Pengalaman Horor Teman Terbaik #3 : Kuntilanak

Masih ingat cerita Uwi di pengalaman horor teman terbaik 1 dan 2? Ini, kemarin teman saya, si Uwi itu ternyata masih memiliki pengalaman yang lain, berikut ceritanya.

pengalaman hororSebelumnya, bagi yang sedang makan, harap selesaikan dahulu makannya karena cerita yang satu ini ada satu bagian yang disturbing, saya telah memberikan peringatan di awal, terima kasih.

Uwi, yang pada saat itu masih SD, dengan teman-temannya bermain di sebuah rumah kosong yang sudah lapuk di pojok hutan. Rumah tersebut dulunya merupakan rumah gedong atau rumah mewah, namun karena yang punya rumah tidak memiliki anak dan meninggal, akhirnya rumah tersebut dibiarkan begitu saja dan menjadi reruntuhan, bahkan lantainya sudah menjadi tanah.

Teman Uwi menemukan sesuatu yang menarik, yaitu seekor anak dari ular kobra. Biasanya, bayi ular tidak dapat berdiri tegak dengan lehernya, namun bayi ular berleher sendok yang ditemukan tersebut sudah berdiri tegap seperti layaknya ular kobra dewasa.

Karena menarik, ular kecil tersebut disimpan di dalam toples. Menyadari hari sudah mulai gelap, Uwi dan teman-temannya beranjak untuk pulang. Tiba-tiba, salah satu teman Uwi mendadak mules dan memilih untuk buang air besar di dalam rumah tersebut, di atas tanah tepatnya, sedangkan teman-temannya menunggu dari luar.

Selama buang air besar sendirian, dia menengar suara “clap, clap”, seperti suara orang mengunyah. Dia tengok kanan kiri, tidak ada siapa-siapa. Namun suara tersebut terulang lagi ketika dia menghadap ke depan dan melanjutkan hajatnya. Tetapi suara tersebut semakin lama semakin jelas dan membuat teman Uwi tersebut ketakutan. Karena itu, dia spontan menoleh ke belakang.

Apa yang dilihatnya kini menjadi suatu hal yang dapat membuat trauma. Seorang perempuan, berambut putih, dibungkus kain putih, dan hanya kulit berbalut tulang, sedang asyik menikmati kotorannya. Jarak dia dengan si hantu persis dibelakangnya, hanya terpisah punggung.

Jelas, dia segera berlari ke arah teman-temannya yang masih menunggu di luar dengan menenteng toples bayi ular itu tadi. Teman-temannya yang kebingungan melihat wajahnya yang pucat bertanya-tanya, namun dia tidak ingin menjawab apapun. Dan setelah diperhatikan kembali, toples tersebut ternyata telah kosong. Esoknya, temannya Uwi tersebut sakit.

Pada hari ketiga, Uwi dan teman-temannya diundang oleh ibu temannya yang sakit itu agar menemaninya bermalam. Kata ibunya, temannya sering menjerit-jerit setiap malam, karena kekhawatiran itulah Uwi dan teman-temannya diundang untuk menemaninya.

Malamnya, sudah menjadi kebiasaan, bahwa setiap kegiatan menginap, tuan rumah harus menyediakan permainan agar yang menginap tidak menjadi bosan. Maka, disediakanlah permainan konsol jadul semacam Nintendo. Tetapi pada malam itu Uwi mengantuk dan tidur terlebih dahulu. Hanya teman-temannya tanpa Uwi yang menemani tuan rumah.

Beberapa saat kemudian jendela bergerak-gerak sendiri. Jadi malam itu memang sama sekali tidak ada angin, dan gerak jendelanya memang seperti ada yang menggerakkan dan digerakkan oleh tangan dengan gerakan tak beraturan. Setiap teman-teman yang menginap beserta tuan rumah pun sontak menjerit ketakutan.

Uwi yang tiba-tiba terbangun dengan ‘nyawa yang belum terkumpul’ bertanya ada apa. Teman-temannya hanya melihat ke arah jendela, yang kemudian Uwi pun juga melihat ke arah jendela. “Oh, belum ditutup jendelanya.” Pikir Uwi. Dan Uwi pun langsung menuju jendela dengan keadaan setengah sadar serta langsung menutup jendela tersebut dengan agak keras.

BRAKK!!!

Teman-temannya masih ‘bengong’ melihat Uwi. Uwi yang masih kebingungan bertanya kenapa. Salah satu temannya menjelaskan,

“Itu jendela tadi digerakkan Kuntilanak, dan waktu kamu menutup jendela tersebut, wajahmu persis berhadapan langsung dengan wajah Kuntilanak itu. Dan kamu langsung menutup jendela tersebut dengan keras.”

“Hayo loh!” Sahut temannya yang lain, “Malam ini kamu yang bakal digangguin sama itu kunti!”

Uwi pun menjadi bahan ejekan. Kesal dengan perlakuan teman-temannya, Uwi justru pamit pulang.

“Yang bener mau pulang?!” Teman-temannya yang lain kaget.

Jelas kaget, karena yang namanya zaman dulu penerangan masih minim, dan rumah-rumah masih sangat jarang. Dengan kenyataan yang seperti itu, Uwi ngotot ingin pulang. Dan akhirnya dia benar-benar pulang.

Di perjalanan, masih ditemani HP jadulnya yang ia gunakan sebagai sumber cahaya, dia merasa bosan berjalan sendirian. Kanan kiri adalah pohon bambu yang besar dan tinggi hingga ujungnya melengkung ke arah jalan seakan-akan memayungi jalanan. Di balik pepohonan bambu tersebut adalah kuburan.

Uwi akhirnya mengatasi rasa bosan dengan meraba tanaman-tanaman dipinggir jalan sambil berjalan. Suara daun-daun yang dia raba dengan telapak tangannya pun menimbulkan suara ‘kresek-kresek’. Ia begitu menikmati perjalanannya malam itu. Namun, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Suara yang sama juga terdengar di pinggir jalan yang satunya lagi. Jadi seakan ada yang jalan bersama dia di sisi jalan satunya, melakukan hal yang sama seperti sebuah bayangan di cermin. Dengan penasaran, dia melihat siapa yang berbuat sama sepertinya sambil menyorot sinar HPnya ke arah sosok tersebut.

Sebuah muka yang kosong, mata yang bolong, mulut yang tertutup namun dengan gigi yang muncul ditepi mulutnya seakan merobek pipinya, berbaju kain kafan, dengan kulit yang seperti tanpa daging. Sekarang mereka bertatap-tatapan. Perlahan-lahan sosok yang dijuluki Kuntilanak tersebut menghampiri Uwi dengan melayang secara perlahan.

Ternyata ada paman Uwi yang kebetulan memergoki kejadian tersebut dan menyambit Uwi dengan sebuah benda, mungkin batu hingga Uwi pingsan. Dan ketika sadar dia sudah berada di rumahnya.

Esoknya, Uwi ingin menginap lagi di rumah temannya yang kemarin, dan memutuskan untuk pergi malam hari.


Bersambung ke sini…

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Add your answer

    Vote kalian akan saya buatkan artikelnya. Semoga dapat saling membantu. Terima kasih.