Review Halte Transjakarta, Koridor 11 (11/03/2016)

Transjakarta Koridor 11      Koridor 11 Transjakarta adalah koridor Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan Terminal Kampung Melayu sampai Pulo Gebang Transit Center. Jalan-jalan yang dilalui koridor 11 adalah Sentra Primer Timur, Dr. Sumarno, Penggilingan, I Gusti Ngurah Rai, Bekasi Barat/Timur, Jatinegara Barat/Timur, Matraman Raya. Dimulai dari halte Stasiun Jatinegara 2 sampai Fly Over Penggilingan, jalur busway ini bersebelahan dengan jalur KRL Jabodetabek rute Biru/Blue Line. (Wikipedia)


  • Pulogebang (Transit Center)

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Pulo Gebang. Halte ini belum sepenuhnya digunakan. Oke ini menarik, saya jujur benar-benar tidak tahu apa yang menyebabkan koridor ini tidak sampai ke halte ini. Koridor ini hanya sampai Walikota Jakarta Timur, bahkan hingga ditulisnya review ini. Namun jangan khawatir, terdapat koridor terusan dari halte Penggilingan yang mengantarkan hingga ke halte ini, itupun hanya sekitar 2 armada bus dan hanya sampai jam 5 sore! (Ampun…)

     Terminal ini pun terhitung baru, entah baru dibuat, baru dibangun, atau apa saya tidak mengerti. Dan ini merupakan satu-satunya halte busway yang kaki saya belum pernah mendarat di atasnya. Padahal terminalnya bagus, mungkin hingga saat ini merupakan terminal paling bagus di Jakarta bahkan di Indoneisa sehingga ‘mereka’ berani memakai embel-embel “Transit Center”.

     Sedikit cerita, mungkin karena masih sepinya terminal ini, terdengar cerita dari supir angkot setempat bahwa kadangkala ketika malam tiba terdengar suara-suara yang tidak jelas sumbernya.

     Sejujurnya starting pembahasan koridor ini dimulai dari halte Walikota Jakarta Timur. Namun sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui bahwa seluruh JPO busway di Koridor 11 adalah baru, artinya tidak seperti halte Transjakarta pada umumnya yang sebagian besar JPOnya menggunakan yang sudah ada, kecuali halte Pasar Enjo dan Imigrasi Jakarta Timur serta RS. Premier. Dan satu-satunya halte yang memakai ramp adalah Walikota Jakarta Timur, selebihnya adalah tangga, kecuali Stasiun Jatinegara 2 yang memang dibuat ramp untuk akses menuju haltenya (JPOnya tetap memakai tangga) supaya desainnya tidak membosankan.

     Berbicara di awal, perlu dicatat, bahwa penamaan halte busway koridor 11 benar-benar bukan sesuatu yang istimewa, kebanyakan haltenya memakai nama Flyover, Stasiun, atau nama-nama lain yang sudah biasa didengar di kordor lain.

  • Walikota Jakarta Timur

     Nama halte terletak di dekat gedung Walikota Jakarta Timur. Balik lagi mengenai penamaannya, halte-halte di koridor ini tidak memberikan sesuatu yang baru kecuali sedikit. Lihat saja nama halte ini, yang koridor 10 juga sudah punya, yaitu Walikota Jakarta Utara.

     Sebelumnya saya mempunyai beberapa catatan istimewa mengenai halte yang satu ini dibandingkan halte-halte Transjakarta lainnya. Berbicara masalah halte dengan satu-satunya halte yang memakai ramp yang terhitung aneh ini memiliki desain aneh pula dan tidak biasa. Bahkan sebenarnya ada 2 buah ramp yang digunakan sebagai akses masuk halte, yang satu memakai JPO, sedangkan yang satunya lagi memancing calon penumpang untuk menyebrang di median jalan bebas. Jebakan yang unik huh?

     Halte ini merupakan halte yang paling istimewa dari seluruh halte-halte Transjakarta lainnya. Interior halte ini benar-benar besar dan eksentrik! Memiliki fasilitas mushalla dengan tempat wudhunya yang sepertinya tidak pernah kekurangan air, kemudian toilet, bahkan taman cantik dengan air mancurnya yang sudah tidak berfungsi lagi… kebiasaan (gak dirawat)! Sehingga orang yang baru menginjak halte ini akan merasa seperti di dalam stasiun kereta bawah tanah.

     11/10! It’s crazy I like it! Belum lagi di sebelahnya terdapat masjid besar Al-Azhar (bukan yang di koridor 1) dan lumayan ramah pemukiman penduduk. Ahhh surganya Transjakarta. Terima kasih sekali deh siapapun yang telah mendesain halte ini. Kadang jika membandingkan halte ini dengan halte besar lainnya seperti Harmoni, membuat segala sesuatunya menjadi mimpi buruk.

     Setidaknya halte ini dapat meredakan kekecewaan penumpang atas harapan palsu yang diberikan oleh rute koridor ini yang seharusnya mencapai Pulogebang.

  • Penggilingan

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yaitu Penggilingan. Disebut juga halte Pondok Kopi karena letaknya di kawasan Pondok Kopi. Lagi, penamaan yang sudah tidak asing lagi didengar. Penggilingan, koridor lain sudah punya Pecenongan yang sedikit lebih unik, Petamburan, dan Pe-an, Pe-an yang lainnya. Huft…

     Btw, ini adalah halte yang paling saya cintai dari halte-halte yang Transjakarta yang lainnya. Tidak ada kecintaan saya yang berlebih untuk seukuran halte busway Transjakarta selain halte ini. Mengapa?

     Lihatlah sekeliling, letak halte yang paling merakyat dari halte-halte busway lainnya khususnya di daerah yang paling timur, apalagi dekat masjid. Coba lihat di Google Maps, tidak ada yang mengelilingi halte ini kecuali rumah penduduk semuanya. Bahkan tangga JPOnya harus dibuat melintir di sisi timur dan menutupi usaha-usaha kecil di kedua sisinya karena tidak tahu harus ditaruh di mana tangganya. Setelah dibuat terharu oleh halte Walikota, kini halte ini membuat sebuah tangisan bahagia…

     Selamat tidur nyenyak wahai calon penumpang setia Transjakarta yang bermukim dekat halte ini, kalian tidak perlu berjalan jauh-jauh hanya untuk naik bus terintegrasi.

     Oh iya, mumpung ingat, desain koridor ini terutama akses masuk JPOnya yang hampir semuanya memakai tangga benar-benar monoton. Tidak percaya? Perhatikan saja ke mana menghadapnya arah tangga di sebelah barat/utara koridor ini (jika dari Kampung Melayu ada di sebelah kiri). Dari penggilingan bahkan hingga ke Flyover Jatinegara. Semuanya tangga yang identik, lurus, tidak berbelok, dan menghadap ke arah yang sama, kecuali halte yang memakai JPO lama nan usang seperti Imigrasi Jakarta Timur dan Pasar Enjo. Tanya kenapa? Dan sebagian besar tangga JPO halte ini melahap habis trotoar yang menjadi tempat berpijaknya.

  • Perumahan Nasional Klender

     Berlokasi Perumahan Nasional Klender dekat halte ini. Sejauh ini nama haltenya terlihat baru. Namun jangan kaget ketika nama-nama halte berikutnya dibanjiri oleh kata “Klender”.

     Mulai dari sinilah koridor 11 ini benar-benar menempel dengan lajur kommuter tujuan Bekasi. Sayangnya, cuma menempel, contohnya halte ini yang berlokasi paling dekat dengan stasiun Buaran saja masih harus berjalan sekitar 400 meter. Benar-benar integrasi yang setengah jantung!

     Di luar itu, halte ini benar-benar tidak mengecewakan. Sebelah selatan memang berlokasi perumnas alias rumah susunnya, namun di sisi satunya juga berjejer perumahan penduduk yang hanya dipisahkan oleh rel. Tidak menjadi masalah, selama letak haltenya bagus dan dekat area penyebrangan rel seperti halte ini.

     Salah satu keunikan dari halte ini adalah letak tangga JPOnya yang di sebelah selatan langsung masuk ke area rumah susunnya. Good one!

  • Flyover Raden Inten

     Nama halte ini berasal dari nama jalan flyover yang ada di dekatnya, yaitu Jalan Raden Inten. Namanya pakai kata Flyover lagi… padahal koridor 7 sudah ada Flyover Raya Bogor. sigh…

     Halte ini merupakan transit terbaik bagi mereka yang ingin melanjutkan perjalanan ke Duren Sawit. Memang sepintas halte ini tidak bersahabat dengan rumah penduduk, namun sebenarnya di seberang rel dan flyover berlokasi banyak sekali rumah penduduk, namun tetap tidak sebanyak yang di halte-halte sebelumnya.

     Ngomong-ngomong ini halte mungkin bentuknya unik karena tumpang tindih seperti itu. Siapa developernya ya? Koridor 11 layak dijadikan koridor yang paling inspiratif sekaligus membosankan untuk segi desainnya. Halte yang besar-besar namun sempit karena median jalannya. Jika mengacu kepada aliran desainnya, saya pikir arsitek yang membangun halte-halte di koridor 11 ini masih merupakan arsitek yang sama dengan yang membangun perpanjangan halte Glodok yang sempat sebelumnya hanya 1 pintu.

  • Buaran

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, Buaran. Setidaknya ada satu nama halte koridor 11 yang bisa merasakan sensasi baru untuk sebuah nama halte.

     Tragedi lepas halte ini, di mana halte ini pernah terkena imbas amukan warga dengan cara membakarnya dikarenakan suatu peristiwa silang sengketa yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan halte bersangkutan, sehingga halte ini sempat tidak beroperasi dalam jangka waktu yang cukup lama. Iya betul, haltenya gosong walaupun hanya sebagian. Padahal haltenya tidak salah apa-apa…

     Kini semua rumah penduduk di sepanjang jalan Buaran bahkan hampir menyentuh Kampung Sumur yang berada di sebelah halte ini semuanya telah rata dengan tanah…

  • Kampung Sumur

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yaitu Kampung Sumur. Sudah ada Kampung Melayu, Kampung Rambutan, kini Kampung Sumur… hadeeehh…

     Sepintas letak haltenya aneh, tapi mungkin hanya perasaan saya saja kali ya? Ini cuma halte reguler sama dengan yang lainnya. Lanjut!

  • Flyover Klender

     Nama halte ini berasal dari nama flyover yang ada di dekatnya. Nama haltenya mulai bikin bete… Padahal letaknya jelas-jelas di depan Citra Mall Klender, dan flyover yang di maksud memang masih agak jauh. Namun, karena Transjakarta paling -anti- memakai nama pusat perbelanjaan modern, tentunya yang jadi korban penamaannya malah sesuatu yang cukup jauh dari haltenya. Di samping itu, padahal di seberang rel ada jalan yang bernama Pasar Klender atau tidak usah jauh-jauh, nama jalan di sebelah mallnya adalah jalan Raya Bulak, itu semuanya lebih dekat daripada Flyovernya. Ah, sudahlah…

     Letak haltenya memang cukup bagus, tepat di depan pusat perbelanjaan, dan berlokasi lumayan banyak perumahan penduduk baik di sisi selatan, maupun di seberang relnya.

     Tapi coba lihat pijakan tangga JPO yang berada di sisi utara (sebelah rel), seperti memaksakan ukuran trotoar. Rata-rata akses masuk JPO baru di koridor 11 memang merampas trotoar yang ada, cuma ini lebih parah hingga boleh dibilang sedikit merampas volume jalan.

  • Stasiun Klender

     Nama halte ini berasal dari nama stasiun yang ada di dekatnya. Oke, jarak stasiunnya memang dekat, namun jarak ke pintu masuk stasiunnya amit-amit. Lagi-lagi integrasi yang hanya setengah jantung.

     Sisanya sama seperti halte yang lainnya.

  • Cipinang

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yaitu Cipinang. Sebenarnya koridor 10 juga punya halte yang bernama Cipinang meski dengan embel-embel Kebon Nanas. Bahkan saya pernah lihat di salah satu LED Display busnya yang menuliskan bahwa nama halte ini adalah Taman Cipinang.

     Whatever! Selain halte Penggilingan, ini merupakan halte yang paling saya cintai di Koridor 11. Bagaimana tidak, semua sisi halte ini benar-benar di apit oleh perumahan penduduk meskipun sedikit dipisahkan oleh rel kereta api di sisi utaranya.

  • Imigrasi Jakarta Timur

     Berlokasi gedung Imigrasi Jakarta Timur di dekat halte tersebut. Gara-gara halte inilah halte Imigrasi di koridor 6 berubah namanya menjadi Imigrasi Jakarta Selatan. Betul, yang di Koridor 6 hanya ditambahkan kata “Jakarta Selatan” supaya tidak bentrok dengan yang punya koridor ini.

     Kurang lebih ini merupakan halte yang paling tidak ramah perumahan penduduk untuk ‘ukuran’ koridor 11. Bahkan halte yang paling tidak strategis di koridor ini. Sebelah utara halte ini adalah lahan apa saya kurang tahu. Sebelah timurnya Rumah Tahanan atau Penjara Cipiang, yang di tengahnya nyempil RS. Pengayoman Cipinang. Sebelah selatannya sudah jelas gedung Imigrasinya. Sebelah barat agak ke sana sedikit baru ditemukan pemukiman.

     Tetapi, percaya sama saya, seburuk-buruknya letak halte sepanjang koridor 11 karena jauh dari pemukiman penduduk, masih jauh, jauh lebih baik daripada letak sebagian besar halte di koridor-koridor lainnya.

  • Pasar Enjo

     Nama halte ini berasal dari pasar yang terletak tidak jauh dari halte tersebut, yakni Pasar Enjo. Hah! Enjo… Namanya mengingatkan saya kepada Pasar Genjing Koridor 4, dengan cara berbicaranya seperti logatnya Cinta Laura ditambah bibir yang agak maju sedikit sekitar 3 sentimeter.

     Sebenarnya saya tahu penamaan halte ini mengikuti penamaan halte bus reguler yang di pinggir jalan tepat sebelah halte ini. Karena pasarnya itu sendiri adalah sekitar 500 meter dari halte yang dimaksud!

  • Flyover Jatinegara

     Nama halte ini berasal dari nama flyover yang ada di dekatnya. Oke, flyover lagi dan lagi, memang seberapa berarti kah seonggok flyover itu bagi landmark Transjakarta? Contohnya koridor 7, namanya sudah bagus-bagus Pasar Rebo justru diganti dengan Flyover Raya Bogor. Atau barusan Flyover Klender yang namanya bisa diganti dengan Pasar Klender maupun Bulak.

     Flyover… *senyumSinis

     Bytheway Anyway Busway, desain halte ini mirip dengan Flyover Raden Inten. Ampun Gusti…! Flyover lagi!

  • Stasiun Jatinegara 2

     Nama halte ini berasal dari nama stasiun yang ada di dekatnya. Oke, koridor ini fix menjadi koridor dengan nama halte duplikat terbanyak di dunia untuk ukuran BRT. Dari mulai dari Stasiun, Flyover (ini yang ga penting justru yang paling banyak), Pasar, Kantor Walikota, Imigrasi, Kampung, Klender, Jatinegara, bahkan setelah ini adalah Rumah Sakit.

     Halte ini namanya pun membingungkan. Yang persis depan stasiunnya justru diberi nomor 2, sedangkan yang jauhnya ampun-ampunan diberi nomor 1! Apakah karena yang nomor 1 diresmikan duluan? Lalu bagaimana dengan Matraman 2 yang milik koridor 4 dan Matraman 1 yang justru milik koridor 5? Memang meski kedua koridor (yakni koridor 4 dan 5) diresmikan bersamaan, namun tetap koridor 4 sepertinya lebih layak mendapatkan yang nomor 1.

     Coba bayangkan mereka yang turun di halte Stasiun Jatinegara 1 lalu transit tiba-tiba ketika sampai di halte satunya lagi namanya sudah berubah menjadi Flyover. Sedangkan untuk halte Stasiun Jatinegara 2 setidaknya harus menaiki bus lagi jika malas untuk berjalan ke stasiunnya, dan memang saya yakin kebanyakan akan malas berjalan karena medan jalannya tidak bersahabat dengan pejalan kaki.

     Selain itu haltenya seperti ingin terletak di tengah-tengah mengingat halte ini adalah halte transit ke koridor 5 melalui halte Pasar Jatinegara (Well, nama halte yang tidak terhubung satu dengan yang lain). Naik dari JPO yang tersedia di depan stasiun menuju halte ini seperti masuk ke halte Semanggi Koridor 9.

  • Jatinegara RS. Premier

     Lih. Koridor 5.

  • Kampung Melayu

     Lih. Koridor 5. Pintu menunggunya ada di tengah halte, sebelah utara.


‘Sedikit’ Galeri Koridor 11

Transjakarta Koridor 11

Dua sisi halte Walikota Jaktim

Transjakarta Koridor 11

Busway and Trainway, Perumnas Klender

Transjakarta Koridor 11

Halte eksotis Walikota Jaktim

Sisanya menyusul, disculpe las molestias…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)