Sebuah Coretan Di Atas Gunung Lembu, Purwakarta

Gunung Lembu

Sebentar lagi lebaran, maka orang tua saya sudah sibuk memenuhi ruang chat pada telepon seluler saya. Namun ada yang berbeda dari setiap kerumunan chat yang merequest saya untuk kembali pulang ke kampung halanan, sebuah chat berbicara sesuatu yang berbeda total.

Sebuah chat yang berisikan foto adik saya, tapi bukan itu, latarnya berbicara sesuatu yang lain. “Habis mendaki Gunung Lembu di Purwakarta.” Begitu captionnya. Saya memandang foto tersebut sambil menelan ludah, kemudian…

WUAAA!!! MAU!!!

Cuss! Bapak saya mengantar pada H+1 lebaran pukul 10 hingga sampai di pos pendakian seperapat jam sebelum Zhuhur. Dan hanya diisikan nama serta nomor telepon saja, kemudian mendapat tiket pendakian dan langsung naik.

Sayang, tidak ada kendaraan umum maupun apa pun dari Terminal Ciganea maupun Stasiun Purwakarta, padahal ini merupakan salah satu gunung yang dapat dikatakan mudah untuk para pendaki pemula meskipun treknya cukup melelahkan. Saya pun akhirnya diantar bapak saya namun hanya sampai pos pendaftaran saja, tidak ikut naik.

Pendaftaran Rp10.000 dan hanya mengisi nama, no. hp, serta alamat saja. Tidak dipinta KTP, kartu BPJS, dan surat keterangan RTRW.


Gunung LembuSaya bertemu dengan beberapa pendaki, ada yang dari Bandung Barat, dan macam-macam. Sebenarnya Gunung Lembu hanya 795 meter dpl dengan prominens yang saya tidak tahu berapa, namun jika tidak dibiasakan berjalan kaki, baru 200 meter saja pasti akan merasakan kelelahan karena treknya yang terus naik. Bahkan tidak sedikit para pendaki yang sudah berkali-kali naik gunung, harus sering berhenti di tengah-tengah.

Untung saya tidak, hehe… Padahal saya belum pernah daki gunung yang begitu tinggi selain Galunggung.

Gunung ini hanya ada tiga pos, dengan normal pendakian selama satu jam bagi yang gemar kelelahan setiap tiga langkah sekali. Namun saya daki justru dua jam karena terlalu banyak selfie… ~ :p

Terutama di sebuah photostop setelah pos pertama, itu saya habiskan waktu mungkin setengah jam, atau hampir satu jam hahah.

Gunung Lembu Gunung Lembu Gunung Lembu Gunung Lembu

Ok, tidak ada foto selfie. Hanya foto pemandangan.

Enaknya datang pagi jadi belum pada berkabut! Huh! Saya hampir tidak dapat melihat apa-apa diseberang. Namun begitu saya lihat banyak pendaki yang mulai melanjutkan perjalanan dari pos satu, saya ikuti mereka. Kucluk… kucluk… daki sendirian.

Gunung Lembu Gunung Lembu

Dari pos satu ke pos dua ternyata jalanan terus menanjak, dengan tanjakan-tanjakan yang tidak kenal istirahat. Mungkin benar kata orang-orang, jika naik gunung, biasanya mereka beristirahat setiap tiga langkah sekali. Atau, perjalanan daki mereka dibantu dengan tongkat untuk memperingan langkah mereka. Tapi jangan khawatir, banyak pagar-pagar bambu dan tambang untuk membantu pendakian.

Tetapi saya terus menanjak tanpa kenal istirahat, mungkin karena saya sudah sangat terbiasa berjalan kaki. Ya know, kanan kiri tebing dan jurang di tengah hutan sendirian. Saya bahkan sempat ragu apakah jalan yang saya tempuh ini benar karena tidak terlihatnya pendaki yang lain.

Ditambah lagi,

Gunung Lembu

Yu becanda. Seriously, you bercanda.

Saya ingat waktu masih ikut pramuka di sekolah menengah, bahwa pohon tumbang begini artinya jalanan ditutup. Ah masa sih? Saya melewatinya dengan hati-hati batang pohon tersebut dan melanjutkan perjalanan kembali.

Masih dalam episode kesepian, yang benar-benar sepi tanpa ada siapapun. Semoga tidak ada macan yang tiba-tiba menerkam saya dari belakang. Inilah mungkin kenapa jika mendaki gunung, lebih baik jangan sendirian. Belum lagi ketika jalanan mulai mendatar, saya menginjak sesuatu.

“SUBHANALLAH!”

A… apa itu???

Petilasan

Petilasan! Saya baru saja menginjak petilasan! Alamak! Saya sedikit mengucap salam dan permisi setelah itu. Saya pikir petilasan itu tempat bertapa, namun ternyata petilasan itu adalah kuburan. Yang menambah kesan angker, batu nisan tersebut diikat dengan kain putih mirip p*c*ng. Saya agak mempercepat langkah saya, dengan harap-harap cemas, semoga batu nisannya tidak bergerak-gerak. Hehe… keseringan mendalami film dan literatur horor keknya.

Pos dua akhirnya tiba, dengan warung mini dan tempat istirahat. Setelah senyum-senyum dengan warga pos, saya diberitahu bahwa puncak sudah dekat. Makanya saya semakin terburu-buru. Kemudian, hutan pun perlahan-lahan hilang dan tampaklah segala sesuatunya dari atas.

Gunung Lembu Gunung Lembu Gunung Lembu Gunung Lembu

Saya menghabiskan instaStory saya dan hampir membunuh baterai kamera saya, sebelum sadar bahwa itu adalah puncak bayangan. Masih ada jalan ke atas lagi. Ok, saya langsung melanjutkan pendakian. Kembali menanjak, kembali capek.

 Gunung LembuGunung Lembu

Eh, ada tulisan Puncak Gunung Lembu 795 meter (tanggung amat yakk, 5 meter lagi padahal). Tetapi saya tidak foto karena banyak pendaki alay yang berpose yang bahkan saya tidak sanggup untuk melihatnya hahah… seperti… pose memanjat pohon sambil memeluknya (apa dicium juga?) ya ampun…

Sebenarnya sebelum itu, saya melihat ada puncak bayangan lain yang juga banyak orang-orang yang berfoto di atasnya. Saya hanya istirahat sambil memakan bekal sedikit yang telah disiapkan. Eh, ada petilasan lagi!

Gunung Lembu

Mbah Surya Kencana… perasaan pernah dengar, coba saya buka buku sejarah lagi.

Yang ini petilasannya dipagar, tidak seperti yang tadi sempat buat sport jantung.

Setelah sampai puncak, kemudian jalanan semakin menurun menuju pos tiga dan… saya jatuh dan terpeleset. Batu dan pasirnya licin ternyata, pantes dipasang tambang di mana-mana. Aduh malunya, pecicilan sih. Tapi biar, yang penting di pos terakhir itu saya…

Gunung Lembu Gunung Lembu  Gunung Lembu

Makasi de akang-akang yang siap saya omelin demi tercapainya angle yang ciamik. Saya pun tarik ulur tambang berkali-kali demi melihat bagaimana hasilnya. Maklum, dia foto dari atas hehe…

Ternyata beberapa orang di sekeliling saya yang hobi betul buang sampah sembarangan, termasuk anak-anak.

“Sayang, ayok buang sampahnya jangan sembarangan…” Tegur saya kepada para cilik tersebut. Mereka dengan polosnya menurut.

Wah, keasyikan sampai tidak terasa sudah hampir jam 2! Dan saya belum shalat Zhuhur! Saya terburu-buru mengemas barang-barang dan mengucapkan terima kasih kepada akang-akang tersebut karena telah mengambil foto saya. Namun di tengah jalan ternyata saya salah jalan. Harusnya lurus tetapi saya belok kiri karena melihat tangga yang dipagar. Mana tidak ada petunjuknya lagi.

Begitu saya sadar saya mungkin salah jalan, sekeliling sudah semakin gelap dengan rumpun bambu yang semakin menjadi. Ditambah lagi, monyet-monyet memperhatikan saya dari sela-sela dahan pohon. Ada apa lihat-lihat hah?! Mau minta tanda tangan?! Semakin kebawah, sudah tidak terlihat apa-apa lagi di sela-sela bambu.

Gunung Lembu

Aduh mau naik lagi, sudah terlanjur di bawah. Bakal pegal sumpah nanti di atas. Selangkah demi selangkah saya mulai naik sambil istirahat sesekali. Benar-benar menyebalkan yang tidak memberi arah meski hanya sebuah tempelan tanda panah. Aduh, mak…

Dan guys! Guys! Selalu pakai kaus kaki jika mendaki gunung atau lebih bagus lagi memakai sandal gunung. Karena, sepatu saya mulai menggerogoti kaki saya. Duh! Duh! Jangan sekarang dulu napa lecetnya! Akhirnya dari pos dua saya mulai nyeker sebelah. Persetan dengan persangkaan pendaki lain, yang pasti saya mau cepat turun mau shalat.

Dengan susah payah akhirnya saya sampai di titik pertama saya mendaki, dan langsung shalat di mushallanya. Alhamdulillah. Turun pas jam 3 sore. Masih sempat shalat Zhuhur hehe…

Benar-benar parah sakitnya begitu kaki saya yang lecet ini terkena air wudlu. Btw, ini, ada foto daun.

Gunung Lembu

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Add your answer

    Vote kalian akan saya buatkan artikelnya. Semoga dapat saling membantu. Terima kasih.