masuk, sehingga penumpang yang turun di sini wajib membayar kembali untuk berputar arah.

     Kadang proses penurunan penumpang halte yang terletak di jalur 1 di terminal Blok M ini sangat padat bahkan hingga bus-bus mengantri di belakangnya, sehingga tak jarang penumpang diturunkan di pintu darurat di samping pramudi. Dan tak jarang pula mereka yang tidak ingin mengantri di halte penurunan serta naik turun tangga memasuki pintu keluar, dengan senang hati melompat dari ketinggian halte sekitar 1 meter lebih ke arah terminal.

  • Masjid Agung

     Dinamakan Masjid Agung karena berdiri sebuah masjid agung yang bernama Al-Azhar serta kampusnya di dekat halte tersebut. Merupakan salah satu halte yang memiliki insiden tragis di mana sebuah bus yang -baru- dioperasikan langsung oleh PT. Transjakarta tanpa bantuan operator lain sekitar 1 bulan meledak hebat hingga melelehkan sebagian halte ini. Kejadiannya pada peak hour pagi namun untungnya tidak memakan korban jiwa.

     Karena memang sebelumnya halte ini direncanakan akan dirubuhkan oleh pihak MRT, maka dibuatkan 2 buah halte kecil di sebelah kiri jalan yang kurang efisien (karena lajur Transjakarta biasanya memang di sebelah kanan) di mana pernah terjadi insiden skala kecil yang menyebabkan bus tergelincir dan menabrak halte 2 pintu tersebut persis di sebelah masjid.

  • Bundaran Senayan

     Di dekat halte tersebut terdapat sebuah bundaran yang bernama Bundaran Senayan. Seseorang pernah mengeluhkan sembari bergurau bahwa jarak halte dan bundaran yang dimaksud memang lumayan jauh. Sebelumnya, halte ini berada di utara, namun seiring adanya proyek MRT, haltenya dipindahkan ke arah selatan dengan nuansa baru.

  • Gelora Bung Karno (GBK)

     Nama halte tersebut diambil dari nama Stadion di dekatnya. Merupakan satu-satunya halte di koridor 1 untuk saat ini yang masih memiliki 1 pintu sehingga penumpang dipaksa turun di pintu tengah karenanya. Belum lagi jikalau ada sebuah pertandingan atau ada acara penting di stadion, ditambah lagi ukuran halte yang lumayan sempit, membuat antrian pada saat itu terasa di ‘Nusakambangan’.

  • Polda (Metro Jaya)

     Halte ini dinamakan demikian karena terdapat kantor Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya di dekat halte tersebut. Sama seperti Bundaran Senayan, hanya saja halte ini dipindahkan ke arah utara sehubungan proyek MRT, yang seharusnya menjadi transit penting ke halte Semanggi dikarenakan jaraknya yang semakin dekat dan arahnya telah sangat memungkinkan.

  • Bendungan Hilir (Benhil)

     Nama halte ini berasal dari nama kelurahan setempat, yaitu Bendungan Hilir. Yang saya sangat tidak suka dari halte ini adalah rampnya yang tepat di depan halte sangatlah curam. Mungkin sekitar 45 derajat, atau lebih.

  • Karet (Punah)

     Letaknya yang di bawah Flyover Karet itu kini tinggal kenangan, karena proyek MRT.

  • Karet 2

     Pengganti Karet 1 yang telah tergusur, pihak MRT menggantinya dengan sebuah halte yang terletak antara Karet 1 dengan Setiabudi. Dengan memanfaatkan JPO yang sudah ada serta dengan headline berita yang saya temukan di internet di mana bunyinya adalah “Akses masuk halte Karet (2) tidak ramah terhadap disabilitas” (Karena akses JPO memakai tangga lama). Dan pihak MRT dituding tidak bertanggung jawab akan hal ini.

     Suatu lawakan goreng (ehm, garing…) yang menyebutkan bahwa kini halte Karet yang baru memberikan nuansa yang tidak pedas. Mengapa? Karetnya 2.

  • Setiabudi (Punah)

     Idem dengan Karet 1, karena proyek MRT.

  • Dukuh Atas 1

     Dukuh Atas adalah nama perkampungan yang terletak di sudut barat daya Kecamatan Menteng, yang menjadi nama halte tersebut. Halte ini terhitung jauh dari stasiun Sudirman meskipun halte ini ialah halte yang paling dekat dengan stasiun tersebut. Lebih disarankan akses melalui halte Dukuh Atas 2 dengan alasan lebih dekat dengan stasiun.

  • Sudirman (Rencana)

     Halte rencana, ada dalam daftar kelola atau katalog ITDP yang menyebutkan bahwa akses masuk ke halte ini berasal dari terowongan flyover dengan alasan memudahkan para pengguna KRL dari stasiun Sudirman. Tidak diketahui penindaklanjutan akan dibangunnya halte ini.

  • Tosari ICBC

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan tersebut yaitu Tosari, sedangkan di samping halte tersebut terdapat menara ICBC. Halte ini adalah halte ‘pelarian’ semenjak halte Bundaran HI diluluhlantakkan.

  • Bundaran HI (Punah)

     Nama Halte ini berasal dari nama sebuah bundaran yang terletak tidak jauh dari lokasi, yaitu Bundaran Hotel Indonesia. Bagus, strategis, namun itu dulu sebelum akhirnya menjadi satu nasib seperti halte Karet 1 dan Setiabudi.

  • Sarinah

     Nama halte ini berasal dari nama pusat perbelanjaan yang terletak di sebelah halte tersebut, yaitu Sarinah. Juga masih termasuk halte ‘pelarian’ dari halte Bundaran HI.

     Kilas Balik : Sarinah adalah sosok perempuan paruh baya yang mengisi hidup Sukarno kecil. Ia menjadi bagian dari keluarga Sukarno. Ia tidak kawin. Ia tinggal, makan, dan bekerja di rumah keluarga Bung Karno. Sekalipun begitu, Sarinah tidak membayar, tidak pula mendapatkan upah.

  • Bank Indonesia

     Terdapat Bank Indonesia persis di samping halte tersebut yang kemudian menjadi nama halte ini. Salah satu ironi, jika ingin ke Monumen Nasional (Monas), turun di halte ini, jangan di halte Monas. Apa-apaan?

  • Monumen Nasional (Monas)

     Lebih cocok dinamai halte Museum Nasional dikarenakan letaknya lebih dekat dengan museum tersebut. Namun balik lagi dalam kaidah penulisan halte Transjakarta, di mana yang terdengar lebih umum selalu mengalahkan yang di bawahnya. Nama ini cukup menipu karena sebenarnya akses masuk ke dalam Monas lebih dekat dari Bank Indonesia.

     Ngomong-ngomong, ini adalah halte pertama yang menggunakan zebra cross dan lampu lalu lintas sebagai akses masuk.

  • Harmoni (Central Busway)

     Nama halte ini berasal dari sebutan masyarakat untuk wilayah setempat yang diambil dari nama Gedung Harmonie yang pernah berdiri di daerah itu. Merupakan halte terbesar Transjakarta sejauh ini walaupun tadinya hanya 1 pintu yang sekarang menjadi pintu masuk bagi penyandang disabilitas arah Kota (juga sering dipakai untuk pintu penurunan) dan pintu masuk koridor 2 untuk arah Blok M.

     Halte ini menampung hingga 4 koridor utama dan 4 koridor lanjutan. Namun saya kerap menjuluki halte ini sebagai halte yang paling tidak ramah. Kepenuhsesakan yang mewarnai halte ini hari-harinya mungkin cukup untuk dibuat sebuah kampung tersendiri dengan sebuah ketua RT, dan RW.

     Transit terbaik dari halte ini hanya untuk koridor ini dan koridor 8A (Juanda – Tomang) jika dihitung dari frekuensi kepadatannya. Selebihnya, sebaiknya halte ini dihindari.

  • Sawah Besar

     Nama halte ini berasal dari nama daerah tersebut, yaitu Sawah Besar. Namun jauh dari stasiun Sawah Besar, dan dekat dengan pusat perbelanjaan Gajah Mada Plaza. Di sini adalah tempat terbaik jika ingin transit ke Tanah Abang menggunakan Mikrolet 08 melalui Jalan Kesehatan, dengan melewati 3 koridor sekaligus.

     Yang saya sukai dari halte ini adalah akses menuju halte menggunakan ramp dengan 2 kelokan (biasanya hanya 1, kecuali sumur Bor), ditambah lagi dengan adanya daun-daun pohon yang ditanam di bawahnya mencuat masuk ke dalam akses masuk membuatnya seperti sedang berjalan-jalan di Botanical Garden.

  • Mangga Besar

     Nama halte ini berasal dari nama permukiman setempat, yaitu Mangga Besar. Sama seperti sawah besar, halte ini juga jauh dari stasiun Mangga Besar. Sudah.

  • Olimo

     Nama halte ini berasal dari nama perusahaan Belanda, NV Olimo, yang terletak di sudut Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Mangga Besar. Bus Gandeng yang dioperasikan oleh DAMRI sempat salah menuliskan nama halte ini dengan tulisan “Polimo”. Sebagian besar telah diganti namun sisanya mungkin masih bergentayangan jika announcernya memang masih hidup. Merupakan jarak halte terdekat dengan yang lainnya dikarenakan dari halte Mangga besar hanya berjarak kurang lebih 300 meter.

     Sebuah gedung besar kembar yang berada persis di sebelah halte ini sebenarnya merupakan akses masuk ke dalam pemukiman warga yang diawali dengan adanya mushalla warga yang menempel di belakang gedung tersebut.

  • Glodok

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yaitu Glodok. Dekat dengan LTC Glodok, merupakan halte pertama dengan struktur tangga ‘khas’ Busway ke arah JPO yang lurus tanpa kelokan. Haltenya saya kira tadinya hanya satu pintu, kemudian mungkin karena suatu alasan (mungkin frekuensi penumpang) maka halte ini diperpanjang dengan desain halte seperti koridor 11. Mungkin karena memang pada saat itu sedang dibangun koridor 11.

     Salah satu halte paling strategis selain Sarinah dan Sawah Besar. Dekat dengan pusat perbelanjaan, pemukiman, dan masjid yang berlokasi di Jalan Kemurnian IV di mana masjid ini memiliki struktur aneh, yaitu ada miniatur dengan kubah di atas kanopi masjid. Bagaimana caranya?

  • Kota

     Nama halte ini berasal dari nama wilayah Kota Tua Jakarta, termasuk stasiun Kota. Juga merupakan akses terdekat dari koridor ini untuk berkunjung ke Museum Fatahillah. Jangan bingung untuk mencari akses masuk ke dalam halte ini karena ada terowongan khusus yang mengarah ke dalam ruang bawah tanah di mana terdapat ramp indah melingkar untuk tiba di halte ini.

     Tidak perlu memutar kembali untuk berputar arah dari halte ini karena memang diperuntukkan juga sebagai transit koridor 12 (Pluit – Tanjung Priok).


‘Sedikit’ Galeri Koridor 1

Sarinah

Sarinah

Olimo

Olimo

Ekstensi Halte Glodok

Ekstensi Halte Glodok

Halte Karet Kenangan

Halte Karet Kenangan

Dalam Bus Koridor 1

Dalam Bus Koridor 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)