Review Halte Transjakarta, Koridor 12 (21/03/2016)

Transjakarta Koridor 12      Koridor 12 Transjakarta adalah koridor Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan Halte Penjaringan sampai Terminal Tanjung Priok. Jalan-jalan yang dilalui koridor 12 adalah sepanjang Jalan Pluit Putri/Putra, Jalan Pluit Timur, Jalan Pluit Selatan, Jalan Jembatan Tiga, Jalan Bandengan Selatan, Jalan Gedong Panjang, Jalan Kopi, Jalan Tiang Bendera 5, Jalan Roa Malaka Utara, Jalan Tiang Bendera, Jalan Kunir, Jalan Lada, Jalan Bank, Jalan Kali Besar Barat, Jalan Jembatan Batu, Jalan Mangga Dua, Jalan Gunung Sahari, Jalan Angkasa, Jalan HBR Motik, Jalan Danau Sunter Barat, Jalan Danau Sunter Utara, Jalan Mitra Sunter Boulevard, Jalan Danau Sunter Selatan Dalam, Jalan Yos Sudarso dan Jalan Enggano. Koridor ini beberapa kali melewati jalan kereta api, antara lain di jalan Angkasa (Jalur KA Rajawali-Jatinegara), Jalan Gunung Sahari dan Jalan Mangga Dua Raya (Jalur KA Rajawali-Kampungbandan), Jalan Mangga Dua Raya (Jalur KA Jakartakota-Manggarai), Jalan Gedong Panjang (Jalur KA Kampung Bandan-Duri), dan Bandengan Pekojan (Jalur KA Kampung Bandan-Duri). Koridor ini terintegrasi dengan Stasiun Jakarta Kota di halte Kota, Stasiun Kampung Bandan di halte ITC Mangga Dua dan Stasiun Tanjung Priok di halte Tanjung Priok yang melayani KA Commuter Jabodetabek. Koridor ini sudah menggunakan bus gandeng, namun rutenya yang sangat berkelak-kelok terutama di daerah kota tua yang jalanannya sempit, cukup susah untuk bermanuver di sini. (Wikipedia)


  • Pluit

     Lihat Kor. 9.

     Saya tahunya belum lama sebelum ditulisnya review ini Koridor 12 sudah tidak mampir di halte ini lagi. Ada apa? Sehingga mungkin rutenya menjadi Penjaringan – Tanjung Priok. Lagipula tidak terlalu penting membahas masalah ini semenjak halte Pluit masih menjadi halte Transit internal Koridor 12 menuju satu arahnya hingga ke Museum Fatahillah.

     Para pembaca mungkin ada yang tidak mengerti apa yang saya maksud, tetapi sudahlah lupakan. Halte ini menjadi halte dengan sistem transit terburuk yang pernah ada. Bayangkan saja, transit di halte terminus dengan tidak ada jembatan penghubung?

  • Landmark Auto Plaza

     Nama halte ini termasuk komplikatif dan tidak memiliki nama yang baku, penulisannya dapat ditulis Pluit Landmark atau Pluit Honda Landmark bahkan pula sering disebut dengan halte Pluit Selatan. Dikarenakan terdapat gedung Landmark di dekatnya, gedung Honda Pluit dan Auto Plaza yang terletak di kawasan Pluit Selatan.

     Tolong sediakan saya obat pusing, jujur saya tidak tahu darimana saya harus pertama kali mengomentari nama halte ini. Nama halte eksotis, tapi aneh gila. Awalnya nama halte ini adalah RS. Pluit namun kenapa tiba-tiba diubah. Mungkin nasibnya sama seperti Halte Podomoro City yang nama haltenya sudah dipesan oleh pihak terkait. Masalahnya nama halte ini tidak cocok kemana-mana untuk menjadi standar penamaan sebuah halte Transjakarta, apalagi Transjakarta paling anti dengan yang namanya “Plaza”.

     De Javu Koridor 2, halte ini hanya satu arah, dalam arti hanya melayani arah Tanjung Priok, tidak ke Pluit. Bahkan satu arahnya hingga ke Museum Fatahillah. Oh, Bagus! Bagus Banget!!! Namun untuk sekedar info, halte-halte dengan desain fresh di koridor 12 beberapa memiliki toilet sendiri di dalam haltenya, termasuk halte ini. Namun, jangan tanya saya apakah kerannya masih berfungsi atau tidak.

     Halte ini bersebelahan langsung dengan Polsek Penjaringan. Kenapa nama haltenya tidak memakai Polsek Penjaringan saja? Ya sudah jangan membahas masalah penamaan lagi. Oke Lanjut!

     Rumah penduduk? Di sebelah selatan banyak tinggal masuk gang.

     Sebentar-sebentar, sebelum lanjut ke halte berikutnya saya ingin bertanya mengapa rampnya memakai tangga? Maksudn saya akses masuk JPO di sebelah selatannya memang memakai ramp atau  bidang miring, tetapi mengapa pas berbeloknya memakai tangga???

  • Pakin

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yaitu Pakin yang konon merupakan singkatan dari Pasar Ikan. Keren! Setelah namanya yang tidak jelas kebarat-baratan kini nama halte selanjutnya adalah seperti ini.

     Selebihnya halte ini letaknya bagus, dekat gedung, apartemen, dan yang paling penting dekat dengan jantung administrasinya, yaitu pemukiman penduduk. Sedangkan Pasar Ikan yang dimaksud ada di ujung jalan Pakin. Tapi apakah benar Pakin di sini adalah Pasar Ikan?

  • Gedong Panjang

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, Gedong Panjang. Sebenarnya halte Pakin juga ada di jalan Gedong Panjang. Namun lihat, di dekat haltenya ada Flyover Gedong Panjang, mengapa yang ini justru tidak diberi embel-embel ‘Flyover’ dalam penamaannya? Supaya bisa membedakan saja mana Gedong Panjangnya halte Pakin, dan Gedong Panjangnya halte ini.

     Sisanya sama dengan dua halte sebelumnya.

  • Museum Fatahillah

     Nama halte ini berasal dari nama sebuah museum di dekatnya, yakni Museum Fatahillah. Namanya menggunakan kata Museum, that’s new.

     Serius deh, sekali seumur hidup direkomendasikan agar mencoba koridor ini dari Pluit hingga halte ini, terutama setelah rutenya melewati Gedong Panjang. Bus Transjakarta gandeng masuk gang! Iya, kamu tidak salah baca, masuk gang! Banyak sekali tikungan-tikungan ekstrim yang saya sebut dengan tikungan yang penuh dengan air mata. Lebih baik agar merasakannya dahulu dan cari tahu mengapa saya namakan demikian. Selamat mencoba… ^_^

     Saya juga tidak tahu persisnya dibangun halte ini jika bukan untuk pariwisata ke museum Fatahillah. Karena memang landmarknya hanya museum itu yang kawasannya sering disebut-sebut dengan Kota Tua.

     Desain haltenya eksotis mengikuti struktur bangunan di sekelilingnya.

  • Kali Besar Barat

     Nama halte ini di ambil dari nama sebuah jalan di dekatnya, yaitu jalan Kali Besar Barat. Sama seperti Fatahillah, desainnya eksotis bak nuansa jadul. Really Good Looking Shelter. Juga seperti sama seperti rekannya, halte ini juga sangat tidak bersahabat perumahan penduduk, cukup ditaruh hingga tergeletak begitu saja dipinggir jalan seperti tidak dianggap. Saya yakin halte ini merupakan halte yang paling sedikit frekuensi penumpangnya, dan sama-sama hampir tidak berguna seperti halte Istiqlal Koridor 2.

     Sebenarnya halte ini dan halte Fatahillah berdekatan dan saling membelakangi, mengapa tidak dibuatkan jembatan penghubung saja daripada harus diam menjadi halte satu arah?

     Satu lagi, halte ini ‘peron’nya benar-benar sejajar, tidak seperti kebanyakan yang desainnya agak menjorok ke depan untuk membantu mengecilkan celah atau gap antara bus dan halte. Karena pada kebanyakan kasus, ini adalah suatu yang sangat tidak nyaman merepotkan jika mengambil langkah yang terlalu lebar hanya untuk masuk ke dalam bus.

  • Bandengan Pekojan

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, Bandengan. Di dekatnya terdapat jalan Pekojan. Di lain pihak, banyak yang menyebut halte ini dengan halte Bandengan Selatan. Jadi koridor ini memiliki 2 buah nama halte yang memuat kata ‘Selatan’ yaitu Pluit Selatan dan Bandengan Selatan. Berhubung Pluit Selatan sudah berganti nama dengan Auto Plaza Landmark Pluit atau Pluit Auto Plaza Landmark (atau bagaimana urutannya terserah, tidak penting) dan Bandengan Selatan sudah berganti nama dengan Bandengan Pekojan, maka halte Rawa Selatan koridor 2 masih satu-satunya halte Transjakarta yang memuat nama arah angin ‘Selatan’ di penamaannya.

     Akses masuknya di bagian selatan berpapasan langsung dengan Masjid Antik Kampung Baru yang sering jadi tujuan wisatawan kota tua. Di lain pihak, ini merupakan halte yang paling ramah rumah penduduk, terutama yang di dekat masjidnya.

     Tapi serius, mungkin sebelumnya mereka ‘merasa’ bosan dengan penamaan halte koridor 11 yang identik satu sama lain, kini akhirnya koridor 12 kembali menyajikan penamaan-penamaan halte yang cukup fresh dan terasa baru didengar, meskipun termasuk juga nama halte yang memakai kata ‘Plaza’ itu.

  • Penjaringan

     Lihat koridor 9. Kini menjadi tempat pemberhentian akhir koridor yang paling utara ini. Iya, koridor 12 tidak lagi berakhir di Pluit, namun di mana mereka ngetemnya ya? Karena biasanya para supir sering menunggu pihak timer memberikan aba-aba untuk mulai berjalan kembali di halte-halte pemberhentian paling awal atau akhir untuk menjaga jarak antar bus (headway).

  • Kota

     Lihat koridor 1. Semenjak ada koridor ini, akhirnya dibuatkan juga sambungan antar kedua belah bagian halte sehingga penumpang dari koridor 1 bisa memutar kembali di halte ini untuk transit ke koridor 12 atau ‘balik lagi’ tanpa harus melakukan pembayaran ulang.

  • Pangeran Jayakarta

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yaitu Jalan Pangeran Jayakarta.

     Jaraknya termasuk sangat dekat dari halte Kota, kemudian akses masuknya juga tidak jelas dari kedua sisi. Sisi utara menghadap ke pemukiman kecil di bantaran rel kereta dengan tangga JPO yang tidak sopan menutupi rumah dan usaha kecil warga sekitar. Sedangkan sisi satunya justru menghadap ke arah yang cukup memaksakan diri, di mana rumah penduduk sekitar justru dijauhi.

     Halte yang aneh.

  • Mangga Dua

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yaitu Mangga Dua. Di dekatnya terdapat ITC Mangga Dua. Nah kan? Transjakarta memang paling anti nama haltenya diberi embel-embel pusat perbelanjaan modern seperti Mall, ITC, WTC, Square, Plaza, dan lain sebagainya. Masih ingat halte Permata Hijau koridor 8? Tapi anehnya itu kok halte barusan ada kata ‘Plaza’nya justru malah dibiarkan, padahal nama awal Pluit Selatan dan RS. Pluit lebih masuk akal. Jangan-jangan…

     Halte ini juga hanya melayani pusat perbelanjaan, khususnya bagian elektronik. Kemudian di seberangnya ada Pasar Pagi (agak jauh memang), dan kompleks ruko. Stasiun Kampung Bandan lumayan jauh dari sini, sekitar 500 meter. Sedangkan Stasiun Jayakarta ada di antara halte ini dan halte Pangeran Jayakarta dengan masuk gang lagi sekitar 500 hingga 700 meter. Terintergrasi ya? Bagus… bagus.

  • Gunung Sahari Mangga Dua

     Lihat koridor 5.

  • Jembatan Merah

     Lihat koridor 5.

  • Lautze (Rencana)

     Idem. Lihat koridor 5.

  • Angkasa (Rencana)

     Siapa yang kemarin bertanggungjawab atas tata letak haltenya? Lihat, selepas halte Jembatan Merah tidak dijumpai lagi halte di koridor 12 hingga hampir 4 KM ke depan! Mengalahkan jarak dari halte Pasar Kramat Jati ke Pasar Induk Kramat Jati Koridor 7! Padahal ini tidak masuk tol! Dan padahal median jalannya tidak sesempit koridor 7! Ini kenapa?

     Jujur saya maunya di depan gedung PT. Pelni disediakan halte. Saya tidak mau dengar lagi apa alasannya. Bisa kok. Saya pernah mendengar keluhan orang-orang yang berkantor didekatnya yang ingin segera dibangun halte busway di sana. Tunggu apa lagi? JPOnya pun terlihat seperti sudah siap jikalau memang akan dibangun sebuah halte.

  • Kemayoran Landasan Pacu Timur

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, Kemayoran. Dan berlokasi di Jalan Landasan Pacu Timur. Selamat, halte ini menjadi halte busway dengan nama yang paling panjang! Karena memang dulunya kawasan ini adalah bandara. Ingat serial kartun Tintin yang berkunjung ke Indonesia lewat bandara Kemayoran? Kini bandaranya sudah tinggal sejarah. Setidaknya diabadikan oleh nama-nama jalannya seperti jalan Landasan Pacu dan sebagainya untuk memberitahu bahwa dulunya di sini pernah ada bandara.

     Halte ini spesialis rumah susun seperti Perumnas Klender di bagian selatan. Terima kasih deh siapapun yang membuat akses masuknya menjadi lucu begini. Rampnya dibuat dua arah dan semuanya lurus ingin menggapai calon penumpang tercinta, yang sepertinya sukses besar. Mungkin motivasinya, “Mumpung trotoarnya lebar, mari dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.”

     Tidak, bukan. Ini bukan halte yang cocok jika tujuannya adalah JIExpo Kemayoran, hanya yang paling dekat saja. Jaraknya dari halte ini sekitar 800 meter. Memang tidak dibuatkan halte untuk ke sana, bahkan pihak Transjakarta harus menyediakan rute khusus bagi yang ingin bepergian ke sana. Tidak percaya bahwa halte ini tidak menyukai gedung JIExpo? Lihat saja arah rampnya di sisi utara yang justru menjauhinya.

     Karena banyak yang mengunjungi artikel saya ini untuk mencari bagaimana cara ke RS. Mitra Kemayoran dengan busway koridor 12, maka halte inilah yang paling dekat dengan rumah sakit tersebut. Lalu jalan sekitar 400 meter ke arah timur.

  • Danau Agung

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yaitu Jalan Danau Agung. Halte ini juga terletak di Jalan Danau Sunter Barat, yang juga merupakan nama lain halte ini. Mengapa tidak sekalian saja namanya Danau Agung Sunter Barat? Agar panjang namanya bisa saingan dengan nama halte sebelumnya.

     Halte yang jahat.

     Dengarkan saya (nada gusar), “Para calon penumpang yang sebagian besar singgah di kamu wahai halte yang tidak punya rasa belas kasihan, adalah berasal dari pemukiman Sunter Muara yang justru kamu jauhi, dan justru sekarang kamu hilangkan akses masuk JPO di bagian yang paling dekat dengan mereka. Membuat kamu yang sudah lokasinya lumayan buruk, kini desainnya justru ‘cacat’ karena JPOnya hanya sebelah (disebabkan proyek peninggian jalan, namun dibiarkan setelahnya).”

     Halte yang jahat.

     Dan itupun tangga yang kini menjadi akses masuk JPO satu-satunya dipenuhi kabel listrik yang hanya diselotip. Sudahlah halte ini tidak ramah penduduk, aksesnya pincang, berbahaya pula.

     Halte yang jahat.

     Saya pernah menguntit seorang gadis yang turun di halte ini dengan tujuan ingin mencari masjid karena sudah maghrib (pada saat itu saya tidak tahu di mana lokasi perumahan penduduk terdekat, jadi saya kuntit beberapa penumpang) dan kebetulan dia turun di sisi barat yang akses masuknya sudah dihilangkan. Jujur sangat kaget setelah tahu di mana seharusnya jarak dari rumahnya yang berlokasi di Sunter Muara ke haltenya sekitar 300 meter, namun karena terhalang kali dan letak haltenya yang buruk, jarak dari rumah ke haltenya hingga lebih dari 500 meter!

     Sekali lagi, halte yang jahat.

     Setidaknya salah satu poin adanya halte ini adalah khusus bagi siapa saja yang ingin melihat matahari terbenam di Waduk Sunter Selatan.

     Tetapi itu sama sekali tidak membantu menyelamatkan reputasi buruk halte ini.

  • SMP 140

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, Sunter. Nama SMP 140 diduga berasal dari nama halte bus reguler di dekatnya, yaitu halte SLTP 140. Sedangkan akses menuju SMP yang dimaksud dapat dibilang cukup jauh, tidak seperti Kedoya Asshidiqiyyah ataupun SMK 57. Sedangkan landmark lain halte ini adalah RS. Satya Negara. Mengapa tidak dinamai dengan yang ini saja ya?

     Saya pernah bertanya pada petugas Barriernya, “Mas, kan kalau halte SMK 57, Kedoya Ashshiddiqiyyah, dan Pramuka LIA memang sangat dekat dan bahkan berlokasi langsung di depan lembaga pendidikan terkait, nah yang ini SMPnya di mana?”

     Kemudian dia menjawab, “Mas, kamu lihat gang yang (jauh) di sana kan? Kamu masuk… kemudian ‘ke dalam’…”

     Memang benar, jarak dari halte ke SMPnya sekitar 500 meter.

     Di samping itu halte ini sangat ramah pemukiman di kedua sisinya, dan dua-duanya dekat masjid.

     Catatan menarik, bahkan sangat menarik, JPO halte ini dipenuhi dengan vandalisme dan tangan-tangan jahil anak SMP lain yang mencorat-coret halte ini dengan SMP kebanggaannya. Mengingat halte ini merupakan satu-satunya halte bahkan hingga saat ini yang penamaannya menggunakan SMP. Mungkin mereka iri mengapa hanya SMP ini yang kemudian menjadi sumber penamaan sebuah halte busway.

  • Sunter Karya

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yaitu Jalan Sunter Karya. Lokasinya juga berada di depan Sunter Mall. Ini merupakan halte elit, tidak akan ditemukan rumah penduduk campuran di dekat halte ini yang sebagian besar wilayahnya di dominasi dengan rumah toko.

     Catatan yang sangat tidak kalah menarik, ujung ramp yang langsung mengarah ke haltenya dari JPO memiliki desain yang boleh dikatakan cacat atau mungkin salah perhitungan atau kendala lainnya. Masalahnya dari bawah halte rampnya lurus tak berbelok seperti tak berujung menuju JPO yang menjadi akses masuknya, namun coba tebak, ujung ramp ini justru diakhiri dengan 3-5 buah anak tangga! Wah kasihan sekali dengan para penyandang disabilitas, sudah senang-senang turun dari halte dihadapkan dengan ramp sangat menggoda di awal, tetapi justru ketika tinggal beberapa sentimeter lagi sampai ke JPOnya, justru muncul beberapa anak tangga yang sangat menakutkan.

     Well played Transjakarta, Well played!

  • Sunter Boulevard Barat

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, Sunter. Di dekatnya terdapat Jalan Boulevard Barat. Rute koridor ini tadinya adalah “Landmark Auto Plaza – Boulevard Barat” membuat orang bertanya-tanya, “Ini yakin rute Transjakarta, Trans JAKARTA? Bukan Trans Metro London dan semacamnya kan?”

     Karena tanggung, rutenya diperpanjang menjadi “Pluit – Tanjung Priok”.

     Ini merupakan halte yang paling membingungkan, jangan keluar bus jika announcer busnya mengatakan bahwa halte ini adalah pemberhentian terakhir. Rutenya masih berlanjut hingga ke Priok kok. Mengapa membingungkan? Selamat mencoba untuk menantang diri sendiri dengan menentukan mana arah Pluit dan mana arah Tanjung Priok…

     Halte ini dikelilingi oleh putaran tajam di mana bus gandeng sering kalah perang di sini. Koridor aneh dengan rute aneh.

     Struktur JPOnya juga merupakan salah satu JPO paling aneh yang pernah ada. Memang akses masuk tangga semua. Namun lihat, mulai dari peringatan “Awas Kepala” karena memang mentok ke atas Flyover, hingga alurnya yang dapat membuat pening dan capek sendiri.

     Rumah penduduk ada di Jalan Inspeksi Kali Sunter, jika memang belum digusur seperti Sunter Kelapa Gading Koridor 10, di mana jika pemukiman tersebut masih ada hal itu tentu dapat mempertahankan reputasi Boulevard Barat sebagai halte Busway. Sedangkan landmark halte ini adalah Mall Of Indonesia atau MOI.

     Well, sisanya pembahasan sebenarnya lanjut ke Sunter Kelapa Gading (saya tidak ingin menjelaskan ribetnya menentukan di mana posisi bus koridor 12 akan berhenti di halte Sunter Kelapa Gading ini dan menentukan mana bus arah Pluit dan mana bus arah Priok jika tidak mendengar langsung dari petugasnya. Komentar dipersilakan), kemudian ke Plumpang, dst… Namun pembahasannya lihat saja di koridor 10. Saya sudah terlalu malas menulis, maafkan…


‘Sedikit’ Galeri Koridor 12

Transjakarta Koridor 12

Halte Sunter Karya

Transjakarta Koridor 12

Pemandangan dari halte Landasan Pacu mengarah ke Barat

Transjakarta Koridor 12

Pemandangan dari halte Landasan Pacu mengarah ke Timur

Transjakarta Koridor 12

Ramp JPO Landasan Pacu

Transjakarta Koridor 12

Akses masuk halte Boulevard Barat.

Transjakarta Koridor 12

Bus koridor 10 dan 12 di Halte Tanjung Priok

Sisanya menyusul, disculpe las molestias…

3 Comments:

  1. Agita Fury Arsiandhi

    Mungkin SLTP 140 nya nggak mau bayar, jadinya namanya yang jauh(menurutku)

  2. Lah iya ya, halte kemayoran landas pacu timur namanya bikin lidah njelimet 😂 terus dari sisi kanan sama kiri aja masing2 ada dua arah masuk ke JPO-nya loh. Tapi enak halte situ, terhampar padang rumput luas gitu.

    Koridor 12 yang nyebelinnya : bus transjakartanya kelamaan huft.

    • Terima kasih atas komentarnya. 🙂

      Sepertinya Transjakarta memang menganaktirikan koridor 12, bukti lainnya, jam paling malam koridor tersebut hanya sampai pukul 22.00 saja. Mungkin karena penumpangnya dikit, jalurnya boros, dan rutenya aneh makanya busnya jadi sedikit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)