Review Halte Transjakarta, Koridor 9 (03/03/2016)

Transjakarta Koridor 9      Koridor 9 Transjakarta adalah koridor Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan Terminal Pinang Ranti sampai Halte Pluit. Jalan-jalan yang dilalui koridor 9 adalah sepanjang Jalan Pluit Putri/Putra, Jalan Jembatan Tiga, Jalan Prof Dr. Latumenten, Jalan Satria/Prof. Dr. Makaliwe, Jalan Letjen S. Parman, Jalan Jend. Gatot Subroto, Jalan MT Haryono, Jalan Mayjen Sutoyo, Jalan DI Panjaitan, Jalan Tol Jagorawi, Jalan Pondok Gede Raya. Koridor 9 terintegrasi dengan KRL Jabodetabek di Halte Cikoko Stasiun Cawang dan nantinya setelah jalur ganda Tangerang-Duri beroperasi, Halte Latumenten Stasiun KA di Jalan Satria/Prof. Dr. Makaliwe juga akan terintegrasi dengan KRL Jabodetabek. Dimulai dari Halte Latumenten Stasiun KA hingga Halte BNN, rute ini bersebelahan dengan Jalan Tol Jakarta-Cikampek ruas Cawang-Tomang-Pluit. Koridor ini juga merupakan rute terpanjang di antara rute lainnya total panjang rute adalah 28.8 KM, dan melintasi 5 Kotamadya, yaitu, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. (Wikipedia)


  • Pinang Ranti

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Pinang Ranti. Ampun Cyiin… Nama haltenya seperti minuman pas eike datang bulan deh… ups! Saya tidak benar-benar tahu bahwa daerah dengan nama seperti ini pernah ada di yang namanya Jakarta bahkan hingga saat ini dan kedepannya. Berasal dari pohon pinang, dan pohon ranti, atau orang Sunda biasa menyebutnya dengan Leunca.

     Pemberhentian yang paling awal ini sangat ramah lingkungan sekitar, terintegrasi dengan terminal yang ada dengan menggunakan jembatan khusus dan bersebelahan dengan tempat pengisian bahan bakar gas sehingga banyak bus yang berasal dari koridor lain mengisi bahan bakar di sini. Jadi tantangannya, penumpang harus dapat membedakan mana bus yang akan mengangkut, dan mana bus yang cuma sekedar permisi untuk  sekedar mengisi bahan bakar.

     Halte ini juga merupakan pergantian moda terbaik bagi mereka yang ingin ke Jati Asih, Jati Makmur, Jati Waringin, Jati Kramat, Jati Diri, dan Jati-Jati yang lain.

     Oh iya, landmark halte ini adalah Asrama Haji dan rumah sakitnya.

  • Garuda Taman Mini

     Halte ini terletak di jalan Taman Mini Raya Garuda. Merupakan halte yang belokasi di dekat tempat rekreasi Taman Mini Indonesia Indah. Satu hal yang buat saya bingung adalah di manakah lokasi yang mereka sebut dengan Garuda itu? Yang terlihat di peta hanyalah jalan Pondok Gede raya dan Pintu 1 TMII.

     Lokasi haltenya persis depan Tamini Square, juga ternyata sangat ramah pemukiman penduduk di tambah dekat masjid. Sayangnya, jarak terdekat dari halte ini ke gerbang masuk Taman Mini Indonesia Indah adalah 1 KM, dan itu pun patokan awalnya adalah Masjid At-Tin.

  • Cawang UKI

     Lihat Koridor 7.

     Sebenarnya halte ini juga melewati Pasar Kramat Jati, PGC, dan BKN. Namun dikarenakan waktu tempuh yang terlalu lama akhirnya rutenya dibuat masuk tol Taman Mini – UKI.

  • BNN

     Lihat Koridor 7.

  • Cawang Ciliwung

     Halte ini terletak di Cawang, di dekat sungai Ciliwung. Merupakan satu-satunya halte yang memakai nama sungai sebagai asal penamaannya. Biasanya nama haltenya terpampang di depan kaca atau sesuatu yang terlihat setiap halte, mungkin karena momen yang pas atau yang semacamnya, karena tertutupi badan bus jadinya yang terlihat oleh saya nama haltenya adalah “Wang Wung”.

     Halte ini juga mengawali halte-halte lain di koridor 9 sepanjang ruas jalan tol dalam kota dengan melakukan aksi seperti amoeba. Yupp, membelah diri. Dengan kata lain jika kita terlewat dari tujuan, maka halte-halte khas amoeba ini tidak dapat digunakan untuk berputar balik, atau harus keluar dari halte, menuju halte yang satunya, dan bayar lagi.

  • Cikoko Stasiun Cawang

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yakni Cikoko. Di dekatnya terdapat Stasiun Cawang. Merupakan salah satu halte paling aneh yang pernah ada. Saya yakin dulunya di sini tidak dibangun JPO, buktinya struktur jembatan penyebrangannya berbeda dengan yang lainnya sepanjang jalan tol. Parahnya, bukan hanya haltenya saja yang membelah diri, jembatannya juga! Penumpang yang ingin berputar balik harus keluar halte, menuju terowongan yang super gelap dan sering dilalui KRL, menanjak flyover, menuju halte seberang dengan cara demikian dan akhirnya harus bayar lagi. Cuma nyambungin jembatan doang susahnya apa sih?

     Satu lagi yang spesial dari halte ini, letaknya sangat dekat dengan gedung paling berhantu di daerah Jakarta, serta merupakan gedung paling tinggi di Jakarta Timur. Telah dikosongkan semenjak 2007 hingga 2008. Siap uji nyali? Cukup naik Transjakarta koridor ini tujuan Pluit atau Grogol, turun di halte ini, kemudian tinggal kepeleset sedikit langsung sampai.

     Kenapa pula mesti ada halte yang semacam ini? Jikalau bukan karena Stasiun Cawang saya tidak tahu apa alasannya dibangun halte ini. Memang benar sangat dekat dengan perumahan penduduk, tapi menyebrangnya ekstrim.

  • Tebet BUMD

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Tebet. Di dekatnya terdapat gedung Badan Penanaman Modal Pemerintah. Sebentar, tadinya nama halte ini adalah Tebet BKPM, sejak kapan tiba-tiba berubah menjadi BUMD? Apakah gedung BKPM di sebelah berubah nama jadi BUMD atau saya yang kudet (kurang apdet) atau bagaimana?

     Masih seperti Cawang Ciliwung, namun ada kuis menarik yang jika bisa menjawabnya mendapatkan hadiah ucapan terima kasih. Di manakah akses gang ke perumahan penduduk terdekat di sisi utara halte? Btw, halte ini merupakan yang terdekat menuju Taman Honda Tebet yang cukup bagus untuk ukuran Jakarta Timur walaupun jaraknya sekitar 850 meter dari sini.

  • Pancoran Tugu

     Halte ini berada di dekat Tugu Pancoran. Tugu Dirgantara nama aslinya. Setelah dibuat stress dengan halte Cawang Cikoko kini halte model begini muncul ke permukaan. *depresi

     Halte paling aneh yang pernah ada, di mana sisi selatan halte ini terlihat tampak normal-normal saja, namun sisi satunya, yang tidak kuat jalan jangan mampir di sini. Masalahnya haltenya ada di atas flyover dan akses masuknya memakai ramp! Saya jujur melarang ibu saya untuk menggunakan halte ini.

     Halte ini bisa digunakan untuk berputar balik penumpang yang terlewat tujuan, disebabkan letaknya yang di bawah flyover. Sehingga kesimpulannya, setiap halte yang berada di bawah flyover tol dalam kota -bisa- digunakan untuk putar balik. Tetapi intervalnya sekitar 3 – 4 halte sekali.

     Catatan : setiap halte koridor 9 yang berada di bawah flyover tidak hanya dapat digunakan untuk berputar balik, namun juga tersedia mushalla meski tempatnya di luar halte.

  • Pancoran Barat

     Nama halte ini di ambil dari nama sebuah jalan di dekatnya, yaitu jalan Pancoran Barat. Yakk Pemirsah, kembali lagi halte Transjakarta bereproduksi dengan membelah diri, duh pintar ya arsiteknya, nilai biologinya pasti tinggi.

     Yang saya suka dari halte ini adalah landmarknya, sebuah masjid hijau besar bahkan hingga 3 lantai yang kalau tidak salah namanya adalah Al-Inabah. Cekidot guys.

  • Tegal Parang

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, Tegal Parang. Saya pikir tadinya halte ini tidak pernah ada karena namanya yang sangat asing di telinga saya dan jaraknya terhitung dekat dari halte Kuningan Barat. Ini merupakan halte yang paling dekat dengan stasiun televisi Trans TV, sehingga timbul pertanyaan, mengapa nama haltenya tidak memakai nama itu saja? Indosiar juga begitu kan? Kebon Jeruk sebenarnya juga, mungkin karena orang-orang lebih umum mendengar Kebon Jeruk dibandingkan di mana letak RCTI.

     Akses menuju rumah penduduk paling dekat dari halte ini adalah dengan melewati lorong kecil di samping gedung TV yang disebut di atas.

  • Kuningan Barat

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yaitu Kuningan Barat. Merupakan halte transit ke Kuningan Timur Koridor 6. Dibandingkan rivalnya, Kuningan Timur, saya yakin halte ini memiliki lebih sedikit penumpang dikarenakan memang cakupan untuk menjangkau calon penumpang lebih banyak di halte Kuningan Timur. Sedangkan Kuningan Barat lebih menjangkau ke pemukiman penduduk yang jumlahnya sedikit.

     Halte Kuningan Barat juga disinggung di pembahasan halte Kuningan Timur koridor 6.

  • Gatot Soebroto Jamsostek

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yaitu Jalan Jendral Gatot Subroto. Di dekatnya terdapat Menara Jamsostek. Entah kenapa saya lebih sreg menyebut halte ini dengan Jamsostek Gatot Subroto daripada Gatot Subroto Jamsostek, jujur saya tidak tahu.

     Landmark halte ini selain Menara Jamsostek adalah sebuah masjid besar bernama Baitul-Mughni yang terletak tidak jauh di sebelah barat halte. Masjidnya berwarna putih besar hingga tiga lantai, namun sangat imut jika dikomparasikan dengan gedung-gedung di sebelahnya.

  • Gatot Soebroto LIPI

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yaitu Jalan Jendral Gatot Subroto. Di dekatnya terdapat gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Gedung LIPInya masih di seberangnya. Justru halte ini tepat berada di antara gedung BKPM dan Jamsostek BPJS. Mungkin karena halte sebelumnya telah menggunakan nama BKPM dan Jamsostek sehingga nama halte ini ‘mencari sesuatu yang lain’.

     Pemukiman orang elit bersembunyi dibalik gedung-gedung, saya tidak tahu calon penumpang apakah ada yang berasal dari pemukiman tersebut atau hanya orang kantoran biasa.

     Landmark halte ini adalah hotel Kartika Chandra, yang menyediakan kolam renang elit terbuka untuk umum.

  • Semanggi

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yaitu Karet Semanggi. Di dekat halte ini berlokasi Plaza Semanggi. Namun jika diukur dari jarak ketika turun dari bus, ternyata akses ke Plaza Semanggi masih lebih dekat dari Bendungan Hilir koridor 1, ditambah banyak tempat untuk berteduh.

     Sebenarnya akses masuk JPOnya normal jika dari arah selatan, namun justru akses masuk dari pas depan Plaza Semanggi itulah yang menyebabkan orang berpikir 1.425.893 kali (lebay) untuk memutuskan apakah benar-benar akan menggunakan halte ini, atau tidak. Padahal sekarang tangga JPOnya yang berada di depan Plaza Semanggi bisa dibuat lebih pendek, siapa di sini yang rela orang tuanya disuruh jalan dengan jarak yang ‘ribet’?

     Ditambah lagi karena ini adalah halte transit yang berada di atas flyover, maka halte ini memiliki dua jembatan. Yang satu jembatan khusus transit ke halte Bendungan Hilir Koridor 1 dan yang satunya jembatan penyebrangannya itu sendiri, sedangkan kasirnya melayang sebagai penyambung kedua jembatan. Perlu di catat, ini adalah sejarah transit terpanjang dalam catatan Transjakarta di mana jembatan transitnya (SWPA) membentang jauh ke ujung dunia dan merobek keindahan Plaza Semanggi yang nyata-nyata semenjak pihak MRT merubah posisi halte Polda ke arah utara bisa membuat jembatan transit lebih pendek dan tidak perlu mengganggu estetika tata kota di ibukota.

     Lihat, saking jauhnya transit di antara kedua halte yang telah saya sebutkan di atas, nama dari kedua halte pun tidak memiliki relasi atau kesamaan bahkan nama keduanya berbeda jauh. Tidak seperti halte transit lain yang setidaknya ada satu kata sama di antara keduanya. Semanggi dan Bendungan Hilir, kedua halte itu adalah halte transit? Dari namanya saja tidak meyakinkan…

     Baguslah tidak ada pemukiman di sekitar halte ini, sekalipun ada siapa yang mau naik… Orang-orang pun lebih memilih halte Bendungan Hilir dibandingkan halte ini.

     Catatan lagi : tidak puas dengan akses masuknya yang panjangnya dari ujung barat ke ujung timur, ternyata setelah melewati area kasir pun masih dihadapkan dengan ramp untuk akses masuk ke halte sejauh mata memandang. Halte ini sangat cocok bagi orang yang ingin diet, sedangkan ibumu dapat dipersilakan untuk memilih moda transportasi yang lebih ramah dengan orang-orang berusia lanjut.

  • Senayan JCC

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yaitu Senayan. Di dekat halte ini juga terdapat gedung JCC. Ini merupakan halte berkasir layang yang lumayan tinggi. Setelah barusan di Semanggi penghubung antara kasir dan halte adalah bidang miring atau ramp yang jauhnya hingga ke perantauan, kini yang terjadi di halte JCC adalah sebaliknya. Semoga beruntung untuk melewati anak-anak tangga yang curam…

  • Slipi Petamburan

     Halte ini diapit dua kelurahan, yaitu kelurahan Slipi dan kelurahan Petamburan. Nama halte ini biasa disebut Palmerah dikarenakan nama jalan di dekatnya. Kembali lagi ke halte yang berada di bawah flyover, di mana halte ini adalah salah satu halte yang cukup sibuk karena melalui halte inilah penumpang dapat berpindah moda bagi yang akan melanjutkan perjalanan ke Palmerah, Tanah Abang, Kalideres, Tangerang, bahkan hingga Cirebon.

     JPOnya terlihat baru seperti Cawang Cikoko karena ciri khas jembatan Transjakarta adalah didominasi dengan besi putih. Sehingga sangat membantu siapapun yang ingin menyebrang tanpa takut berhadapan dengan para pengendara egois seperti halnya mereka yang menyebrang hanya mengandalkan zebra cross.

     Sayangnya, meskipun nama lain halte ini adalah Palmerah, namun akses ke stasiun Palmerah haruslah dihubungkan dengan angkot mini apapun yang bertujuan ke Pasar Palmerah.

  • Anggrek Garuda (Rencana)

     Tidak ada, saya hanya ingin menggabungkan 2 buah JPO di antara Petamburan dan Kemanggisan karena lokasinya dekat dengan sekolah dan pemukiman penduduk, sangat tanggung jika ingin berjalan ke salah satu dari dua halte yang saya sebutkan sebelumnya.

     Meskipun terbelah dan menggunakan 2 JPO, bukan berarti kasirnya harus 4, karena prinsipnya seperti BNN atau Latumenten, ada jembatan lain yang menghubungkan kedua belah halte.

  • Slipi Kemanggisan

     Halte ini diapit dua kelurahan, yaitu kelurahan Slipi dan kelurahan Kemanggisan. Di dekat halte ini berlokasi Pusat Perbelanjaan Slipi Jaya. Memang haltenya sangat dekat dengan flyover, namun letak haltenya tidak di bawah flyover sehingga tidak memungkinkan para penumpang untuk berputar balik. Lagipula mengapa kasirnya harus dibuat layang? Karena yang saya perhatikan ukuran lebar bangunan yang di atas dengan halte yang di bawahnya tidak terlihat beda.

  • RS. Harapan Kita

     Nama halte ini di ambil dari nama sebuah rumah sakit di dekatnya, yaitu Rumah Sakit Harapan Kita. Yang senang berpergian jauh keluar kota, nama Harkit atau Harapan Kita tidak asing didengar. Terima kasih sekali kepada siapapun itu telah dibangunkan halte di sini meskipun jarak halte ini ke halte Kemanggisan hanya sekitar 400 meter.

     Landmark halte ini adalah taman Cattleya yang berjarak hampir sama dengan jarak ke halte sebelumnya. Sangat disayangkan.

  • S Parman Central Park

     Untuk pembahasannya, lihat Koridor 8.

     Catatan menarik, ini merupakan satu-satunya koridor Transjakarta yang awal mula peluncurannya tidak dimulai dari halte ujung melainkan dari halte ini. Yang bisa jawab mengapa saya beri hadiah berupa ucapan selamat pagi. Hint, ini memiliki kaitan dengan nama asli haltenya yang ada embel-embel Podomoronya itu.

  • Grogol 2

     Untuk pembahasannya, lihat Koridor 8.

  • Latumenten Stasiun Grogol

     Nama halte ini berasal dari nama jalan setempat, yakni jalan Professor Doktor Latumenten, SH. Di dekat halte tersebut terdapat Stasiun Grogol. Merupakan halte yang cukup aneh, di mana jembatannya ada dua seperti Semanggi. Namun jembatan yang selain JPOnya berada di bawah sebagai penghubung halte yang terbelah kali.

     JPOnya juga baru dibangun, dan sepertinya pandai memanfaatkan lahan. Jika tidak percaya, lihat saja ke sisi barat yang mengarah ke stasiun.

     Selain itu, halte ini juga sangat bersahabat dengan lingkungan pemukiman penduduk dan bahkan masjid. Akses ke stasiun Grogolnya pun terhitung sangat dekat, sehingga halte ini dapat dibilang nyaris sempurna jika bukan karena bentuk jembatannya yang panjang dan aneh.

  • Jembatan Besi

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Jembatan Besi. Akhirnya koridor ini telah lepas dari belahan tol dalam kota. Landmark halte ini adalah Mall Season City. Selain Mall tersebut, untuk sisi timur halte juga ramah lingkungan penduduk, namun saya tidak tahu apakah ada orang yang menggunakan sisi barat jembatannya.

     Ada yang bisa beritahu saya mengapa pemberian atap atau kanopi jembatan hanya setengah? Kali ini saya benar-benar tidak tahu. Terakhir saya lihat kondisinya masih sama, pemberian atap hanya untuk tangganya saja, jembatannya tidak. Dapat dipastikan hal itu membuat jembatan halte busway ini tidak nyaman dipandang.

  • Jembatan Dua

     Nama halte ini berasal dari nama jalan di mana halte ini berlokasi, yakni Jembatan Dua. Lagi-lagi letak haltenya dibuat melayang semuanya di atas flyover. Tidak seperti Pancoran Tugu yang hanya setengah, ini benar-benar seluruh halte berada di atas flyover. Wew. Saya tidak yakin orang-orang di bawah akan menyadari keberadaan halte ini, atau mungkin orang baru yang penasaran akan bertanya, “Tiang apa itu?!”.

     Saya lebih menyarankan nama halte ini diubah menjadi Tubagus Angke.

  • Jembatan Tiga

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Jembatan Tiga.

     Jembatan lagi, mungkin kedepannya Jembatan Empat, Jembatan Lima, dan… sebentar, Jembatan Lima memang benar-benar sebuah nama daerah, letaknya dekat dengan Jembatan Dua. Namun saya tidak yakin Jembatan Empat apakah benar-benar ada.

     Kuis yang lain dimulai, dimanakah akses perumahan penduduk (non-elit, campuran) terdekat dari halte ini? Karena halte ini memang sangat tidak ramah perumahan penduduk.

  • Penjaringan

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Penjaringan. Oke, kuis yang lain lagi, pertanyaan terbesar saya adalah, mengapa tidak dibangun JPO untuk akses masuk ke halte daripada membiarkan calon penumpang menyebrang demi menggapai apa yang disebut-sebut sebagai halte busway itu. Lahannya ada padahal, Latumenten saja bisa.

     Diluar itu merupakan halte yang dipenuhi banyak landmark. Diapit dua buah pusat perbelanjaaan (Emporium Pluit dan Pluit Junction) dan satu rumah sakit (Atma Jaya). Di tengah-tengahnya masjid yang cukup besar, keran wudlunya saja sangat banyak. Sayang, saya tidak melihat adanya kawasan menuju pemukiman penduduk di sini. Jadi masjid yang besar itu miliknya siapa?

  • Pluit

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yakni Pluit. Saya tidak suka dengan pemberhentian yang satu ini. Yang pertama kali menyambut para penumpang ketika turun di halte ini adalah bau sampah yang menyengat. Tidak peduli persis di sebelah halte ini ada pusat perbelanjaan Pluit Village dan pemukiman elit di sisi satunya. Tetap saja ini tidak dapat menyelamatkan reputasi halte ini sebagai halte paling kumuh dalam sejarah Transjakarta, apalagi ditambah sebagai halte pemberhentian akhir yang cukup aneh.


‘Sedikit’ Galeri Koridor 9

Transjakarta Koridor 9

Halte Pancoran Tugu, apakah tidak terpikirkan untuk dibuatkan ekskalator atau elevator?

Transjakarta Koridor 9

Slipi Kemanggisan

Transjakarta Koridor 9

Masih di Slipi Kemanggisan

Transjakarta Koridor 9

Sisi halte Kuningan Barat

Sisanya menyusul, disculpe las molestias…

2 Comments:

  1. Di halte Slipi Petamburan arah Grogol juga entah kenapa pintu depannya tidak digunakan. Jadi kalau mau turun di Slipi Petamburan ke arah Grogol harus turun dari pintu depan atau tengah dari bis.

    • Ya ampun, saya kira sudah tidak ada masalah. Soalnya akhir-akhir ini saya agak jarang naik bus TJ.

      Coba kamu langsung lapor ke Twitter Transjakarta, caranya sampaikan keluhan kemudian jangan lupa mention @pt_transjakarta. Biasanya direspon lewat Direct Message.

      Terima kasih sudah mampir. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)