Review Transjakarta : Koridor 10 (26/11/2013)

Transjakarta

Terminal Tanjung Priok

            Kalo inget masa-masa lagi BeTe atau lagi pengen ‘happy’, kadang beberapa orang pergi berbelanja hanya untuk membeli beberapa batang coklat. Di mana makanan manis yang berpotensi membuat sakit gigi tersebut memang sangat digemari dengan sebuah racikan resep yang menakju… eh, kenapa malah makanan?

            Tak peduli jika pembahasan di atas sangat menyimpang dari topik, makanan yang memiliki nama, warna, dan rasa yang sama tersebut dengan mempunyai peluang membuat orang ‘bahagia’ karena rasanya yang memang manis kini hadir sebagai warna koridor yang berada persis di bawah underpass dari Tol Lingkar Dalam Kota Jakarta ini tepatnya yang menguasai daerah Timur.

            Filosofi dan analoginya, pelayanan koridor 10 seharusnya sama manisnya dengan bagaimana koridor tersebut diberi warna. Mungkin sedikit uraian berikutnya akan memberikan penilaian mengenai bagaimana tingkat ‘kemanisan’ dari koridor yang sedang akan dibahas.

            Kondisi Rute : 65/100

            Terpanjang setelah koridor 9, namun dirasa untuk koridor ini masih sangat baik dibandingkan koridor yang paling kejam tersebut. Dengan kondisi jalan yang cantik karena memang dipayungi oleh Fly Over Tol Lingkar Dalam Kota Jakarta bagian timur mulai dari Jalan Yos Sudarso, sepanjang Jalan Ahmad Yani, D.I. Panjaitan hingga berakhir di Jalan Mayjen Soetoyo, membuat suasana yang sejuk ketika mampir setelah Transit dari koridor lain seperti koridor 2, 4 dan 12.

            Ciri lain dari koridor ini adalah beberapa halte transitnya sama sekali tidak memiliki gerbang masuk seperti halte transit Cempaka Mas (JPO transit terpanjang kedua setelah Semanggi), Pemuda Pramuka (JPO transit disini favorit saya karena bentuknya yang unik), dan Stasiun Jati Negara (Jujur, saya sampe dua kali ‘nyasar’ di sini karena minim penunjuk jalan). Selebihnya tidak masalah kecuali halte Walikota yang tidak memiliki sistem berputar arah seperti beberapa halte di koridor 9, sehingga menyulitkan penumpang yang memang ‘bablas’ dari halte tujuan, dan itupun halte Permai Koja masih belum effisien digunakan sehingga bagi yang terlewat di Plumpang harap putar arah di Enggano.

            Memiliki rute yang dimulai dari Terminal Tanjung Priok dan berakhir di Halte PGC 2 alias langsung turun di dalam pusat perbelanjaan grosir Cililitan. Sangat bagus untuk tujuan berbelanja karena memang terminusnya super strategis. Saya sempat tersenyum-senyum sendiri mengingat terminus koridor ini dalam keadaan bus yang memang masuk ke dalam area pusat perbelanjaan.

            Headway : 40/100

            Nilainya 40? Sebenarnya itu lebih baik dari yang padahal seharusnya saya beri nilai 15. Salah satu dari dua orang barrier pada beberapa halte di Koridor 10 pernah bercerita kepada saya bahwa dulu pernah terjadi ketika dia sangat kaget mengetahui headwaynya begitu lama, bahkan koridor 11 saja paling lama itu sekitar 15 menit. Penumpang mungkin dalam kondisi mengamuk karena bus sangat lama datang sedangkan mereka sendiri sudah menunggu lebih dari 2 jam. Namun, ketika bus datang sudah dalam kondisi yang pasrah karena penuhnya sehingga para penumpang yang memang emosinya dalam kondisi maksimum sampai memecahkan kaca busnya.

            Bahkan barrier yang satunya lagi bercerita kepada saya bahwa beberapa halte di utara terpaksa ditutup karena jikalau terjadi bongkar muat, sesuatu yang bernama macet akan menemani jalan-jalan arah Tanjung Priok hingga menyentuh tempat kalem yang bernama Cempaka Mas.

            Perlu digarisbawahi bahwa koridor 10 dulunya hanya memiliki 10 armada bus merah single. Sehingga wajarlah jika waktu tunggu yang begitu lama ditambah lagi titik kepadatan terjadi disekitar Plumpang arah Cililitan, dan Penas Kalimalang membuat bus semakin jarang. Apalagi jika memang beberapa bus antri BBG atau bahkan sedang storing. Hingga akhirnya ditambahlah 15 armada bus gandeng yang juga berwarna merah.

            Kondisi Bus : 85/100

            Dengan identitas lambung BMP atas operator PT. Bianglala MetroPolitan ini, bus single merah Hyundai yang sedikit minim perawatan ini terlihat kurang diminati dibandingkan dengan sahabat karibnya yang gandeng dengan identitas lambung TMB atas operator PT. Trans Mayapada Busway yang belum lama ikut membantu.

            Saya tidak ingin membahas bus single, pantauan saya ingin fokus terhadap bus gandeng yang paling saya cintai ini. Jujur, pertama kali naik ini ketika HUT Jakarta ke-486 karena gratis (memang maunya), saya tak sengaja memilih koridor ini sebagai transit. Awalnya tak peduli bus, yang ada saya sumpek di dalamnya hingga saya agak malas naik koridor ini lagi.

            Namun kenyataan berkata lain, teman saya mengajak saya bertemu di PGC yang memang secara tidak langsung ‘menyuruh’ saya agar menaiki bus pada koridor ini meski memang ada koridor 7 ataupun lintas koridor lainnya yang memang hinggap di PGC walaupun haltenya di luar pusat perbelanjaan yang dimaksud.

            Pada saat itu saya mendengarkan lagu Naif yang berjudul Air dan Api. Alhamdulillahnya saya dapat bus gandengnya TMB, dan alhamdulillahnya lagi LED serta speakernya masih berfungsi dengan sangat baik. Pas masuk pandangan saya tertuju pada LED announcer tersebut, LED yang unik, kalem, sederhana, super wah! Dan yang lebih hebat lagi –subhanallahi wa bihamdih- ternyata lagu yang saya dengarkan memang sangat fit dengan animasi LED tersebut, apalagi ketika tulisannya berubah menjadi STOP, membuat saya makin anteng di depan LED dan super terhibur (terima kasih ya Allah). Speakernya bagus, nadanya ceria, simple, namun beberapa halte tidak disebut namanya dengan perkiraan karena nama halte tersebut ada perubahan seperti Pulomas Bypass (Pacuan Kuda), Penas Kalimalang (Pandjaitan Penas), Pemuda Pramuka (Pramuka BPKP 2), Cawang Soetoyo (Cawang), Utan Kayu Rawamangun (Rawamangun), dan Permai Koja (Koja).

            Namun naasnya, beberapa speakernya sudah tewas walaupun sebagian besar LEDnya masih aktif, salah satunya yang masih bagus adalah TMB-49. Yang lain sepertinya sudah wassalam.

            Oh, satu lagi yang mesti dicatat, LED announcer bus Komodo gandeng ini sudah menggunakan teknologi GPS, namun mungkin karena GPSnya sudah melemah atau memang koridor 10 berada di bawah underpass atau apa jika hari sudah mulai gelap, announcernya tidak berfungsi dan LED hanya bertuliskan “Destination XXX”. Atau jika GPSnya telah benar-benar ‘berputus-asa’, tulisan LEDnya berubah jadi “Welcome on Board!” dan memiliki kesempatan untuk hidup kembali seperti sediakala jika telah ‘lolos’ dari underpass tersebut.

            Tulisan announcer aktif terdiri dari 3 bagian, “IMMINENT STOP”, “STOP”, dan “DESTINATION” yang memang dirasa sangat kreatif dan memiliki animasi yang bermacam-macam namun sederhana. Dan speaker akan mengeluarkan suara yang cukup keras seperti bunyi bel jika tulisannya berubah menjadi “STOP”. Sangat berkesan!

            Kesimpulan

            Saya senang dengan koridor cantik ini, dan jika saya boleh egois, hampir seluruh kecantikan koridor ini disebabkan dengan LED interior busnya. Bahkan saya dari Roxy lewat RS. Sumber Waras dengan tujuan Warung Jati hingga ‘dibela-belain’ lewat Cempaka Mas semua hanya karena LED. Saya ulangi, hanya karena LED interior koridor 10. Hingga seorang petugas OnBoard koridor 10 merekomendasikan saya agar naik bus belakangnya hanya karena LED busnya memang rusak. Benar-benar LED terbaik dari yang pernah saya temui di Ibu Kota Tercinta ini. Atau setidaknya itu sebagai sedikit hiburan setelah keriting dengan headway koridor yang berwarna coklat tersebut.

            Nilai Keseluruhan : 64 / 100

            Nilai Mencoba Kembali : Sedang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)