Islam Membahas Pelayanan Kepada Pelanggan/Customer

Islam Membahas Pelayanan

Demonstrasi karyawan yang mengeluh penghasilannya kurang sepertinya telah menjamur di mana-mana. Di antara mereka ada yang berkerja di belakang layar, dan ada yang langsung berhadapan dengan customer atau pelanggan. Pertanyaan saya adalah, apa yang menyebabkan mereka selalu mengeluh penghasilan mereka kurang padahal jika dihitung-hitung kembali, penghasilan mereka sebenarnya sudah cukup?

Perlu dicatat, bekerja adalah ibadah. Mungkin Allah memberikan gaji/upah yang full kepada kita, namun justru Allah swt. menahan berkahNya kepada penghasilan kita karena Dia menilai kinerja kita belum pantas menerima penghasilan sebesar itu. Akibatnya, kebanyakan kita selalu mengeluh kekurangan dengan penghasilan yang sebenarnya sangat memadai, bahkan sudah menyentuh Upah Minimum Regional (UMR) atau beberapa kali lipat di atasnya. Sekali lagi, ada apa?

Khusus postingan kali ini, saya hanya akan fokus mengenai pelayanan kepada para pelanggan/customer, karena Islam pun pernah berbicara mengenai masalah pelayanan.


  • Belajar dari Nabi dan Rasul

Nabi dan Rasul yang nyata-nyata adalah teladan dalam kehidupan umat manusia justru seringkali kita sepelekan dan kita lebih mengutamakan ego kita sendiri yang menurut kita itu benar. Padahal, segala sesuatu mengenai akhlak dalam kehidupan sehari-hari termasuk muamalat dan kegiatan transaksional keduniaan juga diatur di dalamnya.

Lalu apa kaitannya dengan pelayanan? Perlu diketahui, dalam pekerjaan apapun, yang kita layani adalah customer, di mana customer ini dapat diartikan sebagai pengguna sebuah jasa. Sedangkan penyedia layanannya dapat disebut dengan server. Kebetulan, servant dalam bahasa Inggris berarti adalah seorang hamba. Ini dapat didefinisikan bahwa penyedia sebuah jasa adalah pelayan bagi para pelanggannya.

Siapa yang ‘menggunakan’ jasa seorang Nabi dan Rasul? Umat-umat beliau, tentu saja. Lihat bagaimana umat-umat para Nabi dan Rasul luar biasa membangkangnya hingga beberapa dari para Nabi dan Rasulullah tersebut diteror hingga dibunuh? Bagaimana reaksi mereka kepada umat mereka? Mereka tetap bersabar dan terus mendakwahinya dengan baik dan lembut.

Para Nabi dan Rasul pun sepertinya tidak diberikan hak untuk menghukum umat mereka secara langsung. Jika Para Nabi dan Rasul sudah tembus ambang kesabaran mereka menghadapi umat mereka, maka kebanyakan mereka berdoa kepada Allah agar umatnya diberi teguran.

Belajarlah dari kisah Nabi Yunus a.s., beliau pernah meninggalkan umatnya dalam hal yang sangat wajar karena umat beliau sepertinya sudah tidak dapat lagi didakwahi. Namun begitu azab Allah akan turun, umat beliau ketakutan dan memohon ampun sehingga Allah tidak jadi menurunkan azabNya. Di saat umat Nabi Yunus a.s. mencari Nabinya untuk belajar agama lebih lanjut, mereka sudah tidak lagi menemukannya.

Kemudian sebagai gantinya, Allah ‘menghukum’ Nabi Yunus a.s. dengan ditenggelamkannya beliau dan dimakan oleh ikan Hut (sebangsa paus).

Pelajaran penting di sini, seorang karyawan tidaklah memiliki hak untuk menghukum pelanggan/customernya secara langsung. Karyawan tersebut dapat melapor kepada manajemen mengenai tingkah laku sang pelanggan yang sudah diluar batas agar manajemen dapat menindaklanjuti pelanggan tersebut.

Jika karyawan bermain hakim sendiri kepada para pelanggannya tanpa sepengetahuan manajemen, dikhawatirkan kejadian seperti yang menimpa Nabi Yunus a.s. akan terulang kembali kepada karyawan tersebut. Hukumannya mungkin seperti berkah kerja yang hilang atau tiba-tiba dipersulit perusahaan.


  • Kata “Pelayanan” dalam Al-Qur’an

Nabi kita yang mulia, Muhammad saw. juga pernah ditegur Allah mengenai masalah pelayanan. Padahal apa yang dilakukan beliau adalah suatu hal yang sangat, sangat wajar dan manusiawi. Beliau sedang mendakwahi para pembesar Quraisy dan di tengah-tengah itu, datang seorang buta yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum yang juga ingin didakwahi beliau. Jelas hal ini menginterupsi dan mengganggu beliau sehingga Rasulullah cemberut dan memalingkan muka.

Perlu dicatat, bahwa jangan sekali-kali menyamakan raut masam muka beliau dengan cemberutnya orang-orang disekitar kita. Mungkin semasam-masamnya Rasulullah, beliau masih nyaman untuk dipandang.

Atas perlakuan Beliau kepada Ummi Maktum, Allah secara langsung menegur beliau lewat surat ‘Abasa,

1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
2. karena telah datang seorang buta kepadanya.
3. tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
4. atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
6. Maka kamu melayaninya.
7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).
8. dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
9. sedang ia takut kepada (Allah),
10. Maka kamu mengabaikannya.
11. Sekali-kali janganlah demikian…

Hal ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jika kita mampir ke kios-kios smartphone, maka kata-kata, “Boleh kak, handphonenya.” Langsung bersahutan di antara kita membuat kita bak artis yang diteriaki penggemarnya.

Terkadang para pegawai tersebut hanya mau memberikan pelayanan lebih kepada orang-orang yang terlihat memiliki uang yang banyak. Jika ada orang yang biasa-biasa saja, maka secara spontan terlintas di batin mereka, “Ah, paling cuma pengen liat-liat atau nanya-nanya doang.”

Perbuatan mereka persis seperti apa yang tercantum pada surat ‘Abasa tersebut. Pada ayat 5-7, tertulis, “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman)”.

Secara jelas Al-Qur’an berbicara masalah pelayanan dalam salah satu ayatnya. Karena siapa tahu, orang-orang kaya yang kita layani memang hanya ingin melihat-lihat saja sedangkan yang kita tuduh kere justru ingin membeli sesuatu dari kios kita. Bukan hanya pegawai kios telepon genggam, semua bidang pekerjaan mendapatkan nasehat serupa.

Maka dari itu, sejajarkan pelayanan kita kepada setiap orang.


  •  Kata “Pelayanan” dalam Al-Hadits

Rasulullah saw. pernah bersabda,

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”
(HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim)

Satu lagi kata yang berhubungan pelayanan disebutkan secara blak-blakan di sini. Secara kasar, kita akan serta merta mengartikan bahwa yang dimaksud dengan pemimpin ini adalah lurah, camat, bupati, gubernur, hingga menteri dan presiden. Padahal jika saya tanya, siapa yang memimpin para customer (penumpang) di bus? Benar, kondektur. Ini berarti kondektur tersebut harus memberikan pelayanan yang sangat prima kepada para penumpang. Begitu pun sang supir, semenyebalkan apapun penumpang, tetap menjadi kewajiban mereka untuk memberikan pelayanan terbaiknya.

Jika para pemimpin-pemimpin kecil tersebut sudah terbiasa memberikan pelayanan kepada para pengguna jasanya, maka ketika sudah menjadi pemimpin-pemimpin besar yang duduk di kursi pemerintahan juga akan memberikan pelayanan terbaik kepada rakyatnya. Karena rakyat dapat disebut sebagai customer atau pengguna jasa dari para pemerintah, dan pemerintah itu sebelum mereka terpilih, awalnya adalah rakyat juga karena kita menganut sistem demokrasi.


  • Kedudukan customer/pelanggan

Perhatikan kisah Umar ibn Khaththab r.a. berikut dalam melayani ‘customer’ beliau,

Umar bin al Khaththab keluar dari masjid dan al Jarud alAbdi sedang bersamanya. Tiba-tiba ada seorang wanita di tepi jalan. Umar mengucapkan salam kepadanya, dan wanita itu menjawabnya.

Wanita itu berkata, “Wahai Umar, dulu aku menemuimu saat engkau masih bernama Umair di pasar Ukazh. Engkau menakut-nakuti anak-anak dengan tongkatmu. Hingga hari berlalu dan namamu berganti Umar. Dan masa terus berlalu hingga engkau menjadi seorang Amirul Mu’minin. Maka bertaqwalah kepada Allah terhadap rakyatmu. Dan ketahuilah, barangsiapa yang takut ancaman Allah, dia akan merasakan bahwa siksa Allah itu amat dekat. Dan barangsiapa yang takut terhadap kematian, maka kematian itu pasti tidak akan luput darinya”.

Mendengar pembicaraan wanitu itu, al Jarud kemudian menimpalinya, “Sungguh engkau telah memperbanyak ucapan (berlebihan) terhadap Amirul Mu’minin, wahai wanita.”

Tetapi Umar justru berkata, “Biarkanlah ia! Tidakkah engkau mengenalinya? Wanita ini adalah Khaulah bintu Hakim, isteri Aus bin ash Shamit yang telah Allah dengar ucapannya dari atas langit yang ke tujuh. Maka ‘Umar sangat lebih layak untuk mendengar perkataannya.”

Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”

Padahal Umar r.a., adalah sosok manusia yang setan saja takut dengan beliau. Namun beliau justru sangat menyayangi rakyat-rakyatnya, mendengarkan keluhan mereka, dan bersabar atas perlakuan mereka kepada beliau. Beliau benar-benar memberikan pelayanan terbaik kepada para ‘customer’ beliau, bahkan dalam suatu riwayat Umar r.a. pernah berkata,

“Bila seekor keledai terperosok di kota Baghdad niscaya Umar akan diminta pertanggungjawaban, seraya ditanyakan: ‘Mengapa tidak meratakan jalan untuknya?'”

Kalian lihat? Keledai pun dilayaninya!


  • Kesimpulan

Kita paham bahwa banyak pelanggan yang menyebalkan dan senang menarik-narik urat dari para penyedia jasa. Namun belajarlah dari apa yang telah dikisahkan di atas. Belajarlah pula dari orang-orang yang telah sejahtera dan berpenghasilan tinggi. Mereka begitu sabar dengan jahatnya beberapa customer-customer mereka.

Teman saya yang sudah almarhum, memiliki customer yang sudah sekelas investor di mana resiko kerjanya sudah dahsyat. Dia pernah ditendang, disiram, diseret ke kantor polisi, dibawa ke pengadilan karena kesalahan si pelanggan, namun dia tetap lembut dalam melayani mereka. Tak heran, meskipun perantauan, dia menempati indekos seharga 5 juta per bulan beserta kolam renangnya. Hidupnya bahagia dan sejahtera.

Sedangkan banyak karyawan yang customernya baru sekelas penumpang dan pengunjung, mereka sudah tidak profesional dalam memberikan pelayanan kepada para pelanggannya. Bagaimana mereka ingin dihargai perusahaannya dan perusahaan-perusahaan lainnya? Allah pun sepertinya membuat mereka selalu kekurangan dengan penghasilan mereka.

Bagaimana bisa naik kelas jika mengerjakan soal sulit saja tidak mau?

Bagaimana dapat sejahtera dan berpenghasilan tinggi jika menghadapi pelanggan menyebalkan saja tidak mau?


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Add your answer

    Vote kalian akan saya buatkan artikelnya. Semoga dapat saling membantu. Terima kasih.