Mengapa Busway Begitu Istimewa?

Transjakarta“Judulnya kan harusnya Transjakarta, bukan busway! Busway itu adalah jalurnya, dan yang berhak melintasi busway hanya bus Transjakarta! Hari gini masih ada aja yang nggak bisa bedain mana Transjakarta dan mana busway…”

Tenang, tenang… ada baiknya bertanya dahulu kenapa saya beri judul dengan busway dan bukan bus Transjakarta. Memang di artikel saya kali ini ingin fokus membahas buswaynya, bukan bus yang lewat buswaynya. Saya melihat ada yang menarik untuk dibahas dari lajur istimewa yang satu ini.


  • Kenali sebelum membahas

sebelum itu, saya ingin membagi lajur bus Transjakarta menjadi 3 bagian :

1. Busway

Yaitu lajur khusus dengan memakai pemisah atau separator yang cukup jelas terlihat dan biasanya ditinggikan antara lajur umum dan lajur BRT/Bus Rapid Transit (Transjakarta). Biasanya lajur khusus ini akan benar-benar dibuat jika jumlah lajur dalam satu arah mencapai 3 lajur atau lebih.

Kendaraan pribadi atau yang tidak berkepentingan, sangat dilarang untuk masuk ke dalam area busway.

2. Karpet Merah

Biasanya jika jalan tersebut hanya terdiri dari 2 lajur atau kurang, ada marka atau tanda khusus yang dibuat dari cat merah. Di sini BRT bercampur dengan kendaraan pribadi karena median jalan yang tidak terlalu mencukupi jika ingin dibuat busway.

3. Bus Lane

Saya tidak tahu apa ini, namun terlihat di kota-kota penyangga dengan campuran antara busway dan karpet merah, kemudian diberi keterangan bahwa itu adalah bus lane. Mungkin lajur khusus untuk bus-bus pengumpan BRT.

Setelah mengetahui beberapa jenis lajur khusus BRT, saya ingin fokus membahas mengenai busway itu sendiri karena memang jenis lajur khusus yang satu ini cukup istimewa.


  • Batas antara koruptor dan yang bersih

“Musnahkan koruptor!”, “Hukum mati!”, dan lain-lain, dan lain-lain. Seakan-akan setiap masalah yang ada pada negeri ini bermuara pada sekumpulan sosok manusia yang memiliki gelar sebagai Koruptor. Memang tak ayal hal itu terjadi karena Indonesia, negeri kita tercinta ini masuk sebagai kumpulan beberapa negara di dunia yang paling tinggi tingkat korupsinya.

Apa hubungannya dengan busway? Kita pahami bahwa kita pernah belajar mengenai arti dari sistem demokrasi yang diterapkan di negeri ini. “Dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat.” Benar, begitulah slogannya. Semua adalah rakyat, tidak disebutkan kata ‘penguasa’ di sini.

Lihat, apa alasan mereka yang masih menjadi rakyat ketika menerobos busway? Jawabannya klasik, “Biar cepat (sampai)”. Tidak peduli kendaraan lainnya yang juga terjebak macet, yang penting bagi si penerobos adalah mendapat jalan pintas.

Bayangkan jika kemudian beberapa dari mereka yang senang menerobos busway itu masuk atau direkrut oleh partai politik, kemudian terpilih menjadi aparat pemerintah, lalu korupsi. Apa alasannya? Jawabannya sama, “Biar cepat (kaya)”. Tidak peduli aparat lainnya yang juga berproses, yang penting bagi si koruptor adalah mendapat jalan pintas.

Alasan lain penerobos busway? “Ah, (jalurnya) kosong ini.”

Alasan lain koruptor? “Ah, (uang yang dikorupsinya) sedikit ini.” Padahal 0,1% dari 100 milyar itu sangat tidak sedikit.

Lalu di mana bedanya? Jadi jangan heran jika negeri ini pantas dinobatkan sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat korupsi paling tinggi.


  • Haramkah terobos busway?

Pemerintah membangun busway yang uangnya berasal dari rakyat, tentu harus memiliki tujuan yang kembali ke rakyat sesuai paham demokrasi yang sedang dianut oleh negara tercinta ini. Dan ternyata tujuannya mulia, karena sang ibu kota terkenal dengan bencara kemacetannya, maka busway adalah salah satu alternatif untuk mengurai kemacetan.

Satu unit BRT, dalam hal ini adalah bus Transjakarta, dapat menampung lebih dari 70 orang untuk yang ukuran medium, dan lebih dari 120 orang untuk yang ukuran gandeng/articulated. Andai saja masing-masing orang yang berada di dalam bus-bus itu menggunakan kendaraan pribadi, ingin seperti apa lagi kemacetan yang diinginkan?

Lalu bagaimana agama berbicara mengenai hal ini? Kita tidak berbicara mengenai buswaynya. Tetapi perintah untuk tidak memasuki buswaynya. Karena memang kendaraan pribadi dan yang tidak memiliki kepentingan sangat dilarang oleh pemerintah untuk memasukinya, maka tindakan tetap memasukinya tanpa ada alasan yang benar-benar dapat diterima adalah hal yang mendurhakai pemerintah.

Allah SWT. berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikannya ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa : 59)

Perhatikan bahwa kata “taati” dalam ayat tersebut di atas menyertai kata ‘Allah’ dan ‘Rasul-Nya’, namun tidak menyertai kata ‘Ulil Amri’. Berdasarkan beberapa tafsir Al-Qur’an, hal itu ditujukan kepada jenis perintah yang disampaikan oleh Ulil Amri, dalam hal ini adalah pemegang kekuasaan dan pengatur urusan umat. Jika jenis perintahnya baik, maka perlu ditaati. Jika tidak, maka tidak boleh didengarkan. Hal ini diperkuat dengan hadits Rasulullah saw.,

“Wajib bagi setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada sulthan), baik dalam perkara yang dia senangi maupun yang dia benci, kecuali kalau dia diperintah dalam perkara maksiat, maka dia tidak boleh mendengar atau taat.” (HR. Bukhari 4/329 Musnad 3/1469)

dan,

“Dengar dan taatilah (Umara), sekalipun budak Habasyi yang juling matanya.” Dan dalam riwayat Bukhari : “sekalipun diperintah oleh budak Habasyi yang panjang dan lebat rambut kepalanya.” (HR. Muslim 3/1467 dan Bukhari 1/30)

serta untuk kita sebagai rakyat,

“Maka apabila rakyat ingin lepas dari belenggu kezhaliman Umara, maka hendaklah mereka itu (rakyat) meninggalkan kezhaliman pula.” (Syarh Aqidah Thahawiyyah 370)

Jadi kesimpulannya, perintah agar tidak menerobos busway yang telah dibangun pemerintah dengan tujuan mengurangi bencara kemacetan di ibu kota itu adalah perintah yang baik atau buruk?


  • “Batas suci” di jalanan

Seperti halnya di masjid yang batas sucinya adalah awal dari area bebas najis yang bisa saja ditimbulkan dari berbagai alas kaki para jamaahnya, separator busway adalah awal dari area bebas dari setiap kendaraan pribadi atau yang tidak berkepentingan, atau dari segala sesuatu yang menjadi sumber kemacetan.

Selain itu, busway juga sangat perlu untuk “suci” dari hal selain kendaraan. Seperti acara-acara, pawai, konser, dan bahkan hingga pengajian. Kecuali jika ada kebijakan sebelumnya yang telah disepakati sehingga pengalihan yang mungkin terjadi tidak akan mendadak dan menghambat.

Perlu dicatat bahwa tingkat kedisiplinan masyarakat Indonesia masih sangat rendah, berbanding terbalik dengan tingkat keegoisannya yang justru melambung tinggi. Adanya busway juga membantu untuk ‘memaksa’ masyarakat untuk berdisiplin dan berempati.

Mengapa berempati? Karena kebanyakan para penumpang BRT adalah orang-orang yang berdiri, sedangkan yang menggunakan kendaraan pribadi atau lainnya kebanyakan orang-orang yang duduk. Dan yang terpenting, BRT hanya berhenti di tempat pemberhentian khusus dan tidak dapat sembarangan. Sangat berbeda dengan kendaraan pribadi atau umum lainnya yang setara boleh berhenti di manapun.

Bayangkan jika di antara mereka yang berdiri ada yang ingin buang air dan sebagainya, atau yang lebih parah, waktu shalat hampir habis karena lajurnya macet dikuasai kendaraan yang bukan haknya. Pernah terjadi di mana waktu shalat Maghrib yang pendek itu benar-benar habis karena busway sangat macet dan bus belum sampai di halte berikutnya untuk mempersilakan para penumpang keluar halte dahulu mencari masjid. Sedangkan kendaraan non busway dapat meminggirkan kendaraannya dan shalat di gedung/masjid mana pun yang mereka mau. Hal ini biasanya terjadi pada jam-jam sibuk, terutama waktu pulang kerja.


  • Berikan hak pengguna busway

kemacetan di jerman

Lajur kosong di Jerman

Apakah busway hanya untuk BRT?

Kembali saya singgung mengenai tingkat kedisiplinan masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah berbanding terbalik dengan tingkat gengsi dan keegoisannya. Di Jerman, masyarakat sudah terbiasa memberikan lajur kosong ketika macet. Yang nantinya akan digunakan oleh ambulan, pemadam kebakaran, dan kendaraan darurat lainnya.

Sedangkan kita perlu ada sedikit pemaksaan dengan adanya busway, di mana memang lajur itu harus selalu ‘suci’ dari segala sesuatu yang bukan haknya untuk memberikan kesempatan bagi kendaraan-kendaraan darurat itu untuk lewat.

Saya pernah menumpangi bus Transjakarta yang diikuti oleh ambulan dengan sirine yang cukup nyaring. Ada satu hal yang membuat saya untuk menimbulkan decak kagum yang hebat bahkan hingga saya sedikit bertepuk tangan karena terharu. Ketika di perempatan dan pada saat itu lampu lalu lintas sedang berwarna hijau, bus Transjakarta yang saya tumpangi terlihat sedikit berbelok dari busway dan berhenti. Ternyata tujuannya untuk memberikan kesempatan ambulan tersebut untuk lewat terlebih dahulu.

Dahsyat!

Sedangkan saya sangat sedih melihat kendaraan-kendaraan pribadi yang besar dan mewah, baik roda dua, roda empat, dan roda berapapun juga yang justru kadang berlomba-lomba menutupi jalan demi mendapatkan urutan yang pertama. Mengacuhkan kendaraan-kendaraan darurat tersebut untuk dibiarkan menjadi yang pertama.


Busway, pakai busnya, jangan terobos korupsi lajurnya.

—<(Wallaahu a’lam bishshawaab)>—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)