Review Transjakarta : Koridor 9 (04/11/2013)

Transjakarta

Semanggi dan kemacetan

            Kali ini koridor yang satu ini wajib meneriwa beberapa award yang benar-benar sesuatu. Saya kira saya pernah buat puisi stress mengenai hal ini :

            Koridor paling kejam

            Koridor paling sadis

            Koridor paling lalim

            Koridor paling bengis

                        Memiliki rute terpanjang

                        Memiliki overpass terpanjang

                        Memiliki jarak halte terpanjang

                        Memiliki jumlah halte terbanyak

            Kasihan pramudinya

            Kasihan petugas onBoardnya

            Kasihan penumpangnya

            Kasihan busnya

            Bermulai dari pojok dan berakhir di pojok. Yapp, Pinang Ranti – Pluit.

            Kondisi Rute : 35/100

            Memiliki 29 halte dua arah (sekarang jadi 26) dan panjang rute keseluruhan 28.8 km. setelah halte Grogol, keseluruhan halte terbelah oleh jalur tol hingga sebelum BNN. Bagi yang terlewat halte, dikeraskan agar jangan berbaik arah seperti halte-halte reguler lainnya yang mengizinkan naik dari arah berlawanan atau putar balik ketika halte tujuan terlewat, karena jika halte tersebut bukan halte yang benar-benar berada di bawah underpass untuk menghindari lampu lalu lintas persimpangan, maka penumpang benar-benar telah keluar halte dan harus bayar lagi hanya untuk sekedar berbalik arah, dengan sebuah kabar baik, kecuali Semanggi. Namun hal itu pun memiliki jembatan transit terpanjang mungkin yang pernah ada di ibukota ini.

            Sebenarnya koridor ini melewati halte BKN, PGC 1, dan Pasar Kramat Jati yang langsung bersinggungan dengan koridor 7 sebelum akhirnya berbelok arah di Hek untuk ‘hinggap’ di halte Garuda Taman Mini. Namun, menurut pengakuan seorang onBoard ketika ditanya mengapa, maka halte-halte tersebut tidak dilewati dan langsung lewat tol karena waktu tempuh yang memang lebih lama, paling cepet katanya 1 jam untuk perpindahan jalur yang sudah memakai jasa tol ini. Hmmfffhhh,,, apalagi yang saya tahu Pasar Kramat Jati itu memang langganan untuk macet.

            Headway : 45/100

            Sebenarnya meskipun jalurnya benar-benar sadis, headwaynya boleh dikatakan fair. Namun hal itu terpaksa mesti kandas di permulaan jalan mengingat S. Parman, Gatot Subroto, dan Cawang memiliki sahabat karib yang bernama “kemacetan”. Meski jalurnya sudah khusus, sterilisasi dirasa masih perlu digalakkan. Sangat kasihan para penumpang yang memutar balik menatap headway bus harus bertarung dengan sengit melawan lampu lalu lintas. Jika masih belum paham, saya mempersilakan agar mencoba menunggu bus arah Pluit di Kuningan Barat. Belum lagi headway kadang tidak konsisten mengingat koridor 9 harus ‘berantem’ dengan lintas koridor 9A (LED TMB gandeng bertuliskan 9B).

            Kondisi Bus : 80/100

            Dengan identitas lambung TMB atas operator PT. Trans Mayapada Busway dan BMP atas operator PT. Bianglala Metropolitan ini, bus single berwarna merah yang dioperasikan masih cukup baik. Hanya LEDnya saja yang sudah pada ‘tewas’. Lagipula TMB masih lebih baik ‘penampilannya’ dibandingkan BMP.

            Kesimpulan

            Coba lihat kembali puisi nggak jelas yang saya telah tulis di atas tadi, saya benar-benar mohon maaf apabila review ini berantakan. Oh, satu lagi, koridor ini bagus jika digunakan ketika bukan hari kerja.

            Nilai Keseluruhan : 53 / 100

            Nilai Mencoba Kembali : Sedang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)