Beautiful Majalengka, Diari Saya Di Atas Terasering

Beautiful Majalengka

Lebih dari 50 tahun lalu ibu saya terlahir di suatu daerah yang masih asri. Wilayah itu bernama Majalengka. Sebuah wilayah yang jika saya sebutkan, orang-orang akan berkata, “Itu dimana?”

Well, mereka lebih mengenal Cirebon dan Kuningan daripada Majalengka itu sendiri, padahal itu semua adalah trio di mana pusatnya ada di kaki Gunung Ceremai. Bahkan bandara Kertajati yang baru diresmikan itu masih dianggap Cirebon oleh sebagian orang.

Tapi ya sudahlah, mungkin merupakan tanggung jawab setiap warga Majalengka agar membuat daerahnya menjadi lebih dikenal, termasuk saya meskipun saya adalah orang Betawi asli.

Pada akhirnya sebelum memasuki Ramadhan kemarin, saya mendapatkan kesempatan mengunjungi tanah kelahiran ibu saya di Majalengka dan telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengeksplor keindahan-keindahan yang Allah telah berikan ke negeri yang masih sangat hijau tersebut.

Tentu saja, saya membooking saudara saya untuk memandu saya touring mengelilingi Majalengka, tepatnya di daerah Argapura yang terkenal dengan teraseringnya itu. Saya sebenarnya sudah lebih dahulu mengetahui daerah tersebut sebelum ada kamera kru pesawat televisi mendarat mulus di atasnya.

Saya mewanti-wanti saudara saya agar berangkat pagi, jam 7. Namun kenyataannya, saudara saya baru siap jam 7.30. Ya sudah tidak apa, semoga gunungnya belum dibantai oleh awan-awan. Secara, pesona gunung Ceremai dari jauh adalah pesona terbaik yang pernah saya lihat dari depan rumah saya.Beautiful Majalengka

Perjalanan dimulai dengan melewati Terminal Rajagaluh menuju Desa Sukahaji kemudian belok kiri kearah Maja. Saya berkata kepada saudara saya agar siap kaget saya tepuk jika saya menemukan sesuatu yang bagus untuk difoto. Dan ini adalah spot pertama yang saya ambil,

Beautiful Majalengka

Itu adalah gunung Bongkok, atau gunung Pelana Kuda, di daerah Maja. Almarhumah nenek memperkenalkan gunung unik ini pertama kali ke saya. Ah, jadi sedih. Kemudian saya melanjutkan sedikit perjalanan hingga bertemulah ini,

Beautiful Majalengka

Kata orang-orang sih nama daerahnya Lembah Panineungan. Deuh nya duka teuing, abdi mah teu teurang ai daerah ditu teh. Mentok pertigaan, belok kiri hingga bertemu Masjid Maja.Beautiful MajalengkaSalah satu masjid yang saya paling suka di Majalengka. Saya tidak tahu mengapa, intinya saya suka. Berikutnya memasuki desa Sagara, sudah di kecamatan Argapura sebenarnya. Di desa Sagara itu saya kembali menggampar punggung saudara saya untuk berhenti sejenak dan saya melompat dari jok sepeda motornya. Tentu saja untuk mengambil ini,

Beautiful Majalengka Beautiful Majalengka Beautiful Majalengka Beautiful Majalengka Beautiful Majalengka

Daerah sudah banyak yang tampak indah. Bahkan Gunung Tampomas yang dari Sumedang terlihat jelas ketika cerah. Bahkan selanjutnya, saya semakin tidak henti-hentinya membuat punggung saudara saya merah karena saya minta berhenti setiap beberapa ratus meter sekali. Dan inilah yang saya ambil,Beautiful Majalengka Beautiful Majalengka Beautiful MajalengkaDi atas jalanan yang meliuk-liuk, you see it? You see IT??? Benar, terasering sudah mulai terlihat. Aduh mata ini menjadi sembab menahan deras air yang sudah mengamuk ingin keluar dari kantung mata. Oh, andai ini setiap hari pemandangan yang dapat saya lihat…

Selanjutnya memasuki desa Sukasari, cuma saya tidak tahu Sukasari Kidul atau Kaler, intinya masih di kecamatan Argapura. Jalanan memang menurun dan tidak ada yang terlalu dapat dinikmati di sini kecuali pepohonan tok. Tetapi ditengah itu tiba-tiba sebuah dentuman keras terdengar, yaitu dentuman yang disebabkan oleh benturan telapak tangan saya dan punggung saudara saya. Ada spot bagus! Saya tidak sengaja melongok ke langit, kemudian memotret ini,

Beautiful Majalengka

Allah akbar… indahnya! Bahkan kebrutalan tangan saya terhadap punggung saudara saya semakin menjadi-jadi ketika telah kembali lagi berada di atas, dekat dengan wisata teraseringnya. Berikut foto-foto yang saya ambil di kala itu hehe…

Beautiful Majalengka Beautiful Majalengka Beautiful Majalengka

BTW, itu gunung apa yang terlihat di foto yang paling bawah? Saudara saya menggeleng. Tinggi juga sih, bukan Galunggung kan? Ya sudahlah. Tak lama kemudian saya tiba di…

Beautiful Majalengka

TARAAA…

Saya agak gagap membaca nama daerahnya. Panya… what? Oh Panyaweuyan. Di sinilah banyak komunitas bertemu. Sepeda gunung, sepeda motor trail, semuanya memenuhi cekpoin ini. Ada juru parkirnya ternyata, bayar Rp3.000,-.

Kemudian inilah foto terbaik yang saya ambil dari atas wisata terasering,

Beautiful Majalengka

Beautiful MajalengkaSubhanallaahi wa bihamdih. Nikmat mana lagi yang kalian dustakan, wahai Jin dan Manusia???

Setelah itu saya kembali lagi ke cekpoin Panyaweuyan untuk mengambil jalan pulang ke rumah, menuju Apuy atau Argamukti. Di sana ada gerbang pendakian gunung Ceremai. Ya know? Pemandangannya tidak kalah indah dari terasering di belakangnya. Hanya… belum begitu tersentuh. Trek aspal menurun yang meliuk-liuk disertai dengan lantunan gamparan tangan saya ke punggung saudara saya benar-benar menghiasi hari-hari saya pada saat itu. Berikut apa yang saya jepret,

Beautiful Majalengka Beautiful Majalengka

Mirip iklan AQ*A, right? Bahkan yang paling sadis ketika saya menyuruh saudara saya berputar balik di atas aspal yang sempit karena saya merasa ada yang tertinggal, yaitu pemandangan ini,

Beautiful Majalengka

Gunung Ceremai benar-benar terlihat sangat dekat dari sini. Jadi mau daki gunung tapi nggak ada temennya. 🙁

Pulangnya, melewati desa Pajajaran, desa Payung, dan Ciwaru. Berakhirlah perjalanan saya pada saat itu di Majalengka setelah foto terakhir ini,

Beautiful Majalengka

Ah, Majalengka… sayang, semua potensi itu tidak diolah dengan maksimal, padahal bisa untuk mendongkrak pendapatan APBD dari bidang pariwisata. Bahkan angkot pun tidak ada, sehingga tidak jarang saya temukan anak-anak sekolah dasar yang menggunakan kendaraan bermotor. Akankah keasrian itu berkurang berganti dengan polusi knalpot?

Oh, ada salam dari Masjid pedesaan,

Beautiful Majalengka

Allah mampu menciptakan kontur bumi yang begitu indah, masa Dia tidak mampu mengabulkan permohonan baik kalian? Penuhilah masjid, karena hari ini, masjid sudah banyak yang kehilangan pionir-pionir penerus bangsa.

Ini, ada senyuman. 🙂

Apa? Saudara saya bagaimana nasibnya? Jangan khawatir, saya sudah beri upah yang lumayan besar hehe… Ada lagi yang punggungnya ingin saya gampar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Add your answer

    Vote kalian akan saya buatkan artikelnya. Semoga dapat saling membantu. Terima kasih.