Pengalaman Pertama Saya Bikin Buku

Pengalaman Pertama Saya Bikin Buku

inet

“Nanda, saya suka status-status Facebook kamu, kenapa nggak bikin buku aja?” Seorang dosen pengembangan diri saya menyarankan hal itu kepada saya. Awalnya saya hanya tersenyum kecut karena saya tidak tahu apa yang bahkan saya tidak tahu akan berbuat apa.

Hah? Buku? Jika saya menulis karangan bebas sebanyak lima buah kertas folio sepertinya tidak mengapa. Namun ini buku yang pasti saya harus buat sebanyak 100 halaman dan saya tidak memiliki stok apapun untuk dituliskan hingga berlembar-lembar. Bahkan, saya tidak tahu jika tema apa yang akan saya angkat ke buku tersebut.


3 tahun kemudian

Kalian tidak salah baca. Setelah tiga tahun kemudian, saya termenung. Semakin banyak kata-kata saya yang terkubur di dalam postingan saya di jejaring-jejaring sosial. Saya mulai merasa sayang dengan tulisan-tulisan tersebut yang ketika dibaca kembali, ternyata tulisan tersebut juga memiliki efek kepada saya sendiri selaku penulis.

Fix. Saya mencoba untuk menulis buku.

Saya membayangkan bahwa banyak penulis-penulis yang membuat buku hingga 500 halaman. Saya mengkalkulasi, jika setiap hari mereka menulis 10 halaman, berarti 50 hari atau hampir dua bulan secara kasar saya dapat menyelesaikan buku saya. Baiklah, tantangan diterima!

Apa yang saya lakukan pertama kali? Membuka MS. Word, tentu saja. Dimulai dengan ukurannya A4 dengan spasi 1,15 dan font 12pt Times New Roman, saya mulai mencorat-coret. Di halaman yang paling pertama, saya hanya membuat daftar kasar mengenai apa saja yang akan saya tulis, itu pun urutannya masih sangat tidak beraturan. Contohnya:

  1. Bakat.
  2. Manajemen waktu.
  3. Tantangan dan Ujian.
  4. blah-blah…

Saya ingat betul yang pertama kali saya tulis adalah bagian “Apa Rahasianya?” Yang justru sekarang menjadi bab ke-4 pada buku saya itu. Saya hanya memulai sekata-demi-sekata seperti halnya saya menulis artikel di blog saya ini. Kalian sendiri tidak menyangka jika kalian sudah sampai ke kalimat ke sekian saat kalian membaca tulisan ini bukan? Sama, saya pun demikian. Karena keasyikan menulis, tiba-tiba sudah sampai dua halaman.

Tak lupa, saya membuat progress saya di MS. Excel mengenai sudah berapa banyak halaman saya hasilkan dan berapa estimasi waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan sisanya. Saya update setiap hari, atau setiap saya melakukan progress dengan buku saya.

Yang paling penting, backup! Backup! Backup! Kita tidak ingin puluhan halaman kita hilang karena kita tidak membuat cadangan. Menangis nanah bisa-bisa jika hal itu terjadi. Dan jika bisa, simpan di banyak tempat, baik offline, maupun online. Kita tidak tahu jika suatu saat laptop kita rusak atau flashdisk kita hilang.

Saya biasanya Save As dokumen saya dengan menambahkan tanggal-strip-bulan untuk nama file cadangannya. Untuk penyimpanan online, saya memakai DropBox.

Oh, saya belum terpikir untuk memberi judul buku saya. Judul justru baru tercipta setelah halaman yang ke-sekian puluh.


Stuck! Stuck! Stuck!

Target saya adalah menyelesaikan sekitar 10 halaman untuk masing-masing bagian. Sedangkan saya memiliki rencana bahwa buku saya memiliki 15 bagian. Namun baru beberapa halaman saja saya sudah stuck, stuck, stuck! Macet, macet, macet. Dan itu adalah perkara yang lazim ditemukan jika memang kita tidak memiliki kerangka yang lebih detail mengenai apa yang akan kita tulis. Tapi jangan khawatir, itu masih dalam tahapan wajar.

Ya sudah. Saya lanjut dulu ke bagian lain yang masih saya ingat apa yang harus saya tulis. Lama-kelamaan, bagian yang stuck tersebut akan subur dengan sendirinya dan halaman demi halaman pada akhirnya akan bertambah dan melengkapi seiring dengan berjalannya waktu.

Tidak jarang saya menemukan elemen-elemen baru ketika saya sedang berada di luar, di jalan, di masjid, hingga di kamar mandi. Dari sanalah saya mengingat kata kunci dari setiap inspirasi yang saya dapatkan dan membentangkannya hingga menjadi ribuan kata yang tersusun rapi.

Oh, saya sudah di halaman 100, yay!

Katanya, menulis buku non fiksi efektif di kisaran 150-200 ribu karakter di luar spasi. Ternyata saya masih 100ribu karakter. Alhamdulillah ada statistiknya di MS. Word, biasanya di bagian kiri bawah dapat di klik untuk mengetahuinya.


Detik-detik penerbitan

Setiap bab sudah sempurna. Tidak jarang saya kembali membaca bab demi bab di waktu senggang untuk meminimalisir kesalahan penulisan huruf dan kerancuan antar kalimat. Waktu itu saya sudah tembus sekitar 150 halaman. Memang masih ada 50 halaman lagi, namun sebenarnya itu udah cukup untuk diterbitkan, bahkan lebih dari cukup.

Akhirnya saya membuat pendahuluan, dan penutup untuk melengkapi buku saya, ditambah dengan kata-kata mutiara yang pernah saya buat. Setelah saya hitung kembali, ternyata sekitar 180 halaman telah terbentuk.

Nah sekarang mencari penerbitnya. Saya sendiri mencari via Google mengenai penerbit yang menurut saya pas. Namun setelah saya kirimkan email, beberapa ada yang tidak dijawab, namun beberapa ada yang bilang sekitar 3 bulan untuk antriannya saja. Waduh waduh, please, NO! Kelamaan!

Sampai akhirnya bertemu penerbit yang dapat dikatakan pas, Jejak Publisher saya pilih. Setelah saya beremail ria dengan publisher, balasan yang diberikan terhitung cepat dan ramah, serta menjawab setiap pertanyaan saya dengan tuntas. Akhirnya saya ambil paket Gold dengan banyak keuntungan dan hanya sekitar setengah juta harganya. Itu termasuk desain sampul (padahal saya sudah punya desainnya) dan didaftarkan ke ISBN.

Hingga sampai ke proses antrian editor selama satu bulan, mengisi formulir mengenai apa yang ingin ditampilkan sebagai sinopsis, foto pribadi, dan yang berhubungan dengan buku (Tidak, tidak dipinta surat kelakuan baik apalagi salinan BPJS), komunikasi berjalan dengan sempurna.


Akhirnya…

Sampai tiba buku saya selesai diedit dan proof read (masih banyak tiponya huhu… saya juga tidak terlalu menyadarinya waktu saya baca ulang) serta desain sampulnya dan ebooknya, masih ada satu bulan lagi hingga buku saya benar-benar dicetak karena proses antrian cetak. Nice, nice…

Ketika dipinta berapa harga bukunya, saya jawab saja Rp55.000,- dan pihak penerbit setuju. Tapi sayang, untuk masuk ke Gramedia, masih harus cetak 1.000 eksemplar dengan biaya 10 jutaan, nangis diriquh… Semoga ada sponsor hahah.

Sampai akhirnya, saya dikagetkan dengan paket yang datang secara tiba-tiba dan… wah preorder buku saya sudah datang semuanya. YaY! Alhamdulillah. This is my first book as beautiful gift for you all.

Bukunya dapat kalian lihat, kalian pesan, dan kalian beli di sini.

Ini, ada emotikon senyum:

🙂

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Keilmuan 56%, 18 votes
      18 votes 56%
      18 votes - 56% of all votes
    • Harta 19%, 6 votes
      6 votes 19%
      6 votes - 19% of all votes
    • Anatomi (Rupa, Bentuk Tubuh, dst) 13%, 4 votes
      4 votes 13%
      4 votes - 13% of all votes
    • Jabatan 6%, 2 votes
      2 votes 6%
      2 votes - 6% of all votes
    • Popularitas 3%, 1 vote
      1 vote 3%
      1 vote - 3% of all votes
    • Pasangan 3%, 1 vote
      1 vote 3%
      1 vote - 3% of all votes
    Total Votes: 32
    May 9, 2018 - August 10, 2018
    Voting is closed

    Vote kalian sudah saya buatkan artikelnya, klik di sini. Terima kasih.