Tiga Jenis Sifat Kebijaksanaan

ProjectScenery3     Setiap kali saya membuka sebuah jejaring sosial dan melihat-lihat apa yang terjadi di dalam beranda, tentunya di sana banyak sekali postingan-postingan dari orang-orang yang menjalin hubungan pertemanan dengan saya dengan berbagai tema dan mood yang bersangkutan, saya kerap melihat postingan-postingan yang mengarah kepada penilaian sesuatu termasuk penilaian terhadap dirinya pribadi. Maka dari itu, saya memiliki penilaian sendiri terhadap bagaimana seseorang tersebut melontarkan argumennya lewat sebuah media penyalur, yang kemudian saya bagi menjadi tiga bagian, di mana semuanya merupakan kesimpulan dari apa-apa yang saya perhatikan dari bagaimana seseorang berbicara dan menanggapi sesuatu.

 

  • Bijak Dasar

     Orang-orang yang baru masuk ke dalam tahap kebijaksanaan pastinya menetap dahulu di tahap yang satu ini. Yaitu orang-orang yang baru berhasil mendapatkan atau membuat  kata-kata mutiara baru dan memposting serta menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari walaupun namun masih dalam sesuatu yang sangat umum dan biasanya masih menggunakan kata-kata yang jauh dari kaidah EYD, seperti :

Kita kalo udah bisa nyari duit sendiri nggak bakal ngerepotin orang tua lagi, bener gak?

Ketika hasil perjuangan itu tidak seperti yang di harapkan ya terima saja, Mungkin nie yang terbaik buat kita.

     Meskipun demikian, mereka tetap lebih baik daripada yang tidak sama sekali.

 

  • Bijak Madya

     Orang-orang yang memiliki tipe kebijaksanaan yang seperti ini sudah dapat memimpin dirinya sendiri, mereka mulai paham apa yang terjadi di dirinya sendiri dan tidak begitu memerlukan orang lain untuk mengatasi masalahnya kecuali hanya orang-orang tertentu yang mereka kenal dapat mendengarkan apa yang menjadi masalahnya pada saat itu.

     Jumlah anak-anak muda yang memiliki tingkat kebijaksanaan seperti ini masih sangat sedikit sehingga agak sulit untuk menemukannya dan mengajaknya bicara, bahkan orang-orang yang telah dikatakan dewasa dari segi usianya saja masih banyak yang tingkat kebijaksanaannya jauh dari tingkat ini. Karena memang masih sangat sulit untuk mengintrospeksi diri sendiri dan mengakui kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya.

     Orang-orang yang memiliki tipe kebijaksanaan seperti ini pula cenderung diam meski mereka cenderung ‘cerewet’. Hal ini dikarenakan mereka dapat berfikir mengenai datangnya suatu argumen, tidak semata-mata mengomentarinya hanya dengan sumber yang sangat terbatas, sehingga cenderung mereka dapat menahan diri dari hal ini. Kebanyakan apa yang dari mereka sebarkan adalah suatu hal yang memotivasi dan menginspirasi.

 

  • Bijak Agung

     Orang-orang yang telah memiliki sifat kebijakan seperti ini cenderung sulit ditemukan mengingat jumlahnya yang memang sangat sedikit juga memang mereka cenderung berdiam, apalagi di masa milenium ini. Orang-orang tersebut memang tidak pernah terlalu angkat bicara, namun ketika ingin diminta suatu penjelasan, maka hal yang diberikan memiliki makna yang sangat mendalam.

     Ilmu-ilmu yang mereka miliki tidaklah sanggup dipikul oleh orang-orang yang tingkat kebijaksanaannya tidak mencukupi, karena seakan-akan tidak memiliki sebuah logika namum justru filosofi yang diberikan cukup untuk mengubah hidup seseorang.


Kemudian…?

     Bagaimana dengan mereka yang sekedar menyalin sebuah postingan bijak hanya untuk dikatakan keren oleh yang lainnya? Mereka bukanlah termasuk orang-orang yang memiliki kebijakan.

     Bagaimana tingkat kebijakan orang yang berpacaran? Mereka tidak akan pernah mencapai tingkat kebijakan madya. Paling tinggi hanya kebijakan dasar.

     Bagaimana caranya menjadi orang bijak? Mulailah merenung, matikan segala bentuk media sesekali, perhatikan sekeliling, lihatlah realita, belajarlah untuk mempergunakan otak untuk berfikir dan bukan untuk menghafal semata. Karena banyak orang-orang yang dikira bijak, padahal sumber wawasan mereka hanyalah sebatas ‘katanya’ tanpa sumber yang jelas, kemudian mereka telah berani berkomentar ini itu. Orang bijak memahami tindak tanduk perbuatannya sendiri, perbuatannya bukan sekedar berdasarkan kebiasaan, sehingga sangat mudah untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi dalam setiap periode tertentu.

—<(Wallaahu a’lam bishshawaab)>—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)