Sepele Tapi Serius: Sebuah Masalah Iri Hati

Iri hati

Saya pernah berjanji pada sesi polling di bagian bawah setiap artikel saya yang akan membahas masalah iri hati. Setiap pembaca yang ikut berpartisipasi membuat voting yang berbeda-beda sesuai dengan pilihan yang saya sediakan. Setiap pilihan terisi rapi tanpa adanya tambahan apapun dari para pembaca meskipun saya beri opsi untuk menambah pilihan voting sendiri.

Kini hasil telah terkumpul dan saya sudah memiliki waktu untuk membahas serba-serbi dari realita iri hati berdasarkan voting para pembaca blog ini yang tercinta. Sesuai janji saya, maka inilah artikel yang dahulu pernah saya sebut-sebut akan saya buatkan itu.


  • Mutualisme yang cantik

Saya lampirkan hasil voting yang telah saya buat sekian bulan lalu yang beberapa dari kalian telah ikut berpartisipasi memilih. Meskipun tidak banyak partisipan, namun saya sangat puas dengan hasil yang ada. Mohon maaf hadiahnya cuma ucapan terima kasih hehe… Baik, berikut hasil votingnya,

iri hati

Sudah terlihat jelas pada gambar di atas bahwa ternyata kita masih memiliki iri yang dominan terhadap keilmuan (56%). Iri kepada orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi, dalam parameter apapun. Mungkin dari mulai ilmu terapan, hingga hanya sekedar ilmu eksak. Mungkin ada orang yang iri melihat orang yang bisa bermain gitar sementara dia tidak, atau iri yang sudah sampai ke ranah ilmu olimpiade dan bahkan ilmu agama.

Kemudian yang sudah umum ditebak adalah mereka yang iri kepada mereka yang punya harta lebih (19%). Baik dari sisi yang minim seperti dia iri kepada orang yang punya suatu barang hingga mungkin iri kepada orang yang jauh terlihat lebih kaya raya darinya, terlebih jika orang tersebut seusia dengannya.

Posisi selanjutnya adalah mereka yang iri kepada bentuk tubuh (13%). ‘Ih pengen deh selangsing dia’, ‘enak ya punya wajah setampan orang itu’, ‘pengen punya kulit putih begitu’, atau ‘alisnya tebel banget, bikin iri’. Hal ini termasuk yang manusiawi, saya pun pernah iri dalam hal ini.

Yang berikutnya? Jabatan, cukup sedikit yaitu hanya (6%). Mungkin ini termasuk bias voting ya? Hehe… Saya agak tidak percaya orang yang iri dengan jabatan hanya sedikit.

Sisanya adalah iri dengan popularitas dan pasangan orang lain (3%).


  • Masing-masing rasa iri punya kodratnya

Perlu diketahui, setiap orang memiliki watak dan bawaan masing-masing. Orang yang iri pada harta tidak akan peduli kepada orang yang iri akan jabatan, misalnya. Jadi jika kita mengungkapkan rasa iri kita kepada orang yang memiliki rasa iri yang berbeda, orang tersebut tidak akan paham rasa iri kita bahkan justru akan berbalik meremehkan kita. Pun demikian dengan orang itu sebaliknya.

Saya mungkin akan jelaskan sebab dan bagaimana cara meringankan rasa iri tersebut semampu saya, karena saya paham bahwa rasa iri kepada orang lain adalah suatu hal yang tidak begitu menyenangkan. Apalagi jika rasa iri tersebut sudah mulai berubah menjadi hasad dan dengki, sebuah bencana internal yang akan mengacak-acak hidup kita.

Saya mengerti bagaimana ‘menderitanya’ orang-orang yang, “enak ya jadi dia”, “pengen deh bisa begitu”, “kenapa aku tidak bisa begini?”, dan seterusnya. Seseorang yang dia jadikan objek iri hatinya sudah mendapatkan kuncinya dengan mudah, sementara kita masih dilanda kebingungan.

Baiklah, saya akan coba jabarkan satu per satu.


  • Saat masalah dihamparkan

1. Iri akan keilmuan seseorang

Merupakan hal yang baik jika seseorang dapat memotivasi kita akan bakat yang ia punya. Ia dapat bermain musik dengan baik, atau memahami beberapa ilmu-ilmu pengetahuan alam dengan hebatnya, atau memiliki ilmu agama yang mumpuni. Pertanyaannya adalah, untuk apa kita iri kepada orang-orang berilmu tersebut?

Hari ini kebanyakan yang kita lihat kebanyakan adalah bias. Saya tidak katakan semuanya, namun beberapa yang saya lihat, bias selalu datang dari mana-mana, menipu visual kita dengan halus. Banyak orang yang berilmu hanya based on tutorial, atau ada orang yang kita sangka ilmunya hebat, ternyata jika ditanya ‘mengapa’, dia tidak dapat menjawab.

Intinya, meskipun kita iri kepada orang yang memiliki ilmu lebih, jangan sampai kita iri kepada orang-orang yang ilmunya bias. Seakan ia memiliki ilmu namun nyatanya tidak terlalu. Carilah orang-orang yang benar-benar paham akan ilmu yang ia miliki, yang sekiranya dapat menjawab teka-teki yang kita telah lama penasaran akannya, bukan hanya sekedar ucapan ‘oh, gitu doang’ yang terucap dari bibir kita.

Orang-orang yang benar-benar berilmu itu sebenarnya banyak, namun keberadaan mereka digerus oleh orang-orang yang hanya mengerti kulit luarnya saja, kemudian sudah angkuh kesana dan kemari. Sebenarnya tidak masalah, karena ilmu itu bagaikan padi, semakin berisi, ya semakin merunduk.

Tidak menutup kemungkinan bahwa kalian pun akan terlewat bangga pada ilmu baru yang baru saja kalian berhasil peroleh atau terapkan.

Satu lagi, carilah guru yang tepat. Karena menuntut ilmu tidak bisa dengan waktu yang super instan. 🙂

2. Iri akan harta seseorang

Hampir setiap orang ingin menjadi kaya raya, sehingga wajar jika sebagian besar kita iri kepada orang yang memiliki harta lebih. Bahkan tidak jarang kita membuat janji-janji semu agar keinginan kita menjadi konglomerat segera terwujud. Misalnya,”Jika saya jadi orang kaya nanti, saya akan menjadi dermawan”.

Well, perlu diketahui, watak bukanlah hal kondisional. Jika pada dasarnya memang kikir, misalnya, maka tak peduli ia sedang dalam posisi senang atau susah, kekikirannya tidak akan berubah dan justru semakin menjadi ketika sudah banyak harta.

Jika kalian ingin menjadi orang kaya, kalian harus paham darimana keuangan kalian berasal. Jika kalian ingin kaya dari profesi artis, maka fokus terhadap kegiatan artis, seperti, mulai dapat berakting, bernyanyi, menelisik bagaimana kegiatan para artis dalam mengasah bakat mereka, serta mendekati orang-orang potensial.

Pun, begitu jika kalian ingin menjadi hartawan dari celah wirausaha. Manajemen keuangan kalian harus jelas, tinggalkan distraksi orang lain, dan mulailah mempelajari profesionalitas kinerja dan pelayanan. Mulailah dengan menjadi karyawan ‘biasa’ yang profesional, hingga akhirnya kalian mendapatkan kesempatan untuk menjajaki tahap resiko yang lebih tinggi sebelum benar-benar mantap jadi pengusaha.

Asal jangan memaksakan kehendak kalian agar memiliki ini dan itu. Misalnya, dengan mencicil sana sini yang sarat bunga/riba yang pada akhirnya akan mencekik kalian sendiri. Apalagi jika jadi pencuri.

Ssttt… ingin investasi yang berlipat? Perbanyaklah sedekah. InsyaAllah lambat laun harta yang kalian investasikan untuk akhirat akan kembali kepada kalian sendiri, tanpa mengurangi jatah kalian di akhirat. Namun sedekahnya karena Allah ya… Atau, silakan baca artikel saya berikut.

3. Iri akan anatomi tubuh seseorang

“Ingin ganteng/cantik?”

“Ingin kulit putih bersinar?”

“Bosan dengan tubuh pendek?”

Ini merupakan iri yang paling sulit dibuang karena sifatnya absolut atau tidak dapat diubah. Kalian tidak bisa semerta-merta merubah ciptaan Allah demi memuaskan hasrat kalian. Itu adalah takaran terbaik Allah untuk kalian.

Lalu bagaimana jika saya tidak puas dengan takdir ini? Bolehkah saya berdoa agar lebih rupawan? Jawab seorang ustadz yang saya temui, adalah boleh. Namun kata beliau, bentuk kalian tetap tidak akan diubah, hanya sebatas penilaian saja. Lagipula, masih banyak hal yang dapat membantu kalian untuk lebih baik. Tentu saja memperbaiki penampilan, menyusun gaya rambut, atau bahkan membuat diri lebih wangi.

Banyak orang yang dari segi anatomi jauh dari kata sempurna, namun mereka terkenal, memiliki pasangan yang menyejukkan mata, dan segala sesuatunya. Mereka bisa, apa yang kalian inginkan?

Ubah paradigma kalian, kalian tidak jelek, kalian menarik. Pada akhirnya, orang-orang dan Allah sekalipun akan melirik kualitas hati kalian.

4. Iri akan jabatan

Untuk apa iri kepada orang yang jabatannya lebih tinggi? Kalian cukup menyenangkan orang-orang saja. Semoga dengan keprofesionalitasan kalian tersebut, kalian dapat mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.

Atau, atau, mengapa tidak memperdalam ilmu kalian lewat seminar-seminar, kursus, atau melanjutkan kuliah? Bukankah sertifikat yang banyak akan membantu kalian meredakan sifat iri kalian dan melegalisir keinginan kalian? Jangan menjadikan orang-orang yang haus dan memanfaatkan kekuasaan menjadi role model, karena itu bukanlah kalian.

5. Iri akan popularitas

Punya banyak fans, sanjungan, perhatian, dan sebagainya adalah idaman sebagian orang. Kalian dapat menjadi selebgram hari ini dengan instan. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah setelah kalian terkenal, kalian akan melayani fans kalian dengan baik? Atau membiarkan bahkan mengusir mereka untuk beralih ke selebriti yang lebih memanusiakan para fans?

Ingat, fans memiliki banyak sifat, dan kalian akan benar-benar dipaksa untuk beradaptasi dengan para fans, sejahat apapun fans kalian. Ditambah lagi, orang-orang yang tidak senang kepada kalian secara langsung akan secara blak-blakan menunjukkan konflik mereka secara langsung kepada kalian.

Lagi, fans biasanya cepat bosan. Kalian juga dituntut untuk lebih kreatif untuk tetap mempertahankan para fans. Karena orang yang di atas biasanya akan cepat sekali jatuh tersandung oleh sesuatu yang tidak-tidak.

6. Iri akan pasangan

Well, saya tidak memiliki banyak kata-kata untuk hal ini. Saya hanya sisipkan ayat AlQuran yang membahas langsung mengenai hal ini,

Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (QS. An Nur:26)

Selesai perkara.

Perlu dicatat, jika kalian masih memiliki ilmu setara dengan anak sekolah dasar, maka jangan harap mendapatkan kekasih orang kuliahan. Apa kalian mau dijodohkan oleh para preman? Benar, itulah mengapa jangan mengharapkan orang lain. Harapkanlah kualitas yang ada pada diri kalian terlebih dahulu.

Setelah kalian merasa diri kalian memiliki kualitas yang bagus, insyaAllah jodoh kalian akan mendekat dengan sendirinya tanpa harus lelah-lelah menunggu jodoh.

Ada ungkapan, “Meskipun saya bukanlah orang baik, namun saya tidak mau mendapatkan pasangan yang seperti saya.”

Sebentar, memangnya ada orang baik yang mau menjadi pasangan orang yang tidak baik?


  • Kesimpulan

Apapun bidangnya yang membuat kalian iri, minumnya tetap teh botol Sosro pada ujung-ujungnya, kalian akan mempertanyakan lagi, untuk apa sih iri kalian itu. Dan pada akhirnya, kalian akan kembali kepada hadits berikut,

Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.
(Al-Hadits)

Jadi, selamat memanjakan rasa iri kalian. Oh, untuk pembahasan mengenai iri lebih lengkapnya dan motivasi yang lain, kalian dapat membeli buku saya di sini.

Terima kasih. 🙂


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Keilmuan 56%, 18 votes
      18 votes 56%
      18 votes - 56% of all votes
    • Harta 19%, 6 votes
      6 votes 19%
      6 votes - 19% of all votes
    • Anatomi (Rupa, Bentuk Tubuh, dst) 13%, 4 votes
      4 votes 13%
      4 votes - 13% of all votes
    • Jabatan 6%, 2 votes
      2 votes 6%
      2 votes - 6% of all votes
    • Popularitas 3%, 1 vote
      1 vote 3%
      1 vote - 3% of all votes
    • Pasangan 3%, 1 vote
      1 vote 3%
      1 vote - 3% of all votes
    Total Votes: 32
    May 9, 2018 - August 10, 2018
    Voting is closed

    Vote kalian sudah saya buatkan artikelnya, klik di sini. Terima kasih.