Review Transjakarta : Koridor 8 (12/12/2013)

Transjakarta

Pondok Indah Mall

            Masa-masa sekolah, beberapa murid tentunya sudah cukup senang diberi nilai 8. Saya juga demikian, seakan-akan delapan adalah nilai terbaik pada saat itu jikalau nilai 10 sulit untuk dicapai. Kembali ke sebuah koridor dengan angka baik tersebut Transjakarta kali ini mengambil kemudi yang dimulai dari Terminal Lebak Bulus dan berakhir di halte Harmoni Central Busway.

            Pertanyaannya adalah, apakah koridor yang satu ini setidaknya mendapatkan nilai sebaik angka pada urutan koridornya?

            Kondisi Rute : 60/100

            Panjang rute 26 km, dan jika dijumlahkan yakni 2 dengan 6 akan menghasilkan angka koridor tersebut. Coincidence? I think mmm… not sure…

            Jika dibilang panjang, maka saya akan katakan sangat panjang namun tidak sepanjang koridor 9 yaitu 28.8 km yang merupakan koridor terpanjang dalam sejarah Transjakarta hingga saat ini. Koridor yang berwarna magenta ini memiliki 22 halte, di mana ada sebuah halte satu arah bernama Pondok Pinang yang terletak di ujung tikungan arah pondok indah.

            Ada yang menarik disini, mungkin dengan sebuah alasan waktu tempuh, koridor ini memangkas jumlah halte yang memang sejatinya 22 halte kini menjadi 18 halte. Saya tidak tahu apakah karena ada ketentuan lain atau tidak, tiba-tiba haltenya bertambah lagi menjadi 21 halte dengan menambahkan halte-halte yang bersinggungan langsung dengan koridor 3 yakni halte Sumber Waras, Jelambar dan Indosiar.

            Adapun halte-halte yang telah ‘dicampakkan’ namun identitas halte-halte tersebut masih menggandul angka delapan,  sebuah rute lintas koridor ekspress terpendek pun dibuat. 8A namanya, melayani rute yang sedikit komplikatif dari harmoni ke arah Pasar Baru melewati Pecenongan dan Juanda, dan dari Pasar Baru arah harmoni juga berhenti kembali di Juanda dan Pecenongan (What the hell is going on with this route??). Saya mengira setelah Pecenongan akan langsung menuju arah Petojo, tetapi naas, jalurnya sama dengan koridor karibnya dan koridor 3 yaitu melewati jalan Hasyim Ashari dengan pengecualian bus berbelok arah Grogol 2 dan langsung melayani halte-halte terabaikan tersebut yakni halte Tomang Podomoro, Mandala, Tarakan dan Petojo sebelum akhirnya benar-benar berakhir di HCB. Lalu untuk apa jalur di sebelahnya masih dipertahankan jika 8A hanya melayani satu arah dari Grogol 2 ke Harmoni?? Saya mengatakan ini mengingat halte-halte tersebut masih memiliki 2 jalur.

            Headway : 35/100

            Headwaynya gelap, dan mungkin memicu para penumpang untuk berbuat secara gelap mata disini, adakalanya lebih buruk dari koridor 3 di mana antrian di halte Grogol sudah memasuki JPO transit. Rutenya memang panjang, apalagi daerah Permata Hijau dan Grogol sering menjadi biang keladi pelanggaran para koruptor jalur yang memperparah headway koridor yang satu ini. Meski ada tambahan bus gandeng karena bus single banyak yang dialihkan ke koridor 7A, namun hal itu belum menjadikan headway koridor ini menjadi lebih baik.

            Di halte Lebak Bulus itu sendiri pun pernah ada keluhan bahwa Transjakarta kenapa jadi suka ‘ngetem’ kayak angkot dan Metro Mini? 20 menit ia menunggu dalam bus sebelum bus benar-benar jalan. Di sisi lain halte penumpang pun juga menunggu bus single yang memang juga ngetem namun setidaknya lebih baik headwaynya dibandingkan dengan bus gandeng yang telah disebutkan. Mungkin para penumpang di dua halte awal tidak mengeluh seburuk yang di HCB.

            Kondisi Bus : 85/100

            Dengan identitas lambung PP atas operator PT. Primajasa Perdayana Utama ini, bus single abu-abu yang dioperasikan memiliki kualitas yang sangat baik, namun LEDnya sudah mati juga memang sudah terkubur oleh stiker-stiker walaupun BLU sudah pernah memberitakan bahwa LED Primajasa ‘akan’ diperbaiki pada tahun 2010. Lucunya, saya sering mendengar orang cekikikan ketika duduk di pojok belakang sebelum saya tahu itu ternyata berasal dari gesekan material bus yang saya susah jelaskan itu tepatnya apa.

            Kemudian PT. Damri dengan Zhongtongnya bekas koridor 1 pun membantu koridor ini dengan LED yang kualitasnya sama persis dengan koridor satu. tentu saja ini sangat membantu ‘memusnahkan’ antrian-antrian mengular di beberapa halte-halte terminus yang diberangkatkan kembali ke arah Lebak Bulus seperti HCB dan Grogol.

            Kesimpulan

            Sayangnya koridor ini belum memiliki nilai sebagus angka koridornya kecuali yang telah diraih oleh kondisi bus tersebut. Koridor 8 penuh dengan Real-Estate a.k.a komplek bangunan elit sepanjang arah Pondok Indah yang dimulai dari Simprug. Di mana ada halte yang memiliki konsep sama seperti halte Blok M dan PGC 2 yang memiliki loket atau pintu masuk di dalam pusat perbelanjaan. Halte itu adalah halte Pondok Indah 2 a.k.a Pondok Indah Mall. Saya tidak tahu mengapa halte-halte Transjakarta tidak pernah dinamai dengan nama pasar swalayan atau boleh dibilang dengan Mall. Halte lainnya yaitu halte Pondok Indah 1 yang ternyata memiliki jarak yang cukup jauh dengan halte karibnya, meningatkan saya pada halte Kramat Jati. Koridor 8 sangat menarik untuk ditelaah dengan sebuah peringatan yang sangat disayangkan sekali mengingat headwaynya yang boleh dikatakan sangat buruk jika berangkat dari HCB.

            Oh, koridor 8 juga memiliki halte yang saya sangat cintai karena namanya. Yaitu halte Kedoya Assiddiqiyyah yang disadur dari nama pondok pesantren yang persis berada disebelahnya.

            Nilai Keseluruhan : 59 / 100

            Nilai Mencoba Kembali : Cukup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)