Banyak Bertanya dalam Islam, Bolehkah?

Bertanya dalam islam

Jika kita merasa tidak paham dalam suatu materi, apa yang akan kita lakukan? Bertanya, tentu saja. Namun pertanyaannya adalah, bagaimana kedudukan dari bertanya itu sendiri dalam Islam? Apakah bertanya itu sesuatu yang diperbolehkan atau dilarang? Dan juga menjadi sebuah pertanyaan, apa maksud saya menulis artikel seperti ini?

Allah Ta’ala berfirman,

…Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nahl [16]:43)

Begitu juga dengan hadits berikut,

…Obat kebodohan itu adalah bertanya. (Al Hadits)

Pertanyaan yang baik itu adalah sebagian dari ilmu. (HR. Ad-Dailami)

Oke, Nice. Namun bagaimana jika tiba-tiba kalian menemukan hadits shahih berikut,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami, lantas beliau mengatakan,

“Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah.”

Ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah haji tersebut setiap tahun?” Beliau pun terdiam, sampai orang tadi bertanya sebanyak tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

“Seandainya aku mengatakan iya (tiap tahun), tentu jadi wajiblah (tiap tahun untuk berangkat haji) dan sungguh seperti itu kalian tentu tidak sanggup. Tinggalkanlah aku pada apa yang aku tinggalkan bagi kalian. Ingatlah, sungguh binasanya orang-orang sebelum kalian. Mereka binasa karena banyak bertanya dan karena menyelisihi perintah para nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian dan jika aku melarang pada sesuatu, maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim, no. 1337)

Di sini justru seakan diterangkan sebaliknya, bahwa banyak bertanya justru adalah sesuatu yang sangat tercela dan dapat membawa kepada kebinasaan. Inilah mengapa saya mulai untuk menulis artikel ini, karena pada dasarnya, kita tidak nyaman dengan suatu hal yang seakan bertentangan padahal kita sendiri masih kurang ilmunya untuk memahami hal tersebut.


Studi kasus dan analogi

Untuk pembahasan mengenai bagaimana maksud dari hadits di atas sudah banyak diterangkan secara panjang lebar di banyak situs-situs kajian islami seperti dari situs berikut. Saya membaca semuanya dan alhamdulillah saya mulai memahami kandungan hadits tersebut mengenai hal bertanya. Sehingga, dengan harapan mempermudah para pembaca, saya berikan analogi berdasarkan apa yang telah saya pahami sejauh ini tanpa menyelisihi dari apa yang telah saya baca, insyaAllah.

Bertanya dalam segi yang bagaimana yang dilarang?

Anggap tim kalian memiliki pimpinan yang dapat dipercaya dan diandalkan memimpin suatu rapat di sebuah daerah, dan disebutkan bahwa seluruh peserta agar diharapkan mendatangi tempat meeting sebelum jam makan siang.

Sebagai tim yang baik, sebenarnya kita hanya wajib menuruti keinginan pemimpin tersebut karena sudah jelas apa yang sudah disampaikan. Janganlah kemudian ada peserta rapat yang bertanya seperti,

“Jam berapa tepatnya?”

Karena pemimpin kalian akan tetap berkata, sebelum jam makan siang. Namun jika memang sang penanya tetap kukuh dengan pertanyaannya,

“Jam berapa tepatnya?”

Bisa jadi pemimpin kalian akan risih dan menjawab,

“Jika saya katakan wajib datang jam 10, maka akan banyak dari kalian yang mengeluh dan protes. Makanya saya katakan sebelum jam makan siang karena kalian bisa bebas datang kapan pun asalkan sebelum jam makan siang.”

Sekarang bandingkan dengan hadits di atas,

“Wahai sekalian manusia, Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah.”

Ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah haji tersebut setiap tahun?” Beliau pun terdiam, sampai orang tadi bertanya sebanyak tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

“Seandainya aku mengatakan iya (tiap tahun), tentu jadi wajiblah (tiap tahun untuk berangkat haji) dan sungguh seperti itu kalian tentu tidak sanggup.”

Sekali lagi, kembali kepada kasus sebelumnya, bahwa jam makan siang biasanya jam 12 siang, maka ketika dikatakan bahwa harus datang sebelum jam makan siang, artinya boleh datang jam berapa pun asalkan sebelum jam 12. Benar-benar syarat yang ringan bukan? Maka dari itu, janganlah bertanya mengenai jam berapa tepatnya, karena jika sudah ditetapkan wajib jam 10 misalnya, pasti akan banyak yang protes.

Ingat,

Sesungguhnya kaum Muslimin yang paling besar dosanya ialah orang yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian sesuatu tersebut diharamkan dengan sebab pertanyaannya itu. (Al-hadits)


Bertanya setelah terjadi

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu-‘anhuma berkata, “Kalian jangan bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, karena aku mendengar ‘Umar bin al-Kaththab melaknat orang yang bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.”

Sekarang apa lagi ini? Karena di satu sisi banyak pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal yang belum terjadi seperti bagaimana tanda-tanda kiamat, dan sebagainya, dan itu memang menarik dan banyak ditanyakan.

Perlu diketahui, kadang kita bertanya yang tidak-tidak, yang belum pasti akan terjadi, dengan tujuan yang tidak menyenangkan atau dibuat-buat. Seperti apa contohnya?

Kita kembali kasus di atas. Pimpinan tim tadi telah disebutkan bahwa besok para peserta rapat wajib datang sebelum jam makan siang, tetapi tiba-tiba ada peserta yang bertanya,

“Bagaimana jika besok ada gempa bumi?”

“Bagaimana jika besok tiba-tiba kiamat?”

“Bagaimana jika besok negara api menyerang?”

Well, kalian sudah tahu maksud saya. Inilah yang insyaAllah menjadikan sebab mengapa bertanya mengenai sesuatu yang belum terjadi itu dilarang. Namun lain halnya dengan pertanyaan tentang sifat kewaspadaan yang beralasan seperti,

“Apakah besok ruang meetingnya memiliki toilet? Jika tidak ada, bagaimana jika nanti di antara kami ada yang kebelet?”

Karena para sahabat dulu juga sempat bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kami akan bertemu musuh besok pagi. Kami tidak mempunyai pisau, bolehkah kami menyembelih dengan kayu?”


Orang penting bertanya yang penting

Sekarang simaklah hadits berikut,

Dalam Shahîh al-Bukhâri disebutkan juga hadits dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Satu kaum bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan maksud mengejek. Salah seorang dari mereka berkata, “Siapa ayahku?” Orang yang untanya tersesat berkata, “Di mana untaku?”…

Jangan karena pemimpin rapat kalian adalah pemimpin handal yang telah berpengalaman, kemudian kalian mengetesnya dengan bertanya yang tidak-tidak seperti,

“Apa ibukota negara Mozambik?”

“Berapa suhu rata-rata di daerah Payakumbuh?”

Well, pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah tindakan yang sangat tidak menghargai bahkan merendahkan pemimpin kalian. Jika memang ingin bertanya, janganlah keluar dari lingkup materi yang akan dijadikan bahan meeting dan sewajarnya saja. Nabi Muhammad saw. mengisyaratkan bahwa sibuk mengerjakan perintah dan menjauhi larangan beliau itu membuat orang tidak bertanya.

Jadi, bertanyalah yang baik atau diam. Karena,

Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka. (Al-hadits)


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Keilmuan 56%, 18 votes
      18 votes 56%
      18 votes - 56% of all votes
    • Harta 19%, 6 votes
      6 votes 19%
      6 votes - 19% of all votes
    • Anatomi (Rupa, Bentuk Tubuh, dst) 13%, 4 votes
      4 votes 13%
      4 votes - 13% of all votes
    • Jabatan 6%, 2 votes
      2 votes 6%
      2 votes - 6% of all votes
    • Popularitas 3%, 1 vote
      1 vote 3%
      1 vote - 3% of all votes
    • Pasangan 3%, 1 vote
      1 vote 3%
      1 vote - 3% of all votes
    Total Votes: 32
    May 9, 2018 - August 10, 2018
    Voting is closed

    Vote kalian sudah saya buatkan artikelnya, klik di sini. Terima kasih.