Review Transjakarta : Koridor 2 (27/12/2013)

Transjakarta

Halte Bermis

          Angka 2 adalah angka favorit saya, mungkin karena saya anak ke-2, atau memang saya benar-benar menyenangi sesuatu yang sifatnya 2, wallahu a’lam.

          Koridor kali ini selain memiliki urutan dengan angka yang saya senangi, juga memiliki warna yang saya suka, biru. Tetapi gak pake tua, karena biru yang satu ini merupakan biru yang sudah sangat sepuh, sedikit mengecewakan karena koridor 11 memiliki warna yang sama dengan koridor ini walaupun seharusnya koridor 11 memiliki warna biru yang lebih muda.

          Kondisi Rute : 70/100

          Dimulai dari Terminal Pulo Gadung 1 (kalo Pulo Gadung 2 punya koridor 4) dan berakhir di Harmoni Central Busway (HCB). Rutenya antik, terpisah di Senen, berpencar dan bereksplorasi dengan anteng sepanjang halte satu arahnya. Jumlahnya 24 halte, namun terdapat 11 halte satu arah, 4 arah Pulo Gadung, dan 7 arah HCB. Dan ini termasuk rute dengan jalanan paling komplikatif di mana khusus arah HCB dari Atrium Senen jalannya dibuat seperti zig-zag. Hati-hati penumpang dalam menentukan halte tujuan, terutama jika ingin turun di DEPLU, karena jika terlewat, imbasnya harus jalan kaki dari halte Gambir 1.

          Headway : 40/100

          Penumpang lama dan bus pun menumpuk. Itulah yang terjadi di halte HCB ketika larut dalam suasana antrian. Iya, saya tahu saya menulis itu salah, maksud saya, bus lama dan penumpang pun menumpuk terutama di halte-halte Transit seperti Monas, Senen dan Cempaka Mas 1 (Cempaka Timur). Kasihan sebenarnya setiap saya naik dari HCB bus sudah dalam kondisi tertimbun penumpang, ditambah lagi banyak yang transit ke koridor ini dari Monas. Walhasil, Sebagian penumpang di halte-halte satu arah tersebut jarang bisa terangkut seluruhnya, meski yang menunggu hanya berjumlah dua orang. Saya sendiri masih memikirkan mengapa headwaynya begitu sangat buruk, padahal titik kepadatan terparah hanya terjadi di TL (Traffic Light) Senen arah HCB.

          Menyebalkan sekali saya dari Galur mengantri hampir sendirian menunggu bus lama padahal bus arah sebaliknya headwaynya kurang dari satu detik 5 bus berturut-turut. Namun arah tujuan saya sekalinya datang, petugas OnBoardnya dengan setengah kalem berkeringat menatap saya dan yang lain sambil berkata lirih… “Penuh, aduhh penuh… Jout!”

          Dan bus pun pergi, kami menunggu lama kembali.

          Kondisi Bus : 35/100

          Dengan identitas lambung TB atas operator PT. Trans Batavia ini, mmm, liat review saya mengenai koridor 3 deh, itu sudah mewakili penilaian saya terhadap bus-bus operator TB tersebut. Buruknya kondisi bus-bus tersebut pernah menjadi salah satu berita hangat pada salah satu situs berita yang sangat populer Indonesia, yang ada cuma bikin malu para penggemar setia kendaraan umum saja. Giliran ‘diremajakan’ bentuk kursinya sama sekali tidak bisa dibuat senderan, pun walau dengan anak TK.

          Kesimpulan

          Angka favorit saya belum bisa menjamin bagusnya koridor dari moda transportasi yang saya sangat suka ini. Tetapi saya pernah berceloteh, “Sebaik-baiknya halte adalah halte Galur, di mana seseorang memijakkan kaki keluar dari JPO halte tersebut, di situ pula dia memasuki gerbang sebuah masjid”.

          —<(Subhanallahi wa Bihamdih)>—

          Nilai Keseluruhan : 47 / 100

          Nilai Mencoba Kembali : Cukup Rendah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)