Bahagia Itu Tidak Sederhana : Bogor, Curug Ciherang

Curug CiherangJonggol, sebuah nama kecamatan di Kabupaten Bogor yang sempat dipopulerkan oleh seorang komedian. Saya awalnya iseng mencari tempat wisata di Bogor yang ‘barangkali’ menarik. Dan muncullah nama Curug Ciherang di depan mata. Yang membuat saya tertarik pada tempat wisata tersebut adalah adanya rumah pohon yang mengingatkan saya akan sebuah tempat wisata di Kalibiru, Jogjakarta.

Lalu, apa hubungannya dengan Jonggol? Curug ini memang bukan di Jonggol sebenarnya, melainkan di desa Sukamulya, sedikit menyenggol Puncak. Namun jika kalian datang dari Cibinong, kalian akan melewati Jonggol. Tentu saja saya tertarik untuk mencari apa angkutan umum yang dapat mengantarkan saya ke sana, namun jawabannya adalah TIDAK ADA. Aih! Indekos saya tidak memiliki garasi, sehingga saya tidak dapat menggunakan kendaraan pribadi kesana.


  • Bahagia itu -memang- tidak sederhana

Saya akhirnya meminta teman saya untuk ikut jalan-jalan ke sana. Dan alhamdulillahnya dia menyanggupi. Saya cek dahulu ramalan cuaca untuk memastikan cuaca di Jonggol tidak mendung, dan setelah jadwal dipaskan, saya melaju dengan teman saya menggunakan kendaraan roda dua pukul 6 pagi.

Saya menyarankan agar menempuh Jalan Raya Bogor kemudian masuk ke jalan yang berlokasi Situ Cibinong. Ternyata dari Situ Cibinong, jaraknya masih 40+ Km lagi, hampir setara dengan bolak-balik rute Transjakarta Lebak Bulus – Harmoni. Nah, setelah melewati desa Tajur, segala sesuatunya berubah.

Saya sempat memastikan bahwa saya masih di daerah Bogor, karena tiba-tiba pemandangannya berubah drastis. Semua pegunungan yang tiba-tiba menyerbu dan menghiasi pemandangan sepanjang jalan mengingatkan saya dan teman saya seperti keadaan di desa masing-masing. Dan saya masih marah mengingat tidak adanya satupun kendaraan umum yang lewat sini.

Pegunungannya juga aneh-aneh. Ada yang kemiringannya hampir 90 derajat, dan apa itu, sebuah gunung yang mirip seperti gunungan wayang kulit. Ternyata ini loh sisi lain Bogor yang saya bahkan baru tahu.

Curug Ciherang

Gunung ini apa namanya?

Setelah beberapa belas kilometer lagi menuju air terjun, jalanan rusak parah.


  • Yup, bahagia itu -memang- TIDAK sederhana

Pantat saya sakit. Saya memang terbiasa duduk lama di bus, namun kali ini pantat saya sakit, apakah karena jok sepeda motor yang tidak seempuk kursi bus? Kali ini beberapa ratus meter sebelum pintu masuk saya menyuruh teman saya berhenti sebentar karena pemandangannya dapat dikatakan amazing. My camera, action!

Curug Ciherang

Dan kalian tahu, untuk sampai ke tempat indah ini tidak ada angkot, tidak ada ojeg, dan jalanan pun rusak parah. F***!

Seperti artikel jalan-jalan saya yang lain, saya juga berikan bagaimana akses transportasi umum agar mereka-mereka yang belum punya kendaraan bermotor atau bahkan tidak dapat mengendarainya juga dapat menikmati jalan-jalan seperti yang dilakukan mereka yang memiliki kendaraan yang harganya minimal di atas 3 juta tersebut. Tetapi untuk yang satu ini adalah pengecualian…

Jadi saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Curug Ciherang

Pengen candid, ah sudahlah.

Gerbang tarif pun akhirnya terjamah juga. Dan kalian tahu berapa tarifnya? Waktu itu hitungannya adalah 2 orang dan 1 sepeda motor, totalnya adalah Rp. 43.000,- (…set!!!). Sedangkan pejalan kaki hanya dikenakan tarif Rp. 5.000,-. But, who the hell yang ingin berjalan kaki jika kalian dari luar Bogor? Atau setidaknya dalam radius 20km dengan jalanan sempit, menanjak, dan rusak?

Ternyata parkiran masih 300 meter lagi dari gerbang masuk sesuai petunjuk, dan sepertinya lebih! Ditambah lagi jalanan menuju parkiran adalah menggunakan ornamen batu, bukan aspal, jadi jika ban kendaraan kalian baperan, dapat dipikirkan lagi tiga kali.


  • Ekspektasi yang selalu bertengkar dengan kenyataan

Sesampainya di parkiran, sudah ada tiga warung bertengger namun hanya ada satu warung yang buka, mungkin karena bukan hari libur. Saya lihat di warung tiga ada colokan, namun warung yang buka hanya warung satu. Ya sudah, teman saya akhirnya sarapan p*p mie dahulu di sana.Curug Ciherang

Saya sudah sarapan, jadi sambil menunggu teman saya selesai, saya menatap pemandangan yang saya tidak dapat lihat setiap hari. Matahari menampakkan cahayanya, membuat segala sesuatunya terlihat jelas. Alhamdulillah tidak mendung.

Setelah melanjutkan perjalanan kembali, baru menapak sedikit kami sudah melihat rumah pohon. Yang ternyata memiliki tarif Rp. 3.000,- hanya untuk 5 menit (tetapi sepertinya saya lebih lama). Ekspektasi saya adalah seperti yang ada di Kali Biru, viewnya tersapu semua, namun ternyata… daun semua. Yah sudahlah nikmati saja. Beberapa orang juga banyak yang sepertinya ingin mengabadikan dirinya dengan tempat itu dengan maksimal. Yah somewhat worth it.Curug Ciherang

Curug Ciherang

Saya lihat apa sih?!

Wait, wait. Dari rumah pohon sudah terlihat curugnya di kejauhan. Gede amat! Saya langsung menarik teman saya turun seperti adegan yang di kartun-kartun.

Katanya dari rumah pohon, jarak ke air terjunnya cuma 70 meter, sepertinya lebih sih. Tapi ya sudahlah, setidaknya tidak seekstrim Curug Cilember. Dan sepanjang perjalanan pemandangannya juga instagrammable dengan pagar-pagar bambu yang memukau itu. Saya bahkan mengabiskan beberapa menit di tangganya hanya untuk berfoto-foto.

Curug Ciherang

Kata teman saya gayanya mirip Elsa Frozen. Saya: “Shut Up!!!”

Kemudian… bagian curug pun dimulai.


  • Ini baru air terjun!

Debit air terjunnya benar-benar tidak main-main. Jika saya ingat-ingat curug-curug lainnya yang pernah saya datangi sepertinya itu semua cuma air netes doang. Apalagi Curug Cilember, yang seperti itu kalian bilang Curug??? Ya sudah, mungkin pada saat itu sedang musim kemarau jadi saya sedang tidak beruntung.Curug Ciherang

Sensasi sebuah air terjunnya benar-benar semakin terasa setelah turun lewat bebatuan dan melihat langsung dari jarak yang cukup dekat. Baru terkena percikan dan pantulan partikel airnya saja sudah cukup untuk membuat saya basah kuyup. Lupakan Curug Ngebul dan Curug Citambur di Cianjur, ini sudah cukup menjadi pelepas penat orang kota.

Curug Ciherang

Debit airnya nggak nahan… XD

Tetapi saya berubah menjadi sebal mengingat tidak adanya ojeg, dan angkutan umum, serta jalanan yang rusak ke sini. AH! Atau memang bisa dengan ojeg jika datang dari arah puncak? Karena jarak Curug Ciherang ke Kota Bunga yang ada Little Venicenya itu hanya berjarak 15km.


  • Antara ingin nostalgia dan tidak

Baterai HP saya sudah soak. Saya menyuruh teman saya untuk kembali menuju warung tiga yang ada colokannya untuk charging sambil menunggu shalat Zhuhur. Namun sebelum itu, saya menemukan spot foto bagus tepat di depan rumah pohon. Mengapa tidak untuk jeprat-jepret?Curug Ciherang

Ah, Ciherang, saya bingung untuk kembali lagi ke sini. Saya tahu ada Curug Cipamingkis sekitar 800 meter dari sini. Namun saya sudah mencukupkan hari ini dahulu. Mungkin suatu saat saya akan ke sini lagi dengan kendaraan pribadi saya, namun saya tetap saja agak kurang sreg mengingat kenyataan pahit bahwa sepertinya tempat indah ini hanya dapat dikunjungi oleh mereka-mereka yang memiliki kendaraan pribadi.

Maafkan saya akan ditulisnya artikel ini…

Btw… pulangnya pantat saya dua kali lebih sakit…


  • Galeri

Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang DSC_0991 Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang  Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang Curug Ciherang  Curug Ciherang DSC_1034 Curug Ciherang Curug Ciherang


  • Lokasi Google Maps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)