Tak Seperti Dulu : Taman Waduk Ria Rio

Taman Waduk Ria RioSaya sebenarnya agak sanksi dengan nama waduk ini. Well, beberapa nama waduk di Jakarta memiliki nama yang ‘wajar’ dan kebanyakan dari nama daerah waduk tersebut, seperti yang pernah saya datangi dulu yaitu Waduk Pluit. Karena penasaran darimana mereka mendapatkan nama Ria Rio (saya sempat berpikir itu adalah Bahasa Spanyol, secara, rio itu berarti sungai), akhirnya saya buka Wikipedia dan menemukan keterangan ini:

Waduk Ria Rio adalah waduk yang terletak di daerah Pedongkelan, Pulogadung, Jakarta Timur, Jakarta dengan luas 26 hektar. Pada tahun 1950an, daerah ini masih berupa rawa, dan kemudian pada masa Gubernur Ali Sadikin dibangun waduk untuk mengurangi genangan air dan banjir di daerah ini. Pembangunan dimulai pada 1960, saat PT. Pulomas Jaya membutuhkan tanah urukan untuk membuat lapangan pacuan kuda Pulomas yang tidak jauh dari waduk Ria Rio. Nama Ria Rio didapat dari pemimpin PT. Pulomas Jaya, Rio Tambunan. Sementara kata Ria berasal dari kata riak, yang menggambarkan air waduk yang beriak. Nama Ria Rio diresmikan pada tahun 1967.

Oalaah, nama orang toh… narsis amat yakk???


  • Pemberi Harapan Pasti

Menurut dari apa yang saya baca, di taman waduk ini ada sebuah pohon legendaris dari negeri Afrika, Madagaskar tepatnya. Sebuah pohon nyungseb seperti habis bunuh diri dari langit. Pohon Baobab, kita memanggil namanya demikian.

baobab

Pohon baobab, memang seperti nyungseb kan? Nggak heran orang bilangnya pohon kebalik.

Karena ada pohon itulah saya tertarik untuk mengunjungi taman Ria Rio. Pohonnya katanya masih muda, dan didatangkan dari Afrika dengan memakan biaya sekitar Rp750juta. Ow, ow, ow… Tetapi sepertinya bukan jumlah yang ‘besar’ jika dibandingkan dengan anggaran-anggaran belanja pegawai pemerintah. hah?

Hari itu berawan, langitnya nggak jelas. Awannya tidak tampak, langit hanya putih polos seperti dipenuhi kabut. Matahari? Saya bahkan tidak tahu benda itu sedang ada di mana pada saat itu. Tapi ya sudah, memang cuacanya sedang seperti itu (padahal maunya ceraahhh!) akhirnya saya menggunakan jasa Transjakarta Koridor 10 dan turun di halte Cempaka Putih. Tarifnya? Tentu saja, tigarebumaratus.

Sesampainya di halte Cempaka Putih, keluar halte langsung belok kanan yang jembatannya menyebrangi sungai kecil dan ramp turunnya dapat dibuat untuk main skateboard.

Ramp Cempaka Putih

Itu apaan???

Karena ramp turunnya tidak memiliki kelok sama sekali dan seperti… kereta api? Atau ular naga? Maka saya berlari seperti orang gila menuruni rampnya tanpa takut tertabrak apapun (a.k.a MKKB : Masa Kecil Kelewat Bahagia).

Kabar baiknya, turun dari ramp kalian tidak perlu belok kemana-mana lagi. Jadi jika yang tadi turun dari ramp busway sambil berlari, teruskan saja larinya. Tamannya ada pas mentok kok, atau sekitar 400 meter di depan. Taman ini memiliki pintu masuk yang sangat tidak beautiful, seperti akan memasuki wilayah bongkaran bangunan yang sudah bertahun-tahun terabaikan. Saya agak ragu, untuk masuk. Namun karena dari luar sudah terlihat pepohonan khas taman Jakarta, saya menjadi yakin kaki saya tidak menginjak tempat yang salah.

Taman Ria Rio

Pintu masuk tamannya begini? Seriously???

Eksplorasi taman… dimulai.


  • Ada yang ngeganjel

Pemandangan awal tidak memiliki kesan yang greget, namun mungkin bagi orang yang bermukim di sekitar, taman ini adalah anugrah yang luar biasa jika melihat kenyataan-kenyataan daerah tersebut sebelum-sebelumnya. Good, good… Jakarta membutuhkan banyak taman, atau bila perlu… gunung buatan? *hah!

Taman Waduk Ria Rio

OH IYA! POHON BAOBAB!!!

Di mana? Di mana dia? Tujuan saya kemari untuk mencari pohon itu. Eksplorasi taman yang membentang secara horizontal tersebut akhirnya dimulai. Ternyata lumayan banyak spot-spot yang menarik di sini. Terutama, apalagi selain waduk yang kini sudah terlihat bersih itu? Gedung-gedung seberang kini dapat terlihat dengan jelas, serasa nostalgia.Taman Waduk Ria RioAda sebuah hall atau tempat yang melingkar, dihiasi dengan bangku-bangku taman. Sepertinya didesain khusus untuk mereka yang ingin kongkow dan menikmati Wi-Fi taman. Saya berjalan di sekitar melewati paving blok yang sudah disediakan sebagai jalur utama.

Taman Waduk Ria Rio

OH IYA! POHON BAOBAB!!!

Di mana? Di mana dia? Jujur saya tipe orang yang mudah terdistract, namun kali ini eksplorasi harus fokus kepada pohon tersebut. Di sekeliling hanya pepohonan biasa, dan dihiasi lampu dan bangku taman di pinggirnya. Oh, di dekat sana ada bukit kecil yang lumayan tinggi, dan di atasnya ada pohon bao…bab? Apa?

Itukah pohon yang katanya sedang jungkir balik itu? Agak meleset dari ekspektasi sih…

baobab

Harapan

Taman Waduk Ria Rio

Kenyataan

Ini? Agak sedih sih… tetapi ya mau bagaimana lagi, mungkin karena masih bocah, jadi penampakannya masih seperti itu. Bukit tersebut juga tidak boleh dinaiki bahkan larangannya jelas. Mungkin untuk melindungi pohon yang seharga Rp750juta tersebut dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab? Bisa jadi.

Tamannya tidak terlalu besar, jika terus mengikuti jalan paving block taman, maka kalian akan sampai ke sebuah hall lainnya yang sepertinya digunakan untuk pacaran menikmati pemandangan danau, atau matahari terbenam. Bisa jadi spot foto baru di Jakarta ini, tanpa harus jauh-jauh ke Ancol untuk mendapatkan spot serupa.

Taman Waduk Ria RioDi taman ini disediakan Wife gratis. Sebentar, typo. Di taman ini disediakan Wi-Fi gratis, namun saya belum pernah coba koneksi ke Wi-Fi tersebut. Jadi, saya tidak tahu bagaimana kecepatan dan kestabilan Wi-Fi tersebut. Selain itu, saya lebih memilih untuk pulang.

Oh iya, menurut kalian, yang mana pohon Baobabnya?

Taman Waduk Ria Rio


  • Lokasi Google Maps

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Saya tertarik membahas mengenai masalah iri hati, jika kalian pernah merasa iri, dalam hal apa?
    • Add your answer

    Vote kalian akan saya buatkan artikelnya. Semoga dapat saling membantu. Terima kasih.