Semilir di Semenanjung Kota : Curug Nangka

Curug NangkaJakarta adalah kota dengan jutaan hiruk-pikuk dan kesibukan di dalamnya. Para pekerja yang telah lelah karena sibuk bekerja di ibukota perlu adanya angin segar untuk memompa semangatnya kembali. Kabar gembira, tidak perlu bepergian terlalu jauh untuk sekedar menyatu dengan alam.

Bogor, pinggir kota yang sebenarnya memiliki destinasi wisata yang sangat memukau, salah satunya adalah Curug Nangka. Saya memilih ini karena cukup mudah dijangkau daripada wisata-wisata alam yang lain, terutama dalam hal air terjun.


  • Hanya naik angkot, dengan feedback yang lebih

Berangkat pagi. Itu lebih direkomendasikan. Karena dengan hanya bermodal KRL jurusan Bogor, jika memang langitnya cerah, kamu dapat melihat pegunungan asri yang belum dihinggapi oleh awan. Seperti gunung Gede, dan Pangrango. Kemudian dari stasiun yang paling akhir, yaitu Stasiun Bogor, dilanjutkan dengan angkot hijau 02 tujuan Sukasari dari pintu keluar stasiun. Angkot ini juga memiliki tujuan yang sama ke Kebun Raya Bogor, namun saya tidak tahu semenjak kapan rutenya berbelok ke kiri dari simpang pertama stasiun Bogor.

Akhirnya karena tidak melewati Bogor Trade Mall/BTM, saya turun di depan Kebun Raya Bogor yang terdekat dengan BTM, dengan biaya Rp4.000. Sedikit jalan ke arah BTM, mungkin sekitar 200 meter, saya naik angkot arah Ciapus, jika tidak salah rute trayeknya adalah 03. Ada yang warna hijau namun kebanyakan biru.

Meski dengan angkot ini perjalanan lebih lama karena rutenya lebih panjang dan lebih menanjak, namun di sinilah letak kenyamanannya. Mungkin karena jalannya menanjak, udara menjadi lebih sejuk seakan naik gunung. Jika memang belum tahu di mana turunnya, tanya penumpang atau supir lokasi Curug Nangka, insya Allah kebanyakan mereka sudah tahu, apalagi supirnya. Terakhir saya membayar Rp7.000 untuk angkot ini, namun uang saya Rp10.000 dibawa kabur oleh supirnya. Masalahnya dia langsung tancap gas. Kurang ajar…

Namun ternyata katanya memang ongkosnya sudah naik menjadi Rp10.000. Ya ampun.


  • Tu wa… tu wa…

Dari angkot kalian pun harus jalan lagi sekitar 1 km. Banyak tukang ojeg yang sedikit memaksa menawarkan jasanya hingga ke curug, namun saya hanya ingin membakar kalori. Barangkali tubuh bisa sedikit berbentuk atletis…

Jangan khawatir, meskipun jalanan sedikit menanjak, namun semua teraspal sempurna. Ditambah lagi pemandangan di depan yang langsung Gunung Salak jika memang hari sedang cerah-cerahnya sedikit atau tanpa awan. Mungkin karena pemandangan inilah di kanan kiri saya banyak sekali jasa penginapan atau villa.Curug NangkaCurug Nangka

Terlihat loket karcis dari kejauhan, masuknya bayar dua kali. Saya membayar Rp7.500 untuk loket pertama, dan selang 200 meter saya membayar Rp10.000. Lalu apakah saya langsung dapat melihat air terjunnya? Benar, namun harus jalan kali lagi setidaknya 1 km. Namun pemandangannya sudah mulai asri, di mana kanan dan kiri adalah pohon pinus. Jalanan masih teraspal rapi hingga terlihat ujungnya yang berbatasan dengan jembatan kecil.Curug Nangka

Tantangan bagi pejalan kaki di depan masih jauh lebih dahsyat lagi. Cumungudth! Tu. Wa. Tu. Wa. Keladi!


  • Dua tiga curug terlampaui

Dari jembatan mungil sebagai gerbang masuknya, pengunjung di sambut oleh mushalla mungil dengan aroma natural. Di sinilah istilah menyatu dengan alam dan nasir (henshin!) terjadi. Karena kanan kiri, terlihat banyak pohon cemara pinus, dengan landasan tanah dan bebatuan. Tidak ada lagi aspal di sini, semua benar-benar natural.

Sudah banyak monyet yang berkerumun, mungkin karena sepi, saya pada saat itu datang ketika hari kerja. Pedagang yang biasanya berjualan pun hari ini kosong, meninggalkan saung-saung begitu saja. Sebenarnya ada tempat untuk outbound yang tadinya saya kira tempat untuk selfie, namun ternyata sudah tidak dipakai lagi dan menjadi tempat bermain para monyet hutan. Curug Nangka

Ternyata banyak pelajar bolos, atau memang baru pulang sekolah baru kembali puas melihat air terjun. Padahal saat itu masih jam 11…

Sebenarnya ada 3 curug, yang dalam bahasa Sunda artinya air terjun. Yaitu Curug Nangka, Daon, dan Kaung. Saya sengaja skip yang Nangka karena kurang menantang. Akhirnya saya memilih naik tangga buatan alami (buatan, alami? Maksudnya?) untuk sampai ke Curug Daun. Keringat mulai deras di sini, namun saya tak pedulikan.Curug Nangka 

Untuk sampai ke Curug Daun, kali ini treknya sangat-sangat alami. Kalian harus menyebrangi sungai dengan menginjak bebatuan yang ada. Namun masih cukup mudah. Tidak ada yang spesial dari Curug Daun, namun dari sini sudah banyak orang yang mandi. Jadi lebih baik bawa baju ganti untuk berendam di jernihnya mata air yang biru alami. Warnanya memang sudah menjadi biru. DSC_0316Curug NangkaCurug Nangka

Saya lanjut ke Curug Kaung, di sini sepuluh kali lebih ekstrim. Jalan bebatuan, teka-teki batu mana yang harus diinjak ketika menyebrang di atas sungai yang deras, jalan licin dan banyak lubang, selamat berjuang. Pengelola sepertinya baik menyediakan kursi di berbagai spot untuk duduk bagi para pengunjung yang kelelahan.


  • Kali ini kebalikannya 🙁

Lelah yang tadi telah terbayar sudah. Terbayar dengan sedikit kekecewaan. Memang suara airnya besar, air terjunnya tinggi, namun sayang debit airnya kecil. Jadi tidak terlalu menarik. Positifnya, banyak yang malas berjuang ke sini sehingga sepi. Setiap air terjun (tidak tahu kalau yang Nangka) ada toilet berbayar dan tempat jajan, dari mulai Popmie hingga sendal jepit. Ya ampun penjualnya hebat mencari nafkah setiap hari dengan jalanan seekstrem itu.Curug Nangka

Saya hanya berfoto ria, dan sedikit melakukan selfie. Namun ketika memasang timer, seperti ada tangan lain yang ingin ikut memegang kamera. Pastinya bukan tangan saya, saya kaget dan menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Ya sudah lah.

Saya tidak terlalu lama di sana, sebelum akhirnya melanjutkan pulang. Keringat sudah menembus jaket. Oh di sepanjang perjalanan banyak curug mini.Curug Nangka

Saatnya kembali ke habitat.


  • Banyak misteri yang belum terpecahkan

Saya jelaskan via foto saja :

Curug NangkaCurug NangkaGuys! Guys! Ada yang tahu itu gunung apa yang paling jauh??!! Alhamdulillah sedang cerah namun saya penasaran itu yang di dua foto di atas gunung apaaaa??!!! Jauh di sebelah barat. Gunung Karang di Banten kah? Atau Gunung Pulosari?

Curug NangkaPemandangan Masya Allah. Terlihat selepas meninggalkan loket ketika sedang cerah.Curug NangkaJika foto di atas di-zoom, terlihat daerah yang sedang diguyur hujan deras.

Dan kalian tahu apalagi yang paling buat wow sekaligus bikin KZL?!

Dari angkot ketika perjalanan pulang bahkan terlihat gedung-gedung di Jakarta dari kejauhan saking cerahnya! Seperti dunia fantasi di movie-movie, dengan background oranye. Dan tidak saya FOTO! KZL, ZBL, ZMPH!


  • Galeri

Curug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug NangkaDSC_0331DSC_0337DSC_0314Curug NangkaCurug NangkaCurug NangkaCurug Nangka


  • Lokasi Google Maps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)