Review Halte Transjakarta, Koridor 7 (27/02/2016)

Transjakarta Koridor 7      Koridor 7 adalah koridor bus Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan Terminal Kampung Melayu sampai Terminal Kampung Rambutan. Jalan-jalan yang dilalui koridor 7 adalah sepanjang Jalan Otto Iskandardinata, Jalan MT Haryono, Jalan Mayjen Sutoyo, Jalan Bogor Raya dan Jalan Gedong Timur/Barat. Koridor ini adalah satu-satunya koridor TransJakarta yang tidak terintegrasi dengan KRL Jabodetabek karena jarak antara halte Kampung Melayu dengan stasiun KRL terdekatnya, yaitu Stasiun Tebet cukup jauh. (Wikipedia)


  • Kampung Rambutan

     Halte ini dinamakan demikian karena letaknya di dalam terminal Kampung Rambutan. Jujur saya suka pemandangan menuju halte terminus ini dari Tanah Merdeka, serasa ingin pulang kampung. Hahay…

     Akses haltenya ada di pojok terminal, namun disediakan JPO juga bagi yang ingin memakainya, tetapi saya yakin kebanyakan akan memilih jalan di bawahnya mengingat hampir sama jauhnya dan tidak perlu repot-repot dengan tangganya yang berada dekat di pintu masuk terminal tertutup pepohonan.

  • Tanah Merdeka

     Nama halte berasal dari nama jalan yang berada di dekatnya, yaitu jalan Tanah Merdeka. Saya tidak tahu mengapa halte ini hanya dibuat satu arah saja padahal memiliki potensi untuk dibangun dua arah seperti halte reguler lainnya. Jadi orang-orang di sekitar Tanah Merdeka hanya bisa menggunakan Transjakarta untuk arah Kampung Melayunya saja, sedangkan mereka mungkin pulangnya harus turun di halte lain kemudian lanjut angkot.

     Haltenya pun tergeletak begitu saja seperti tanpa dosa.

  • Flyover Raya Bogor

     Ini merupakan nama halte pertama yang menjadikan Flyover atas Jalan Raya Bogor sebagai referensi namanya. Halte ini juga biasa disebut halte Pasar Rebo karena berada di kawasan Pasar Rebo, juga disebut sebagai halte MAKRO karena berada di area Pusat Perbelanjaan MAKRO. Nama lain dari halte ini juga biasa disebut dengan halte Uhamka Pasar Rebo yang diambil dari sebuah nama kampus di dekatnya. Well, ini juga halte Transjakarta pertama yang paling banyak aliasnya.

     Haltenya agak membingungkan, pengemudi bus yang kurang kompeten akan kesulitan berhenti di halte yang cukup sibuk ini mengingat kemiringan jalan dan jarak bus ke halte yang tidak seimbang. Atau bahkan berpotensi menabrak haltenya.

     Di satu sisi, jembatan penghubung halte yang lumayan luas ini dapat dijadikan tempat ‘nongkrong’ sementara sambil berdiri atau jongkok (harusnya ditaruh tempat duduk di sini) mengingat areanya disuguhi pemandangan tol dan taman kecil.

  • RS. Harapan Bunda

     Nama halte ini berasal dari nama Rumah Sakit di dekatnya yaitu Rumah Sakit Harapan Bunda. Atau orang-orang menyingkatnya cukup dengan Harbun saja. Tidak ada yang begitu spesial dengan halte ini, namun seharusnya halte ini dibuat dengan kasir layang mengingat median jalan harus diperbesar dengan kondisi lebar jalan yang sempit sehingga boleh dikatakan menjadi biang kemacetan.

  • Pasar Induk Kramat Jati

     Nama halte ini berasal dari nama Pasar di dekatnya yaitu Pasar Induk Kramat Jati. Nah, ini juga, kasusnya sama dengan Harapan Bunda, namun ini tanpa JPO. Saya tidak tahu kenapa, sepertinya halte-halte di sepanjang jalan Raya Bogor tidak begitu menarik untuk dibahas.

     Cuma seonggok halte, dengan nuansa pasar.

     Next!

  • Hek SMP 49 (Rencana)

     Lagi-lagi hanya sebatas angan-angan. Jadi jarak halte Pasar Kramat Jati dan Pasar Induk Kramat Jati tanpa halte ini adalah sekitar 3 KM! Non tol! Belum macetnya. Tidak terbayangkan bagaimana selama 3 KM itu tidak ada halte ditambah macet mix traffic berdesak-desakan dalam bus. Nama haltenya seolah menipu, meski terdengar mirip (perbedaannya hanya kata ‘Induk’), namun jangan sampai tertukar jika tidak ingin berakibat fatal.

     Halte ini sebenarnya ada dalam rencana pembangunan namun mengapa tidak dibangun, lokasinya strategis karena dekat dengan sekolahan. Di apit 2 SMP, yaitu SMP 49 dan SMP 20 serta sebuah SMA. Sangat ramah pula dengan pemukiman. Sayang sekali.

     Btw, Hek adalah nama sekitar kawasan ini, berasal dari bahasa Belanda yang berarti pagar.

  • Pasar Kramat Jati

     Nama halte ini berasal dari nama Pasar di dekatnya yaitu Pasar Kramat Jati. Halte ini sebaiknya dihindari, karena bernasib sama dengan Pasar Pulogadung (sama-sama pasar). Kadang bus dari UKI langsung masuk tol keluar di pertigaan Hek masuk Pasar Induk. Sedangkan sebaliknya dari Pasar Induk masuk tol dan keluar di UKI. Jadi halte BKN, PGC 1, dan halte ini tidak dilayani tanpa pemberitahuan. Beruntung BKN dan PGC 1 memiliki pengganti berupa rute Ancol dan Harmoni. Sedangkan ini tidak tersentuh sama sekali di kedua arahnya. Ckckckck.

     Apa alasan bus masuk tol? Yup, macet. Raja dari segala kemacetan jika saya tidak berlebihan. Tidak panas tidak hujan tidak angin tetap saja tidak bisa gerak. Alasan utamanya karena banyak angkot ngetime, putaran balik, dan persempitan jalan, areal pasar lagi. Belum lengkap juga? Masalahnya ini adalah jalan utama pergantian wilayah Jakarta – Depok – Bogor. Nama jalannya saja Jalan Raya Bogor…

     JPOnya punya 3 akses masuk seperti Pasar Jatinegara, tangga semua. Namun kebanyakan anak tangga sudah banyak yang lapuk bahkan ada yang patah. Saya tidak tahu apakah hal ini sudah diperbaiki atau belum mengingat sangat berbahaya bagi pengguna.

  • PGC 1

     Halte ini tepat berada di depan Pusat Grosir Cililitan. Merupakan halte pertama yang memakai nama pusat perbelanjaan. Seperti yang telah disebutkan, halte ini terletak di depannya persis pusat perbelanjaannya yang berarti di luar. Sedangkan halte PGC 2 terletak di dalam pusat perbelanjaannya. Dan kedua-duanya terpisah.

     Akses masuknya ada 3 juga, terdiri dari 2 akses memakai ramp, dan 1 akses langsung dari mallnya. Saya senang ada korporasi semacam ini.

  • BKN

     Nama halte ini di ambil dari nama sebuah gedung Badan Negara di dekatnya, yaitu Badan Kepegawaian Negara. Tetapi letaknya haltenya di depan gedung ASABRI, di mana BKN agak sedikit nyebrang.

     Saya menyarankan untuk menunggu di halte ini khusus tujuan Grogol, dan Tanjung Priok, mengingat halte UKI sudah penuh sesak. Sedangkan untuk tujuan Kampung Melayu juga bisa menggunakan tujuan Harmoni, dan Ancol di mana kedua lintas koridor ini tidak dilayani di UKI.

     Menariknya, ini juga merupakan halte transit untuk perjalanan ke luar kota. Cukup kepleset sedikit dari halte dan kalian tiba di Pool Bus Primajasa yang melayani rute hingga ke Garut.

  • Cawang UKI

     Halte ini tepat berada di depan kampus UKI. Halte ini juga dekat dengan gedung Transjakarta yang baru. Punya keluhan mengenai pelayanan? Bisa langsung mampir di kantornya dengan turun di halte ini. Saya yakin tadinya halte ini kecil, cuma karena dilayani 3 koridor akhirnya diperluas seperti Harmoni.

     Ini juga merupakan halte padat karena di sinilah orang-orang ‘transit’ menuju perbatasan kota seperti Bekasi Jati Asih dan Cibubur melewati tol. Sedangkan terowongan di sebelah akses masuk JPO timur langsung mengarah ke pemukiman penduduk.

     Tragedi penting, halte ini pernah dirusak oleh mahasiswa UKI, saya tidak tahu apakah mereka butuh piknik atau yang lainnya.

  • BNN

     Nama halte ini di ambil dari nama sebuah gedung Badan Negara di dekatnya, yaitu Badan Narkotika Nasional. Halte ini bercanda, awalnya saya pikir demikian. Halte yang sangat jauh dari pemukiman penduduk (karena tidak ada akses jalan terdekat menuju ke arahnya) namun selalu padat penumpang. Ini manusianya datang darimana? saya tidak tahu apakah mereka hanya ingin transit atau apa.

     Namun setelah saya lihat di Google Maps untuk mengetahui darimana asal penumpang halte BNN, kaget bukan kepalang ternyata yang menghubungkan halte ke pemukiman penduduk bukan gang melainkan JPO yang menyebrangi Tol. Mungkin boleh ini disebut sebagai JPO terpanjang di Jakarta.

     Sisanya karena haltenya berada di sisi kiri, dibuatlah JPO khusus di dalam halte yang di depan gedung BNN untuk menyambung ke halte seberangnya tanpa harus membayar kembali. Mungkin karena ini adalah halte transit?

  • Cawang Otista

     Nama halte ini berasal dari nama jalan dekat halte tersebut, yakni Jalan Otto Iskandar Dinata yang terletak di kecamatan Cawang. Saya pikir tadinya Otista adalah nama salah satu acara infotainment di televisi, Otista, Obrolan Artis Ternama. Ada ada saja.

     Yang saya suka di dekatnya ada gedung yang ternyata itu adalah masjid, kubah dan menaranya dapat dilihat dari atas flyover ketika kalian menggunakan jasa Koridor 9. Nama masjidnya yakni salah satu sahabat Rasulullah saw. yaitu Abu Bakar Ashshiddiq. Mungkin kapan-kapan saya bisa mampir kedalamnya.

     Sedangkan akses ke pemukiman penduduk sekaligus landmark halte ini adalah rumah susunnya dengan berjalan agak jauh ke barat laut.

  • Gelanggang Remaja

     Berlokasi Gelanggang Olahraga Remaja di dekat halte tersebut. Tidak ada yang dapat dibahas di sini. Semuanya sudah jelas. Lanjut!

  • Bidara Cina

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Bidara Cina. Tadinya nama halte ini adalah Ditjen Pembendaharaan, tidak tahu mengapa diganti, mungkin kepanjangan atau kurang pas.

     Diluar hal itu, ini merupakan halte yang paling bersahabat dengan pemukiman penduduk, berbanding hampir terbalik memang dengan 2 halte sebelumnya, yakni GOR dan Otista yang harus berjalan dahulu mengitari gedung-gedung untuk menjangkau sesuatu yang menjadi jantung administrasinya mereka.

  • Kampung Melayu

     Untuk pembahasannya, lihat Koridor 5.

     Pintu menunggunya ada di bagian selatan, paling pojok. Koridor ini rutenya lucu, dari Terminal ke Terminal, dan dari Kampung ke Kampung.


‘Sedikit’ Galeri Koridor 7

Transjakarta Koridor 7

Tangga yang menghubungkan ke halte BNN

Transjakarta Koridor 7

JPO ‘Nyebrang’ BNN

Sisanya menyusul, disculpe las molestias…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)