Kripikpasta Horror #8 : Ojeg Online

Ojeg Online

urban legend by : anandastoon

kripikpasta

sumber: inet

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jumlah kendaraan yang berupa sepeda motor paling tinggi dari negara-negara lainnya. Bahkan tidak sedikit warga yang menjadikan kendaraan ini menjadi salah satu jenis transportasi umum, yang disebut dengan Ojeg. Seiring perkembangan zaman, moda transportasi berupa kendaraan roda dua ini kini dapat dipesan online lewat sebuah aplikasi dengan pengemudi yang telah bergabung dan terdaftar.

Aku Andi, adalah salah satu dari para pengemudi ojeg online tersebut yang baru bergabung sejak 5 bulan yang lalu. Kamu tahu, melayani penumpang kadang tidak selamanya lancar, tidak jarang aku dimaki oleh penumpangku padahal kesalahan terjadi karena dia, bukan karena aku. Tetapi karena Standar Operasional Prosedur mewajibkan aku untuk selalu memberikan senyuman dan pelayanan terbaik, aku hanya pasrah mendengar makian mereka, toh, gajiku berasal dari mereka-mereka juga. Makanya aku sedikit menikmatinya.

Suatu malam aku mendapat pesanan agar menjemput seseorang tepat di jalan sebelah pintu masuk kebun binatang Ragunan. Setahuku jalan itu hampir tidak ada perumahan penduduk dan juga dikelilingi kebun dan tembok, yang pastinya sangat gelap. Lalu ketika aku melihat ke mana tujuannya, ternyata ke daerah Tanah Kusir. Lagi, aku berpikir bahwa di sana cukup terkenal dengan keangkeran Tempat Pemakaman Umumnya. Namun di sana memang banyak perkampungan dan dapat dikatakan cukup ramai. Mungkin rumahnya ada di sana.

Aku bingung apakah pesanan tersebut akan kuambil atau tidak. Apakah hanya orang iseng? Namun bagaimana jika dia memang sedang membutuhkan jasa ojeg online? Dan juga kebetulan karena tujuannya yang searah dengan perjalanan aku pulang, maka aku bisa mengambil pesanan penumpang itu. Begitu aku ambil, barulah aku tahu namanya adalah Amelia. Sedang apa malam-malam dia berada di lokasi rawan seperti itu? Baiklah akan aku coba ke tempat dia berada sekarang.

Namun di tengah jalan saat menuju ke lokasi penumpang wanita tersebut aku berhenti. Aku coba menelepon dia terlebih dahulu untuk memastikan dia bukan hantu. Lucu juga, apa iya hantu dapat mengoperasikan sebuah smartphone? Aku mulai meneleponnya. Tak lama beberapa detik telepon memang diangkat. Dari suaranya aku dapat memastikan bahwa dia manusia. Dan dia tengah berada di lokasi menyeramkan tersebut, menunggu kedatanganku.

Aku mempercepat laju kendaraanku. Lewat jalan pintas akhirnya aku sampai ke tempat di mana penumpang yang bernama Amelia itu menunggu. Aku melihat seorang wanita yang tengah menghampiriku dan berkata, “Kamu Andi ya?”

Aku menjawab iya, dan ketika aku bertanya apakah tujuannya ke Tanah Kusir, dia mengangguk. Baik, ini adalah penumpang terakhirku malam ini. Aku akan langsung beristirahat setelah mengantarkan dia. Di tengah perjalanan, aku bertanya kepada Amelia dari mana atau dari siapa hingga malam-malam begini menunggu di sana. Dia menjawab habis dari rumah temannya, karena memang sudah terlalu malam, dia tidak dapat menemukan angkutan umum lain dari tempatnya itu selain ojeg online. Aku mengangguk.

Di tengah jalan, entah kenapa aku sangat merinding hebat, serasa ada yang tidak beres dengan jalan yang aku tempuh pada saat itu. Sebentar, apa aku masih membawa penumpangku? Atau jangan-jangan penumpangku sudah berubah wujud? Aku mungkin pernah banyak menonton film horor yang berhubungan hal ini, namun ini membuatku tidak nyaman. Sedikit aku menatapnya lewat kaca spion, ternyata tidak ada masalah dengannya.

“Bang Andi,” Penumpangku menyapa kemudian, “Apa Abang merasa tidak nyaman? Seperti merinding atau semacamnya?”

Aku menjawabnya dengan sedikit tertawa karena ragu-ragu.

“Aku juga merasakannya.” Lanjut penumpang itu. “Aku tahu di sini dahulu sering terjadi kecelakaan karena diganggu makhluk halus. Bang Andi sebaiknya fokus, apalagi sudah malam.”

Aku mengangguk, ternyata dia lebih tahu banyak soal tempat ini dibandingkan aku. Karena pembicaraan itulah tak terasa sudah hampir sampai di daerah tujuannya, yaitu Tanah Kusir.

“Bang, nanti di depan gang itu yang ada tiang listriknya, berhenti ya.” Pinta penumpang itu.

“Baik, tetapi mengapa tidak saya antarkan hingga depan rumah?” Tanyaku.

Memang sebelum dia menjawab, aku baru tahu gang itu memang tidak dapat dimasuki oleh kendaraanku, makanya aku lebih baik turunkan dia di depan gang sempit di antara pemukiman warga tersebut. Kemudian penumpang itu turun dan mengucapkan terima kasih serta memberikanku sejumlah uang sebagai pembayarannya. Aku dapat melihat dia berjalan di antara lorong sempit itu sebelum akhirnya menghilang di balik tikungan gang itu.

Penumpang itu membuat perasaanku campur aduk, entah kenapa. Lalu aku menatap sejumlah uang kertas yang ia berikan kepadaku. Pada saat-saat itu, pikiranku merambah hal yang tidak-tidak. Jika Amelia, penumpangku itu ternyata memang bukan manusia, Maka uang ini biasanya berubah menjadi daun seperti yang di film-film horor. Ternyata masih uang kertas selayaknya biasa tanpa perubahan tekstur.

Lupa aku menghitung jumlah nominal yang diberikan Amelia. Bisa jadi dia kurang atau lebih bayar. Ketika aku menekan tombol selesai pada aplikasinya, tertera jumlah yang harus dibayar adalah 23.000 rupiah. Aku mulai menghitung nominalnya, dengan pecahan uang kertas yang terdiri dari 20.000, 2.000, dan 1.000 rupiah, benar jumlahnya pas 23.000 rupiah. Namun sebentar, aku merasa ada yang aneh, aku hitung lagi, memang jumlahnya benar 23.000 rupiah, tetapi aku merasa ada sesuatu yang ganjil, hingga akhirnya aku hitung ulang, tidak ada yang salah. Setelah itu tiba-tiba aku tersadar sesuatu ketika aku mulai menatap uang kertas itu dengan lebih teliti, dan kemudian aku berteriak sambil melemparkan uang-uang itu serta langsung menancapkan gas menuju ke rumahku.

Setiap gambar tokoh pahlawan yang ada pada uang kertas tersebut tidak memiliki kepala.

Aku jatuh sakit pada esok harinya. Di tengah demamku yang cukup tinggi itu, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk yang membuat hpku berdering. Aku khawatir itu dari teman-temanku atau pimpinanku yang menanyakan bagaimana kabarku. Tetapi setelah aku angkat dan mulai berkata halo, aku tidak mendengar jawaban apapun kecuali sebuah desahan nafas diikuti dengan suara seorang wanita yang hampir tanpa intonasi,

“Malam ini kamu jemput aku lagi di tempat biasa ya…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)