Menggapai Ketinggian: Tasikmalaya, Gunung Galunggung

TasikmalayaSetelah saya ‘berani’ sendirian ke Sukabumi kemarin, saya memutuskan untuk bepergian ke tempat yang lebih jauh ‘sedikit’. Kebetulan saya dulu sudah memiliki rencana untuk pergi ke Gunung Galunggung, Tasikmalaya. Hanya saja karena tujuannya mendaki gunung, berarti saya harus datang pagi ke gunungnya.

Baiklah, mengecek stasiun ramalan cuaca adalah ‘wajib’ mengingat saya lihat di Aki Gugel pemandangan di ketinggian tersebut benar-benar bikin lidah meleleh ketika hari cerah. Dan, kabar baiknya Indihiang sedang dalam keadaan cerah pada hari Minggu kemarin. Yes, sip, saya langsung siap-siap pada malamnya ba’da isya. Saya tidak tahu harus bagaimana karena ini adalah pengalaman saya pertama kali berangkat malam hanya untuk kegiatan travelling.


  • Apa tujuan saya benar?

Jam 20.25 saya berangkat pakai ojeg online menuju Pool Primajasa Cililitan yang persis sebelah halte busway BKN. Dan pada saat itu bus ekonomi ke Tasikmalaya yang bertarif Rp60.000 itu sudah hampir penuh. Yah, padahal ekspektasi mau duduk dekat jendela. Tetapi setidaknya bus hanya menunggu 10 menit sebelum diberangkatkan.

21.15 bus berangkat. Perkiraan saya jika tol Cikampek macet, saya akan tiba di terminal Indihiang saat Shubuh. Entah mengapa tol Cikampek yang ketika itu sedang dibombandir dengan pembangunan-pembangunan, bus yang saya tumpangi sepertinya don’t give a real damn dan melenggang seksi melewati pembangunan-pembangunan tersebut seperti tidak punya dosa.

Saya tidak memiliki sesuatu untuk dibahas karena pemandangan gelap dari luar. Yang saya lihat hanyalah bus yang menyalip sana-sini ketika keluar tol Cileunyi. Baiklah, saya insomnia, padahal siangnya ngantuk abis. Mungkin total saya bobok di bus hanya dua jam lebih sebelum akhirnya saya dibangunkan orang setibanya di terminal Indihiang.

Saya turun dari bus dan duduk di ruang tunggu di mana juga banyak penumpang lain yang istirahat di atas kursi. Setelah saya perhatikan sekeliling, saya merasa ada yang aneh, ini terminal kok isinya semuanya bus Primajasa? The heck?! Ini saya yang salah turun atau memang terminal Indihiang ini memang dikuasai oleh bus Primajasa? Seingat saya banyak bus-bus P.O. lain yang berangkat menuju Tasikmalaya. Saya buka maps, ternyata benar, saya tidak turun di terminal Indihiang, melainkan di Poolnya Primajasa, yang jika diukur dari terminal Indihiang, jaraknya sekitar 3,5 km.

Saya lihat jam, masih pukul 3.15. Sedangkan subuh pukul 4.30. Ya sudah saya ke mushalla pool mengharapkan dapat meneruskan bobok saya. Ternyata ada beberapa orang yang sedang shalat Tahajjud, saya pun ikut mengerjakannya. Selepas shalat, seorang bapak mendatangi saya kemudian berbincang banyak. Berikut saya rangkum pembicaraan saya dengan beliau,

Kini terminal hanya tempat persinggahan saja karena bus banyak berakhir di pool masing-masing. Terminal dikhususkan untuk bus-bus ke luar daerah. Namun jika dari sini (pool primajasa) ingin ke terminal, bisa numpang lagi ke terminal gratis.

Sedangkan untuk wisata yang lain di Tasik itu banyak. Dari terminal ada bus tujuan Pangandaran ditempuh dalam jarak 2 sampai 3 jam.

Wah, terima kasih bapak… membantu sekali infonya. Hingga akhirnya waktu Shubuh tiba dan si bapak berdiri untuk adzan.


  • Ingat kampung

Selepas shubuh berjamaah saya keluar pool barangkali ada ojeg yang menawarkan saya ke Galunggung. “A, bade kamana a.” Benar kan.

Saya tanya ke gerbang Galunggung katanya tarifnya Rp70.000, saya tawar jadi Rp50.000 ternyata si kakang ojeg mengeluh jauh. Ya sudah lah, untung saya bawa uang lebih, atau sayanya yang tidak bisa menawar, maklum, jarang beli daging di pasar (emak-emak pasti paham maksudnya). Setidaknya si kakang ojeg (udah tua sebenernya) ini benar-benar wangi, saya ingin tahu apa merk parfumnya, wangi abis, worth it lah tujuh puluh rebu.

Di perjalanan saya ditunjuki oleh si kakang pemandangan gunung Galunggung dari jauh, dan terlihat banyak cahaya berjejer dari gunung ke bawah, yang katanya itulah tangganya. Sayang masih terlalu pagi jadi kamera HP saya gelap hehe. Gunungnya ternyata cukup tinggi juga jika dilihat dari jauh, namun cahaya dari lampu-lampu tersebut ternyata tidak sampai ke puncak, melainkan hanya setengahnya. Yah, bukan daki gunung dong namanya.

Sesampainya di gerbang, saya ditagih Rp6.500 sebagai karcis masuk. Di dalam gerbang pun saya masih harus berjalan lagi dengan jarak 2.5 km sebelum menuju tangga, dengan jalanan yang kini menanjak curam lebih dari 40 derajat! Baiklah, tantangan saya terima. Rayuan-rayuan lembut dari para tukang ojeg di dalam gerbang saya tolak mentah-mentah semua. Iya, si kakang ojeg tidak diizinkan masuk karena di dalam kawasan wisata sudah menjadi jatah ojeg-ojeg yang lain. wisata galunggungwisata galunggung

Ada dua arah, kawah dan Cipanas, ambil yang kawah, dengan terlihat jalanan memanjak dengan kemiringan yang hampir mematikan nyali. Kabar baiknya, jalanan sudah di aspal. Jadi saya menantang diri saya untuk menanjak sejauh 2.5 km mengingat saya sudah pernah punya pengalaman ini di Curug Cilember.wisata galunggunggunung galunggung

Ternyata menanjaknya tidak abadi, jalanan kembali landai setelah beberapa ratus meter, dan kini pemandangan sebenarnya pun terlihat. Ya Allah ya Kariim, inget kampung di Majalengka…

TasikmalayaAh, ternyata inilah keajaiban pagi yang sangat jarang saya lihat. Saya membayangkan dahulu orang-orang desa mengayuh sepeda melewati jalan setapak melewati alang-alang dengan background pegunungan. Kini yang terlihat di depan dan belakang saya adalah suara berisik knalpot bodong beberapa anak-anak alay yang ingin mendaki gunung.

Siapa yang tidak ingin hari-harinya dipenuhi oleh pemandangan seperti ini:

TasikmalayaJarak 2.5 km pun tidak terasa melelahkan, kecuali banyak gumpalan kabut yang kemudian mulai menggerogoti gunung dengan perlahan dan pasti. Hush, hush! Saya mengibas-ibaskan tangan saya ingin sepertinya menyingkirkan kabut-kabut itu. Saya agak mempercepat perjalanan saya karena saya ingin pemandangan yang saya lihat itu bersih dari kabut. Sepanjang perjalanan pun orang-orang dari atas kendaraannya menoleh ke belakang ke arah saya. “Lihat-lihat apa? Orang ganteng? Hah?!”

Finally, sampai ke sebuah pos pendakian.

wisata galunggung

Namun dari sana…

wisata tasikmalayaIni saya harus kemana? Serius, saya ingin ke mana?!! Petunjuk di atas tidak begitu jelas dimengerti. Apa yang saya inginkan sekarang adalah tangga! Arah mana yang tangga?! Bunga mana bunga? Ingin saya petik mahkotanya satu per satu untuk memutuskan apakah saya ambil jalur kanan atau kiri. Namun mengingat kabut-kabut di atas tidak memiliki belas kasihan terus memangsa si gunung yang malang, saya memutuskan untuk ambil kanan.


  • Kalah sebelum perang

Oh good, kali ini jalanan jauh lebih menanjak dengan aspal yang lebih rusak. Jika saya disuruh memilih antara 1,3 km jalan yang ini dengan 2,5 km jalan yang tadi, saya memilih yang 2,5. Jika begini maka saya akan sudah mengibarkan bendera putih duluan bahkan sebelum saya mencapai tangga. Sesampainya di tangga pun saya sudah tidak nafsu.

tasikmalaya

Ada sedikit spot selfie sebelum mulai mendaki tangga. Sebuah pemandangan dari ketinggian yang cukup dapat mengurangi lelah setelah pendakian di atas aspal tadi. Setelah saya kembali bersemangat untuk kembali melanjutkan mendaki tangga, saya tiba-tiba seperti di panggil oleh seseorang. “Kang! Kang!

Saya menoleh, ada dua orang yang saya tidak tahu siapa ternyata memang memanggil saya. Untuk apa? Untuk membayar kembali fasilitas tangganya. What?! Saya pikir sudah sekaligus dari gerbang. Memang tarifnya hanya goceng, tetapi mengapa tiba-tiba dan seperti tidak memiliki standar aturan? Loket kasirnya pun jauh terpisah dari tangga. Sama pengunjung kok begitu, Perhutani seharusnya memperhatikan hal ini lebih baik lagi. Berapa nomor customer servicenya? Saya mau laporin.

Gunung GalunggungSaya dapat informasi bahwa jumlah tangganya sekitar 620-an anak tangga. Mhh, sekitar 5x jumlah anak tangga halte Transjakarta CSW. Not bad. Eh, warna tangganya kuning.

Halte CSW

Halte CSW

Pada seperempatnya, ada sebuah gazebo tiba-tiba muncul seperti memanggil saya untuk beristirahat sejenak. Tentu saja saya sarapan dari bekal yang saya sudah beli kemarin malam di minimarket. Udaranya yang sejuk membuat saya nyaman duduk di gazebo itu. Bagaimana caranya memindahkan rumah ke sini?

Saya tiba-tiba menyadari sesuatu yang sangat penting. Kabutnya ternyata sudah menyeruak! Pemandangan demi pemandangan sudah menjadi miliknya sekarang. Tidaaaakkkk! Belum lagi banyak anak-anak alay yang pada buang sampah dari atas sehingga sampah-sampah tersebut menggelinding dari atas hingga tepat ke depan mata saya. Belum puas dari itu, tiba-tiba banyak rombongan anak-anak kecil berdesakkan naik ke atas tangga dan memenuhi gazebo yang pada saat itu saya duduki dengan berisiknya.

padahal saya ingin tenang

Iasud, saya tunggu saja sampai anak-anak tersebut menghilang dari pandangan, soalnya saya mau nyampah story di Instagram saya. Pada akhirnya memang tangga kembali sepi, namun saya justru ditemani oleh monyet-monyet yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Fix, saya paling ganteng sekarang!


  • Berdiri megah

Apa yang ada di atas tangga? Kawah, tentu saja. Lengkap dengan prasasti dan monumen letusannya. 2.167 mdpl, merupakan tempat paling tinggi pertama yang pernah saya raih. Saya kadang tidak percaya ini, dan kini saya mengerti mengapa banyak anak-anak alay (lagi?) yang bersorak-sorai dengan super lebai begitu mereka telah mencapai puncak gunung. “Menaklukkan” pekiknya.

Gunung Galunggung

Saya sendirian, difotoin monumen. Serius.

Di kanan, banyak pendaki menginap dan sebuah prasasti letusan Galunggung. Saya yang mau berfoto dengan monumen meminta tolong rombongan anak-anak inosen yang sedang berkumpul ria untuk memfoto saya. Kemudian kalian tahu apa yang terjadi? Senyuman setiap anak yang saya pintai tolong tersebut berubah menjadi ketakutan dan menggeleng enggan. Ya Allah, padahal ganteng begini… *srek

Gunung Galunggung

Ya sudah lah, padahal sudah meminta tolong kepada anak-anak imut tersebut dalam pendekatan yang sebaik-baiknya *PasangSenyumanAngker.

Dan bodohnya, saya lupa bahwa saya bawa tripod!

Kemudian saya lanjut ke… oh kabutnya! Saya tidak dapat melihat dalam jarak 10 meter karena memang benar-benar tebal. Stasiun ramalan cuacanya bohong! Ini jelas tidak cerah! Saya dikepung oleh awan yang turun ke tanah. Bahkan dengan kurang ajarnya di antara gumpalan awan-awan tersebut lewat di depan saya tanpa permisi. Dasar awan jaman naw!Gunung GalunggungKemudian saya lihat ada plang Merkuri Galunggung. Apa lagi itu?! Bisa lihat planet Merkurius dari sana maksudnya? Saya tetap melanjutkan perjalanan di jalan setapak antara jurang kawah dan jurang satunya. Sebenarnya ada tangga turun menuju ke kawahnya, tapi saya sudah terlanjur malas turun. Ya sudah, saya jajan di warung dan duduk ke arah kawah. Masih jam setengah 8 pagi, ya… buat merenung ok juga. Btw, orang-orang pada kaget saya sendirian dari Jakarta buat daki sebentar terus pulang lagi.

Tasikmalaya

Di sana juga ada platform bambu untuk melihat sunrise seperti yang banyak viral hari ini. Cuma cuciaaan de… pemandangannya kabut semua. Mana ada yang lagi prewedding.

Gunung Galunggung

Ok cukup, saya turun tangga terus pulang. Oh kali ini tangganya biru.Tasikmalaya


  • Sendirian pun romantis

Seturunnya dari tangga saya dikerubutin oleh para ibu. Mau minta fotoin ternyata, saya pikir mau minta tanda tangan (ini dari tadi muji diri melulu). Saya akhirnya menata para ibu yang hiperaktif tersebut dan kemudian mulai berhitung.

1… 2… 15!

Para ibu tersebut bukannya berpose justru tertawa. Saya tunjukkan hasil fotonya dan katakan kepada mereka bahwa saya masih terima komplain. Kata mereka bagus namun ingin foto satu lagi dengan gaya berbeda. Siap! Kali ini saya mengatur mereka agar lebih baik posisinya lalu saya mulai berhitung mundur.

3… 2… 127!

Sekali lagi, para ibu itu justru semakin ngakak tertawanya. Ada apa? Saya juga katakan bahwa saya masih terima komplain part dua. Di luar dugaan, mereka sangat puas dengan hasil foto saya. Alhamdulillah. Wah, sekarang tepat di samping saya ada petunjuk arah ke Curug Agung.

Sebelum ke curug saya ingin beli merchandise (baca:oleh-oleh) berupa kaos kawah Galunggung. Namun tokonya justru kosong, saya tunggu lama dan saya melihat sekeliling tetap kosong. Iaud, saya masuk ke curug saja. Di curug ada loket lagi bertarif goceng juga. Namun petugas loket tidak ada, saya jadi agak ragu untuk masuk. Padahal ini hari minggu kok pada kosong?! Tanpa pikir panjang saya terobos saja.Curug Agung

Jarak dari loket ke curugnya hanya 200 meter, saya pikir jauh hingga berkilo-kilo. Tetapi curugnya yang jauh, ditambah lagi terhalang batu. Padahal curugnya tinggi dan NTAP! Saya hanya memperhatikan dari jauh, sendirian.Curug AgungTak lama setelah itu ada muncul seorang pasangan muda mau menikmati curug. Yah, kesendirian saya habis sudah. Setelah saling senyum-senyum dan sedikit sapa dengan mereka saya balik lagi. Mereka ternyata ditagih karcisnya oleh petugas btw, makanya mereka kaget saya lepas begitu saja. Dan saya lihat memang petugasnya sudah ada.

Saya akhirnya turun gunung, ehm… turun aspal, disertai oleh para monyet yang senang menyebrang jalan, jadi bukan hanya ayam yang menyebrang jalan. Setelah turunan tajam sejauh 1km itu, saya kembali ke petunjuk arah yang di awal pertigaan pos. Oh iya, tadi ada arah menuju Goa Galunggung, tetapi mood saya sudah habis hari itu. Sorry…


  • Kapan kesini lagi?

Saya kembali pulang melewati jalanan yang tadi, namun sepertinya sekarang agak lebih jauh dibandingkan dengan pas pertama kali saya mendatanginya. Atau hanya perasaan saya saja ya? Di gerbang saya membeli minuman, (lagi, soalnya botol mijon yang saya beli di kawah jatuh sewaktu saya berfoto dengannya huhu) sambil bertanya mengenai angkot ke terminal. Wah, ternyata angkotnya sudah di depan mata, namun dia ingin memutar dahulu mengambil penumpang di Cipanas. Ok. Angkotnya warna hijau, btw.

Sepanjang jalan menuju terminal cuaca ternyata panas terik. Ramalan cuaca tidak berbohong. Hanya gunungnya saja yang sedang berkencan intens dengan para awan. Yah… gak dapat momen cerah. Tetapi tidak apa, kesan yang saya dapat lebih cerah dari itu semua.

Tujuan akhir angkot tersebut adalah Pasar Indihiang, namun saya diantar hingga terminal Indihiang yang tidak jauh darinya. Katanya jika angkotnya masuk terminal tarifnya naik hingga Rp20.000,-. Wallahu A’lam. Kata orang-orang hanya Rp15.000,- tapi ya sudahlah. Goceng tidak mengurangi isi dompet saya dan tidak menambah pendapatan sang supir dengan sesuatu yang berarti.

Tasikmalaya

Saya tiba di terminal pukul 11.00 dan bersiap menuju Jakarta. Wah! Terminalnya eksotis! Segala jurusan ada, dari Tangerang hingga Surabaya ada semua. Mungkin terminal ini cocok untuk dijadikan transit. Untuk arah Jakarta manapun, ada di paling ujung setelah turunan. Di sana bus tujuan Jakarta dari segala terminal terutama Kp. Rambutan dan Lebak Bulus sudah tersedia. Terutama PO. Doa Ibu dan Budiman. Namun tak lama kemudian, Primajasa jurusan Cililitan AC Bisnis bertarif Rp68.000 tiba dihadapan untuk singgah sebentar ke posnya. Saya dan beberapa penumpang lain langsung naik yang itu.

Hasta La Vista Tasik.

Btw, baju saya penuh keringat. Sampai ada dua penumpang yang pindah tempat duduk dari samping saya ke tempat lain. Maaf ya, badan saya bauk…


  • Galeri

DSC_0781

Gak ada yang motoin, selfie deh.

Tasikmalaya Tasikmalaya Curug Agung DSC_0798 Tasikmalaya Tasikmalaya Tasikmalaya Gunung Galunggung

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Untuk peningkatan pelayanan Anandastoon kepada para pembaca, apakah website anandastoon.com lambat untuk dimuat? (Pastikan bukan karena faktor koneksi internet yang mungkin sedang lambat)

    Mohon agar setiap saran, komplain, dan keluhan yang dialami oleh para pembaca anandastoon.com agar disampaikan ke anandastoon@gmail.com supaya dapat dijadikan pertimbangan untuk dijadikan sebagai peningkatan pelayanan situs anandastoon.com kepada para pembaca. Terima kasih. :)