Review Transjakarta : Koridor 12 (10/11/2013)

Transjakarta

Koridor dengan rute ekstrim yang ‘penuh dengan air mata’

            Kali ini pembahasan mengenai sebuah koridor berwarna hijau muda yang menguasai hampir seluruhnya jalur utara. Dengan perpotongan beberapa koridor yang juga mengarah ke utara, koridor 12 tampaknya menarik untuk ‘dikupas’ kulitnya. Boleh dibilang koridor ini merupakan koridor ‘hangat’ karena baru diresmikan awal tahun 2013 kemarin. Dimulai dari Pluit yang merupakan terminus akhir koridor 9 dan berakhir di Tanjung Priuk yang merupakan titik awal koridor 10.

            Kondisi Rute : 55/100

            Koridor yang sedang dibahas ini memiliki rute dari Landmark Auto Plaza hingga Sunter Boulevard. Jujur, mungkin nama-nama halte tersebut memiliki peluang yang sangat jauh di atas tinggi untuk menduduki peringkat sebagai nama halte busway terkeren sepanjang masa. Namun kenyataannya, jika berangkat dari Stasiun Kota ke arah Pluit, terlihat tikungan menyeramkan menuju halte yang bernuansa kota tua bernama Kali Besar Barat. Hal yang sadis pun terjadi di mana kondisi jalan yang saya beri nama dengan rute ‘penuh dengan air mata’ ini terjadi setelah halte Landmark Auto Plaza yang merupakan titik awal rute tersebut hingga halte Stasiun Kota. Bus ‘dipaksa’ masuk di Jalan Kopi dengan rute yang bahasa kasarnya dapat dilompati seseorang dengan sekali lompat. Selanjutnya tidak jarang bus harus berjuang ‘melawan’ para angkutan kota, kendaraan pribadi dan pejalan kaki setelah jembatan sungai dekat halte Museum Fatahillah.

            Jujur saya menyenangi kondisi halte-halte tersebut karena terlihat mewah. terlebih lagi ada dua halte yang memang dibangun berdasarkan tema lingkungan tersebut seperti halte Kali Besar Barat dan Museum Fatahillah. Nama-nama yang terlihat di awal pada saat itu sempat membuat saya kagum karena bagusnya seperti nama halte Landmark Auto Plaza. Namun hal itu mesti kandas ketika memasuki halte setelahnya seperti nama halte Gedong Panjang lalu (apa?) “Pakin”?

            Beberapa orang bilang bahwa sangat komplikatif jika transit di halte Penjaringan untuk naik koridor 12, ada yang bilang pada petugasnya di halte terminus Pluit agar transit namun kelihatannya tak semudah itu, beberapa bahkan ‘disuruh’ keluar halte dan harus membayar lagi jika ingin beralih ke koridor 12. Hal itu merupakan moda transit terburuk sepanjang sejarah.

            Namun siapa yang terlalu peduli? Meski hal itu menjadi PR besar bagi Unit Pelayanan Transjakarta, ternyata para penumpang juga disuguhi keindahan dari atas Fly Over menuju halte Kemayoran Landasan Pacu Timur. Pemandangan ‘bersih’ Jakarta terlihat jelas dari sini. Hingga akhirnya setelah Sunter Boulevard rute ini diperpanjang hingga Tanjung Priuk.

            Headway : 60/100

            Saya menjuluki koridor 12 ini sebagai “koridor yang baik hati”. Pasalnya, bus dari koridor ini paling rajin membuat ‘tebengan’ ke koridor lain a.k.a BKO (Bawah Kendali Operasi). Mungkin saking rajinnya hingga boleh dikata armada bus ini hampir ‘habis’, eh?

            Dengan titik kepadatan di sekitar Stasiun Kota dan Mangga Dua lalu kemudian di Angkasa dan Danau Agung (khusus arah Tanjung Priuk, jika Pluit menggunakan Fly Over), membuat estimasi kedatangan per bus menjadi hingga 15 menit sekali atau bahkan lebih. Apalagi jika di Tanjung Priuk sedang Bongkar Muat, hanya membuat waktu tunggu semakin hancur.

            Kondisi Bus : 85/100

            Dengan identitas lambung BMP atas operator PT. Bianglala MetroPolitan ini, ada dua jenis bus gandeng. Yang satu Inobus seperti koridor 11, yang satu lagi Ankai buatan Negara yang memiliki tembok terpanjang di dunia. Kondisi Inobus sangat baik dan terawat, namun beberapa khusus Ankai beberapa kondisinya seperti agak ‘ngejomplang’. Bahkan saya pernah menemukan kecoa berukuran sedang merayap di samping saya yang kebetulan sedang duduk di pojok bus. LEDnya walaupun busnya masih dibilang baru, sudah lumayan yang tidak aktif, Inobus hanya terdengar suaranya saja dan bahkan beberapa dari Ankai mengeluarkan bahasa Orientalnya ketika annoncer menyala. Jujur saya sempat kecewa ketika saya mengajak teman jalan-jalan keliling Jakarta menggunakan moda Transjakarta saya berkata bahwa ada bus yang speakernya bikin ngantuk. Seperti : “Now, we arrived to (jeda lama) Sunteeee… (2 jam kemudian) …eeer Karya (kemudian jeda lagi yang bikin bang Thoyyib keburu pulang) Shelter…”. Namun sayangnya bus Ankai bernomor BMP 074 yang kami tempati pada saat itu LEDnya mati… Heeerrgh Such a disappointment. Lagipula kualitas speaker Ankai boleh dikatakan cukup buruk dengan suara seperti ‘kesemutan’ membuat penumpang sulit mendengar apa maksud yang dikatakannya. Beberapa ada yang bilang logat Inggrisnya sedikit dipaksakan.

            Di luar itu, bus-bus ini memiliki tingkat kenyamanan yang sangat tinggi.

            Kesimpulan

            Saya sendiri sangat merekomendasikan para penumpang setia Transjakarta agar mencoba koridor 12. Banyak hal-hal yang dapat dikatakan menarik untuk dilihat dan dirasakan meskipun kesimpulannya dapat dikatakan biasa saja. Memiliki segudang hal-hal aneh yang dimulai dari Landmark Auto Plaza Pluit hingga Sunter Boulevard Barat.

            Nilai Keseluruhan : 73 / 100

            Nilai Mencoba Kembali : Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)