Review Halte Transjakarta, Koridor 2 (27/05/2015)

 Transjakarta    Koridor 2 Transjakarta adalah koridor Transjakarta yang beroperasi dengan jurusan Kota Harapan Indah (Bekasi) sampai Halte Harmoni Central Busway (Jakarta Pusat). Jalan-jalan yang dilalui koridor 2 adalah sepanjang Jalan Pinggir Saluran, Jalan Boulevard Harapan Indah, Jalan Sultan Agung, Jalan Bekasi Raya, Jalan Perintis Kemerdekaan, Suprapto, Senen Raya, Pejambon, Medan Merdeka Timur, Veteran, dan berputar di Halte Harmoni Central Busway. Untuk arah sebaliknya melewati Jalan Medan Merdeka Barat, Medan Merdeka Selatan, Kwitang, Suprapto, dan seterusnya hingga kembali ke Kota Harapan Indah. Koridor tersebut terintegrasi dengan Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Juanda yang melayani KA Commuter Jabodetabek.


  • Pulogadung 1

     Nama halte ini berasal dari nama daerah setempat, yaitu Pulogadung. Sedangkan angka satu (1) yang disematkan pada nama halte tersebut dikarenakan halte ini memang terbelah menjadi dua, yang besar untuk koridor 2, sedangkan satunya untuk koridor 4.

     Halte ini memiliki banyak pintu meskipun kebanyakan bus yang dioperasikan oleh PT. Trans Batavia hingga saat ditulisnya artikel ini hanya memiliki satu pintu. Dan kemudian sisanya diberikan untuk koridor yang meneruskan rutenya hingga ke Harapan Indah, Bekasi.

     Perhatian: Pintu yang menuju koridor 2C atau Pulogadung – Harapan Indah tidak dipisahkan oleh barrier dan turnstile hingga penumpang dapat menyelinap masuk ke dalamnya tanpa sepengetahuan petugas dengan mudah, namun apa memang sebenarnya di desain demikian?

  • Bermis

     Nama halte ini berasal dari nama kawasan setempat, yaitu Bermis. Halte ini berada di daerah gersang koridor 2. Jujur saya tidak terlalu menyukai tempat ini dikarenakan daerahnya yang panas dan berdebu di mana daerah gersang ini di mulai dari selepas Pulogadung hingga Pedongkelan.

     Letak haltenya pun tidak bagus, terletak di tengah-tengah. Lumayan jauh memang akses ke perumahan penduduk, diblok oleh beberapa deret pemukiman industri kecil dan kali yang isinya sepertinya bukan air lagi melainkan sampah. Bahkan salah satu tiang JPOnya harus direlakan untuk dijepit oleh salah satu bangunan dari deretan tersebut, dan ramp akses masuk JPOnya juga harus mengalah untuk ‘menghormatinya’ dengan memiringkan sedikit bagian ujung dari bidang miring tersebut.

      Sedangkan akses yang satunya mengarah ke Kompleks Perumahan Bermis Gading yang pastinya memiliki akses terbatas.

  • Pulo Mas

     Nama halte ini berasal dari nama daerah tersebut, yaitu Pulomas. Masih di daerah gersang, walaupun sedikit lebih baik. Sisi selatan halte ini dekat dengan rumah penduduk meski sisi satunya lagi dibatasi dengan kali yang di dekatnya terdapat sebuah jembatan, menuju sebuah jalan yang saya tidak tahu itu tembusnya di mana dan di dekatnya banyak angkot yang bertebaran.

  • ASMI

     Di dekat tersebut terdapat Akademi Sekretari dan Manajemen Indonesia atau ASMI. Sebelumnya, pada saat itu saya mengira ASMI adalah kepanjangan dari Asrama Militer sebelum akhirnya ini adalah sebuah nama kampus yang dijuluki kampus Ungu. Dulunya, di sinilah trayek ekspress Koridor 2B Pulogadung – Kalideres bermula.

     Kembali seperti Bermis, sisi utara halte ini masih dikepung deretan pemukiman yang sama, bahkan dengan sedikit tidak manusiawi. Untungnya, tidak jauh dari sana terdapat mushalla sebagai landmark khusus bagi yang mengejar waktu shalat.

  • Pedongkelan

     Nama halte ini berasal dari nama daerah tersebut, yaitu Pedongkelan. Saya tidak tahu apa persisnya maksud letak halte ini. Inginnya terletak di tengah-tengah atau terlihat seperti menjauh dari halte Cempaka Timur, namun yang ada justru menyulitkan pejalan kaki untuk mengakses halte ini dikarenakan tempatnya yang menjauh dari rumah penduduk sekitar.

     Sebenarnya rumah penduduk sangatlah dekat dengan halte ini jika tidak dipisahkan dengan kali, namun jembatan yang menghubungkannya terletak di dekat halte Cempaka Mas. Jembatan ini menghubungkan dengan perumahan penduduk yang berada di sekitar Jalan Tabah dan Jalah Prihatin Kampung Pedongkelan. Yang tabah ya, yang prihatin ya… Akses ke Halte memang cukup jauh…

  • Cempaka Timur

     Nama halte ini berasal dari nama kelurahan setempat, yaitu Cempaka -Putih- Timur. Saya tidak mengerti mengapa kata “Putih”nya dihilangkan. Di samping itu, halte ini hanya dekat dengan pusat perbelanjaan ITC Cempaka Mas, sisanya jauh, termasuk transitnya ke Cempaka Mas (tanpa kata “Putih”) Koridor 10.

     Penyandang disablitas terutama yang menggunakan kursi roda mungkin tidak jadi masalah transit sejauh apapun asalkan memakai ramp. Seakan di-PHP-in (Pemberi Harapan Palsu, bukan bahasa pemrograman), dari mulai akses masuk, hingga transit di Cempaka Timur yang seluruhnya memakai ramp, kini di ujung transitnya yang jauh di mata tiba-tiba memakai tangga, dan naik turun hingga tiga kali! Jebakan BatMan kah? O-Em-Ji!

  • RS. Islam

     Nama halte ini berasal dari nama Rumah Sakit yang berlokasi tidak jauh dari halte tersebut, yaitu Rumah Sakit Islam. Tidak benar-benar langsung di depan rumah sakitnya, namun harus masuk dahulu ke dalam sebuah jalan yang ‘dilangkahi’ oleh akses masuk rampnya menuju Universitas Yarsi.

     Lepas dari area gersang, kini masuk ke area yang cukup ideal untuk berdirinya sebuah halte.

  • Cempaka Tengah

     Nama halte ini berasal dari nama jalan di dekatnya yaitu jalan Cempaka Putih Tengah. Lagi, nama halte ini tanpa kata “Putih”. Seakan-akan Transjakarta sensitif sekali dengan kata “Putih” Wahahah.

     Di sebelah selatan halte ini memiliki akses masuk berupa ramp yang di desain cukup kreatif dikarenakan adanya masalah kekurangan tempat (atau salah hitungan?) di mana rampnya memang menguasai trotoar, namun sangat ramah terhadap pejalan kaki, bahkan pengguna kursi roda yang hanya sekedar melintas.

  • Pasar Cempaka Putih

     Terletak Sebuah pasar yang bernama Pasar Cempaka Putih tidak jauh dari halte tersebut. Nah, yang ini kata “Putih”nya tidak dihilangkan dari nama halte (atau aneh jika dihilangkan?). Sejatinya, saya sendiri hingga saat ini tidak mengetahui di mana letak pasar yang di maksud.

     Dan ini merupakan jenis halte yang “tangga khas busway”nya tidak memiliki kelokan setelah halte Glodok, yang mana masalah luas lahan pun berbicara.

  • Rawa Selatan

     Nama halte ini berasal dari nama kelurahan di daerah tersebut, yaitu Kampung Rawa Selatan. Hanya sekedar memberikan info, bahwa ini adalah satu-satunya halte yang menggunakan kata “Selatan”.

     Ngomong-ngomong, mengapa bagian bawah ramp persis di dekat pintu masuk haltenya seperti jebol ke bawah? Ini desain maksa atau apa?

  • Galur

     Nama halte ini berasal dari nama kelurahan di daerah tersebut, yaitu Galur. Salah satu halte yang paling saya cintai. Di mana ketika para penumpang keluar dari tangga JPO bagian utara, di situlah mereka tiba di sebuah gerbang masjid.

     Adapun dengan tangga JPO yang satunya lagi, ini hanya saya, atau memang dari halte Rumah Sakit Islam hingga halte ini memiliki bentuk akses masuk yang beragam, kreatif, dan unik? Atau hanya sebatas “pintar” dalam memanfaatkan lahan?

  • Senen

     Halte ini terletak di Kecamatan Senen, tepat di depan Pasar Senen. Saya tidak tahu dulunya sebelum dijadikan halte transit dari koridor 5 apakah halte ini memiliki akses masuk tersendiri? Wallahu a’lam.

     Oh, ini juga mode transit yang sama sekali tidak memakai ramp, setidaknya tidak memperdayai para pengguna kursi roda karena tidak seperti halte transit Cempaka Timur yang menggunakan ramp keseluruhan, namun setelah menyebrang di jembatan transit yang sangat jauh, di hadapkan pada tangga yang naik turun hingga tiga kali.

     Adapun menunggu bus di sini seperti harap-harap cemas, khususnya arah Harmoni. Dikarenakan penumpang harus menduga kapan saatnya bus muncul dari bawah terowongan yang gelap di tengah kemacetan karena lampu lalu lintas.

  • Atrium

     Halte ini dinamakan demikian karena lokasinya dekat Plaza Atrium Senen. Jarang-jarang sebuah pusat perbelanjaan dijadikan nama halte. Atau mungkin karena Atrium dulunya bersejarah?

     Saya menyenangi bagian timur akses masuk halte ini karena ruang di antara tiang penyangga rampnya dijadikan pot bunga kecil secara selang-seling yang menempel pada tembok pagar atrium.

     Satu lagi, halte ini memasuki area zig-zag satu arahnya koridor 2. Dan halte ini satu-satunya yang memiliki akses masuk berupa JPO.

  • RSPAD

     Nama halte ini berasal dari nama Rumah Sakit di dekatnya yaitu Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Letak halte ini terbaring pasrah begitu saja di area zig-zag satu arahnya Koridor 2.

  • DEPLU

     Departemen Luar Negeri berlokasi di dekat halte tersebut, sehingga menjadi nama halte tersebut. Hati-hati bagi yang terlewat halte ini karena mau tidak mau jika tidak ingin memutar di Harmoni dari transit kembali di Senen karena satu arahnya, penumpang harus turun di halte Gambir 1 yang terletak 700 meter dari halte ini. Terutama mereka yang ingin mengunjungi Lapangan Banteng.

  • Gambir 1

     Nama halte ini berasal dari nama daerah dan stasiun di tempat tersebut, yaitu Gambir atau stasiun Gambir. Masih terletak di area zig-zag dan satu arahnya koridor 2. Ciri khas dari halte yang berada di area ini adalah tergeletak begitu saja di pojokan seperti terisolir, kecuali halte Atrium.

     Namun sekarang ada JPO yang baru dibangun di dekat halte ini. Penumpang yang akan menyebrang diberi pilihan.

  • Istiqlal

     Nama halte ini berasal dari nama Masjid Raya di dekatnya, yaitu Masjid Istiqlal. Merupakan salah satu dari halte-halte Transjakarta yang paling tidak berguna. Alasannya? Jika ingin mengakses masjid ini dapat turun di halte Juanda yang nyata-nyata halte besar, dilalui banyak koridor, dan tidak terisolir. Bahkan kata petugasnya sendiri jumlah penumpangnya yang masuk dari halte tersebut setiap hari tidak lebih dari 10 orang. Dan peningkatan penumpang dapat terjadi di hari Jum’at, atau hari raya Eid. Namun itupun tidak begitu signifikan.

  • Juanda

     Nama Halte ini diambil dari nama jalan di dekatnya yaitu Jl. Ir. H. Juanda. Lepas dari area zig-zag, namun belum terlepas dari area satu arahnya koridor 2. Namun menjadi normal (dua arah) jika di daerah Monas terjadi unras atau demonstrasi, atau acara rakyat lainnya. Penjelasan selebihnya lihat di penjelasan halte Istiqlal.

     Halte ini juga dekat dengan stasiun, yakni Stasiun Juanda, dan memiliki struktur JPO yang cukup aneh, dikarenakan dahulunya JPO ini hanya khusus untuk penumpang dari stasiun. Sedangkan arah sebaliknya masih memakai zebra cross.

  • Pecenongan

     Halte ini berdekatan dengan Pusat Kuliner Pecenongan, yang kemudian menjadi nama halte tersebut. Akses masuk halte ini hanya memakai zebra cross, namun letak kasirnya berada di sebelah utara karena terbelah sungai.

  • Harmoni Central Busway

     Penjelasan lihat halte Harmoni koridor 1. Untuk tempat menunggunya, ada di bagian yang paling selatan.

  • Monumen Nasional

     Idem, seperti Harmoni, begitu pula dengan tempat menunggunya. Halte ini juga termasuk area satu arahnya koridor 2, ronde ke 2 hingga Kwitang. Halte-halte tersebut merupakan halte yang paling sering ditutup jika ada acara rakyat, atau demonstrasi.

  • Balai Kota

     Jika bukan karena ada tujuan ke Balai Kota, saya rasa kedudukan halte ini persis seperti Istiqlal.

  • Gambir 2

     Halte ini lebih dekat dijangkau dari Harmoni daripada saudaranya, Gambir 2. Namun menunggu di halte ini dari stasiun Gambir sepertinya tidak terlalu di sarankan. Tepatnya, Gambir satu baik untuk tempat keberangkatan, dan ini baik untuk tempat penurunan.

  • Kwitang

     Kwitang adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Kelurahan ini terkenal sebagai lokasi pasar buku Kwitang. Halte ini terletak di tengah-tengah taman yang bernama taman Gunung Agung, dan tamannya itu sendiri terletak di tengah-tengah jalan. Fancy that!

     Saya memiliki sedikit cerita di sini, di mana ketika akan shalat Maghrib dan waktu sudah mendekati Isya, saya keluar halte dan terlihat plang masjid dekat asrama brimob. Namun yang terjadi bukannya mempersilakan saya shalat justru ditahan dan ditanya-tanya identitas yang berputar-putar di mana sebelumnya sudah saya jawab, tidak seperti di yang lain contohnya di pengadilan negeri dekat halte Sawah Besar.

     Karena marah, saya sempat bertanya kepada petugas yang bersangkutan mengenai di mana masjid yang terletak di dekat sini dan mereka menjawab tidak tahu, jelas saya naik pitam dan agak memaki mereka, tidak peduli di sampingnya petugas yang membawa senjata mirip AK-47. Saya hanya memandang kosong pada tulisan “Masjid At-Taubah” yang mengarah ke asrama itu. Dan saya mengerti demi alasan keamanan saya diinterogasi. Namun bukan dengan pertanyaan yang bolak-balik dan menahan-nahan.

     Saya tahu yang lebih penting hingga saya meninggalkan mereka dan menemukan masjid unik yang terletak di basement seberangnya. Masjid Agung Al-A’raf, Toko Buku Wali Songo. Dan saya sarankan penumpang yang ingin shalat dari halte Kwitang untuk shalat di masjid ini daripada masjid yang memiliki plang di ‘sebelah’.



‘Sedikit’ Galeri Koridor 2

Transjakarta Koridor 2

Senja dari JPO Bermis

Pedongkelan

Pedongkelan 2

Pedongkelan

Pedongkelan 1

Pemandangan Transit Cempaka Timur

Pemandangan Transit Cempaka Timur

Halte Kwitang

Taman Gunung Agung

Masjid Al-A'raf Toko Buku Wali Songo

Masjid Al-A’raf Toko Buku Wali Songo

Transjakarta

Halte Bermis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)