Review Halte Transjakarta, Koridor 6 (24/02/2016)

 Transjakarta Koridor 6     Koridor 6 adalah koridor bus Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan halte Ragunan dan Dukuh Atas 2, Jalan-jalan yang dilalui Koridor 6 adalah Jl. Harsono RM, Jl. Taman Margasatwa, Jl. Warung Jati Barat, Jl. Mampang Prapatan, Jl. Rasuna Said, Jl. Kendal, Jl. Laturharhari, Jl. Sultan Agung, Jl. Setiabudi Barat, Jl. Setiabudi Tengah. Halte Dukuh Atas 2 menjadi satu-satunya halte di koridor 6 yang terintegrasi dengan KA Commuter Jabodetabek di Stasiun Sudirman. Pengguna busway koridor ini kebanyakan adalah penumpang yang hendak menuju kawasan Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru, Duren Kalibata, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Universitas Pancasila, Universitas Indonesia, dan Pondok Cina. Pengguna KRL Commuter Line yang berasal dari stasiun sepanjang jalur lintas Maja-Tanah Abang, Tangerang-Duri maupun penumpang yang berasal dari jalur Bekasi dan Depok/Bogor yang hendak berwisata ke Ragunan dapat turun di Stasiun Sudirman dan melanjutkan perjalanan dengan busway koridor ini dari halte Dukuh Atas 2.


  • Ragunan

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Ragunan. Terletak di dekat Taman Margasatwa Ragunan. Namun tidak seperti Ancol, halte ini hanya halte regular yang tidak mewajibkan penumpang membayar tiket kebun binatang ketika ingin keluar area halte.

     Selain lokasinya yang tepat berada di depan taman margasatwa (meski lokasi haltenya agak terlalu dalam), halte ini juga ramah pemukiman penduduk yang berlokasi tepat di samping area halte. Tambahan, halte ini juga cukup dekat dengan GOR Ragunan yang memiliki kolam renang dengan biaya yang sangat, sangat murah. Adakalanya sambil menyelam minum air, setelah dari kebun binatang, mampir untuk berenang dulu di sini, semuanya di dekat halte Ragunan.

     Karena itulah koridor ini ‘tidak pernah mati’ karena dari Senin hingga Jum’at dipadati para pekerja karena koridor ini melewati banyak sekali perkantoran, sedangkan sisanya dipadati mereka yang ingin melampiaskan hari tenang mereka.

  • Departemen Pertanian

     Terletak Departemen Petanian di dekat halte tersebut. Jarak halte ini dengan Ragunan terhitung cukup jauh, lebih dari 1 km. Di dekatnya ada lahan yang sering digunakan untuk perkemahan anak-anak pramuka. Halte ini hanya mengandalkan zebra cross dan lampu lalu lintas sebagai akses masuk, juga sangat tidak ramah pemukiman penduduk. Saya tidak tahu persis apa tujuan halte ini dibangun, walaupun halte ini termasuk halte yang cukup sibuk oleh para penumpang yang saya tidak tahu asalnya dari mana.

     Jika ingin menyusuri sepanjang jalan TB Simatupang, bisa turun di halte ini dan mencari alternatif yang lain.

  • SMK 57

     Terletak SMK Pariwisata 57 di dekat halte tersebut, sebelumnya nama halte ini dinamakan Gotong Royong yang diambil dari nama jalan dekat halte tersebut. Selain LIA, halte ini cukup membuat iri SMK yang lainnya hanya karena terletak di depan asal penamaan halte yang di maksud.

     Mari kita lihat apakah halte ini -berhasil- membuat area parkir sekolah tersebut menjadi lebih dapat ‘bernapas’?

  • Jatipadang

     Nama halte berasal dari nama kelurahan tepat di mana halte tersebut berada. Nama lain halte ini adalah halte Mangga Besar, yang diambil dari nama kawasaan di area halte tersebut. Jujur saya tidak tahu di mana daerah atau nama jalan yang disebut Mangga Besar itu, setahu saya Mangga Besar adalah daerah yang berada di dekat Glodok. Haltenya pun mungkin diganti Jatipadang (antara Jati dan Padangnya dipisah tidak sih?) karena mungkin akan ‘bentrok’ dengan yang punya koridor 1 jika tetap menggunakan nama asalnya, Mangga Besar.

     Lagi-lagi desainnya menyebalkan, memang tidak ada yang memakai ramp untuk akses JPO sejak halte Mampang hingga ini, sekalinya ada hanya sebagian dan itupun hanya ini dan Imigrasi. Lebih parah lagi, salah satu bagian rampnya terlalu curam sehingga dapat membuat yang melewatinya tergelincir. Masih ingat pembahasan halte Benhil? Saya tidak tahu ini desain gagal atau apa, atau mungkin ada galian kabel atau pipa gas dan sebagainya di dalamnya. Mengapa bisa terjadi hal yang seperti ini?

  • Pejaten

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Pejaten. Sedangkan nama Phillips yang merupakan nama lengkap halte tersebut (Pejaten Phillips) di ambil dari nama gedung di dekatnya. Saya pikir tadinya nama Phillips itu berasal dari merk lampu, oh ya ampun, nama gedung. Apa diberi embel-embel Phillips karena akan tidak sesuai dengan jarak jika diganti dengan ‘Village’? Memang benar di dekat halte ini ada pusat perbelanjaan Pejaten Village, namun letak haltenya itu loh, nggak banget, sampah sumpah!

     Saya tidak tahu apakah ada warga sekitar yang ‘mampir’ di halte ini selain mereka yang baru pulang belanja atau bekerja. Karena ini merupakan halte yang dibangun di tengah-tengah, jauh dari pemukiman penduduk. Saya menyarankan agar JPOnya agar sedikit ‘ditarik’ ke arah lampu lalu lintas.

  • Buncit Indah

     Nama halte berasal dari nama jalan yang berada di dekatnya, yaitu jalan Buncit Indah. Jujur saya tidak berhenti tertawa mendengar nama halte ini untuk pertama kalinya. Nama halte aneh jika dihayati. Buncit… Indah? Wewewewew… saya tidak ingin terlalu jauh membayangkan.

     Akses masuk JPO sisi timur cukup berbahaya dan terjal, beberapa besinya terlihat terkelupas dan robek, hati-hati terjerumus. Sedangkan untuk sisi satunya terlihat seperti diganti yang lebih baru karena tiang penyangganya berbeda. Dan lagi, sebagian desain tangganya memang dibuat demikian untuk ‘menghormati’ empunya gang yang hanya bisa dilalui pejalan kaki.

  • RS. JMC (Rencana)

     Ini hanya angan-angan saya untuk dibangun halte di depan Masjid Assalafiyah Buncit, karena ini satu-satunya tempat yang paling dekat dengan nama rumah sakit yang dimaksud dan memiliki ‘lahan’ untuk dibangun JPO. Inginnya halte dengan kasir layang mengingat median jalan yang hanya secuil.

     Seorang ibu bertanya kepada saya,

     “Dik, kalau ke JMC turun di mana?”

     “Buncit Indah Bu, itu haltenya di depan…” Jawab saya.

     Kemudian ibu itu mulai celingukan ketika ia melihat rumah sakitnya dan tidak tahu di mana letak halte yang saya maksud (Buncit Indah). ‘Eh, itu rumah sakitnya!’ mungkin dalam pikirannya.

     Teman saya yang berjualan nasi goreng disekitarnya kadang juga menjadi sasaran empuk pertanyaan-pertanyaan dari belahan masyarakat yang ingin mencari halte busway di dekatnya.

  • Warung Jati

     Nama halte berasal dari nama jalan yang berada di dekatnya, yaitu jalan Warung Jati. Namanya saya suka, karena saya baru tahu di Jakarta ada nama macam ini bahkan dijadikan nama halte busway. Orang-orang kenalnya Warung Buncit dibandingkan Warung Jati, jadi jika naik ojek online saya bilangnya Warung Buncit, karena banyak yang tidak tahu Warung Jati. Padahal halte ini terletak di simpangan jalan Warung Jati Barat dan Warung Jati Timur, namun jalan Warung Jati Barat membentang jauh ke selatan bahkan hampir menyentuh halte Departemen Pertanian.

     Indekos yang saya tempati sangat dekat dengan halte ini, sekitar 200 meter.

     Ini juga merupakan halte koridor 6 yang sedikit terisolir karena terletak di antara dua tikungan jalan yang mengapitnya, salah satunya cukup tajam. Alasan inilah yang menyebabkan bus gandeng dilarang beroperasi di koridor 6, dikhawatirkan tidak dapat menikung. Namun sekarang bus gandeng telah diujicobakan di koridor ini dan berhasil lewat tikungan ini bahkan dengan laju yang sangat kencang.

       Alasan mengapa haltenya sedikit terisolir juga karena ditutupi pepohonan, dulu sebelum banyak ditebang, jadi masih asri. Haltenya juga bikin kaget karena tiba-tiba muncul dari balik tikungan. Merupakan halte yang rawan terlewati karena hal tersebut.

  • Imigrasi Jakarta Selatan

     Berlokasi gedung Imigrasi Jakarta Selatan tepat di depan halte tersebut. Kebalikan dari Jatipadang, halte ini justru rampnya ada di akses masuk JPOnya, sedangkan akses masuk haltenya memakai tangga (mungkin karena kasir layang), dan koridor 6 inilah yang mempelopori desain kasir layang pertama dalam sejarah Transjakarta.

     Haltenya sangat ramah pemukiman, terutama di bagian barat. Keluar halte dikit sudah gang menuju pemukiman bahkan masjid.

  • Duren Tiga

     Nama halte ini di ambil dari nama jalan yang berada di dekatnya, yaitu jalan Duren Tiga. Duren Tiga juga nama kelurahan. Dan di halte inilah berlokasi kantor camat Mampang Prapatan. Letaknya persis di depan sekolah yayasan Islam Saadatudarain, dari SD, hingga SMA. Sehingga dapat ditebak, kebanyakan yang menggunakan halte ini adalah anak sekolahan.

  • Mampang Assaadah (Rencana)

     Lagi-lagi hanya angan-angan. Mengingat jarak antara halte Duren Tiga dan Mampang Prapatan cukup jauh, juga teronggok JPO yang potensial dibangun halte di sini, mengapa tidak untuk membangunnya. Banyak masyarakat yang meminta karena super ramah pemukiman penduduk bahkan namanya diambil dari masjid yang berada di dekatnya.

     Semua tahu, di mana ada masjid, di sana terletak pemukiman. Jelas bukan masjid yang menjadi milik gedung.

  • Mampang Prapatan

     Nama halte ini di ambil dari nama jalan dan kecamatan lokasi halte tersebut. Merupakan halte kecil dengan kasir layang yang paling padat di antara semua halte setelah kawasan Kuningan.

     Selebihnya saya tidak tahu ingin berkomentar apa. Oh iya, bus dari Ragunan yang ingin mengisi bahan bakar gas rutenya berakhir di sini. Sudah haltenya secuil, penuh sesak, dimuntahkan pula.

  • Kuningan Timur

     Nama halte ini di ambil dari nama kawasan setempat, yakni kelurahan Kuningan Timur dan merupakan halte transit ke Kuningan Barat yang justru haltenya berada di sebelah timur halte ini. Aih…

     Pertanyaanya, mengapa kasirnya dibuat ‘maksa’ di tengah-tengah? Mungkin awalnya tidak terpikirkan untuk dibangun koridor 9, sehingga harusnya akses masuk rampnya mengarah ke utara. Karena mungkin malas mengganti arah ramp seperti awal mula dibangun transit di halte Dukuh Atas 1, akhirnya inisiatif kasirnya dibuat begini. Sedangkan kasir yang lama digunakan untuk ‘acara uji nyali’. Nasib yang sama juga menimpa halte Cempaka Timur (Well, sama-sama timur) dengan transit model begini.

  • Patra Kuningan

     Nama halte ini di ambil dari nama jalan yang berada di dekat halte tersebut, yakni Jalan Patra Kuningan. Saya pikir Patra itu tadinya nama kantor seperti Patra Jasa. Namun gedungnya justru terletak di dekat Kuningan Timur. Ini merupakan halte elit, halte kantoran. Dari Mampang, kemudian disulap kawasannya menjadi perkantoran. Ada memang pemukiman di dekat halte ini, hanya pemukiman untuk orang-orang yang menengah ke atas, selain itu mungkin masjidnya dapat dijadikan Landmark.

     Satu-satunya halte busway yang kontur jalannya aneh untuk sisi timur, bus harus miring ketika berhenti di halte karena jalanan yang tidak rata. Kebanyakan yang menggunakan halte ini orang kantoran, bahkan hingga ke Setiabudi Utara.

     Yang paling menyedihkan adalah, banyak penumpang yang tidak kebagian bus karena sudah penuh dari halte-halte sebelumnya, belum lagi ketika headwaynya sangat buruk. Memakai angkutan reguler pun tidak bisa karena selain penuh, macetnya seamit-amit. Resiko yang harus dijalani…

  • Kementrian Kesehatan

     Nama halte ini berasal dari Gedung Kementrian Kesehatan di samping halte tersebut. Nama officialnya adalah Depkes, namun saya lebih memilih kemenkes. Merupakan halte terbaik ketika ingin bertujuan ke arah mall Ambassador, AXA Tower, Kuningan City, dan yang lainnya, meski harus jalan kaki sejauh 400 meter.

     Letaknya dekat pemukiman penduduk meski tidak terlalu banyak, juga dekat masjid yang cukup bagus. Sayang, tempat wudhunya yang di lantai dua kerannya hanya 4 sehingga antrian tempat wudhu ketika akan shalat Jumat seperti antri sembako dan letaknya sangat aneh. Membelah shaf shalat. Padahal waktu Jum’at yang mengisi masjid tersebut hingga luber ke bawah adalah para karyawan.

  • GOR Soemantri

     Berlokasi Gelanggang Olahraga Soemantri di dekat halte tersebut. Tadinya bernama halte Pasar Festival (bukan pasar sebenarnya, melainkan plaza), saya tidak tahu mengapa diganti. Mungkin karena sumber penamaannya lebih sesuai dengan nama yang paling umum. Ini adalah halte yang diburu anak-anak muda yang ingin ke Epicentrum Walk, Universitas Bakrie, ANTV, GOR, kolam renang murah (tidak semurah di Ragunan), bahkan hingga perpustakaan.

     Adapun seberangnya adalah perkantoran, dan ada jalan di sebelah JPOnya yaitu jalan Pedurenan Masjid Raya yang mengarah ke pemukiman penduduk. Sedangkan nama Masjid Raya yang dimaksud cukup jauh dari halte.

  • Karet Kuningan

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yakni Karet Kuningan. Halte yang terlihat jelas dari GOR Soemantri ini dipenuhi perkantoran, namun landmarknya adalah pusat perbelanjaan Setiabudi One. Di dekatnya ada jalan juga yang jika terus ditelusuri akan mengarah ke pemukiman penduduk.

     Sudah, saya lelah menulis. Memang tidak ada yang terlalu spesial dengan halte ini, namanyapun sering dilupakan orang lain.

  • Kuningan Madya Aini

     Nama halte ini di ambil dari nama jalan yang berada di seberang halte tersebut, yakni Kuningan Madya Aini. Jadi yang mendapatkan embel-embel Aini itu bukan halte Setiabudi Utara melainkan halte ini karena dekat dengan rumah sakit Aini.

     Nama awal halte ini adalah Jasa Raharja, namun lokasinya juga sangat dekat dengan gedung KPK (Kelipatan Persekutuan terKecil. Komisi Pemberantasan Korupsi). Jadi jika ingin melihat demo atau peristiwa politik langsung tanpa harus repot-repot menyalakan televisi, halte ini tempatnya. Mungkin ada kesempatan juga disorot kamera televisi.

  • Setiabudi Utara

     Nama halte ini di ambil dari nama jalan yang berada di dekat halte tersebut, yakni Setiabudi Utara. Jadi bukan Setiabudi Utara Aini, cukup Setiabudi Utara saja. Merupakan halte transit internal untuk pergantian arah Dukuh Atas ke Monas, maupun sebaliknya. Yang bertujuan ke Latuharhari jangan sampai salah tujuan, harus naik arah Dukuh Atas. Karena jika salah naik bus yang arah Monas, kesempatan berganti tujuan terakhir di halte ini.

     Halte ini juga timpang mengingat medannya yang tinggi sebelah. Sehingga untuk mengarah ke jalan yang rendah halte ini menggunakan tangga tambahan yang sering digunakan oleh para penumpang untuk duduk menunggu bus transit.

  • Latuharhari

     Nama halte ini di ambil dari nama jalan yang berada di dekat halte tersebut, yakni jalan Latuharhary. Halte ini punya sejuta hal yang ingin di bahas tetapi saya bingung ingin mulai darimana.

     Intinya ini merupakan halte terakhir koridor ini sebelum rutenya diperpanjang hingga Dukuh Atas 2, sebuah terminus yang aneh. Jadi jangan kaget jika announcer di bus berkata ini adalah halte terakhir. Tidak perlu turun dari halte ini, terminusnya sudah dipindah ke Dukuh Atas 2. Lagipula jarang terlihat ada calon penumpang yang menggunakan halte ini. Halte yang terpojok dan hampir tidak dianggap.

  • Halimun

     Lihat Koridor 4.

  • Dukuh Atas 2

     Idem, lihat koridor 4.


‘Sedikit’ Galeri Koridor 6

Transjakarta Koridor 6

Antrian Dahsyat Dukuh Atas 2

Transjakarta Koridor 6

Gunung Salak dari Halte Warung Jati

Transjakarta Koridor 6

Masjid Dekat Halte Kemenkes

Transjakarta Koridor 6

Kasir Layang Halte Imigrasi

Transjakarta Koridor 6

Halte ‘Rimbun’ Warung Jati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)