Review Transjakarta : Koridor 2 Ekstensi (27/9/2014)

DSCN2941     Ada pertambahan rute Transjakarta? Oh, saya akan senang sekali untuk mengunjunginya karena pasti banyak sesuatu yang baru di sana. Sebenarnya rute ini adalah rute perpanjangan dari koridor 2 yaitu dari Pulo Gadung hingga Bekasi tepatnya di Harapan Indah. Namun, semenjak tersiar kabar mengenai kemacetan di rute yang bersangkutan lagi tidak adanya separator yang memisahkan lajur khusus bus membuat saya agak malas berkunjung ke sana. Tetapi setelah dipaksakan karena penasarannya, akhirnya kemarin sebelum ditulisnya review ini, saya dapat melahap rute baru tersebut walaupun sebenarnya telah diresmikan 19 Mei kemarin.

     Dengan bermodal transit Pulo Gadung dari Dukuh Atas 2, saya bertanya kepada petugas onBoard bus koridor 4 mengenai tata cara transit dari Pulogadung 2 ke Ujung Menteng (Harapan Indah). Ternyata setelah saya turun dari bus, saya disuruh langsung ke halte Pulogadung 1 dan berkata kepada petugasnya bahwa ingin transit ke Harapan Indah dari Dukuh Atas. Ternyata saya pun diizinkan petugas yang bersangkutan agar langsung menunggu di tempat yang agak membingungkan cara masuknya karena tidak melalui proses ticketing.

            Kondisi Rute : 30/100

     Baru pertama bus keluar dari halte Pulogadung 1 saja sudah mulai berantem dengan angkutan-angkutan kota yang ada. Pada awal-awal jalanan terlihat begitu lengang dan nyaman meski tidak terlalu, sedangkan halte pertama yang saya lihat adalah Raya Bekasi – KIP. Jujur saya senang melihat sebuah halte yang menclok pada suasana baru dalam sejarah BRT Jakarta, walaupun saya tadinya tidak tahu apa itu KIP sebelumnya, eh, ternyata Kawasan Industri Pulogadung meskipun di sebelahnya adalah PTC atau Pulogadung Trade Center. Rasa senang saya semakin bertambah ketika tahu halte pertama tersebut sangat strategis dari segi letak pusat perbelanjaan, perumahan, dan masjid. Namun sayang, rute tersebut semakin lama semakin merampas senyum yang menghiasi bibir saya sedikit demi sedikit.

     Penamaan haltenya mesti memakai inisial, saya jujur nggak suka. Raya Bekasi ini, Raya Bekasi itu, Cakung ini, Cakung itu. Mengapa tidak membiarkan nama haltenya berdiri sendiri saja seperti Tipar Cakung dan tidak harus Raya Bekasi – Tipar Cakung? Saya tidak mengerti. Desain haltenya dibuat persis seperti koridor 11 dengan halte yang memiliki loket melayang sepanjang jalan raya Bekasi, karena memang volume keseluruhan jalur sangatlah sempit. Diperparah lagi, kendaraan yang ada juga harus berbagi dengan angkutan-angkutan besar seperti truk dan sejenisnya mengingat memang sepanjang jalan itu adalah kawasan industri. Akibatnya, tingkat kemacetan pun dapat dikatakan mencekik leher dengan sebab frustasi. Sampai akhirnya saya tahu, sebagian besar kemacetan dikarenakan oleh kendaraan-kendaraan yang berbelok arah dan minimnya lampu lalu lintas.

     Terima kasih saya ucapkan untuk halte KIP, karena halte itulah yang setidaknya dapat menjaga intensitas senyum saya sebelum akhirnya dirusak oleh semuanya. Letak haltenya banyak yang buruk. United Tractors, Tipar Cakung, Bekasi Raya Pulogebang, Pasar Cakung, Ujung Menteng, saya sedang menyorot kalian semuanya. Empunya gang begitu jauh dari halte yang bersangkutan sehingga wajarlah beberapa halte yang disebutkan benar-benar nol dari penumpang. Setidaknya Cakung Cilincing masih lolos dari sorotan ini. Saya kira United Tractors itu seperti halte LIPI Gatot Subroto yang memiliki jarak yang agak jauh dari sumber penamaannya, tetapi yang terjadi malah dipertengahan pabriknya. Tapi biarlah, jika ada orang yang ingin mengintip ‘Scania’ dari sana, saya harap yang bersangkutan sedang menampakkan batang sasisnya.

     Senyuman saya berkibar kembali selepas halte Ujung Menteng, di mana bus benar-benar memasuki kota Bekasi. Sekali lagi, harus kandas karena Halte Harapan Indah terletak tidak jauh dari sana, padahal masih berharap bisa lebih masuk lagi. Halte Harapan Indah itu sendiri memiliki desain yang eksotis, strategis, dan memiliki keadaan alam yang dapat dikatakan menyejukkan hati. Haltenya terbagi dua, yaitu halte Harapan Indah 1 dan 2. Lucunya, walaupun terbelah seperti Pulogadung, namun sejatinya lebih mirip seperti halte-halte yang terbelah tol di sepanjang koridor 9 serta halte Walikota Jakarta Utara. Juga terdapat taman panjang bagi siapa saja yang ingin menyegarkan pikiran di sini, karena untuk sementara halte Harapan Indah 1 menjadi tempat pemberhentian akhir dan halte Harapan Indah 2 menjadi tempat keberangkatan awal seperti yang terlihat pada foto yang saya ambil di atas.

     Saya jalan sepanjang Boulevard Harapan Indah, dan yang membuat saya sebal adalah, jalurnya tetap berlanjut hingga Pasar Modern, dan tidak belok di bundaran seperti yang sekarang ini. Padahal jalurnya amazing. Jika bukan karena demo angkutan-angkutan kota, pasti dapat beroperasi sepenuhnya.

            Headway : 20/100

     Bus yang disediakan hanya 5, dan itupun kadang tidak beroperasi semuanya. Perjalanan macet membuat jarak dari Pulogadung hingga Harapan Indah ditempuh bisa sampai 1 jam. Belum lagi kadang memang busnya ngetem lama sekitar 20 menit di halte Harapan Indah 2 sebelum akhirnya diberangkatkan. Saya berfikir bagaimana nantinya jika memang salah satu dari bus-bus yang beroperasi mengalami gangguan di sepanjang jalurnya yang super macet itu? Tidak terbayangkan.

     Agak miris melihat orang-orang yang mengantri untuk rute tersebut ketika saya diturunkan di Pulogadung 1 setelah dari Harapan Indah menaruh harapan besar pada bus tersebut agar mengangkutnya hingga sampai Harapan Indah, namun justru bus BBG. Berapa lama lagi antrian yang masih akan berlanjut? Leganya, petugas memeriksa halte-halte sepanjang rute tersebut jikalau masih ada penumpang yang masih berlarian menuju bus dikarenakan seharusnya masing-masing paham dengan headway yang ada.

            Kondisi Bus : 85/100

     Bus Single Ankai New Armada yang dioperasikan langsung oleh PT. Transjakarta Busway ini memang kondisinya masih baru, masih sangat bagus, dan masih sangat menyenangkan. Sayangnya saya tidak pernah melihat destiantion LEDnya aktif sama sekali. Paling-paling hanya bertuliskan Ankai New Armada pada LED eksteriornya.

            Kesimpulan

     Rute baru ini masih semrawut untuk penulisan review tingkat dasar. Jujur saya sendiri tidak merekomendasikan masyarakat agar menggunakan koridor 2 lanjutan ini disebabkan apa yang saya tulis di atas tadi kecuali mungkin transit dari/ke koridor lain dengan alasan “murah”, “nyaman” atau “sekalian” daripada naik angkutan-angkutan kota yang armadanya berjumlah sebanyak buih di lautan dan memiliki tujuan yang sama.

     Padahal saya tadinya sangat senang dengan kehadiran BRT ke kota-kota penyangga. Padahal…

            Nilai Keseluruhan : 35 / 100

            Nilai Mencoba Kembali : Buruk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)