Review Halte Transjakarta, Koridor 10 (07/03/2016)

Transjakarta Koridor 10      Koridor 10 Transjakarta adalah koridor Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan Terminal Tanjung Priok dan Halte PGC 2. Jalan-jalan yang dilalui koridor 10 adalah sepanjang Jalan Enggano, Jalan Yos Sudarso, Jalan Ahmad Yani, Jalan Mayjen DI Panjaitan dan Jalan Mayjen Sutoyo. Koridor 10 terintegrasi dengan KRL Commuter Line di Stasiun Jatinegara dan Stasiun Tanjung Priok (mulai 1 April 2015). (Wikipedia)


  • Tanjung Priok

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Tanjung Priok. Lokasi haltenya berada di tengah-tengah pelabuhan dan stasiun Tanjung Priok, namun akses ke pelabuhan kini telah di tutup sehingga akses ke pelabuhan paling dekat kini berada di Enggano.

     Untuk sekedar informasi, ini merupakan halte busway yang paling utara di Jakarta, mengingat halte Pluit masih cukup tanggung untuk berbatasan dengan pantai utara. Ancol? Apalagi, meski dekat dengan pantai, namun posisinya masih terhitung di pusat.

  • Enggano

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yakni jalan Enggano. FYI, nama-nama jalan di sini memang di ambil dari nama-nama pulau di Indonesia timur seperti di sebelahnya ada jalan raya Sulawesi, dan seterusnya. Halte ini memang dibiarkan saja tergeletak bebas di median jalan raya dengan bermodal lampu lalu lintas sebagai akses masuk.

     Uniknya, halte ini menyajikan nuansa yang tidak biasanya dirasakan di halte-halte busway yang lain. Mungkin sekali seumur hidup boleh mampir di sini daripada melulu mengabadikan diri di atas gunung karena ini adalah salah satu tempat hiburan yang paling direkomendasikan di Jakarta. Mengapa? Tempat menunggu bus yang super sempit dan bahkan hampir tidak berbentuk lagi ini menawarkan simulasi gempa beberapa skala richter yang diberikan oleh truk, kontainer, dan tronton yang berlalu-lalang di sekitar halte ini menuju, atau dari pelabuhan. Jika sedang bongkar muat, macetnya hingga ke Cempaka Mas!

     Di samping itu kanan kiri halte ini dihiasi oleh dunia gemerlap, mungkin anak-anak harus dikontrol di area ini karena sebagian besar area ini adalah area 17+. Bahkan kadang-kadang atau hampir setiap malam, halte ini tidak dinyalakan lampunya.

     Sedangkan para calon penumpang yang ingin menggunakan halte ini kebanyakan bermukim di seberangnya seberang halte ini, jadi mereka harus menyebrang setidaknya dua kali untuk menggapai halte ini.

     Sesuai namanya, Enggano, dalam bahasa lain, halte ini memang menyuguhkan hal yang tidak-tidak (Engga + No).

  • Permai Koja

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yaitu Koja. Kawasan tersebut juga terdapat daerah yang disebut daerah Permai. Jadi saudara-saudari sekalian, kata “Permai” yang disematkan ke dalam nama haltenya hanya nama daerah saja, terlihat disekelilingnya, nama pasar kebanyakan ada kata “Permai”nya, seperti Pasar Ular Permai, dan Pasar Permai Lorong.

     Di luar itu, ini merupakan salah satu halte yang paling ramah pemukiman penduduk, bahkan masjid dan pusat perbelanjaan di wilayah Jakarta yang paling utara. Di apit Jalan Kebon Bawang dan Jalan Lorong yang isinya rumah penduduk semuanya. Horeeee…

     Halte ini sempat terbelah dengan menggunakan emperan seperti gelandangan untuk ukuran halte Bus Rapid Transit karena pengerjaan Jalan Layang Tol Pelabuhan hingga menyentuh halte Plumpang. Sekarang haltenya sudah bagus, dan emperannya dibuat hal yang lain atau dipindahkan.

  • Walikota Jakarta Utara

     Berlokasi gedung Walikota Jakarta Utara dekat halte ini. Halte ini juga berlokasi tepat di depan Gelanggang Olahraga Remaja. Sama seperti halte Koja, tadinya sewaktu pembangunan belum rampung dan belum tersambung dengan JPO, halte ini juga memakai halte gelandangan. Namun setelah rampung, halte ini mendapatkan 2 buah keunikan, yaitu sebagai satu-satunya halte di koridor 10 yang terbelah seperti koridor 9 karena terpisah tol, dan sebagai satu-satunya halte Transjakarta yang paling tinggi akses ke JPOnya.

     Letak haltenya cukup strategis apalagi di sisi timur terdapat akses ke perumahan penduduk dan sebuah sekolah SMA, bahkan hingga kantor Imigrasi Jakarta Utara.

  • Plumpang Pertamina

     Halte ini terletak di Plumpang, di dekat depot Pertamina. Sebenarnya saya punya banyak pembahasan mengenai halte ini sebelum diubah bentuknya seperti yang sekarang, jadi halte ini memiliki 3 fase perubahan letak. Pertama, haltenya normal di bawah flyover dengan JPO tanggung (saya tidak begitu bisa menjelaskan yang ini). Kedua, karena pembangunan, haltenya diluluhlantakkan dan ‘mayat’nya dibuang di dekat halte Walikota Jakarta Utara, sehingga jadilah halte ini memakai mode emperan bin gelandangan. Kemudian yang terakhir, haltenya kembali di bawah flyover dengan desain unik dari pengembang pembangunan jalan tolnya.

     Sisanya, haltenya cukup ramah pemukiman penduduk di sebelah baratnya, dan agak sayang, di sebelah timurnya justru posisinya agak jauh dari jalan Plumpang Semper.

     Hint : Lihat halte ini dari Google Earth, bangunan aneh seperti jerawat putih besar-besar di sampingnya adalah depot pertamina.

  • Sunter Kelapa Gading

     Nama halte ini berasal dari nama kecamatan setempat, yakni Sunter. Juga berada di keluarahan Kelapa Gading. Di dekatnya berdiri pusat perbelanjaan besar Artha Gading. Oke cukup, saya sudah membenci halte ini, saya skip saja.

     Syarat sebuah halte berdiri adalah di dekatnya ada pemukiman penduduk. Tapi halte Bank Indonesia? Halte Bank Indonesia -ada- perumahan penduduk, meskipun agak jauh di Kebon Sirih atau di Kampung Bali. Halte Monas juga ada di Abdul Muis.

     Sebetulnya di halte ini juga ada pemukiman penduduk, namun terakhir saya kaget sekali melihat apa yang menjadi jantung administrasi halte ini justru telah rata dengan tanah. Yup, digusur! Sekarang jika bukan karena Mall Artha Gading yang setidaknya dapat meng-handle halte ini, sebaiknya halte ini juga ikut diratakan saja.

     NB : Ini merupakan halte awal di koridor 10 yang akan seterusnya dipayungi oleh flyover tol dalam kota, yang sebenarnya haltenya tidak perlu memakai atap…

  • Yos Sudarso Kodamar

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yakni Jalan Laksamana Yos Sudarso. Di dekatnya terdapat jalan yang bernama Kodamar. Nama halte ini juga sering di sebut dengan Astra Honda Motor. Iya, kendaraan roda dua bermerek Honda yang sering kalian pakai sebagian besar diproduksi di sini, dan lokasinya persis di depan halte ini.

     Sedangkan sisi satunya terdapat perumahan penduduk yang bernasib sama seperti apa yang terjadi di halte Pedongkelan. Yang tabah ya, yang tangguh ya, yang prihatin ya… Nama jalannya pun bertuliskan demikian, akses halte memang cukup jauh. Padahal mengapa tidak dibuatkan terusan saja seperti halte Central Park. (Mulai curiga dan berprasangka buruk)

  • Cempaka Mas

     Halte ini berada di dekat ITC Cempaka Mas. Seperti biasa, tanpa kata ITC, Transjakarta mungkin tidak ingin pusat perbelanjaan menjadi asal penamaan haltenya. Yang menjadi keunikan dari Koridor 10 dan tidak dimiliki koridor lain adalah, beberapa haltenya tidak memiliki akses masuk dikarenakan transit. Jadi harus masuk ke halte yang milik koridor lain, kemudian berjalan jauh melewati jembatan transit atau SWPA supaya menggapai koridor ini.

     Sisanya sudah dibahas di Cempaka Timur, Koridor 2.

  • Cempaka Putih

     Nama halte ini di ambil dari nama daerah setempat, yaitu Cempaka Putih. Oke halte ini memiliki banyak landmark seperti Hotel Patra Jasa, Rumah Sakit Pertamina Jaya, PT. Gudang Garam, dan sebagainya di sisi barat, serta sebuah gang mungil yang menghubungkan ke kawasan elit Cempaka Putih.

     Sedangkan sisi satunya, eewwww…. Sebuah ramp yang tidak berujung, masuk lorong gelap menuju industri-industri kecil yang saya tidak tahu saya menyasar di mana ini. Mungkin untuk sisi timur ini pembahasannya akan dilanjutkan di Pulomas Bypass.

  • Pulomas Bypass

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, Pulo Mas. Nama halte ini juga dulunya bernama Pacuan Kuda, dikarenakan terdapat arena pacuan kuda yang terletak agak jauh dari letak halte tersebut. Di daerah tersebut tepatnya di Jalan Pulomas Utara terdapat hotel yang bernama ‘Bypass Inn’. Sebelum mengarah kemana-mana, saya ingin membahas nama haltenya. Bypass… BYPASS??? The hell is that?! Nama halte paling aneh, padahal tadinya nama halte ini adalah Pulomas Pacuan Kuda, mungkin karena jauh lokasi pacuan kudanya, maka bypassnya inilah yang menjadi sasarannya. Penamaannya sepertinya mengikuti nama halte kecil bus reguler yang ada di pinggir jalan di dekatnya. I have no idea.

     Jadi halte ini 11-12 dengan halte Cempaka Putih, bahkan jalan raya Pulomas di tengahnya seperti menjadi cermin besar karena kedua belah halte ini terutama yang di sisi timurnya seperti tidak ada bedanya. Di sisi timurnya seperti Cempaka Putih, ramp tidak berujung menyelongsong jauh ke haribaan ibu kota, menjauhi jalan raya Pulo Mas, baik Cempaka Putih, maupun ini. Sehingga seorang calon penumpang pernah mengeluh karena lokasinya di jalan raya Pulo Mas harus memutar jauh mencari di mana akses masuk halte ini disebabkan desain rampnya nggak ketulungan.

     Di sisi baratnya normal, jadi halte ini dan halte Cempaka Timur sama-sama diapit daerah elit Pulo Mas dan Cempaka Putih.

  • Kayu Putih Rawasari

     Halte ini berada di antara kawasan Kayu Putih dan Rawasari. Saya inginnya di jalan Metro Jaya juga dibangun halte karena daerah ini benar-benar potensial untuk berdirinya sebuah halte busway. Tapi lupakan saja walau memang cukup membuat sedih, karena kehadiran halte ini benar-benar dapat membuat senyum, meski hanya sedikit…

     Kawasan yang strategis, ramah perumahan, masjid, sekolah, kampus, kantor, apartemen, pasar, dan lain sebagainya, membuat keanehan dua halte sebelumnya menjadi sesuatu yang tidak layak lagi diingat-ingat.

  • Pemuda Pramuka

     Halte ini berada di antara jalan Pemuda dan Pramuka. Nama lain halte ini adalah halte Pramuka BPKP 2. Intinya sama seperti halte Cempaka Mas, masuknya harus dari halte Pramuka BPKPnya koridor 4. Suatu keunikan koridor 10, memang. Dikarenakan mungkin jika dibuatkan akses masuk di halte ini tidak ada yang akan mau naik karena sekeliling halte ini tidak ditemukan pemukiman penduduk.

  • Utan Kayu Rawamangun

     Halte ini berada di antara kawasan Utan Kayu dan Rawamangun. Kebalikan dari Kayu Putih Rawasari yang hanya dipisahkan oleh Pemuda Pramuka. Koridor ini sangat dramatis. Kedua halte tersebut yakni Utan Kayu Rawamangun dan Kayu Putih Rawasari yang sama-sama didahului oleh Kayu dan kemudian Rawa, sama-sama dihubungkan oleh lampu merah, sama-sama memiliki tangga di sebelah barat dan ramp di sebelah timur, seakan-akan halte Pemuda Pramuka sebagai pemisah yang sangat berarti karena jarak keduanya hampir sama jika dihitung dari Pemuda Pramuka. Apaan sih?!

     Kurang lebih haltenya cukup ramah penduduk di sisi barat, dan sisi timurnya khusus untuk orang yang hobi bermain golf. Jakarta Golf Club berada persis di sebelah halte ini, dan tidak ada halte lagi setelahnya hingga lahan golf ini berakhir.

  • Ahmad Yani Beacukai

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yaitu Jalan Jendral Ahmad Yani. Di dekat halte ini berlokasi gedung Bea Cukai. Saya benar-benar menyukai halte yang satu ini, terletak di tengah-tengah, di mana sangat ramah rumah penduduk di sisi barat dan di sisi timur dengan sedikit berjalan di sebelah gedung Bea Cukainya.

  • Stasiun Jatinegara 1

     Nama halte ini berasal dari nama stasiun di dekatnya. Jujur sebenarnya saya ingin bilang bahwa nama haltenya “Salah”! Harusnya nama halte ini Flyover Jatinegara 1 karena dari halte ini ke stasiun yang dimaksud jaraknya tidak main-main. Sebelum ada koridor 11, akses masuk ke halte ini nyempil di bawah flyovernya yang sekarang aksesnya sudah ditutup karena seperti halte transit 10 lainnya, yang tidak memiliki akses masuk kecuali dari jembatan transit.

     Hati-hati saya katakan untuk menentukan mana arah PGC dan Tanjung Priok dari halte ini yang nyata-nyata tidak memiliki petunjuk arah dari bawah flyover, jujur saya telah tersasar di sini hampir 4 kali. Bahkan haltenya mencuat begitu saja di atas flyover bikin orang yang baru pertama kali melihatnya akan merasa jantungan. Halte yang aneh. Di bawah flyover pun penerangan seadanya. Lokasi uji nyali.

     Landmark halte ini adalah sebuah taman cantik yang mengelilingi halte, terima kasih sekali telah dibuatkan halte di sini. Pemukiman? Tenang kok, di seberang rel banyak…

  • Pedati Prumpung

     Halte ini berlokasi di kawasan Pedati dan Prumpung. Namanya jelas sekali dicatut dari halte bus reguler pinggir jalan di sebelahnya seperti Pulomas Bypass. Cuma satu hal yang paling membahagiakan di sini, haltenya terjun langsung ke wilayah pemukiman penduduk! Semoga bahagia ya, para calon penumpang… haltenya tinggal kepleset

  • Cipinang Kebon Nanas

     Halte ini berlokasi di kawasan Cipinang dan di dekat jalan Kebon Nanas. Satu lagi halte yang cukup ramah pemukiman penduduk di sebelah barat, dekat dengan kampus di sebelah timur, dan kuburan cina. Hati-hati yang tujuan pulangnya lewat sisi timur ketika malam hari, periksa kakinya, mungkin tidak menapak tanah. Ya iya lah jeeng, eike kan pake selop…

     Nama haltenya masih mencatut dari nama halte bus reguler pinggir jalan di sebelahnya. Nggak kreatif. Tapi bukan masalah besar selama letak haltenya bagus dan strategis.

     Oh iya, ngomong-ngomong, akses masuk di sisi barat memakai tangga, tapi tolong jelaskan apa maksudnya pijakan anak tangganya dibuat kecil-kecil dan sangat banyak?! Hanya untuk naik ke JPO pendek (dibandingkan dengan Walikota Jakarta Utara) saja perlu lebih dari 50 anak tangga??? Suka lucu memperhatikan para calon penumpang yang naik dengan menginjak satu per satu anak tangganya, kalau saya biasanya saya lewati 2 sampai 3 anak tangga karena saya tidak tahu anak tangga mana yang harus saya injak untuk menghemat waktu.

  • Penas Kalimalang

     Nama halte ini semula bernama Pandjaitan Penas karena berada di Jalan D.I. Pandjaitan. Penas Kalimalang berada di kawasan Kalimalang dan juga terdapat PT. Survai Udara Penas yang terletak lumayan jauh dari halte tersebut. Masih mencatut juga namanya? Ampun deh.

     Saya juga bingung maksudnya Penas ini bagaimana? Penasnya jauh bahkan dekat Universitas Borobudur, lalu mengapa namanya bisa hinggap di sini? Kasihan sekali orang yang merasa tertipu… Atau mungkin dulunya lokasi Penas berada di sini?

  • Cawang Soetoyo

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yakni jalan Mayor Jendral Soetoyo yang terletak di kawasan Cawang. Bohong! Haltenya masih berada di Jalan D.I. Pandjaitan, Soetoyo itu sudah masuk di UKI.

     Lagipula saya tidak mengerti apa maksud dibangunnya halte ini, tidak ada akses masuk ke perumahan penduduk, barat gedung timur kebon. Saingannya Sunter Kelapa Gading…

  • Cawang UKI

     Untuk pembahasannya, lihat Koridor 7.

  • BKN

     Untuk pembahasannya, lihat Koridor 7.

  • PGC 2

     Tidak seperti PGC 1, halte ini berada di dalam gedung pusat perbelanjaan PGC. Iya, kamu tidak salah baca, memang busnya masuk ke dalam mall mau belanja. Jadi memang penumpang harus masuk ke dalam pusat perbelanjaannya jika ingin mengakses PGC 2 yang sama sekali tidak tersambung dengan PGC 1 serta beda koridor.

     Strategi bisnis sekarang memang selalu ada yang menemukan celah… Hebat!


‘Sedikit’ Galeri Koridor 10

Transjakarta Koridor 10

Halte Cipinang Kebon Nanas

Transjakarta Koridor 10

Maghrib di Cawang Soetoyo

Transjakarta Koridor 10

Transit Cempaka Mas

Transjakarta Koridor 10

Dari atas jembatan transit Cempaka Mas

Transjakarta Koridor 10

Utan Kayu Rawamangun 1

Transjakarta Koridor 10

Utan Kayu Rawamangun 2

Transjakarta Koridor 10

Masjid At-Taqwa, dekat dari halte Utan Kayu Rawamangun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)