Review Transjakarta : Koridor 1 (08/11/2013)

Transjakarta

Halte Karet

            Perjalanan awal moda transportasi yang berperan sebagai Bus Rapid Transit (BRT) ini dimulai dari koridor pertama ini, memiliki warna koridor yang sama dengan background logo Transjakarta. Pertama kali diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. (H.C.) H. Sutiyoso dan beroperasi pada tahun 2004. Meniru sistem Transmilenio dari Bolivia, Transjakarta hanya berhenti pada halte-haltenya saja dan dengan jalur khusus yang sangat dilarang untuk dikorupsi kendaraan lain. Well, ini seharusnya membuat mereka yang memakai kendaraan pribadi ‘iri’ dengan mereka yang menggunakan moda transportasi Bus Transjakarta via busway ini. Bay de Wey, koridor ini memiliki sebuah titik awal di Blok M dan memiliki akhir di Stasiun Kota.

            Kondisi Rute : 85/100

            Mungkin karena ini koridor pertama, rute yang direncanakan memang wonderful. Dengan melewati kebanyakan kantor, tempat rekreasi, tempat ibadah (Halte Masjid Agung), stasiun, sarana pendidikan, dan pusat perbelanjaan, koridor 1 memiliki jumlah penumpang yang paling banyak diantara koridor lainnya, juga karena koridor ini berada pada pusat kota. Jarak halte pun dapat dibilang bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dengan posisi jalur yang sangat luas jika ditambah jalur reguler dan berada di posisi jalur cepat.

            Saya terpaksa menurunkan nilai ini 10 point (tadinya saya tuliskan kondisi rute mendapat nilai 95) karena saya baru teringat dimana koridor 1 ini sering terganggu dan terhambat operasionalnya disebabkan adanya aktivitas-aktivitas pusat dari mulai hiburan sampai demonstrasi masyarakat hingga akhirnya bus harus beralih rute atau bahkan dihentikan operasionalnya. Dimana dari koridor yang lainnya diberitahu di depan loket kasir dengan secarik kertas yang bertuliskan kira-kira “Koridor 1 tutup ada demo”.

            Headway : 70/100

            Kini monitor pemberitahuan telah menyala kembali di beberapa halte setelah kehilangan fungsionalitasnya, tentu saja ini sangat berguna mengingat para penumpang dapat mengetahui estimasi bus yang akan datang. Headwaynya bisa dibilang agak sedikit tidak jelas, dengan titik hambatan terjadi di Harmoni Central Busway, namun ini tidak terlalu buruk. Saya sendiri tidak tahu berapa menit rata-rata menunggu bus koridor yang satu ini, karena kadang bus ini sering ‘menclok’ (baca : BKO (Bantuan Kendaraan Operasional) a.k.a ‘permintaan agar ditebengin’ ke koridor lain seperti koridor 8 (sekarang sudah resmi), koridor 2 (saya pernah naik ini dari halte Pulogadung 1), dan koridor 9A) yang membuat estimasi kedatangan bus ini semakin tidak jelas.

            Kondisi Bus : 90/100

            Dengan identitas lambung DAMRI atas operator PT. Perum DAMRI ini, bus gandeng berwarna merah yang bernama Zhong Tong bus asal negara tirai bambu dengan penampilan yang boleh dikatakan ‘sangat menggemaskan’ pada bagian depan karena berbentuk seperti peluru. LED pemberitahuan sebelumnya memiliki huruf yang bagus namun beberapa hurufnya seperti terpotong dengan sebab ‘di bawah garis’ (Harusnya Transjakarta; tujuan, yang terlihat di LED adalah Transiakarta; tuiuan. Untung saja font announcer halte berbeda dengan font saat animasi berjalan atau jika tidak, hal ini akan menimbulkan kerancuan pada tulisan Masjid Agung), speaker yang sangat baik (jujur, saya suka, khususnya pemberitahuan ketika memasuki halte Masjid Agung) dan memiliki logat Inggris yang boleh dikatakan spesial. Sayangnya, semenjak November 2013 ini announcernya diganti dengan hal yang persis seperti Inobus gandeng koridor 11 atau 12, dengan suara berat seperti orang tua dan memiliki beberapa kesalahan fatal dalam pemberitahuannya (seperti, Halte Dukuh Atas transit koridor 2 dan Halte Kota transit koridor 11). Bus ini lebih sempit dari bus gandeng lainnya, dan bus ini memiliki sistem pendinginan yang lumayan menusuk kulit jika malam tiba atau ketika hujan.

            Kesimpulan

            Hal lainnya yang perlu diperhatikan kembali adalah, beberapa halte tidak memiliki tiga pintu sehingga para petugas onBoard harus ‘berkicau’ untuk memberitahu penumpang agar turun lewat pintu tengah. Sisanya koridor ini memiliki sangat banyak hal untuk ditengok dan dikunjungi dengan sebuah tingkat rekomendasi yang cukup tinggi sebelum akhirnya para pengguna kendaraan umum benar-benar ‘jenuh’ atas seringnya menggunakan koridor ini dan beralih ke koridor yang lain.

            Nilai Keseluruhan : 80 / 100

            Nilai Mencoba Kembali : Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)