Urban Dilemma #2: Anak Jalanan

Anak Jalanan

oleh: anandastoon

Hidup di bawah tiang-tiang lampu jalan memang tidak diinginkan oleh setiap orang. Namun aku merasakannya setiap hari. Aku menumpang naik bus dan bernyanyi dengan suaraku yang nyaring dan parau, aku bahkan tidak tahu apa yang kebanyakan sedang aku nyanyikan. Aku lakukan hanya ingin satu, menyayangi setiap organ yang berada ditubuhku, apapun caranya.

Suara gemerincing uang logam datang dari orang yang acuh dan tak acuh kepadaku. Mereka memandangku dengan tatapan yang sama sekali tidak terarah kepadaku, tanpa ekspresi sama sekali. Aku mengerti dengan keadaanku sama sekali, mereka mungkin tidak tahu bahwa aku iri pada setiap aspek dari mereka. Namun ya sudahlah, aku berusaha untuk tetap tegar. Toh, aku sudah biasa seperti ini.

Berapa hasil yang kudapat? Aku menghitungnya dengan sangat hati-hati. Bersyukur, sebuah air dalam kemasan dan sebungkus nasi dengan lauk seadanya berhasil aku dapatkan. Di depan cahaya sebuah warung yang sudah tutup, aku membuka bungkusan berharga tersebut dengan bahagianya dan mulai menyantapnya dengan lahap.

Setelah kenyang, aku menyadari ada seseorang yang sedari tadi memperhatikanku dari belakang, seorang yang memiliki kemeja, lengkap dengan dasi dan sepatunya yang klimis. Menyadari aku mengetahui kehadirannya, pria itu mulai berjalan mendekat. Aku hanya bisa memperhatikannya sambil mendengarkan irama sepatunya yang berwibawa. Malam itu, di bawah sinar lampu sebuah warung, dia mengulurkan tangannya kepadaku, menawarkan apakah aku siap untuk dia asuh atau tidak.

Antara rasa percaya dan tidak percaya, dengan rasa haru aku mengiyakan tawaran pria baik hati tersebut. Dia kesepian, istrinya meninggalkannya pergi, begitu alasannya. Jadilah aku dibawanya dengan mobilnya ke rumahnya yang aku dapat sebut sebagai istana. Aku diperlakukan dengan baik, dan diberi kamar yang mewah lagi nyaman. Selamat tinggal kehidupan lamaku, aku kini hidup di dunia baru.

Malam itu aku ingin buang air, kemudian mencari kamar kecil di tengah besarnya rumah orang itu. Pelan-pelan aku menyalakan lampu, menelusuri setiap lorong yang mungkin untuk menemukan toilet. Aku masih tidak percaya dengan kehadiranku di rumah yang sangat mewah ini. Aku berjalan di dalam lamunan dan decak kagum hingga aku menabrak sesuatu. Aku mengenai sebuah lemari peralatan dan sebuah benda besar jatuh mengenai kepalaku.

“Aduh!” Aku terbangun. Ternyata tadi itu adalah pukulan dari pemilik warung yang tidak ingin aku tidur di emperan miliknya.

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Untuk peningkatan pelayanan Anandastoon kepada para pembaca, apakah website anandastoon.com lambat untuk dimuat? (Pastikan bukan karena faktor koneksi internet yang mungkin sedang lambat)

    Mohon agar setiap saran, komplain, dan keluhan yang dialami oleh para pembaca anandastoon.com agar disampaikan ke anandastoon@gmail.com supaya dapat dijadikan pertimbangan untuk dijadikan sebagai peningkatan pelayanan situs anandastoon.com kepada para pembaca. Terima kasih. :)