Puas dan Jera: Sukabumi, Situ Gunung dan Curug Sawer

SukabumiEnggak tahu kenapa tiba-tiba saya ingin mampir ke Sukabumi, tepatnya ke Situ Gunung, mungkin karena apa yang saya lihat di akang Gugel gambarnya bagus-bagus. Dan parahnya, saya tiba-tiba menjadwalkan sendiri dalam waktu yang super dekat bahwa saya akan ke sana.

Malam sebelum berangkat, saya menderita galau akut. Masalahnya saya tidak tahu harus berangkat dengan apa. Apakah saya harus ke Kampung Rambutan dan naik bus atau, saya ke Stasiun Pasar Minggu naik KRL ke Bogor dan lanjut dengan KAJJ (Kereta Api Jarak Jauh)? Jika naik bus, maka banyak desas-desus bahwa jalanan akan macet sepanjang jalan raya Sukabumi karena pasar dan pabrik, apalagi jika sedang jam datang/pulang karyawan. Tetapi jika naik kereta, saya dengar relnya ditutup karena longsor kemarin serta saya baru pertama kali naik KAJJ.

Malam saya tidak bisa tidur sama sekali, atau tidur, namun dengan porsi yang sangat sedikit. Bahkan saya tidak tahu apakah saya harus jadi berangkat atau tidak.


  • Tut… Tuuuttt… Brek! Prang!

Katanya KAJJ jurusan Sukabumi sudah dioperasikan lagi ya paska longsor kemarin? Wah good! Saya tinggalkan pluit kebanggaan dan mulai mandi ketika akan Shubuh, karena rencana berangkat setelah shalat shubuh disebabkan jadwal berangkat KAJJ ke Sukabumi pertama adalah pukul 07.50. Saya sudah menduga, mata saya pasti akan menderita sepanjang sesi piknik. Sial! …dan ketika sampai stasiun Pasar Minggu jam setengah 6, kereta Bogor baru saja say goodbye persis depan mata saya. Sial 2x!

Stasiun Pasar Minggu

Akhirnya jam 5.45 baru dapat kereta Bogor, dan alhamdulillah dapat duduk. Saya benar-benar mau bobok! Tetapi entah kenapa tidak bisa. Ya sudah, saya pandangi saja matahari terbit dari seberang jendela KRL. It’s somewhat worth the view. Ah, ini merupakan perjalanan paling pagi yang pernah saya lakukan dalam hidup saya.

Jam 6.35 saya sampai Bogor dan bergegas menuju stasiun Bogor Paledang. Awalnya saya pikir namanya Padelang, mirip sih. Jadi dari Stasiun Bogor nyebrang sebentar pakai jembatan penyebrangan orang (JPO) dan jalan menuju Taman Topi. Nah, persis sebelum Taman Topi ada gang di pertengahan gedung persis depan stasiun Bogor menuju stasiun terpencil itu. Jaraknya dari Taman Topi hanya 200 meter.

photo_2018-02-25_15-12-11

Stasiunnya hanya seumprit, saya pikir tadinya bekas tempat untuk pemilihan kepala daerah, mungkin inilah mengapa Bogor Paledang lebih layak disebut halte dibandingkan stasiun. Kemudian, tidak ada istilah buang angin… ehm, buang waktu, saya langsung tunggang langgang menuju kasir, ikut antri dengan beberapa orang lain. Kabar baikmya, di kasir terdapat tulisan “Tiket KA Ekonomi Pangrango keberangkatan pukul 07.50 sudah habis.

WHAT. THE. FRICK!

Saya tetap antri di baris kasir beserta orang-orang. Saya tanya dengan calon penumpang di depannya, katanya semoga tiketnya belum habis. Sedangkan di sebelah kiri saya banyak orang yang tinggal memasukkan kode tiket dan mencetaknya di stasiun karena telah booking online atau beli di Indo****t. Ah, ternyata memang lebih baik booking ya daripada beli langsung (go show).

Alhamdulillah, ternyata ada 20 orang cancel tiket dan saya kebagian tiket yang seharga Rp25.000 itu. Syaratnya harus bawa KTP asli untuk diinput nama kita. Setelah secarik kertas diberikan dan KTP dikembalikan, saya harus mencetak tiket di mesin cetak dengan menscan barcode yang ada di selebaran tersebut. Setelah tercetak, taraa… saya bernorak-norak diri. Memang pantas norak soalnya baru pertama kali sih bhahahah.

photo_2018-02-25_15-12-07

Ekonomi/Gerbong 1, kursi 4E

Tadinya jika tidak kebagian tiket, saya ingin naik elf L300 ke Sukabumi dari Baranangsiang atau Ciawi. Namun baguslah saya tidak naik angkutan iblis itu. Mengapa saya sebut demikian, saya akan jelaskan di bawah.

Sebenarnya ada ibu-ibu panik kehilangan KTP setelah cetak tiket, saya beritahu agar langsung mengunjungi petugas stasiun dan akhirnya diumumkan. Ibu itu juga baru pertama kali naik KAJJ, ya ampun kasihan sekali.

Jam masih menunjukkan pukul 07.10, artinya masih 40 menit lagi untuk menunggu keberangkatan. Ya sudah saya putuskan untuk shalat Dhuha dulu di mushalla stasiun.

photo_2018-02-25_15-12-14

Skip. Skip. Saya akhirnya diizinkan masuk ke dalam peron dengan menunjukkan KTP ke petugas hanya untuk mencocokkan nama yang tertera di tiket. Oh begono toh fungsi KTPnya. Peron stasiunnya sempit, sesempit dunia ini, dan tidak memiliki tempat duduk. Namun whatever, keretanya sudah hampir tiba setelah berputar di stasiun Bogor.

Alhamdulillah saya bisa juga naik KAJJ sendirian. Ternyata naik kereta itu mudah ya bhahahah. Dasar orang norak! Gunung Salak pun terlihat sedang pamer diri dari kejauhan, karena saya duduk di samping jendela. Namun kemudian kereta tiba-tiba berjalan dengan sangat, sangat pelan karena terlihat persis di bawah gerbong yang saya tumpangi rel yang melayang karena kemarin tanahnya longsor. Ya Allah, relnya jangan jebol… jangan jebol…

Belum puas dari pemandangan yang menggigit adrenalin itu, sebuah suara terdengar keras dari jendela sebelah saya. “PRANG! BLETAK!” Apa, apa itu? Kaca jendela pun hingga retak dibuatnya. Saya diberi kabar oleh penumpang lain bahwa ada anak-anak iseng yang melempari kereta dengan batu. Oh, ya ampun, ini sudah 2018 dan kejadian melempari kereta seperti itu masih saja berlanjut?!!!

Ok, cukup, saya turun di stasiun Cisaat!


  • Hanya sebuah kaki gunung

Masih jam 09.40. Jadi ketagihan naik kereta. Dari stasiun Cisaat menuju Alun-Alun/Polsek Cisaat saya tempuh dengan berjalan kaki karena jaraknya hanya 800 meter. Sambil berjalan melewati jalan setapak yang masih asri, saya menikmati pemandangan segar yang tidak setiap hari saya rasakan. Ah, jadi tidak terasa sudah sampai di pertigaan Alun-Alun/Polsek Cisaat. Kemudian saya tanya kemana arah Situgunung, dijawablah oleh orang-orang bahwa jika ingin ke jembatan, (hah, jembatan?) saya harus berjalan masuk ke pertigaan persis sebelah polsek Cisaat dan naik angkot merah di Pasar Cisaat.

Jarak dari Polsek ke Pasar Cisaat adalah 300 meter, jadilah hari itu saya sudah berjalan lebih dari 1km. Tidak apa, angkotnya pun dengan mudahnya didapat, karena memang disanalah mereka ngetem. Kabar baiknya? Tidak, kali ini benar-benar kabar baik. Angkotnya hingga masuk ke gerbang Situ Gunung! Yass! Tarif angkotnya Rp10.000.

Situ Gunung

Tiket masuknya seharga Rp18.500. Dari sana ada dua jalan, ke Curug Sawer dan Situ Gunung. Tentu saja saya maunya ke Situ Gunung terlebih dahulu. Ternyata saya masih harus berjalan sejauh 1km untuk mencapainya. Tidak apalah, jalannya bagus. Wisata ini memang masih di areal Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) jadi tidak perlu khawatir karena pengelolanya adalah organisasi pemerintah.

Dan… saya pun tiba. yay.Sukabumi

Alhamdulillah cerah, pengunjungnya pun tidak banyak. Saya dapat puas-puas di sini. Sayangnya cerahnya tidak lama, hujan rintik-rintik namun agak deras pun mengusir setiap pengunjung yang sedang bersenang-senang. Semuanya mengungsi, kecuali saya yang sedang sibuk mengatur tripod untuk memfoto diri saya sendiri. Inilah sebahagia-bahagianya seorang jomblo, mereka yang memiliki pasangan, memperhatikan saya seorang diri berkelut di tengah hujan dari tempat berteduh mereka di kejauhan. Hasil fotonya tidak terlalu mengecewakan…

Sukabumi

Saya tidak begitu lama di Situ, saya ingin melanjutkannya ke Curug Sawer. Oh, bagi kalian yang ingin naik rakit dan bebek-bebekan, tempat ini menyediakan itu semua.

Ada tempat tembusan ke Curug Sawer dari Situ Gunung, namun ada pohon tumbang di tengahnya. Ya sudah saya balik lagi ke gerbang utama untuk melaksanakan shalat Zhuhur dan melanjutkan kembali ke Curug Sawer, itupun saya diberitahu oleh seorang pedagang sosis bakar bahwa ada di tengah jalan menuju Curug ada jembatan gantung yang bagus. Oh, pantas saja orang-orang lebih mengenal jembatannya daripada Situ Gunung itu sendiri.


  • Antara Puas dan Jera

Saya jalan sepanjang 1km dengan jalanan yang sangat berbatu meskipun lebar (mengapa tidak diaspal saja sih daripada harus ditebar batu begitu?!) dan saya baru menemukan jembatan gantung tersebut di tengah perjalanan. Setelah itu…

photo_2018-02-25_15-12-24ZONK!!! Jembatannya ternyata masih sedang dalam perbaikan!

Yaudahlah, padahal katanya jembatan yang panjangnya 240 meter tersebut dapat jadi jalan pintas ke curugnya. Payah!Sukabumi

Akhirnya saya harus menuju curug dengan jalan reguler, yang ternyata jauhnya tiga kali lipat dari perjalanan ke Situ Gunung! Belum lagi jalannya lumayan kecil, berbatu, bersebelahan dengan jurang, dan sangat tidak ramah sepatu. Treknya turun naik dengan sangat brutal. Jalanan baru bagus ketika 300 meter lagi ingin sampai curugnya. Terlihat banyak pekerja yang sepertinya baru memperindah jalan tersebut dan sedang membangun sebuah foodcourt di sana. What? Foodcourt!?

Saya lihat sepertinya bangunannya tingkat, dan juga sepertinya memang ditujukan agar dapat menikmati curug dari lantai atasnya. Cuma saya tidak tahu…

SukabumiSetidaknya curugnya memang worth it! Di curug banyak orang yang jualan dan orang-orang alay pacaran, tentu saja. Peduli amat, saya mau fokus potret-potret bhehehe…

Pulangnya? Males amat yakk lewat jalan tadi. Namun katanya dapat naik ojeg lewat jalan yang lain seharga Rp20.000,-, yang pada akhirnya saya lebih memilih jalan yang tadi. Dengan lelahnya yang bertambah dua kali lipat dari yang sebelumnya. Akhirnya di tengah jalan saya memutuskan untuk beristirahat tepat di atas sebuah jembatan bambu.

SukabumiAlhamdulillah bawa tripod.


  • Emang beneran iblis!

Sepatu saya mengibarkan bendera putih dalam menghadapi jalanan berbatu itu. Benar-benar hancur sepatu saya dibuatnya. Ya Allah malu amat yak… jalan seperti orang ngesot di tengah banyak orang mempertahankan sol sepatu yang ingin berpisah dari tuannya. Alhamdulillah ada angkot ngetem tepat di gerbang masuk Situ. Alhasil saya langsung naik.

photo_2018-02-25_15-12-22

R.I.P sepatu

Saya memutuskan untuk shalat ahsar di Masjid Alun-Alun, serta menuju masjid masih dalam mode ngesot. Sebenarnya di pasar banyak sepatu murah seharga Rp25.000,- namun saya malas beli. Di masjid saya menemukan colokan di sisi selatan jadi dapat charging HP. Ok, colokan tersebut adalah sebuah hal positif mengingat baterai HP saya sudah menjerit. Kereta terakhir ke Bogor pukul 15.45, sedangkan saya tiba di Alun-Alun pukul 16.00, jadi saya memutuskan naik Elf L300 ke Ciawi yang sedang ngetem berjejer depan masjid.

Ngetemnya tidak lama. Namun sepanjang perjalanannya itu loh… Ya Allah bener-bener kangen malaikat Izrail supir yang satu ini. Bukan hanya menyetir dengan brutal alias ngebut, namun juga melawan arus, klakson sana-sini, ngomel sana-sini, diteriaki pengendara lain sana-sini, dst (dan saya trauma). Memang sangat cepat sih tibanya sehingga saya dapat shalat maghrib di Ciawi, namun etikanya itu loh… bayangkan orang-orang seperti ini duduk di kursi pemerintahan, dan memang sepertinya mentalnya sama. Allah Rabbi…

Tarif Elfnya Rp25.000,-. Sedangkan jika naik kereta harus bayar Rp50.000 karena memang hanya tersedia untuk eksekutif. Dari Ciawi, sebenarnya banyak bus ke Jakarta, namun setelah satu jam menunggu dan mendapat info bahwa bus puncak dialihkan ke Jonggol dan Sukabumi, akhirnya naik mobil omprengan plat hitam arah Terminal Kampung Rambutan seharga Rp15.000,-.

Wahai kasurku, mataku sudah rindu dengan engkau…


  • Galeri

Sukabumi Sukabumi Sukabumi Sukabumi Sukabumi Sukabumi Sukabumi Sukabumi Sukabumi


  • Lokasi Google Maps

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Keilmuan 56%, 18 votes
      18 votes 56%
      18 votes - 56% of all votes
    • Harta 19%, 6 votes
      6 votes 19%
      6 votes - 19% of all votes
    • Anatomi (Rupa, Bentuk Tubuh, dst) 13%, 4 votes
      4 votes 13%
      4 votes - 13% of all votes
    • Jabatan 6%, 2 votes
      2 votes 6%
      2 votes - 6% of all votes
    • Popularitas 3%, 1 vote
      1 vote 3%
      1 vote - 3% of all votes
    • Pasangan 3%, 1 vote
      1 vote 3%
      1 vote - 3% of all votes
    Total Votes: 32
    May 9, 2018 - August 10, 2018
    Voting is closed

    Vote kalian sudah saya buatkan artikelnya, klik di sini. Terima kasih.