Review Halte Transjakarta, Koridor 4 (17/02/2016)

 Transjakarta Koridor 4    Koridor 4 Transjakarta adalah koridor Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan Terminal Pulo Gadung (Jakarta Timur) sampai Halte Dukuh Atas 2 (Jakarta Selatan). Jalan-jalan yang dilalui koridor 4 adalah sepanjang Jalan Bekasi Raya, Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Matraman, Jalan Sultan Agung, Jalan Galunggung, Jalan Setiabudi Barat dan tiba di Halte Dukuh Atas 2. Rute ini terintegrasi dengan KA Commuter Jabodetabek di Halte Dukuh Atas 2 dan di Halte Manggarai. Pengguna KRL Commuter Line yang hendak menuju ke kawasan Rawamangun hingga Pulo Gadung, seperti UNJ dan Velodrome, dapat turun di Stasiun Sudirman dan melanjutkan perjalanan dari Halte Dukuh Atas 2 atau di Stasiun Manggarai dan melanjutkan perjalanan dari Halte Manggarai.


  • Pulogadung 2

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yaitu Pulogadung. Seperti yang disebutkan pada pembahasan halte-halte Transjakarta Koridor 2 bahwa halte Pulogadung ‘terbelah’ menjadi dua, yaitu halte Pulogadung Besar atau Pulogadung 1, dan halte Pulogadung Kecil atau Pulogadung 2.

     Halte Pulogadung 2 ini bersebelahan dengan pintu penurunan untuk koridor 2 dan juga koridor 4. Jadi meskipun haltenya ‘terbelah’, namun tempat penurunannya tetap satu. Berbeda dengan rivalnya, Pulogadung 1, halte Pulogadung 2 ini memiliki akses masuk yang dapat dikatakan cukup ‘terisolir’.

  • Pasar Pulogadung

     Terdapat sebuah pasar bernama pasar Pulogadung di dekat halte tersebut. Letaknya strategis sekali, dan bersahabat dengan penduduk sekitar, saya suka. Median jalannya yang cukup sempit juga memudahkan calon penumpang untuk menyebrang, saya suka. Meskipun yang namanya lingkungan pasar kadang kerap terjadi kemacetan, ditambah lajurnya memakai separator, bukan karpet merah, jadi sering diserobot, saya tidak suka.

     Hindari halte ini! Lha, katanya tadi suka.

     Mengapa? Meski bersahabat dengan pejalan kaki dan rumah penduduk, saya sarankan jangan dekati halte ini, berbahaya! Jalan ‘sedikit’ ke halte Pulogadung atau TU Gas lebih saya sarankan. Dikarenakan bus yang selalu rebutan jalan ketika keluar dari halte Pulogadung dengan angkot-angkot bandel yang hobi ngetime. Sehingga bus ‘frustasi’ dan menggunakan halte Bermis Koridor 2 sebelum akhirnya berputar kembali menuju Velodrome.

     Sedangkan sebagai pengganti, untuk halte-halte sebelum Velodrome disediakan bus dengan rute alternatif Dukuh Atas – TU Gas. Yak, sampai TU Gas karena tidak ada tempat berputar di Pasar Pulogadung. Jadi “anak-anak”, betul sekali, halte ini ‘dibuang’ begitu saja.

     Ada memang yang menuju halte ini baik dari arah Pulogadung maupun Dukuh Atas, namun jatuhnya seperti halte Pasar Barunya Koridor 3, 1 : 5. Sehingga petugas selalu memperingati para calon penumpang akan lama tunggu bus yang hingga 30 menit sekali. Wew.

  • Prapatan Fa. TU Gas

     Sebenarnya nama dari ‘TU Gas’ itu adalah ‘Tugas’, karena pada sekitar tahun 80-90-an ada sebuah pabrik yang bernama Fa. Tugas, sejak pabrik itu berdiri maka secara otomatis nama daerah itu disebut dengan Tugas (Perempatan Tugas). Tapi, di mana sekarang pabriknya?

     Saya tidak punya sesuatu yang dapat dibicarakan untuk halte ini, karena saya yakin pembahasan halte ini di bagian halte Pasar Pulogadung sudah mewakilinya. Namun ada satu yang menarik, sisi utara rampnya pernah ‘gundul’ (tak beratap) dalam waktu yang cukup lama. Btw lampu merah di sini cukup lama juga.

  • Layur

     Nama halte berasal dari nama jalan yang berada di dekatnya, yaitu Jalan Layur. Saya sering mengait-kaitkan halte ini dengan Galur, entah kenapa, mungkin karena namanya mirip.

     Haltenya juga cukup bersahabat dengan pemukiman penduduk, yang lucu rampnya bagian selatan justru memanjang ke arah belakang dan tidak kesamping seperti biasanya, mirip seperti halte Sumur Bor Koridor 3.

  • Pemuda Rawamangun

     Nama halte berasal dari nama jalan yang berada di dekatnya, yaitu Jalan Pemuda, dan dari nama daerah setempat, yaitu Rawamangun. Disebut juga halte Arion karena dekat sekali dengan pusat perbelanjaan Arion Mall. Ini merupakan halte ‘baru’ karena memang dalam perencanaannya halte ini tidak dicantumkan karena sebagai penggantinya ada halte Velodrome. Bahkan untuk led display announcer beberapa bus, nama halte ini tidak tercantum. Mungkin dibangun atas dasar permintaan masyarakat yang ‘malas’ berjalan ke halte Velodrome?

     Satu lagi, lampu lalu lintas di sini sebagai akses masuk para calon penumpang melalui zebra cross justru kurang berpihak pada Transjakarta. Sudah lampu merahnya lama amir, ketika hijau jatah yang diberikan kepada bus hanya sedikit.

  • Velodrome

     Nama halte berasal dari nama stadion balap sepeda yang terletak tidak jauh dari halte tersebut. Well, semenjak ada halte Pemuda Rawamangun, halte ini menjadi ‘tidak berguna’. Bahkan stadion balap sepeda yang menjadi nama halte ini saja lebih ‘berpihak’ kepada halte Pemuda Rawamangun (karena lebih dekat). Pathetic, really.

     Halte ini harus ‘bersyukur’ karena masih ada pelanggan setia yang menggunakannya disebabkan salah satu sisinya berdekatan dengan sekolah dan Balai Pustaka. Letak haltenya pun di tengah-tengah, cukup jauh dari gang empunya, yaitu jalan Kayu Jati 5 (kalau tidak salah) di mana di sanalah berlokasi pemukiman penduduk.

     Yang lebih parah lagi semua akses masuknya memakai ramp, terutama yang di sisi selatan, di mana rampnya melepas lurus nan jauh di mata seperti tak berujung mengarah ke Arion Mall ingin meraih para calon penumpang tercinta yang nyata-nyata sudah dirampas tanpa ada rasa belas kasihan oleh halte Pemuda Rawamangun, apa daya memeluk gunung tangan tak sampai. Velodrome, sekali lagi, kau tragis, you’re really pathetic, I’m sorry… Lucunya, ramp di sisi utaranya justru memiliki 2 kali kelokan.

     Seorang penumpang berbicara kepada saya, bahwa dia pernah salah menyebutkan halte Velodrome dengan Voldemort.

  • Sunan Giri

     Nama halte ini di ambil dari nama jalan yang berada di dekatnya, yaitu Jalan Sunan Giri. Well, nama yang religius. Saya suka.

     Ngomong-ngomong ini halte, lucu. Seperti Pemuda Rawamangun, namun lebih sempit karena median jalan yang hanya secuil. Mungkin seharusnya kedepannya dibangun JPO dengan kasir layang.

  • UNJ

     Universitas Negeri Jakarta terletak tepat di depan halte tersebut. Halte ini sangat sukses membuat mahasiswa UNJ berbahagia. Turun dari bus, kepleset sedikit langsung sampai kampus tanpa harus jalan kaki yang begitu berarti, kecuali untuk mahasiswa kampus Ibnu Chaldun yang lokasinya sekitar 500 meter dari sini.

      Sisi utaranya pun sangat ramah pemukiman penduduk, membuat calon penumpang yang lainpun turut berbahagia sebelum akhirnya mereka berhadapan dengan headway busnya.

  • Pramuka BPKP

     Berlokasi gedung BPKP di Jalan Pramuka di dekat halte tersebut. Gedungnya agak jauh memang, bahkan lebih dekat ke arah halte LIA. Halte ini menyediakan transit ke halte Pemuda Pramuka milik koridor 10, di mana akses rampnya naik turun, dan naik turun, serta sedikit kehujanan. Namun tetap ini jauh lebih baik karena seluruh akses masuknya memakai ramp, jadi tidak memberikan harapan palsu bagi pengguna kursi roda, tidak seperti halte Cempaka Mas.

  • Pramuka LIA

     Nama halte ini berasal dari nama gedung yang berada di dekatnya, yaitu Gedung Yayasan LIA (Lembaga Indonesia Amerika) Cabang Pramuka. Nama haltenya benar-benar membuat yayasan kursus yang lainnya iri, hehe.

     Saya pernah melihat Gunung Salak dari rampnya setelah hujan deras.

  • Utan Kayu

     Nama halte ini berasal dari nama kelurahan tersebut. Dekat masjid pula, namun nyempil. Saya melihat kanan kiri sepertinya halte ini sangat tidak ramah kepada calon penumpang karena empunya gang tidak terlihat dari sini. Namun menurut pengakuan salah satu pengawai di kampus saya yang rumahnya di Percetakan Negara, ternyata terdapat gang kecil tepat di sebelah tangga akses masuk JPO di sisi utara.

     Sedangkan sisi selatannya akses masuknya berasal dari gang di dalam pom bensin. Well played, sir. Walaupun memang, nama jalan yang menjadi sumber penamaan halte ini justru terdapat tepat di antara halte ini dan Pasar Genjing.

  • Pasar Genjing

     Nama halte ini di ambil dari nama pasar yang berada di dekatnya, yaitu Pasar Genjing. Jujur sampai sekarang saya benar-benar tidak tahu letak pasar yang dimaksud. De Javu Pasar Cempaka Putih. Bahkan plang penamaannya terlihat ‘baru’ ditambahkan “RSIA Evasari” di mana ada Rumah Sakit Evasari dekat halte tersebut.

     Letak haltenya strategis memang, saya suka. Cukup strategis untuk daerah Jakarta Semi-Pusat. Dekat masjid, perumahan, bahkan stasiun KRL Kramat hanya 500 meter dari sini.

     “Tung! Pemberhentian berikutnya, Pasar Genjhuing. Next Stop, Pasar Genjhuing.” Kata announcer mungkin dengan sedikit memajukan bibirnya (lebay). Saya jadi kangen suaranya. Namun sekarang seluruh bus abu-abu (JMT, JTM) telah ditarik dari peredaran semenjak Februari kemarin meledak di Latuharhary.

     Update: Oh, ternyata pasarnya di sebelah pinggir halte bagian utara. Tidak begitu terlihat memang. Saya sampai cari-cari lewat Google Maps dan Google Street. Ya ampun.

  • Matraman 2

     Nama halte ini berasal dari nama kecamatan setempat, yakni Matraman.

     Tunggu sebentar, harusnya ini kan yang jadi Matraman 1 dan yang punya koridor 5 jadi Matraman 2. Memang diresmikannya bersamaan, namun kenapa koridor yang lebih dahulu penomorannya justru Matraman 2 bukan Matraman 1? Mungkin karena ada halte reguler di pinggir jalan yang bertuliskan Matraman I tepat di depan akses masuk halte Matraman 1. But still weird enough, right?

     Lagi, lampu merahnya lama. Apalagi yang dari sisi barat, sudah macet kabina-bina, kendaraan pada masuk busway lagi.

  • Tambak (Rencana)

     Ini hanya angan-angan saya saja untuk dibangun halte Tambak yang berlokasi dekat pertigaan jalan Proklamasi dan Pramuka, tepatnya di sebelah jalan Tambak 1 (karena ada ruang untuk dibangun JPO). Saya ingin halte ini ada selain karena jarak Manggarai dan Matraman 2 yang cukup jauh, sangat ramah pemukiman penduduk, juga karena ada warga yang menginginkan halte ini dibangun.

  • Manggarai

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Manggarai. Dekat Pasar Raya Manggarai, dekat pula dengan terminal Manggarai, dekat masjid, dan pemukiman penduduk meski agak jauh memang dengan stasiun Manggarai yang seharusnya di buatkan akses jembatan karena dihalangi sungai.

     Sebelum terminal Manggarai dibangun halte ini tergeletak begitu saja dengan akses masuk dari arah timur. Namun setelah dibangun akses masuknya menjadi dari barat dengan 3 akses JPO.

  • Pasar Rumput

     Nama halte ini di ambil dari nama pasar yang berada di dekatnya, yaitu Pasar Rumput. Yang saya tahu sejarahnya memang pasar ini menjual rerumputan untuk makanan ternak. Letak halte ini sebenarnya juga dekat stasiun KRL Mampang yang telah non-aktif karena terlalu dekat dengan stasiun Manggarai. Padahal strategis.

     Halte ini sering ditutup karena rawan tawuran, saya suka mendapati kaca halte ini yang pada pecah.

  • Halimun

     Nama halte ini di ambil dari nama jalan yang berada di dekatnya, yaitu Jalan Halimun yang terletak di kelurahan Guntur. Koridor 4 memang terkenal dengan banyaknya halte yang tergeletak begitu saja di tengah jalan dengan mengandalkan zebra cross dan lampu merah sebagai akses masuk.

     Dan ini merupakan halte koridor 4 yang kesekian kalinya yang terletak sangat dekat dengan masjid bahkan di depannya. Menyediakan lahan parkir yang cukup luas untuk menampung banyak kendaraan (well, saya kira itu kendaraannya petugas busway) serta nyaman.

  • Dukuh Atas 2

     Dukuh Atas adalah nama perkampungan yang terletak di sudut barat daya Kecamatan Menteng, yang menjadi nama halte tersebut. Jujur, sangat tidak lucu halte mungil transit ini menjadi titik pemberhentian akhir. Sangat tidak efisien, apalagi haltenya kecil dan headwaynya dahsyat. Cukup membuat antrian penumpang transit mengular seperti antrian sembako 1 RT, belum lagi harus bertarung hingga titik darah penghabisan dengan mereka yang ikut antri dari transit koridor 6. Apalagi ketika peak hour, ya Allah na’udzubillah.


‘Sedikit’ Galeri Koridor 4

Transjakarta Koridor 4

Ramp ‘Gundul’ TU Gas

Transjakarta Koridor 4

Melihat Sunset Tidak Harus Selalu Dari Pantai

Transjakarta Koridor 4

Ramp yang Mengarah Ke Arion Mall dari JPO Halte ‘Tragis’ Velodrome

Transjakarta Koridor 4

Masih Ramp ‘Tragis’, dengan Nuansa Awan Sore (foto ini -tidak- diedit selain ditajamkan, foto awan yang di atas rampnya memang asli)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)