Kripikpasta Horor #19 : Fotografer Ekstrem

Fotografer Ekstrem

urban legend by : anandastoon

creepy pasta

Entah kenapa aku menyenangi untuk melakukan hal-hal yang sangat menantang, kemudian memfotonya dan mengunggahnya ke jejaring sosial. Hal ini bermula ketika aku tidak sengaja difoto temanku ketika aku sedang memanjat sebuah pohon mati di atas sebuah bukit sehingga terlihat ekstrem. Akupun meminta foto tersebut dan mengunggahnya di jejaring sosial. Tak kusangka, banyak orang yang menyukainya.

Beberapa hari berikutnya aku mengunjungi kantor pamanku pada sebuah gedung yang lumayan tinggi. Kebetulan bagian atas dapat dicapai dengan tangga hingga aku berhasil menginjak lantai yang paling tinggi tersebut. Kebetulan pula sedang tidak ada petugas keamanan jadinya aku sesegera mungkin mengeluarkan tongkat narsis dari tasku dan mulai melakukan beberapa adegan yang sangat berbahaya.

Pada awalnya aku cukup ketakutan, namun aku sadar bahwa ketakutanlah yang akan membuatku kehilangan keseimbangan yang dapat menyebabkan kecelakaan yang sangat fatal. Akhirnya mulailah aku berfoto dengan duduk di atas tembok sepinggang pembatas gedung tersebut, di mana kakiku langsung mengarah ke jalan raya, jauh di bawahnya. Aku mulai menikmatinya. Kemudian aku mulai berdiri di pinggir tembok dengan sangat hati-hati, kemudian memfotonya, hingga terkumpul beberapa foto, dan mengunggahnya ke jejaring sosial.

Tak lama kemudian akun jejaring sosialku mendapatkan pengikut yang sangat banyak dengan reaksi yang melimpah karena foto-fotoku itu. Bahkan di antara mereka ada yang mulai menghubungiku lewat pesan singkat untuk menyatakan kekagumannya. Apalagi hampir semua latar belakang foto-fotoku begitu memukau. Aku semakin terobsesi untuk melakukannya lebih.

Hari demi hari untuk membunuh rasa bosanku, aku mulai memanjat hal-hal yang sangat berbahaya, seperti memanjat tiang listrik, menara pemancar, bahkan sutet. Aku tidak tahu kenapa, aku bahkan tidak merasakan ketakutan sedikitpun. Aku sangat menikmatinya. Alhasil, aku semakin terkenal di jejaring sosial. Berharap ada seseorang yang kemudian menjadikan aku sebuah bintang iklan untuk sebuah adegan ekstrem.

Kemudian aku memiliki suatu rencana khusus untuk menambah koleksi foto-fotoku selanjutnya. Yaitu aku akan melakukan hal-hal tersebut di malam hari. Mulailah aku mencari target untuk melampiaskan seluruh ambisiku. Hingga akhirnya ditemukanlah lokasinya yang juga cukup ekstrem.

Aku segera bergegas pergi menuju lokasi tersebut. Medan yang sangat berbahaya kulalui karena sebenarnya tidak ada jalan besar untuk menuju kesana. Aku tidak terlalu peduli dengan penerangan yang seadanya. Yang aku pikirkan hanyalah menaklukan sesuatu yang ekstrem.

Ketika sampai di tempat tujuan aku bertemu seseorang. Dia masih muda sepertiku, dan membawa kamera. Untuk apa malam-malam ia berada di sini? Ingin berfoto ekstrem juga? Akupun manyapanya dan bertanya sedang apa dia di sini.

Dia menjawab, “Aku menyenangi untuk berfoto-foto ekstrem seperti memanjat atau duduk di atas pinggiran gedung. Foto-foto tersebut lalu kuunggah ke jejaring sosial dan mendapatkan banyak reaksi menakjubkan.”

Aku kaget, hobi yang sama denganku. Kemudian aku berkata, “Wah, tak disangka, hobi kita sama. Aku jujur datang kemari untuk melakukan hal-hal yang sepertinya kamu sudah tahu.”

“Apa kamu datang untuk memanjat menara berhantu ini?”

Aku mengangguk.

Dia melanjutkan, “Sayangnya, aku sudah tidak melakukan hal-hal itu lagi.”

Aku bingung, “Jikalau begitu apa tujuan kamu datang kemari?”

Dia menjawab, “Aku hanya ingin bernostalgia dengan apa yang telah kulakukan kemarin-kemarin.”

Apa? Nostalgia? Kata-katanya sungguh aneh. “Mengapa demikian?” Tanyaku kembali.

Pemuda tersebut menyalakan kameranya dan mulai menunjukkan hasil-hasil fotonya kepadaku. Kali ini aku yang terkejut, masalahnya foto-fotonya jauh lebih baik daripada punyaku. Ia melakukannya jauh lebih hebat dari apa-apa yang pernah aku lakukan. Hingga sampailah di saat aku menemukan gambarnya yang sangat luar biasa, di mana ia hanya berdiri di sebuah pijakan kecil di antara tebing gunung dan jurang. Ini mengagumkan. Sepertinya keberaniannya hampir tidak dapat kukalahkan.

Namun justru dia berkata, “Itu adalah kali terakhirnya aku mengeluti dunia foto-foto ekstrem tersebut.”

“Mengapa?” Tanyaku, “Kamu memiliki bakat yang sangat bagus. Aku mungkin akan berguru padamu. Apa kamu sudah menemukan titik jenuh dari hobimu? Atau kamu dilarang keluargamu, temanmu, atau kekasihmu sehingga mendapatkan tekanan?”

“Iya. Banyak yang melarang bahkan memakiku agar segera menghentikan hobi berbahayaku itu. Di samping itu juga, aku sudah bosan dengan hobiku.” Jawabnya.

Ia terdiam sejenak. Dan setelah itu meneruskan, “Tetapi juga karena setelah difoto itu aku kemudian tergelincir, terjatuh, dan meninggal…”

Lalu aku menyadari bahwa foto-foto berikutnya adalah penampakan jasadnya yang sudah tidak utuh lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)