Alasan Mengapa Saya Tidak Pacaran

pacaran       Sudah menjadi pemandangan wajib sepertinya melihat generasi muda menjalin hubungan dekat dengan lawan jenisnya yang mereka sebut-sebut sebagai pacar sebelum benar-benar memiliki pasangan hidup sejati. Dari hal yang saya dengar, kebanyakan mereka beralasan bahwa mereka pada saat itu sedang “menjemput jodoh”.

       Oke, mungkin mereka mempunyai suatu landasan dengan berpacu menunjukkan rasa cinta mereka kepada lawan jenisnya dengan berbagai bumbu-bumbu romantis yang mereka biasa lihat pada sinema-sinema elektronik di layar kaca maupun dari karya-karya besar pada sebuah cerita panjang yang biasa kita sebut dengan novel.

       Banyak anak muda-seperti lirik lagu H. Rhoma Irama tentang Darah Muda-yang memang hanya berpikir sekali saja, tanpa mempedulikan akibatnya. Mereka hanya memikirkan si doi, namun mereka lupa nasib si doi nanti. Mereka sendiri sebenarnya hanya ingin memuaskan apa yang mereka sebut-sebut sebagai masa muda katanya. Atau lebih tepatnya, “Aji Mumpung”.

       Saya pernah pacaran, dan dari situ ternyata saya baru tahu bagaimana perasaan orang yang pacaran. Setiap saat apa yang ada dalam pikiran saya hanya si doi, shalat nggak khusyuk, jadwal saya kacau, aktivitas saya berantakan, dsb (dan saya bingung). Akhirnya saya putuskan untuk menjalin hubungan pertemanan saja dengan dia. Karena saya tahu mana yang prioritas, dan itu bukan perkara mudah.

  1. Pacaran membuat masa depan dan cita-cita terbengkalai

       Pacaran hanya membuat saya memikirkan si doi saja. Motivasi? Tidak, itu kadang lebih tepat disebut dengan tekanan. Siapa yang ingin apa yang dicita-citakannya sejak kecil harus musnah hanya karena kehadiran seseorang yang tadinya kita tidak kenal?

  1. Saya menyadari saya masih belum stabil (masih labil)

       Kembali kepada lirik H. Rhoma Irama di atas, pacaran merupakan luapan dari emosi sesaat. Saya sadar saya masih belum stabil alias labil. Saya hanya takut apa yang saya lakukan seolah-olah benar, atau seolah-olah itu menjadi sesuatu yang menimbulkan penyesalan dikarenakan saya tidak melakukan analisa sebelumnya dan tidak mengetahui akibat setelahnya.

  1. Saya masih punya ‘harga diri’

       Sudah cukup dengan kata-kata gombal gembel yang terlalu menjunjung seseorang yang katanya cikal bakal pasangan hidup kita, kadang semua rela dilepaskan demi pacarnya termasuk harga dirinya. Tak peduli mereka itu seorang yang bertubuh besar, pintar, dan berpenampilan menarik. Karena ujung-ujungnya mereka hanya diperlakukan secara tidak langsung, seperti hewan peliharaan dikarenakan ‘kesetiaannya’. Hubungan akan bertahan lama? Siapa yang menjamin?

  1. Kekuatan romantis saya ingin simpan hingga nanti menikah

       Apa akibatnya jika telepon genggam digunakan untuk bermain game secara terus-menerus? Benar, lowbat. Setelah itu giliran datang sesuatu yang penting seperti telepon atau sms masuk, maka telepon genggam tersebut mungkin akan kehilangan fungsionalitasnya dengan segera dikarenakan kondisi baterai yang sekarat.

       Begitu pula dengan kekuatan romantis saya, jangan sampai saya hambur-hamburkan hingga akibatnya saya ‘bosan’ dengan kekasih saya tersebut sebelum atau sesudah nikah, atau bahkan lebih parah lagi, sifat romantis saya telah benar-benar hilang kepada sang pacar bahkan sebelum saya menikah dengannya.

  1. Secara Syariat pun jelas. H a r a m.

       Kalo berduaan ketiganya syaithan, sudah sering kita dengar. Apalagi jika terus-terusan bersentuhan kulit dengan yang memang bukan mahramnya. Di sini saya akan kutip sebuah hadits :

    “Andaikata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (Hadits Shohih Riwayat. Ar-Ruyany dalam Musnadnya no.1282, Ath-Thobrany 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman no. 4544)

Bagaimana jika hanya kuku? Sama, hanya menyentuh kuku pun sama dosanya, lebih sentuh semuanya agar ‘puas’ pula dosanya. Begitu nasehat dari salah seorang ulama kepada saya.

       Kemudian jika seseorang mengomentari, “Bagaimana kamu mau nikah, mencari jodoh saja tidak mau?”

       Pertanyaannya, apakah sipenanya tahu apa arti dari mencari jodoh?

      Sebaik-baiknya urutan dalam hidup adalah :

Kerja – Menikah – Pacaran

Jangan dibalik, jika kualitas hidupmu juga tidak ingin terbalik.

 

       Kemudian bagaimana saya ‘menjemput’ jodoh? Jangan lupakan sesuatu yang bernama Ta’aruf.  🙂

One Comment:

  1. betul, kalo di pikir lebih jauh memang banyak negatifnya, pengalaman juga membuktikan,
    Salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)