Kripikpasta Horor #15 : Skripsi

Skripsi

urban legend by: anandastoon

kripikpasta

Namaku Indah, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi pada semester akhir ini. Daftar dosen pembimbing akan segera dipasang di papan pengumuman dekat lobi kampus, maka seperti mahasiswa pada umumnya, aku dan teman-temanku saling bercakap-cakap sambil berharap mendapatkan dosen pembimbing yang memudahkan dan menyenangkan. Karena biasanya, hanya namanya saja dosen pembimbing, pada kenyataannya banyak yang bukannya membimbing justru mempersulit mahasiswa.

Akhirnya bagian pendidikan memasang daftar mahasiswa dengan dosen pembimbingnya di papan pengumuman tersebut. Kami, mahasiswa semester akhir berkerumun seperti semut yang melihat sebukit gula di depan papan pengumuman. Kemudian aku bisa beberapa mendengarkan teriakan bahagia dan keluhan keluar dari mulut mereka. Sepertinya mereka telah mengetahui siapa dosen yang akan membimbing skripsinya.

Sedangkan aku masih sibuk mencari namaku di papan tersebut. Aku tidak menemukannya di antara nama teman-temanku. Di tengah-tengah kesibukanku itu, temanku memanggil namaku dengan sedikit berteriak, menyuruhku agar segera menemuinya yang sedang berdiri di sisi papan pengumuman yang lain.

“Lihat, namamu…” Sahut temanku tiba-tiba sambil menunjuk kaca papan pengumuman itu.

Akhirnya. Tetapi mengapa namaku berada di ujung? Aku penasaran dengan nama dosennya. Komaruddin, atau dipanggil pak Komar, begitu nama dosennya. Aku merasa asing dengan nama dosen itu. Dan setelah ditelisik, hanya aku yang mendapatkan dosen itu. Merasa ada yang aneh, aku menghadap bagian pendidikan. Namun jawabnya sungguh simpel, katanya Pak Komar itu biasa terlihat di hari Kamis karena beliau mendapat jadwal mengajar hanya di hari tersebut, masalah hanya aku yang akan dibimbingnya, karena beliau hanya mau menerima satu orang mahasiswa saja, alasannya karena beliau cukup sibuk dengan hal-hal yang lain.

Bahkan teman-temanku merasa heran dan bertanya apakah aku serius mendapatkan dosen pembimbing itu. Aku katakan tentu saja, bahkan aku menyuruh mereka untuk melihat namaku di papan pengumuman. Salah satu dari temanku angkat bicara, tahun kemarin ada mahasiswi yang mendapat dosen pembimbing itu, dan kebetulan dia adalah satu-satunya mahasiswi yang mendapatkan beliau. Namun keesokan harinya setelah malamnya ia pergi ke rumah beliau, mahasiswi itu ditemukan tewas di bawah jembatan dekat rumahnya dengan tubuh yang telah terpotong-potong.

Aku jujur tidak percaya dengan apa yang dibicarakan temanku itu, namun yang lain juga angkat bicara. Katanya polisi juga waktu itu memeriksa pak Komar, namun karena bukti-bukti yang tidak mencukupi, beliau akhirnya dibebaskan dan perkara ditutup. Teman-temanku akhirnya menyarankan aku agar berhati-hati, mengingat hanya aku yang mendapatkan dosen pembimbing itu.

Setelah aku memohon izin untuk melakukan penelitian di sebuah perusahaan demi kelancaran skripsiku, aku segera menuliskan laporannya sebelum akhirnya pada suatu malam aku mau tidak mau harus menemui dosen pembimbingku itu. Aku malam itu berangkat dengan menggunakan bus, karena kendaraanku kebetulan sedang diperbaiki. Aku sudah memastikan lokasinya karena bersumber dari GPS, alamatnya diberitahu oleh bagian akademik.

Lalu sampailah aku di depan rumahnya. Aku sedikit mulai berpikir bahwa mungkin apa yang dikatakan temanku itu benar, rumah Pak Komar cukup tersembunyi, masih banyak kebun milik warga di sekeliling dan rumah penduduk tidak begitu padat, mengingatkan aku pada kampung halamanku. Yang bikin aku agak sedikit ketakutan, pada saat itu lampu jalan banyak yang tidak berfungsi, semoga tidak terjadi apa-apa.

Aku pun mengetuk pintu rumah Pak Komar, selang tidak lama dibukalah pintu rumahnya oleh seorang bapak yang kira-kira masih berusia empat puluhan.

“Indah, ya? Mari masuk.” Tegur orang itu yang nantinya akrab dipanggil Pak Komar.

Aku permisi memasuki rumahnya, terlihat rumahnya yang begitu sederhana dan kebanyakan lampunya masih memakai bohlam yang berwarna kuning. Ini benar-benar seperti suasana kampung halamanku. Setelah aku menyadari, ternyata rumahnya cukup sepi, sepertinya hanya ada aku dan beliau.

“Istriku sedang pulang kampung bersama anak-anakku, jadi aku sendirian.” Pak Komar tiba-tiba memulai pembicaraan, seperti dapat menebak pertanyaan yang terbesit di pikiranku.

Aduh, perasaanku semakin tidak enak. Apalagi dosenku itu tiba-tiba langsung menutup pintu dan menyuruhku duduk di dekatnya. Jika memang terjadi apa-apa, aku sudah menyiapkan pentungan yang aku bawa di dalam tasku.

Setelah beliau menyuguhkan aku segelas air, beliau duduk di dekatku dan mulai untuk menanyakan segala kepentinganku. Jelas tanpa basa-basi aku langsung keluarkan laporanku dan meminta beliau agar langsung memeriksanya. Aku perhatikan gelagat beliau yang cukup kaku dan dingin, membuatku sedikit tidak nyaman dan merasa aneh. Masih terngiang di kepalaku tentang mahasiswi yang tewas tahun lalu di hari yang sama ketika dia mampir ke rumah ini.

Ketika beliau telah selesai memberikan koreksi dan penyetujuan, aku langsung bergegas pamit. Aku secepatnya meninggalkan rumahnya ketika pintu telah dibukakan oleh beliau. Namun selang tak berapa lama aku berjalan, tiba-tiba mulutku disekap dari belakang dan mataku langsung ditutup. Aku merasa dibawa ke suatu tempat oleh seseorang, namun aku tidak sempat memberontak dan berteriak karena gerakan seseorang itu sangat cepat.

Aku langsung diikat dan didudukkan di atas sebuah kursi, mulutku juga diikat rapat-rapat, kemudian terdengar suara pintu dikunci. Aku sangat ketakutan dan tidak henti-hentinya memberontak sebisaku, aku langsung memikirkan bahwa mungkin akulah yang akan menjadi korban berikutnya. Aku tidak mau. Akupun menangis sambil mencoba berteriak keras dan mencoba menjatuhkan diri dari kursi. Namun semuanya tidak terlalu membuahkan hasil.

Akhirnya penutup mataku dilepas oleh orang itu, yang ternyata pelakunya adalah Pak Komar. Kemudian ia dengan agak keras menghardikku,

“Diam kataku! Semenjak aku memeriksa laporanmu, aku menyadari bahwa kau melakukan penelitian di tempat yang sama dengan mahasiswiku tahun lalu. Aku terpaksa melakukan hal ini kepadamu karena mahasiswiku tidak mendengarkan aku pada saat itu. Juga karena aku lengah dan tidak menyadarinya waktu itu.

Sekarang dengar! Aku melihat seorang laki-laki yang berseragam sama dari tempatmu melakukan penelitan sedang menguntitmu dari semenjak kamu tiba ke rumahku! Dia masih berada di sana…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)