Mengapa Gelar Akademik Berpengaruh Pada Pekerjaan?

Graduation Cap“Pendidikan Minimum: D3/S1”

Setiap orang yang ingin melamar sebuah pekerjaan pasti sering menemukan salah satu persyaratan yang seperti itu. Apa alasannya? Bahkan untuk pekerjaan yang sebenarnya setiap orang bisa melakukannya pun, hari ini banyak perusahaan yang membatasi minimum akademik dari D3, tidak lagi dari SMA.

Banjir protes pun merebak di antara orang-orang yang ingin mendapatkan pekerjaan, yang notabene sebagian besar mereka adalah lulusan SMA, MAN, SMK, dan sederajat. Banyaknya perusahaan hari ini, terutama swasta dan bahkan sudah merambah ke perusahaan pemerintah yang menetapkan batas bawah pendidikan yang dimulai dari Diploma Tiga membuat prasangka-prasangka negatif bermunculan di kalangan masyarakat.

Hal ini menarik untuk dikaji lebih dalam mengenai hal ‘mengapa’. Saya akan jabarkan di artikel berikut.


  • Cacing yang ingin menjadi ular naga

Teman saya yang lulusan SMA merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan dikarenakan persyaratan akademik minimum yang telah ditetapkan oleh banyak perusahaan. Sebenarnya ada perusahaan yang masih mengizinkan lulusan SMA untuk melamar padanya, namun teman saya menilai bahwa tidak ada yang ‘wah’ dari kebanyakan pekerjaan yang dapat dilamar oleh para lulusan SMA.

Duduk enak di kantor, tampil elegan, berdasi, diterpa AC, dan di dalam ruangan sepertinya tidak lagi menjadi deskripsi kerja yang dapat dilakukan oleh lulusan SMA. Mereka hanya dapat bagian menjadi kurir, petugas lapangan, petugas keamanan, pelayan, asistensi teknik, dan segala sesuatunya yang lebih condong ke arah tenaga.

Dan itupun sebagian dari pekerjaan-pekerjaan tersebut, sebagian perusahaan sudah menetapkan minimum akademik mulai dari D3.

Itulah yang menyebabkan tingkat pengangguran meledak di negeri tercinta ini yang nyatanya sebagian besar masyarakatnya masih dalam status lulusan SMA sederajat. Ada yang menarik mengapa hal ini dapat terjadi, inilah pentingnya melihat duduk masalah sebelum melancarkan aksi emosi yang tidak tentu arah.


  • Masa lalu yang kelam, move on yang juga kelam

Saya bertanya, kemudian menelisik beberapa orang dan perusahaan mengenai perihal pembatasan yang ketat akan masalah pendidikan akhir minimum. Jawabannya dapat bermacam-macam. Intinya, menurut mereka banyak lulusan SMA yang belum punya pengalaman kerja dan ditambah lagi tidak pernah diajarkan satupun dalam sebagian besar mata pelajarannya mengenai etos kerja, profesionalitas, dan pelayanan kepada pelanggan. Sehingga, banyaknya ketidakprofesionalan yang dilakukan oleh para karyawan tersebut membuat perusahaan menjadi kewalahan.

Banyak contoh-contoh kasus yang dilakukan oleh para karyawan yang berasal dari lulusan SMA, terutama laporan-laporan negatif yang berasal dari pelanggan atau customer. Pelayanan lambat, performa tidak maksimal, tidak ramah, bicaranya tidak sistematis, sok solidaritas dengan temannya, semau dia, hingga bahkan tindakan kekerasan yang dialami oleh para customer itu sendiri. Padahal customer atau pelanggan adalah jantungnya perusahaan yang dari sana perusahaan mendapat untung dan menggaji karyawannya.

Tidak jarang pula saya mendapatkan laporan dari beberapa atasan perusahaan yang menyebutkan bahwa karyawan mereka mencuri, korupsi, melakukan sabotase, dan kelakuan para karyawan yang sudah seperti bos di perusahaan mereka sendiri, jika ditegur, mereka tak segan melakukan aksi demo dan mogok kerja tanpa mematuhi aturan Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Akhirnya evaluasi besar-besaran dilakukan perusahaan dan berbuah hasil berupa penyempitan syarat pendidikan akhir pada proses lamaran.

Lho, bukannya lulusan D3/S1 juga banyak yang tidak profesional?

Betul. Namun setidaknya mereka pernah diajari sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan dan pelayanan customer. Mereka juga akan mudah dikenai tanggung jawab yang sesuai dengan jurusannya. Dan tentu saja, hukuman yang akan diberikan apabila mereka melanggar SOP/Standar Operasional Prosedur akan sangat mudah karena berkaitan dengan tanggung jawabnya.

Coba apa yang dilakukan orang-orang yang tidak profesional ketika ada atasan atau customernya yang tidak menyenangkan? Mereka akan mengungkitnya di jejaring sosial, atua bersama teman-temannya untuk memperoleh dukungan. Mereka menjelek-jelekkan perusahaan dari belakang, namun justru mereka sendiri takut dipecat. Menurutmu, perusahaan mana yang ingin menerima karyawan seperti itu?


  • Krisis manusia pun ada

Indonesia masih kekurangan manajer. Artinya, lowongan pekerjaan untuk menjadi manajer masih sangat terbuka dengan sangat, sangat lebar dan gajinya sudah pasti sangat tinggi. Tetapi sebagian besar kita lebih memilih untuk menjadi karyawan tanpa cita-cita dan motivasi. Akhirnya? Banyak perusahaan yang mengimpor manajer dari luar karena krisis SDM tersebut.

Bahkan sebagian besar karyawan pun masih dalam posisi bahaya. Yaitu posisi bahaya yang mereka buat sendiri dan posisi bahaya yang mengancam. Apa itu? Posisi bahaya yang mereka buat sendiri yaitu mereka yang bekerja tidak dengan sepenuh hati hingga rentan diberhentikan perusahaan, sedangkan posisi bahaya yang mengancam adalah keadaan yang sewaktu-waktu menghilangkan status pekerjaan mereka tanpa ada persiapan sedikit pun. Contohnya, tentu saja, PHK.


  • Segala sesuatu memiliki tingkatan

Sebenarnya banyak pekerjaan mudah yang dapat dilamar oleh lulusan SMA. Tidak perlu analisis dan teknis yang luar biasa mereka sudah dapat gaji. Ingat, pekerjaan mudah tersebut lebih mengincar tenaga. Jadi mereka digaji untuk lelah. Sekali lagi, mereka digaji untuk lelah. Dan setiap pekerjaanpun melelahkan, jadi tidak ada alasan mereka mengeluh lelah apalagi di depan atasan dan pelanggan.

Jika tidak ingin lelah, tidak perlu bekerja. Tidak akan digaji juga kok. Perusahaan dan customer pun tidak membutuhkan karyawan yang seperti itu.

Saya menyarankan para lulusan SMA agar melamar dulu pada setiap kesempatan pekerjaan yang ada, karena tidak ada istilah untuk gengsi untuk para lulusan SMA. Segala sesuatu memiliki tingkatan, dan setiap tingkatan hanya dapat diperoleh dengan kerja keras.

Jika mereka kebetulan mendapat pekerjaan sebagai kurir atau petugas lapangan, nikmatilah. Namun jangan lupa untuk memiliki cita-cita dan motivasi karena sampai kapan mereka akan terus menjadi kurir dan petugas lapangan? Setiap orang mendambakan untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan dengan lebih baik. Maka dari itu, tunjukkan dengan kerja keras sebagai bahasa untuk meraih keinginan tersebut.

Itulah mengapa ada istilah naik gaji dan naik jabatan. Diperuntukkan hanya untuk mereka yang serius.


  • Jalan hidup itu pilihan

Seperti yang saya pernah tilik di artikel saya berikut, seorang bekerja harus dengan hati karena ia sejatinya mengharapkan berkah dari pekerjaannya itu. Banyak orang yang gajinya cukup namun selalu mengeluh kurang karena berkah dan kebaikan yang telah hilang dari pekerjaannya.

Jika kamu ingin menjadi karyawan yang berbahagia, dengarkan mereka yang telah sukses. Tinggalkan teman-temanmu yang sama sekali tidak membuatmu lebih baik. Mereka hanya memberikanmu kesenangan sesaat namun tidak dapat membantumu lebih jauh.

Jika ada masalah pekerjaan, jangan umbar di jejaring sosial, karena itu hanya akan membuat perusahaan lain enggan menjadikan kamu karyawan. Sebaliknya, masalah pekerjaan tersebut harus kamu diskusikan kepada yang lebih ahli dan memberi kamu sebuah jaminan solusi.

Jika kamu menginginkan jadi karyawan selamanya, kamu telah memilih jalan hidupmu sendiri. Jadi jangan iri dengan mereka yang sudah jadi manajer, sudah jadi pengusaha, dan sudah sukses. Kamu hanya memilih jalan hidup yang minim kerja keras, jadi cukup nikmati dan jangan iri dengan orang lain yang memilih jalan hidup untuk sukses.

Daripada menggunakan gajimu untuk berfoya-foya dengan teman-temanmu, apa salahnya ke toko buku untuk membeli buku bagus yang dapat membuatmu lebih tenang dan termotivasi. Hilangkan gaya hidup yang tidak sehat seperti begadang, berlarut-larut, dan tidak berguna.

Ingat, cukup ingat banyak yang mengincar posisimu. Kamu harus mempertahankannya.


  • Kesimpulan

Ingin kemana lulusan SMA? Cukup cari kerja yang dapat mengenyangkan perutnya. Jangan berharap memiliki harta yang macam-macam dahulu jika belum punya tabungan dan cita-cita. Selama bekerja tingkatkan semangat agar dapat naik ke tingkatan berikutnya. Jangan manja, dan jangan terlalu senang dahulu ketika mendapat kerja, karena seorang karyawan tidak tahu resiko apa yang mengincar dan mengancamnya selama bekerja.

Banyak kisah tragis yang dialami oleh karyawan amatir dan sepertinya sebagian besar masyarakat tidak pernah mau belajar sehingga kejadian demi kejadian serupa terus terjadi berulang-ulang.

Setiap orang sudah punya smartphone bagus, mengapa tidak dimanfaatkan untuk mencari artikel mengenai bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas kerja? Karena jika kualitas kerja sudah baik, seorang karyawan akan dipertahankan perusahaannya disebabkan banyak perusahaan lain yang mengincar karyawan tersebut karena kualitasnya.


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)