The Horror : Pengalaman Nyata Kesurupan Teman

sumber: inet

sumber: inet

Ini bukan pengalaman saya, melainkan saya mendapatkan cerita ini langsung dari teman saya yang saya rasa cukup layak untuk saya publikasikan. Pengalaman ini terjadi sewaktu teman saya sedang melaksanakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di suatu daerah di Bogor.

Sebut saja namanya Wita (bukan nama sebenarnya) yang akan saya jadikan tokoh utama pada cerita ini. Sebagai catatan pembuka, ini merupakan kisah teman saya yang benar-benar nyata. Mungkin saya tidak ingat 100 persen detail ceritanya, namun saya berusaha menuliskan dengan bahasa dan jalan cerita terbaik. Selamat membaca. 🙂


Malam itu rombongan mahasiswi tiba di villa yang telah ditentukan untuk melaksanakan LDK dengan menggunakan mobil bak terbuka sebagai alat transportasi. Para mahasiswi mulai turun dan akan segera beristirahat untuk melakukan serangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan esok hari.

Ketika mahasiswi sedang bergerak menuruni truk, Wita yang masih di atas tiba-tiba melihat sosok hitam yang jelas nampak di bawah truk seperti sedang menunggu dirinya untuk turun.

“Kamu lihat itu apaan hitam-hitam di belakang itu anak-anak…” Kata Wita kepada teman disebelahnya.

“Apaan sih Wit, kamu ngantuk kali.”

Memang mungkin Wita hanya berhalusinasi, namun sosok itu masih ada di bawah truk bahkan ketika Wita turun. Dan sosok hitam tersebut masih menampakkan dirinya di samping Wita…

dengan. sangat. jelas.

Memang tidak dapat dilihat secara detail bagaimana rupa sosok tersebut, namun warna hitam yang cukup mencolok sudah menjadi bukti akan kehadirannya. Sudahlah, mungkin karena Wita sudah cukup mengantuk sehingga sosok itu diacuhkan.

Karena banyak sekali peserta yang menempati villa tersebut, para mahasiswa yang tidak mendapatkan kasur dan ruang tidur memilih tidur di luar seperti di karpet dan di sofa ruang tamu.

Kebetulan Wita mendapatkan tempat tidur di sofa ruang tamu bersama temannya. Entah kenapa pada malam itu Wita tidak dapat tidur meski sangat mengantuk. Dan entah kenapa pula Wita seperti dipaksa sesuatu untuk menatap area tertentu.

Dikalahkan oleh rasa penasarannya juga, Wita akhirnya menatap area yang dimaksud oleh sesuatu tersebut. Ternyata area tersebut adalah jendela di samping sofa yang hanya ditutupi gorden transparan. Iya, sudah dapat ditebak, ada yang berdiri di luar sana. Sosok itu lagi.

Parahnya, tiba-tiba lampu mati sendiri. Eh, ada yang matikan. Cyar…!

Membuat sosok yang tengah berdiri di luar jendela itu semakin jelas terlihat. Karena sudah tidak tahan, Wita akhirnya membangunkan teman di sebelahnya yang tengah tertidur lelap.

“Bangun oi, bangun!”

“Ada apaan Wit malem-malem begini?” Tanya temannya yang masih setengah bangun.

“Kamu lihat nggak itu apaan yang lagi berdiri di jendela?!”

“Apaan sih. Cuma halusinasi kamu aja kali. Orang nggak ada apa-apa juga.”

Ya. Temannya Wita benar. Sosok itu sudah tidak ada lagi.


Di malam berikutnya tibalah saatnya untuk melaksanakan acara puncak yang siapapun dari kalangan anak pramuka atau orang yang pernah melakukan kegiatan outing lainnya tahu apa acara yang dimaksud di sini.

Jurit malam, tepat sekali.

Pada malam itu kegiatan baris berbaris di awal kegiatan berlangsung dengan sangat hening, hanya ditemani oleh suara jangkrik. Keadaan sangat senyap dan mencekam dengan minimnya penerangan.

Wita berada pada barisan yang paling pinggir, yang mana seharusnya tidak ada lagi mahasiswi di sebelahnya. Namun ternyata tidak demikian, ada seseorang yang ikut berbaris tepat di sebelah Wita. Iya, siapa lagi jika bukan sosok tersebut? Bahkan kali ini sosok tersebut mulai memperlihatkan wujudnya dengan lebih jelas.

Seperti perempuan, dengan rambut yang panjang. Terlihat memakai gaun berwarna putih atau apa tidak diketahui karena terhalangi oleh gelapnya malam. Berdiri tepat di samping Wita, terlihat menunggu ingin disapa.

Jangankan untuk menoleh dan memberi tahu temannya mengenai apa yang sedang disaksikannya, berdzikir saja sudah sangat sulit. Namun untunglah, sosok tersebut tidak lama kemudian menghilang sehingga Wita sudah dapat bergerak normal kembali.

Ternyata hal itu tidak berlangsung lama, ada sesuatu yang kuat mendorong Wita dari belakang. Benar, kalian sudah tahu apa yang terjadi berikutnya. Begitulah cara sosok tersebut memasuki tubuh Wita dan…

…Wita kesurupan. Di sinilah cerita itu kemudian dimulai.


Wita terbangun pada saat itu juga. Dilihatnya teman-temannya telah tidak ada lagi di tempat. Dimana mereka? Ada apa dengan kegiatan baris berbarisnya? Mengapa semuanya lenyap? Wita benar-benar sendirian di sana. Dan Wita tersadar, itu bukanlah lokasi tempat dia dan teman-temannya tadi berbaris, melainkan di tempat lain yang cukup gelap, di alam terbuka, dikelilingi hutan-hutan.

Wita melihat sekeliling, lalu pandangannya terpaku kepada suatu sosok yang berdiri di kejauhan. Perempuan  itu lagi. Namun kali ini dengan wujud yang paling jelas. Dia cantik. Sangat cantik. Serta terlihat semakin mendekat…


“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Kalimat mulia tersebut memenuhi seluruh penjuru ruangan. Semua menyebut asma Tuhan dengan keyakinan masing-masing. Ada yang berdzikir dan berrosario, ada yang secara pelan dan ada juga yang secara keras. Semua sibuk dengan bacaan-bacaan sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Wita menjerit dan memberontak, tubuhnya yang lumayan kecil tersebut dapat melempar dan membanting 8 orang laki-laki yang tengah memeganginya dengan sangat erat. Suara yang keluar dari tenggorokannya berat, aneh, dan sepertinya memang bukan suara Wita.

Semua yang ada di villa panik berhamburan, mencari bala bantuan terdekat. Seorang ustadz didatangkan, dibacakan doa. Namun semuanya nihil. Semuanya tetap panik dan keadaan ini berlangsung lebih dari satu jam. Akhirnya ada seseorang yang memiliki inisiatif turun ke perkampungan warga untuk mendapatkan informasi mengenai orang pintar lebih lanjut.

Selang beberapa lama datanglah seorang kiyahi, yang mungkin ilmunya lebih tinggi daripada ustadz yang tadi. Menghampiri Wita yang sedang teriak-teriak, di mana yang memeganginya sudah tidak ada lagi yang sanggup.


Sosok itu mendatangi Wita, wajah yang cantik namun menyeramkan perlahan-lahan menggapai tubuhnya yang sedang kaku tidak percaya apa yang sedang terjadi.

“Ayo, ikut saya… Ayo ikut…” Sosok tersebut membujuk.

Wita antara sadar dan tidak, sedikit menolak ajakan sosok cantik tersebut.

“Ayo, ikut… ayo…” Sosok tersebut semakin membujuk bahkan dengan setengah memaksa.

Wita tidak tahu harus bagaimana lagi. Seakan terhipnotis dengan bujuk rayu sosok yang memang bukan manusia tersebut, Wita seperti mulai bergerak maju memenuhi ajakan si makhluk.

Kret!

Sontak ada yang menarik tubuh Wita dan menahannya dari belakang. 2 orang berjubah putih dan bersorban, entah darimana datangnya.


Wita teriak-teriak kesakitan. Suara yang dikeluarkan olehnya sangat menyeramkan membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri. Sang kiyahi membacakan beberapa doa melawan makhluk yang merasuki tubuh Wita tersebut!

“Darimana asalmu!” Tanya sang kiyahi.

Wita hanya menunjuk secara pelan tidak tahu ke arah mana. Namun dapat dipastikan arahnya ke kebun tempat Wita yang asli sekarang berada.

“Keluar dari tubuh anak ini!”

Ternyata sosok tersebut tidak mau keluar. Suasanapun semakin mencekam dan itu berlangsung lumayan lama. Sang kiyahi pun akhirnya sudah tidak memiliki toleransi dan mengeluarkan makhluk itu dengan paksa.

Dan yap. Makhluk itu berhasil keluar… namun hanya separuh.

Wita pun sepertinya sudah sadar. Namun belum sepenuhnya. Ada beberapa bagian tubuhnya yang masih cukup dingin menandakan makhluk itu belum jauh dari tubuh Wita.

“Gak mau, aku gak mau…” Desah Wita.

“Ayo ikut, ayooo”

“Gak mau, aku gak mau!”

Semua diucapkan oleh Wita. Seakan memiliki 2 buah kepribadian. Karena Wita mengeluarkan suara ajakan, namun Wita juga menolaknya. Wita juga kadang mengeluh tubuhnya berat dan cukup menyakitkan di bagian belakang, terutama pundak.

Wita berjuang sendirian melawan ajakan si makhluk. Namun di satu sisi ia juga tidak berdaya tubuhnya dikendalikan si makhluk. Acap kali diap menolak, pundaknya dirasakan teramat sakitnya, seakan makhluk yang tidak mau keluar tersebut mencengkeramnya dengan keras.

Setelah sang kiyahi mengeluarkan makhluk itu sepenuhnya, Wita yang sudah pulih tersebut menjelaskan, bahwa ketika dia baru setengah sadar, ada sesuatu yang membisikinya dan mengajak Wita untuk ikut bersamanya.

Keseluruhan kejadian itu berlangsung hingga 3 jam. Dari mulai sosok tersebut merasuki Wita jam 1 malam, hingga jam 4 shubuh.

Saya berkata bahwa kemungkinan Wita diganggu karena auranya menarik, dan ternyata dugaan saya benar. Yang lain lagi, 2 orang bersurban yang menolongnya adalah masih memiliki garis keturunan dengannya. Bisa jadi bapak dari kakeknya, atau yang di atasnya lagi. Wita sendiri kaget kejadian kesurupannya itu berlangsung hingga 4 jam. Padahal dia merasa di alam lain itu hanya 10 atau 15 menit.

Serta ada satu hal lagi yang saya ingin ungkapkan…

Untung pada saat itu Wita menolak ajakan makhluk itu. Karena jika tidak…

…kemungkinan besar dia akan mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)