Kisah Seorang Pemimpin di Sebuah Perusahaan Roti

Pemimpin Tegas     Ini adalah satu kisah dari salah seorang klien kami yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan di Manggarai. Menceritakan bagaimana upaya keras dari seorang pimpinan yang menekan nilai kerugian hingga hampir nol persen, di bawah tekanan karyawan-karyawannya.

     Ibu Sarti namanya (nama disamarkan) diberi kepercayaan di sebuah perusahaan roti yang cukup terkenal untuk memanajemen semua aset yang berada di dalamnya. Beliau belum begitu lama menjabat di sana namun telah berhasil membuat decak kagum dari sang pemilik perusahaan. Pasalnya, beliau telah sukses menekan margin kerugian dari 53% menjadi 2%!

     Beliau memulai ceritanya, proses pengolahan bahan baku hingga menjadi sebuah produk roti dilakukan di basement, sedangkan ruangannya berada di lantai satu. Namun karena ada laporan mengenai keterlambatan karyawan dengan intensitas yang tinggi, beliau langsung memindahkan ruangannya ke basement, tepatnya persis di depan pintu masuk. Beliau melanjutkan, seharusnya di depan kaca pintunya ditempel stiker yang bertuliskan, “Awas Anjing Galak!”

     Semenjak saat itu, jumlah keterlambatan karyawan menurun fantastis.

     Hingga suatu malam terjadi sebuah kasus, di mana ada karyawan yang mengarungi sejumlah bahan baku pada Sabtu malam dari gudang, kemudian tertangkap basah. Ketika diinterogasi, karyawan tersebut mengaku ada permintaan dari konsumen.

     Ibu Sarti menimpali, “Mana ada konsumen yang buka tengah malam? Lagipula ini malam Minggu!”

     Semenjak saat itu, beliau yang memegang gemboknya, datang paling awal sebelum para karyawannya, dan tidak pulang sebelum para karyawannya, itupun harus dengan cara ‘mengusir’ mereka setelah jam kerja selesai.

     Saya tertegun. Beliau hebat.

     Pada suatu ketika ibu Sarti mendapatkan voucher liburan ke Korea selama beberapa hari dari para karyawannya. Namun beliau justru menolak sembari berkata, “Kenapa tidak kalian saja yang pergi? Saya masih ada hal di sini.”

     Dan para karyawan terlihat kecewa.

     Beliau juga memasang CCTV di gudang, untuk memantau para karyawan yang tadinya malas-malasan. Tetapi beberapa karyawan kadang mengendap-endap mencari tempat santai.

     Yang lain lagi, ketika ada permintaan pembelian sebuah microwave dari bagian pembelian. Di sana tertera bahwa biayanya adalah sebesar 500 (atau 250 saya lupa) juta rupiah! Beliau pada saat itu menyanggupi karena terkena bujuk rayu para karyawannya. Namun ketika barangnya datang justru terlihat seperti karatan.

     “Ini mah di Glodok juga banyak!” Beliau marah.

     Dan entah kenapa, saya teringat kasus bus Transjakarta beberapa bulan sebelumnya.

     Pernah suatu ketika ada seorang karyawan memberikan laporan agar beliau secepatnya memeriksa ruangan pendingin tempat menyimpan bahan baku. Rupanya setelah beliau periksa bagian kolong, atap, dan tempat-tempat tersembunyi lainnya, ternyata banyak bahan baku yang disembunyikan oleh para karawannya yang beliau temukan dan setelah ditimbang bahkan beratnya mencapai 4 ton! Saya ulangi, 4 ton!

     “Untung ada orang baik!” Tegas beliau kembali.

     Ditambah lagi, kertas dan alat tulis kantor terlihat sangat boros bahkan menimbulkan kerugian dari segi finansial (keuangan).

     “Ini kenapa kertas sampai boros begini?!” Bu Sarti mengawali ceritanya dengan nada marah.

     “Soalnya suka salah bu. (Maksudnya, salah tulis, dicoret, lalu memakai kertas baru)” Jelas karyawan terkait.

     “Tapi nggak mungkin sampai berton-ton begini!”

     Kemudian yang bersangkutan diberhentikan dan diganti yang baru.

     Setelah ditelusuri, ternyata truk pengangkut perlengkapan diberhentikan di tengah jalan oleh beberapa karyawan, ‘dirampok’, sebelum akhirnya disuruh jalan kembali.

     Jika itu semua masih belum cukup, suatu malam beliau menerima laporan bahwa lemari pendingin telah disabotase oleh seseorang yang saya tebak pelakunya masih salah seorang karyawannya, seharusnya suhu ideal untuk mendinginkan bahan baku adalah sekitar minus 20 derajat Celcius. Namun ini justru pada suhu yang sama, tanpa minus! Iya betul, positif 20 derajat!

     Segera pada malam itu juga beliau kendarai sendiri mobil boxnya untuk menyelamatkan bahan baku.

     Luar biasa!

     Beliau melanjutkan, seluruh karyawan di sini memiliki SP (Surat Peringatan), namun mengapa tidak sampai dipecat? Beliau menambahkan, karyawan-karyawan yang telah dipecat sebelumnya, membuat perusahaan tandingan, di mana bahan baku dan perlengkapannya berasal dari apa yang telah mereka rampas dari perusahaan roti tersebut. Mereka sekarang sedang ‘menunggu di luar’, menunggu karyawan-karyawan yang belum dipecat untuk segera bergabung bersama mereka.

     Kami diundang ke kantornya yang di lantai dasar tersebut untuk dimintai tolong dalam hal pembuatan sistem. Ketika meeting bersama beberapa karyawannya, tiba-tiba wajah ceria beliau berubah menjadi menakutkan. Dan saya melihat sendiri laporan keuangannya, di mana dari tiga bulan sebelumnya terjadi transaksi normal. Namun coba tebak apa hal yang membuat jantung ‘ingin berhenti berdetak’.

     Seluruh laporan stoknya adalah angka Nol Besar, memenuhi deret kertas laporan…

One Comment:

  1. Pingback: Kisah Seorang Pemimpin di Sebuah Perusahaan Roti – IKA-LKS PALEMBANG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)