Aktual Miris : Murid Memenjarakan Gurunya, Mengapa Bisa?

Murid Memenjarakan Guru“Gara-gara mencubit murid, guru dilaporkan ke polisi.”

Dan kejadian ini bukanlah yang pertama kali, saya ingat dulu ketika tahun 2008 silam waktu masih mondok di sebuah pesantren tiba-tiba terjadi peristiwa yang cukup membuat saya kaget karena kejadiannya ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung, apa itu?


  • Serentetan peristiwa

Ternyata banyak mobil polisi yang tiba-tiba menyerbu ke tengah lapangan di dalam pondok pesantren, membuat seluruh muka yang melihatnya langsung “menempel di kaca”. Ada apa ini? Desas desus terjadi karena ada santri junior yang mengadu kepada orang tuanya karena dipukul senior, mungkin hingga berbekas.

Kejadian lainnya yang membuat saya juga begitu kaget adalah ketika saya mendengar sendiri keponakan saya yang bersekolah SD di sekolah yang sama dengan saya dulu, bahwa guru yang terkenal sangat galak pada saat itu tiba-tiba berubah menjadi peri di siang bolong. Maksudnya, saya pernah digebuk dan dicubit oleh guru tersebut hingga hampir membuat saya menangis, namun saya tahan. Kejadiannya pada saat itu adalah ketika saya kelas 3 SD. Sedangkan yang terjadi sekarang, sang guru menjadi sangat baik kepada murid-muridnya, bahkan murid yang paling bandel saja hanya ‘pura-pura’ dipukul dan itupun arahnya bukan ke muridnya, melainkan ke tangan gurunya yang satu lagi, seperti bermain pok ame-ame… sambil tersenyum…

Kejadian berikutnya saya diundang ke sebuah sekolah favorit di Tangerang, kepala bagiannya meminta saya untuk mengomentari dan memberikan saran tentang sekolahnya. Ketika sampai pada bagian kebersihan, saya bertanya, “Apakah anak-anak juga piket?” Beliau justru menjawab dengan jawaban yang cukup mengagetkan, intinya, pihak sekolah tidak ingin orang tuanya melihat anaknya memegang sapu di sekolah karena mungkin faktor takut yang telah disebut di atas.

Dan saya yakin, banyak kejadian-kejadian lainnya yang sudah, ataupun belum terungkap media mengenai ketakutan dari pihak sekolah. Apa yang sedang terjadi hari ini? Invasi penjajahkah? Mirip soalnya…


  • Kenali latar belakang
Murid Memenjarakan Guru

Kejadian ini juga terjadi diluar negeri

Serentetan kejadian-kejadian miris yang telah saya sebutkan tadi adakalanya berimbas pada perubahan kualitas mental dan traumatis sang anak. Membuat saya berpikir, pernahkah kalian menyaksikan anggota senior yang galak kepada kalian hanya karena mereka memiliki dendam kepada seniornya yang lalu kemudian melampiaskannya kepada kalian?

Benar, saya terpikir demikian untuk kasus ini. Apa ada hubungannya? Karena saya hingga saat ini masih mencari tahu di mana awal mula kasus pelaporan guru oleh muridnya hanya karena dihukum.

Kemungkinan lainnya yang tidak dapat dipungkiri adalah karena si anak memiliki orang tua yang terpandang, misalnya, memiliki jabatan sebagai polisi, tentara, dan seterusnya. Terlebih lagi jika anak tersebut benar-benar dimanja oleh kedua orang tuanya.

Apakah guru hari ini sudah tidak dihargai, atau memang wibawanya sudah hilang? Yang pasti pertanyaan terbesar saya adalah, seberapa berbahayakah sang murid hingga dapat memenjarakan gurunya sendiri?


  • Sifat manja adalah manusiawi

Jikalau kesalahan si murid hanya karena mengadu kepada orang tuanya, saya yakin sebagian besar kalian dulu juga pernah mengadu kepada orang tua kalian setelah mendapat hukuman dari sang guru walaupun perlakuan yang didapat dari orang tua kalian berbeda.

Pada zaman saya sekolah, ketika mengadu kepada orang tua karena dihukum guru, maka respon orang tua adalah justru menambah hukuman yang ada. Bahasa kasarnya, “Dulu digampar guru, terus ngadu ke ortu, malah ditambahin.” Sedangkan sekarang, orang tua justru menyalahkan sang guru dan memanggil polisi.

Jadi siapa yang harus jadi titik permasalahan? Si murid atau orang tuanya?

Setiap kita pasti pernah manja, ketika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman sekolah, kita pasti mengadu. Hal ini pernah terjadi di keluarga saya, di mana kakak saya pernah dijorokin oleh temannya yang terkenal nakal hingga hampir tertabrak bajaj. Mengadulah ia kepada ibunya. Lalu apa respon ibu saya? Beliau justru balik memarahi kakak saya dan menyuruhnya untuk lebih berani. Dan kejadian yang paling parah sekalipun, itu hanya berakhir dengan cara kekeluargaan (meluruskan pandangan antar kedua orang tua).

Sedangkan hari ini yang terjadi adalah orang tua yang langsung berurusan dengan polisi begitu anaknya mengadu atas kejadian tidak menyenangkan yang diterimanya di sekolah.

Jadi saya ulangi sekali lagi, sebenarnya siapa yang harus jadi titik permasalahan? Si murid atau orang tuanya?


  • Dibully, dibenci, hancurlah masa depannya

Kini zamannya sosial media telah akrab hampir meliputi seluruh insan di bumi ini. Terakhir foto sang anak yang ‘memamerkan’ bekas cubitan gurunya kepada khalayak ramai di jejaring sosial justru membuat sang anak mendapatkan bully yang hebat mungkin hampir dari seluruh lapisan masyarakat nusantara yang menggunakan jejaring sosial.

Perlu dicatat, si anak mungkin tidak mendapatkan didikan yang kental dari orang tuanya sehingga memposting aibnya sendiri di mata banyak manusia. Kemudian seluruh bully tersasar padanya karena ia mengadu kepada orang tuanya bahwa ia baru mendapatkan hukuman dari gurunya. Padahal apa yang membuat gurunya dipenjara adalah karena si anak melakukan sesuatu yang sebagian besar kalian juga lakukan dahulu, yaitu mengadu kepada orang tua.

Saya tidak membela si anak yang mengadu, namun bully-an harusnya ditujukan kepada orang tuanya yang nyata-nyata ‘lebih cengeng’ daripadanya, sedangkan si anak masih sangat muda, saya tidak ingin menghancurkan masa depannya karena saya membullynya. Kalian juga tidak mau kan, jika adik kalian terkena bully di media sosial? Lalu mengapa kalian lakukan kepada adik orang lain?


  • Latah dari pihak sekolah

Bagaimana sikap sekolah lain menangapi kejadian-kejadian hal yang seperti ini? Ada yang berdemo agar orang tuanya lebih baik menyekolahkan anaknya sendiri jika tidak mau ditegur guru, hingga sebuah sekolah di Nusa Tenggara Barat yang mengeluarkan surat perjanjian agar calon murid baru siap dihukum guru.

guru berdemoLalu bagaimana tanggapan dari pakar parenting, misalnya seperti Ayah Edy? Berikut sepotong tulisannya yang saya salin langsung dari halaman resminya di Facebook :

“Sekolah adalah lembaga PENDIDIKAN, mendidik itu fokusnya pada pengembangan akhlak dan perilaku moral dan bukan angka dan nilai, jika tidak berfokus pada pengembangan Akhlak dan Perilaku Moral Anak maka sebaiknya diganti saja namanya menjadi lembaga kurus atau lembaga pengajaran.

Orang tua itu tidak memiliki kemampuan mendidik anak, atau tidak standar dalam mendidik anaknya. terlebih lagi jika orang tua ini dulunya terlahir dari keluarga yang berantakan atau penuh kekerasan, bagaimana mungkin orang tua yang seperti ini bisa diharapkan mendidik anaknya dengan baik. Dan jumlah orang tua yang seperti ini terus bertambah di seluruh Indonesia.

Jadi harapan satu-satunya adalah lembaga pendidikan yang semuanya serba distandardisasi oleh pemerintah dan Sekolah adalah Lembaga Pendidikan Resmi Negara yang membawa amanat Undang-undang Dasar 1945.

Saya ingat bagaimana Negeri Australia yang para orang tuanya 100 tahun yang lalu adalah para narapidana yang dibuang dari Inggris Raya ke daratan baru yang bernama Australia.

Ratu Victoria pada zamannya memerintahkan sekolah untuk mengambil alih tanggung jawab proses pendidikan anak-anaknya secara penuh, karena tidak mungkin orang tua yang seperti ini untuk bisa mendidik anaknya dengan baik.

Dan hasilnya ketika sekolah mengambil tanggungjawab penuh pendidikan anak tanpa kompromi, 100 tahun kemudian Australia berhasil masuk kedalam 10 besar negara terbaik untuk tempat tinggal manusia di bumi.”


  • Konklusi

Saya memakai filosofi rumput, yang jika tidak dicabut hingga ke akar-akarnya, maka akan terus tetap tumbuh. Artinya, sampai kapanpun peristiwa murid memenjarakan gurunya tidak akan ada habisnya jika yang kita cabut adalah rumputnya (membully si anak) dan bukan akarnya (menyetop para orang tua untuk terlalu memanjakan si anak).

Hal itu tentu berlaku untuk permasalahan yang lainnya.

Dan sepertinya kita lebih dikenal sebagai bangsa yang gemar menyia-nyiakan waktu produktifnya hanya untuk membully seseorang.


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)