Pengalaman Horor Teman Terbaik #1 : Setan Aul

Cerita HororNamanya Uwi (nama panggilan), teman saya yang sepertinya tidak pernah takut dengan hantu karena sudah begitu banyaknya pengalaman menyeramkan yang ia alami sejak kecil. Sejujurnya saya menyenangi cerita misteri, namun Uwi tidak. Setelah beberapa menit saya agak memaksa, akhirnya Uwi mulai menceritakan sebuah cerita horor yang diluar ekspektasi saya sama sekali.

Dia adalah orang Jawa. Jawa Tengah, tepatnya. Seperti biasa, dia memulai cerita masa kecilnya yang lingkungannya masih dipenuhi dengan hutan dan gelap. Berikut ceritanya:


Sekitar tahun 2000an, waktu itu masih populer permainan ding-dong, atau masih populer console Nintendo dan Playstation 1. Uwi, yang pada saat itu masih SD, termasuk orang yang paling senang bermain itu, namun sayangnya, jarak dari rumah Uwi ke tempat ding-dong (saya sebut PS saja) sekitar 5-6 km dan berada di desa sebelah, melewati hutan, semak, serta bukit-bukit.

Dahulu sempat terkenal hantu legenda yang bernama Aul, manusia setengah anjing yang jika kita diludahi maka bau ludah tersebut takkan hilang selamanya, setan Aul juga senang ‘memangsa’ anak kecil. Katanya sebagian besar orang Jawa tahu mengenai hantu legendaris ini.

Uwi ingin bermain PS, sedangkan waktu itu sudah pukul 09.00 malam. Jelas orang tuanya melarangnya, namun Uwi yang sudah dikenal ‘bangor’ tersebut justru menampik setiap perkataan orang tuanya.

“Wi, jangan, sudah malam, nanti ada Aul.”

“Nggak takut!”

Akhirnya, Uwi tetap keluar rumah dan menuju ke desa sebelah demi bermain PS. Uwi pada saat itu hanya membawa HP jadul sebagai penerangan, dan sebuah bambu untuk jaga-jaga. Kalian bisa membayangkan bagaimana gelapnya menelusuri hutan dan semak tanpa penerangan jalan di malam hari. Padahal zaman dahulu, jam 5 saja kita sudah diperingatkan oleh orang tua agar cepat pulang ke rumah karena minimnya penerangan di luar rumah.

Hutan yang gelap tersebut mulai dia masuki dan tetap fokus dengan jalannya. Tongkat bambu dan HPnya yang ia jadikan sebagai penerangan satu-satunya ia pegang erat-erat. Ia hanya ditemani suara-suara binatang malam yang masih sangat jernih terdengar.

Setelah beberapa kilo berjalan di dalam hutan, tiba-tiba terdengar suara geraman.

“Erhm!”

Uwi yang sendirian di kegelapan pada saat itu mencari asal suara. Cahaya layar HP pun dia arahkan kemana-mana. Uwi terus berjalan mencari sumber suara perlahan-lahan namun sepertinya tidak ditemukan apapun.

“Grhm!”

Suara tersebut terdengar lagi, Uwi tetap mencari dengan layar HPnya. Sampai ketika sorotannya mengarah ke arah sungai di turunan dan di balik bebatuan besar, terlihat seseorang sedang jongkok seperti sedang buang air besar di sungai. Tidak jelas bagaimana bentuknya, namun Uwi yakin dia melihat sesosok makhluk yang sedang jongkok di atas sebuah batu di tengah sungai, dan sedang menatapnya kembali.

Jarak Uwi ke sosok itu masih dikatakan jauh, sekitar lebih dari 10 meter. Untuk memastikan penglihatannya, dia mengambil sebuah batu kecil untuk mengenainya. Dilemparlah batu tersebut namun meleset. Di ambil batu kedua namun masih tidak mengenainya, hingga dia ambil batu ketiga dan kali ini tepat mengenai sosok tersebut, namun tidak yakin bagian mananya.

“Cuih!” Makhluk itu membalas dengan meludah ke arahnya.

“Ptak!” Air liur makhluk tersebut tepat mengenai tanah rerumputan tepat di sebelah kaki Uwi dengan sangat kencang.

“Cuih!” Makhluk tersebut meludah kembali.

“Ptak!” Kali ini ke sisi sebelahnya, sedikit meleset darinya.

“Cuih!” Tanpa ampun makhluk tersebut meludahinya. Kali ini Uwi melindunginya dengan tongkat bambu yang ia bawa.

“Bletak!” Bambu tersebut menghasilkan suara yang amat keras dan bertolak ke arah belakang, membuat Uwi harus mengambil langkah seribu. Makhluk tersebut masih saja meludahinya tanpa henti dan ludah tersebut mengenai tanah di sebelah kanan dan kiri Uwi dengan suara yang cukup keras.

Setelah beberapa lama berlari, Uwi tidak mendengar lagi suara ludah tersebut. Ia mencoba meludah, tetapi ludah yang paling jauh tidak sampai lebih dari 2 meter. Bagaimana bisa seseorang dapat meludah dari bawah turunan dan berjarak 10 meter dapat hampir tepat mengenainya dengan sangat kencang?

Karena penasaran, ia mencoba mendatangi lagi makhluk tersebut. Sesampainya ia di tempat yang tadi, dia melihat makhluk tersebut masih jongkok di atas sungai, memperhatikan dia. Uwi perlahan-lahan turun menuju ke arah makhluk tersebut sambil mengendap-endap.

Dia pelan-pelan melewati bebatuan besar, dan bersembunyi. Dia intip pelan-pelan, makhluk tersebut masih jongkok melihatnya dengan mata yang sangat merah. Uwi masih memiliki keberanian untuk mengendap-endap lagi di antara bebatuan untuk semakin mendekatinya.

Hingga pada jarak yang cukup dekat, mungkin sekitar dua meter, dia kembali mengintip lewat sebuah batu. Pelan-pelan dia mengeluarkan kepalanya ke arah sungai, hingga matanya mulai melihat sungai tersebut. Uwi semakin mengeluarkan kepalanya dan matanya kini mulai menatap sesuatu yang sangat mengerikan.

Sinar bulan telah ikut membantu menyorot rupa makhluk tersebut, yang kini dapat terlihat jelas. Dia tidak jongkok, melainkan gaya duduknya yang seperti anjing. Memiliki muka yang sebelah manusia, dan sebelah anjing, namun tanpa rambut sama sekali. Kini dalam jarak yang sangat dekat terlihat mata merahnya yang sedang menatap balik ke arahnya dengan mimik yang terlihat marah.

Uwi langsung berlari tunggang-langgang karena khawatir akan terjadi sesuatu. Ah, makhluk itu sepertinya mengejarnya! Uwi terus berlari, melewati semak, bebatuan, dan jalan kecil. Satu-satunya pertolongan sepertinya ada di kampung sebelah yang masih cukup jauh, dan Uwi ingat mitos bahwa makhluk tersebut juga senang ‘memangsa’ anak kecil seperti dirinya.

Uwi terus berlari dan berlari, hingga ia akhirnya menemukan sebuah cahaya. Oh, itu desa seberang. Akhirnya. Setelah sampai ke tempat PS, Uwi ditanya oleh sang pemilik PS mengenai kondisinya.

Uwi bertanya, “Tadi saya bertemu makhluk yang separuh anjing dan manusia.”

Pemilik tersebut langsung bangun dan menciumi tubuh Uwi dari atas hingga bawah.

“Syukurlah, tidak ada bau. Yang kau lihat tadi adalah Aul.”

Akhirnya Uwi dapat bermain PS, namun karena asyiknya, jam telah menunjukkan pukul 2 malam. Dan dia harus pulang ke rumahnya lewat jalan yang tadi…


Bersambung ke sini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)