Menembus Atmosfer: Garut, Gunung Talaga Bodas

Gunung Talaga Bodas

Sudah lama saya mengincar yang satu ini setelah dua tahun lalu gagal ke Kawah Putih di Ciwidey. Masih seperti biasa dalam episode jalan-jalan kesendirian saya yang sangat minim persiapan, saya asal menembak jadwal dadakan agar saya lebih pakem dalam memanajemen waktu.

Gunung Talaga Bodas, saya cari di Yang Mulia Tuan Gugel ternyata memiliki ketinggian 2.201 meter di atas permukaan laut, seuprit lebih tinggi dari tetangganya, Gunung Galunggung. Ini gunung berdua kayak lagi marahan, secara geografis memang benar bahwa dua gunung ini persis bersebelahan, namun sepertinya mereka bangun tembok yang tinggi menjulang di tengah-tengahnya. Mungkin merasa bersaing karena tujuan wisatanya adalah sama-sama kawah. (Saya ngomong apa sih?)


  • Doa jelek yang dinikmati

Siangnya saya merasa deg-degan karena saya tahu saya harus berangkat malam. Bus Primajasa dari pool Cililitan sebelah halte busway BKN memiliki bus ke Garut dengan keberangkatan yang terakhir pukul 9 malam. Tarifnya waktu itu sudah tarif normal Rp52.000,-, dan bukan tarif lebaran lagi yang naik sekitar 20 persen. Biasanya, perjalanan ke Garut hanya sekitar 4 setengah jam yang itu artinya saya sudah sampai pada hampir pukul 2 malam.

Alamak! Terus saya nginep dimana???

Paling males nginep-nginep, sampah! Eh, sumpah!

Kemudian saya teringat bahwa tol Cikampek sedang ada pembangunan besar-besaran seperti yang telah saya jelaskan di artikel Garut saya dulu sehingga kemungkinan besar tol akan macet.

Ya Allah, please macet! Pleaseeee…

Ya sudah, jam 20.50 bus berangkat dari pool Cililitan dimana di dalamnya ada saya yang masih gundah di pojokan. Saya tidak tahu apakah itu keberangkatan yang terakhir atau tidak, yang pasti saya harus cukup tidur dan cukup tidur! Apalagi jika memang nanti tol macet, saya bisa mulai mendengkur karena saya paling tidak bisa tidur di bus yang sedang berjalan dengan posisi duduk yang persis sebelah jendela. Benar, menikmati pemandangan dan penasarannya itu.

Bus mulai masuk ke tol Cikampek dan jalanan lancar. Saya berdoa tidak ada habis-habisnya meminta jalan tol agar macet! KM 3, KM 7, KM 10, KM 13, bus tetap berjalan lancar seperti tanpa dosa. YA ALLAH! MACET KEK!

DAN YUP! DI KM 16 BUS SUDAH MULAI BERHENTI BERGERAK!

ALHAMDULILLAAH!!!

Bus berjalan pelan-pelan dan sering tersendat. Bagus, bagus! Akhirnya dengan doa tidur yang telah mengalir lembut dari mulut saya yang bauk ini beserta musik pengantar tidur terbaik yang diputar, maka inilah awal saya memiliki agenda tidur yang menyenangkan di dalam bus.

Namun nyatanya tidak.

Dari pukul 10 jalanan macet, saya baru bisa tidur pukul 00.30 dan itu pun hanya berlangsung 20 menit. Total saya hanya bisa tidur 1 jam setengah di bus. Aduh bakal ngantuk parah nanti. Bus itu sendiri sampai terminal ketika pengajian menjelang shubuh mengalun di masjid sebelah terminal. Nice! Saya bisa shalat tahajjud dulu dan mencoba melanjutkan tidur dengan duduk bersila menunggu shubuh.

Airnya dingin, brrrr… mungkin ada sekitar di bawah 10 derajat selsius.


  • Dibuai atmosfer

Setelah shubuh berjamaah, saya makan nasi rames di warung depan masjid sambil menonton acara Mamah Dedeh yang kebetulan temanya tentang pernikahan, ehm, maksud saya, temanya tentang “Cepetan! Buruan Nikah!!!” kira-kira begitu. Saya yang sedang sendirian nyasar di daerah orang ini merasa terjleb dengan sempurna. Ah…

Kemudian saya bertanya kepada pemilik warung tentang angkot ke Talaga Bodas. Katanya disuruh maju ke pos sebelah terminal sekitar 150 meter. Sambil berjalan, saya buka si-mbah lagi dan mengetahui bahwa saya harus naik angkot ke Wanaraja. Di warung-warung sekitar terminal saya sembari membeli bekal dan oleh-oleh, saya bertanya perihal angkot tersebut, dan pemilik warung memberhentikan sebuah angkot putih merah ke Wanaraja untuk saya. Jika tidak salah, kode trayeknya 07.

Wah makasih. Katanya jam operasional angkot biasanya mulai pukul setengah 6 pagi.

Dari sana saya dituntun oleh supir angkot agar saya turun di pertigaan Talaga yang tidak jauh dari gedung Pasar Rakyat Wanaraja dan diorderkan ojeg untuk mengantar saya ke Kawah Gunung Talaga Bodas. Saya beri Rp5.000,- kepada supir angkot dan dia tidak meminta lebih. Berarti memang benar tarifnya segitu (atau bahkan kelebihan?).

Untuk si bapak ojeg, saya langsung tembak harganya di awal,

Rp100.ooo ya pak bolak-balik?”

Si bapak mengangguk. Eh, kemahalan nggak ya? Ya sudah yang penting sepanjang perjalanan benar-benar worth it pemandangannya karena sepertinya jalannya terus menanjak seperti mendaki gunung. Lagipula rutenya ternyata jauh dan berkelok-kelok, ditambah lagi, sepanjang perjalanan jalanan hancur lebur. Saya saja yang menumpang sulit menyeimbangkan posisi.

Tapi pemandangannya itu loh… kechue! MasyaAllah. Gunung Sadahurip yang sempat viral karena bentuknya hampir menyerupai piramida sempurna terlihat secara jelas.

Gunung Talaga Bodas

Gunung mungil tersebut masih termasuk gunung berapi btw…

Di depan saya jalanan sudah gelap secara tiba-tiba karena terhalang kabut sana-sini. Udara menjadi super dingin meski saya pakai jaket. Tak terasa tiba di depan loket yang masih tutup dan saya dikenakan biaya Rp9.000 dari tarif normal Rp9.500. Diskon sebanyak 500 rupiah diberikan mungkin karena saya adalah pelanggan pertama hehe.

Saya beri Rp10.000 namun pengelola bilang bahwa dia tidak memiliki Rp1.000nya. Yah, sama saja kebalikan dari diskon dong… Si bapak ojeg tersebut ternyata juga menggigil sambil mengeluh dingin. Wah? Orang aslinya saja masih begitu? Apalagi saya vhahah. Dia akhirnya memesan segelas susu hangat. Tumben, biasanya kalo orang-orang pasti pesannya kopi panas.


  • Pawang kabut

Saya memilih jalan kaki dengan jarak yang cukup singkat, yaitu hanya 850 meter saja. Semoga bukan PHP seperti yang lain. Banyak yang bilang jaraknya hanya sekian meter namun justru hampir sepuluh kali lipatnya. Sebenarnya saya siap diantar oleh ojeg khusus dan orang sana, namun saya lebih memilih sendirian.

Jalan tengah hutan sendiri, dan saya menikmatinya. Suara-suara atmosfer berkeliling di kepala saya. Seperti film horor, dengan aroma romantis.Kawah Gunung Talaga BodasSaya jalan, dan terus jalan. Menyusuri jalanan yang saya belum bersahabat dengannya. Secara, hanya ada saya seorang diri karena memang paling pagi datang.

Skip. Jaraknya benar 850 meter, dan saya sampai.

O MaY GhAwD! Saya tidak melihat apa-apa di sini! Semua serba gelap dan berkabut. Terlihat sebuah mobil double cabin dan tenda-tenda. Ada yang menginap ternyata. Ya sudah, berlagak seperti hantu di tengah kabut, saya nyanyi-nyanyi nggak jelas. Apa? Lingsir Wengi? Tidak, saya tidak menyanyikan yang itu.

Gunung Talaga Bodas

Kabut, kabut pergilah! Datang lagi lain hari!

Ya Allah please! Please! Kabutnya tolong usir dulu…

Kemudian:

Gunung Talaga Bodas

Matahari terbit, dan…

Gunung Talaga Bodas

Alhamdulillah…! Doa saya dikabul! Kabutnya mulai pergi.

Dari tenda pun bermunculan orang-orang. Ya ampun, ternyata di dalam tenda tersebut adalah satu keluarga. Enak ya, kemping di alam terbuka sama papah mamah. Tapi…

Gunung Talaga Bodas Gunung Talaga Bodas

Sampah! Sampah! Alamak! Di kanan kiri saya banyak sampah. Jadi jelek begini deh sebagus-bagus tempat.

Oh iya! Saya sudah beli lensa fix untuk kamera saya untuk foto yang latarnya ngeblar-ngeblur. Lebih baik saya berburu jamur, apalagi cuaca masih lembab begini. Asyik, asyik! Saya akhirnya berkeliling dan menemukan pohon yang batangnya berlubang. Semoga ada jamur. Begitu saya dekati, ternyata banyak nyamuk! Ah, terserah, saya mau melihat ada apa di dalam lubang pohon tersebut dan…

Gunung Talaga Bodas

Astaghfirullaah Al-‘Azhim! Sampah, eh Sumpah! Eh, bener itu sampah!

Nangis diriku melihat kejorokan ini. Ya sudahlah, mulai cari-cari yang lain. Jamur… jamur… ke sini sayang, aduuhhh kok nggak ketemu-ketemu ya? Sampai saya balik lagi akhirnya. Tapi… you know? Pagi itu adalah momen-momen waktu yang amazing. Itulah mungkin mengapa Rasulullah pun menginginkan keberkahan pada umatnya di waktu pagi. Bagaimana tidak? Perhatikan foto-foto yang saya ambil berikut,

Gunung Talaga Bodas Gunung Talaga Bodas

Subhanallaahi wa bihamdih.

Kawah Gunung Talaga Bodas

Selamat pagi dunia!

Oh iya! Saya kan bawa tripod! Karena suasana masih sepi dan… banyak anak-anak alay dengan kendaraan berisiknya (motor bodong) tiba-tiba datang dan menghancurkan segalanya. Saya tidak peduli, saya keluarkan tripod dan memasang timer untuk foto-foto diriqquh.

Kawah Gunung Talaga Bodas

Dan alhamdulillah saya bawa buku untuk berjaga-jaga ketika bosan. Oh, mengapa saya tidak candid dengan buku saja? Hasil fotonya pun saya sukakk!

Gunung Talaga Bodas

Sip. Setelah itu saya menumpang buang air besar karena ada toilet di sana dan tidak ada yang menjaganya. Brrrr… airnya dingin parah. Keluar dari WC, saya tetap memberi Rp2.000,- ke kardus yang saya yakin itu wadah tempat uangnya.

Sudah, saya pun puas. Mau apa lagi? Tinggal pulang.

Eh, ada satu spot lagi yang belum saya jamah, yaitu ke kiri dari jalan masuk.

Gunung Talaga Bodas

Mushola pria? Where? Nggak ada apa-apa. Setidaknya saya dapat foto ini.

Kawah Gunung Talaga Bodas Gunung Talaga Bodas

Selesai perjalanan, saya pulang sembari bernyanyi tralala-trilili dengan merentangkan tangan seperti yang di iklan-iklan. Di tengah gilanya saya begitu, tak terasa sudah sampai ke pangkalan ojeg kawah serta dilihat banyak orang. Tentu saja saya langsung kembali elegan dan sedikit kemayu, sambil menahan muka agar tidak terlihat merah. Malu boookkk!

Ya sudah, susunya tukang ojeg saya bayar dan saya kembali diantar pulang ke tempat terakhir saya turun dari angkot.

DSC_0932

Bai bai Garut…

Saya ketiduran di angkot dan kebablasan turun di alun-alun Garut. Bah! Saya akhirnya naik angkot apa saja yang penting bisa kembali ke terminal.

Saya pun kembali ke Jakarta memakai bus Primajasa ke Cililitan sekitar pukul 11.00, dengan tidak mendapat duduk samping jendela karena penuhnya. Padahal sepanjang jalan di Garut itu adalah hal yang paling saya tunggu-tunggu. Bahkan karena cerah cuacanya, banyak gunung-gunung yang seakan tiba-tiba muncul tidak diundang. Kaget saya. Gunung apa itu? Penumpang yang asli Garut saja tidak tahu. Yaampun.

Setidaknya perjalanan hanya memakan waktu 4 jam setengah karena bebas macet kecuali macet-macet kecil dan sebentar. Alhamdulillah…

Nggak ada sesi galeri di sini karena gambar sudah saya posting semuanya di atas hehe… Terima kasih.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Add your answer

    Vote kalian akan saya buatkan artikelnya. Semoga dapat saling membantu. Terima kasih.