Media Asing dan Pembunuhan Pribumi

Museum Fatahillah     Saya tahu mungkin tulisan ini agak sedikit ekstrim, namun saya seperti terdorong untuk menumpahkan apa yang mengganggu isi kepala saya. Bermula dari apa yang saya perhatikan sedari pemilihan presiden 2014 ini, saya menemukan banyak hal yang berubah tiba-tiba, bahkan hal yang saya duga sebelumnya.

     Saya cukup kaget ternyata banyak orang yang tadinya saya kenal baik tiba-tiba menjadi sekelompok orang yang sangat kritis. Saya tidak tahu persis penyebab mereka dapat berubah sedemikian rupa, apalagi masing-masing bersikeras dengan opininya sendiri, meskipun dari segi usia mereka terlihat belum mencapai haknya. Banyak orang yang tiba-tiba membela salah satu calon presiden dengan membabi-buta yang lain, tak ayal seorang yang mereka kenal baikpun menjadi sasaran debatnya. Mereka mempostingkan hal-hal yang berbau negatif dan memancing, namun tak rela jika orang lain yang melakukannya. Jujur saya juga kadang memposting hal-hal yang negatif mengenai salah satu calon presiden, namun setidaknya saya tidak pernah mencampuri postingan orang lain apalagi menantang debat.

 

  • Ancaman untuk generasi muda

     Beberapa anak muda seusia saya yang memang saya akui emosi-emosi mereka belum cukup stabil kadang ‘terlalu bangga’ terhadap apa hal baru yang baru diperolehnya, tentu saja itu sah sah saja. Namun masalahnya, sumber manakah yang mereka jadikan acuan? Pantauan saya memang banyak objek-objek media yang memberikan argumen cukup kuat sehingga menarik simpatisan dari orang-orang yang mungkin masih dalam tahap perkembangan pikirannya termasuk saya agar mempercayai berita tersebut walaupun itu berita tidak dapat dijamin akan kebenarannya.

     Jujur saya menyayangkan beberapa anak muda yang memang sudah terpengaruh dengan berita-berita tersebut kemudian berani mendebat dan menggurui seseorang yang nyata-nyata telah berpengalaman banyak. Maka hal yang perlu ditarik kesimpulan di sini adalah bagaimana menilai dan membedakan orang-orang bijak dengan orang-orang yang sekedar tahu. Bahkan ulama dan habaib pun tak segan-segan mereka jadikan bulan-bulanan dan menutup mata akan fakta yang lainnya. Argumennya kebanyakan dapat dipatahkan dengan mudah, namun jika mereka telah kehabisan argumen, maka mereka akan masuk ke bagian ‘personalia’ orang tersebut, entah dengan mengungkit-ungkit sisi negatifnya atau sesuatu.

 

  • Berawal mula dari ‘sang idola’

     Salah satu langkah picik orang-orang yang ingin merusak persatuan bangsa ini adalah dengan menyusupkan sesuatu yang sangat halus hingga tak kasat mata. Penggiringan-penggiringan opini publik mulai digencarkan, seolah-olah seorang narapidana pun dapat dijadikannya dewa. Ketika seseorang telah masuk perangkap orang-orang yang berniat jahat itu, maka sangat mudah bagi mereka untuk mengadudomba sebagai mana apa yang terjadi sejak jaman penjajahan dahulu.

     Dan itu mudah… Sangat mudah… Lihat beberapa aliran sesat yang tidak masuk akal namun memiliki segudang pengikut? Belajarlah darinya. Belajarlah bagaimana aliran-aliran tersebut sangat sukses menggiring opini-opini publik.

 

  • Mereka memiliki rencana cerdas, namun licik

     Saya mohon maaf jikalau tulisan ini mengandung unsur provokatif atau semacamnya. Karena jujur, saya tidak membuat opini sendiri, dalam arti, saya hanya mengumpulkan penjelasan dari banyak orang di sekitar saya ditambah lagi dengan beberapa fakta yang saya jelas-jelas saksikan dengan mata kepala sendiri kemudian saya lontarkan dengan bahasa saya pribadi.

     Di daerah saya, yaitu DKI Jakarta, mungkin tidak terjadi hal-hal yang memang diluar nalar. Semua berjalan apa adanya. Namun, ada sedikit hal yang perlu saya perbincangkan di sini. Sebelum itu saya ingin menyampaikan bahwa kedatangan asing ke negara ini patut dipertanyakan. Sebagian memang ada yang ingin berbaur dengan pribumi, namun tidak jarang sebagian yang lain menjadi srigala yang berbulu domba. Apalagi menurut dosen akuntansi saya, Indonesia adalah daerah yang sangat ‘strategis’, terutama dalam bidang ekonomi. Bahkan dosen akuntansi saya menambahkan, sangatlah dusta jika sistem perekonomian Indonesia tidak bagus, buktinya beberapa perusahaan asing berkembang di Indonesia, termasuk kantor saya.

     Tetapi bukan berarti saya menuduh mereka licik, tidak. Sama sekali tidak. Ini sebagai pencerahan saja bahwa sistem ekonomi kita sangatlah bagus, namun sayang, yang mengolah sebagian besar bukanlah pribumi, di mana mereka tak lebih hanya sebagai bawahan saja. Yang menjadi sorotan kali ini adalah beberapa dari mereka yang memiliki niat menjajah dari dalam urat nadi, atau lebih tepatnya membunuhnya secara pelan-pelan. Karena seperti yang kita telah ketahui, penjajahan masa kini adalah penjajahan dari segi mental, spiritualitas, dan pemikiran, di mana hal ini justru lebih berbahaya dibandingkan penjajahan yang tampak langsung oleh muka. Pernahkan kita berpikir bahwa kita merupakan salah satu dari objek sang penjajah tersebut?

 

  • Lagi, senjata mereka adalah penggiringan opini publik

     Pemilihan gubernur yang memang salah satu wakilnya adalah yang bukan agama kaum mayoritas sempat menjadi trending topic mungkin hingga sekarang. Masalahnya bukanlah kembali kepada nilai-nilai pancasila atau perbedaan, melainkan kembali kepada nilai akidah. Pada masa pemilihan gubernur DKI Jakarta, pernah ada seorang gubernur yang memiliki penggiringan opini publik yang sangat baik, dari mulai isu sebuah mobil buatan lokal, hingga prestasinya yang katanya merupakan gubernur terbaik dunia sewaktu ia masih menjabat kota Solo. Saya berfikir, saya begitu naif jika saya tidak tahu seseorang yang terbaik dunia tersebut. Namun yang saya habis pikir adalah, mengapa beritanya begitu melambung di saat-saat sang gubernur yang saya maksud setelah ia menjabat justru ingin mengikuti pemilihan calon gubernur? Maaf saja, ini nggak make sense.

     Akhirnya sang gubernur yang menggandeng wakilnya yang agamanya seperti saya sebutkan di atas tadi terpilih menjadi gubernur. Ya sudah deh, semoga kerjanya dapat merubah kota metropolitan yang akrab dengan macet dan banjir ini. Awal-awal saya kagum luar biasa dengan kinerja sang gubernur mantan walikota Solo ini, pedangang kali lima (PKL) Tanah Abang menjadi begitu bersih, juga terminal Manggarai, sterilisasi busway, waduk Pluit, Bus Tingkat Jakarta Tour, dan lain-lain. Apalagi dengan metode blusukannya yang semakin mengambil hati warga. Membuat sang gubernur ini menjadi sorotan berbagai media publik. Namun saya sayangkan ternyata hal tersebut hanya sebagai ‘pembasuh kaki’ saja.

 

  • Ketika predator mulai menerkam

     Dahulu hampir setiap hari saya keliling Jakarta dengan moda transportasi Bus Rapid Transit (BRT) yang bernama Transjakarta Busway. Memang jikalau tiba waktu shalat saya memang keluar halte untuk mencari sekalian mendata tempat shalat yang dekat dengan halte, mendata di sini dimaksudkan agar saya mungkin dapat menyediakan informasi jika ada penumpang yang ingin shalat di halte yang bersangkutan. Hingga akhirnya saya tiba di halte Sunter Kelapa Gading, dan menyaksikan sendiri bagaimana kondisi pemukiman penduduk di sekitarnya.

     Jujur banyak juga yang mengajak saya berbicara seputar keadaan Jakarta hari ini. Dari mulai warga biasa, supir angkutan kota, hingga beberapa orang-orang bijak yang memang saya ketahui. Jawaban mereka luar biasa kompak dan argumennya sama-sama kuat, jadi prasangka positif saya kepada sang gubernur lenyap sudah. Ditambah lagi dia menjadi calon presiden di masa-masa jabatannya yang masih berumur 2 tahun dengan menyisakan segudang PR di Jakarta. Saya hanya bisa mengelus-elus dada melihat kota kelahiran saya yang kondisinya semakin terpuruk ini.

 

  • Predator pun semakin menjadi

     Islam memang mengenal toleransi, bahkan dalam artian yang sangat luar biasa sekalipun. Namun tentu saja tidak boleh disalahgunakan. Saya pernah mengikuti penyuluhan mengenai bagaimana jahatnya sekelompok asing yang ingin menjajah dan menghancurkan pribumi ini dari dalam, dari metode-metode yang kadang kita sendiri tidak diketahui.

  • Demi tempat hiburan, masjid-masjid diratakan dengan tanah

Saya melihatnya sendiri, dari sebuah video yang diputar bagaimana masjid yang indah diluluhlantahkan dengan buldozer hingga warga menangis. Terakhir saya dapat kabar beberapa masjid di Jakarta bahkan salah satunya sebagai tonggak sejarah diratakan baru-baru ini dengan suatu alasan tertentu dan dibiarkan begitu saja. Parahnya, masjid-masjid tersebut dirobohkan dengan tanpa musyawarah.

  • Takbiran keliling dan majelis dilarang, panggung konser dimeriahkan

Saya tidak tahu apakah hal itu yang menyebabkan banjir bandang di Jakarta hingga daerah yang tadinya bebas banjir kini benar-benar kelelep. Saya perhatikan sendiri mengingat lokasinya cukup dengan berjalan kaki sedikit dari indekos saya. Hal itu terjadi setelah banyak panggung tahun baru yang saya lihat baru pertama kali eksis sepanjang jalan Thamrin-Sudirman memeriahkan malam tahun baru. Hingga dalam sejarah banjir Jakarta, baru pertama kali jalan tersebut benar-benar tenggelam.

  • Kebanyakan pegawai pemerintah diganti non-muslim

Menurut wakil gubernur yang non-muslim tersebut katanya yang muslim memiliki kinerja yang sangat buruk. Benarkah demikian?

  • Nepotisme merajalela, untung terus digarap

Moda transportasi Transjakarta Busway semakin tidak nyaman hingga saya sudah mulai jarang menggunakannya semenjak direksi dan kepala Badan Pelayanan Unit (BLU) diganti menjadi non-muslim. Menurut pengakuan pegawai semenjak dari kasir, onBoard, barrier, bahkan patroli jalur sekalipun, banyak yang keluhkan kinerja BLU yang sekarang. Dari mulai gaji telat, hukuman berlebihan, penempatan seenaknya, bahkan hingga shuffle pegawai dan proses perekrutan dari sanak saudaranya sendiri.

  • Kebijakan sadis, nan tak berkenan di hati masyarakat

Banyak yang bilang bahwa pemerintah provinsi DKI sekarang bukan memberantas kemiskinan, tapi memberantas orang miskin. Saya akhirnya membenarkannya juga secara tidak langsung. Masih seputar BLU, beberapa kebijakan seperti mewajibkan e-ticketing untuk penumpang (jujur walaupun saya akui itu bagus), namun menjadi opini seakan-akan yang boleh naik Busway hanyalah orang-orang berada saja. Saya hanya berpikir bagaimana dengan seseorang yang memang sedang tersesat dan tidak memiliki cukup biaya sedangkan moda transportasi andalan mereka hanya Transjakarta? Atau mungkin jikalau ada orang yang tersesat dan tidak memiliki biaya lebih dari 4.000 rupiah dengan rute yang nyata-nyata jauh. Sekarang malah bus-bus terintegrasinya tidak disediakan tiket hingga menuai protes hebat.

  • Pajak yang tinggi, kebijakan pun mencekik

Pajak DKI yang melambung drastis hingga ribuan persen membuat banyak warga mengeluh hebat mengenai hal ini. Apalagi seorang habib yang saya kenal cerdas menulis tulisan seperti ini, “Warga Jakarta memiliki rumah kebanyakan dari rumah warisan dan bukan rumah sendiri, dengan NJOP seperti ini, Wallahi (Demi Allah), zhalim.” Kira-kira seperti itu.

  • Minoritas pun menjadi kurang ajar

Tidak semua minoritas, banyak kenalan saya yang nyata-nyata minoritas namun baik, dan bahkan ada yang saya kategorikan sebagai orang bijak, dalam hal ini, non-muslim. Saya katakan beberapa kurang ajar, karena saya mengetahui sendiri bagaimana rumah seorang warga minoritas ternyata dijadikan sarana kebaktian dengan mengundang banyak marganya dari luar, sehingga lama kelamaan menjadi tempat ibadah independen yang tidak memiliki izin yang sah. Lalu ada yang berdalih toleransi? Bagaimana dengan kami yang mayoritas namun kesulitan beribadah di daerah yang memang pada saat itu sedang menjadi minoritas?

  • Iming-iming, keterpedayaan

Di daerah saya, Tangerang, sudah banyak warga mayoritas yang menjual rumahnya dan minoritas membelinya dengan harga yang sangat tinggi sehingga terjuallah rumah tersebut kepada minoritas hingga akhirnya banyak mayoritas yang menjual rumahnya dan minoritas bertambah komunitas. Sekarang di Jakarta saja kini sudah hampir jarang saya menemui warga Betawi asli.

 

  • Konklusi

     Mungkin saya siap jika saya menerima kritikan pedas dari berbagai pihak dengan sebab tulisan ini, saya hanya menyampaikan beberapa fakta yang memang terjadi langsung tanpa adanya campur tangan dari opini. Apa lagi yang saya sayangkan adalah kaum muda yang menjadi target, namun dengan mudahnya terpedaya dan menepis sejumlah fakta yang ada demi secuil opini. Saya tidak rasis, saya pun menghargai perbedaan dalam hal ini adalah toleransi. Namun tetap segala sesuatu pasti punya batasan.

     Bergabunglah dengan orang-orang bijak, tinggalkan media sesaat dan luangkanlah waktu berdiskusi dengan orang-orang yang telah dikenal baik dan memiliki wawasan luas, syukur-syukur mereka itu adalah para habib dan ulama dan jikalau bisa sangat direkomendasikan jumlahnya jangan sedikit, karena faktor human error pasti ada. Saya jujur sangat sedih mereka yang sudah berani menjadikan ulama dan habaib sebagai bulan-bulanan dan bahan untuk canda tawa dalam artian mengolok-olok. Di antara mereka bahkan ada yang sudah berani menghakimi para ulama dan habaib seakan-akan mereka lebih tahu, terlebih lagi, di antara mereka ada yang berasal dari golongan santri, meski jumlahnya sangat, sangat sedikit sekali.

     Saya akui saya sendiri masih belum stabil dan sering terbawa emosi, maka dari itu saya hanya tidak ingin membuat opini sendiri.

—<(Wallahu a’lam bishshawaab)>—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)