Manajemen Sifat Labil

Sumber : inet

Sumber : inet

     Dalam tahap tumbuh kembang seorang manusia, ada tahap-tahap di mana pemikirannya masih sangat mudah dipengaruhi, berubah, dan berlebihan. Biasanya hal itu terjadi ketika seseorang berusia remaja, di mana pada saat itu mereka sedang sering-seringnya mendapatkan hal-hal baru tanpa adanya kendali emosi yang cukup. Kemudian kita tahu yang seperti itu menandakan seseorang tersebut masih memiliki keadaan emosianal yang belum stabil atau masih labil.

     Sebenarnya saya hanya ingin berbagi saja mengenai tanda-tanda kelabilan saya yang saya rasakan selama ini mengingat usia saya pada saat menulis ini adalah genap 20 tahun. Tujuan saya membuat artikel ini hanya untuk memberikan informasi kepada para pembaca mengenai hal kelabilan pada usia remaja, dan cara untuk meminimalisirnya. Karena sejujurnya, secara proses akhirnya saya sedikit menyesali dari apa yang saya perbuat dari kelabilan saya selama ini. Jika seseorang tidak menyadari akan kelabilannya, dikhawatirkan sifat itu akan terus menggerogotinya hingga tua nanti. Inti dari sifat labil sebenarnya adalah sifat ekspresif secara berlebihan.

 

  • Orang labil cenderung merasa lebih tahu

     Hal ini adalah jawaban dari mengapa anak-anak muda cenderung berselisih paham atas apa-apa yang baru saja ia ketahui. Bahkan tidak jarang mereka berani mendebat orang-orang yang lebih paham bahkan lebih tua darinya dikarenakan memang dia merasa lebih mengetahui hal-hal yang selama ini tidak terlalu diperbincangkan banyak orang. Ini mengakibatkan hilangnya rasa hormat dari anak muda tersebut terhadap orang yang lebih tua tanpa ia tahu, sebenarnya beberapa dari orang-orang yang lebih tua itulah yang sebenarnya dapat membimbingnya ke arah yang lebih baik. Sehingga saya punya prinsip,

“Jika saya tidak menyukai pendapat seorang yang lebih tua dari saya, maka saya tinggalkan atau saya diam. Dan saya tidaklah menjadi tidak menyukainya melainkan hal itu disebabkan keterbatasan ilmu saya.”

 

  • Orang labil cenderung berpikir sekali saja

     Sebenarnya lirik lagu ciptaan H. Rhoma Irama yang berjudul “Darah Muda” sudah lebih dari cukup untuk dijadikan acuan mengenai sifat anak muda pada umumnya. Seperti yang disebutkan dalam liriknya bahwa anak muda berpikirnya hanya sekali saja. Terbukti ketika mereka bergabung dalam suatu komunitas dan belajar hal-hal baru, mereka pun langsung menerapkannya tanpa dapat untuk berpikir dua kali. Setidaknya, dengan menganalisa atas manfaat dan madharat yang ditimbulkannya.

     Contohnya, jika hal itu menurut mereka keren, mereka akan langsung melakukannya tanpa mempedulikan apakah orang-orang di sekitarnya merasa senang atau tidak. Hal ini juga berlaku ketika anak-anak muda yang tidak ingin mengenal sesuatu yang menurut mereka ‘ribet’ dikarenakan dengan alasan klasik mereka yang intinya mereka hanya masih ingin main-main walaupun sesuatu yang ‘ribet’ itu dapat membawa manfaat besar bagi kehidupan mereka nanti.

 

  • Orang labil cenderung merasa bangga terhadap diri sendiri

     Saya adalah salah satunya, di mana ketika saya membuat suatu hal yang baru, saya merasa bangga yang berlebih terhadap diri saya sendiri dan memamerkan hal tersebut secara resmi kepada yang lainnya. Alhasil, yang saya dapat bukannya suatu yang positif, justru malah sebaliknya hingga saya merasa minder dan terpojokkan.

     Kasus yang seperti ini juga banyak terjadi di jejaring-jejaring sosial. Tak jarang saya menemukan, seseorang muda yang baru dapat mengedit fotonya sendiri dengan aplikasi yang ala kadarnya seperti memberi efek amatir ini dan itu, kemudian mereka ‘menyebut’ diri mereka sendiri sebagai “seniman”.

 

  • Orang labil cenderung tidak sabar

     Anak-anak muda yang masih labil terkadang sering menafikan proses, sehingga apa yang telah diperbuatnya jarang mendapat hasil yang baik. Contohnya adalah ketika anak-anak seusia itu telah mengenal dunia kerja, cukup banyak kasus di mana mereka tidak terlalu mengindahkan apa yang menjadi etos kerja, hal itu dikarenakan oleh sifat-sifat pada usia mereka yang memang masih ingin main-main dan lupa akan tujuan akhirnya. Bahkan proses yang lainnya pun mereka enggan untuk melakukan selama mereka pikir itu ‘ribet’ atau memang dilakukan karena ada keterpaksaan.

     Contoh lainnya yang tak kalah populer, adalah ketika mereka gemar menulis postingan di jejaring sosial yang melambangkan perasaannya pada saat itu dengan sedikit, atau memang sangat berlebihan. Mereka bahkan ingin orang-orang yang membacanya mengerti tanpa ingin mengetahui perasaan orang-orang yang membaca postingannya.

 

  • Orang labil tidak akan pernah dapat bijaksana

     Ini sudah jelas melihat mereka yang kadang-kadang membantah proses dan ingin langsung terjun kepada apa-apa yang telah diperlihatkan oleh orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, mereka cenderung tidak menghargai waktu dan tidak dapat memanajemen emosinya bahkan dirinya sendiri. Mereka masih senang-senangnya membantah, membuat opini sendiri, terkadang tanpa didasari sumber yang jelas.

 

  • Orang labil terkadang tidak mengetahui apa yang diperbuatnya

     Ini masih terkait dengan poin-poin sebelumnya, di mana selama mereka senang terhadap apa yang dilakukan oleh mayoritas yang seusia dengan mereka dan mereka pandang itu baik, mereka akan lakukan meski kadang mereka tahu mereka tidak paham apa landasan ilmunya. Beruntung jika apa yang ditirunya adalah orang-orang bijak dan positif, namun kebanyakan apa yang ditirunya adalah sesuatu yang hanya terlihat baik dari luar. Dan…

 

  • Orang labil cenderung egois

–ooOoo–

     Saya sendiri kadang merenung mengenai apa yang telah saya lakukan semasa saya labil bahkan hingga saat ini. Saya jujur senang ketika ada dari segolongan orang-orang yang lebih tua mau mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik, namun saya lebih suka jika adanya perubahan secara alami dan tidak dipaksakan selama itu tidak melanggar syariat dan nilai-nilai moral. Bahkan saya berani menilai seseorang muda telah memiliki kestabilan emosional yang luar biasa untuk seukurannya secara umum ketika dia telah bisa menyalahkan dirinya sendiri.

—<(Wallaahu a’lam bishshawaab)>—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)