10 Langkah Memperbaiki Gaya Penulisan

Grammar Indonesia     Kadang seseorang ingin terlihat ‘berkelas’ dengan cara memperindah tulisannya. Namun, tak sedikit orang-orang yang tidak peduli akan bagaimana hal ini dapat dilakukan oleh mereka. Saya mengakui bahwa merupakan hal yang cukup miris mengingat sangat anak bangsa yang tidak kenal bahasanya sendiri dengan baik, termasuk saya.

     Karenanya, saya ingin membuat catatan singkat mengenai bagaimana cara memperbaiki ‘grammar Bahasa Indonesia’ versi saya. Yang saya pikir itu juga dapat berpengaruh bukan hanya sebagai tulisan biasa, bahkan mungkin akan sangat membantu dalam ‘memuluskan’ karya tulis seseorang.

 

  • Kenalilah abjad dengan baik

     Saya jujur agak sedikit sebal dengan orang yang membutuhkan sebuah keterangan tambahan atas abjad yang dieja seseorang, terutama huruf ‘F’ dengan ‘V’. Tidak sedikit orang-orang yang bahkan masih tidak mengetahui cara mengeja huruf-huruf tersebut. Keterangan tambahan yang saya maksud adalah seperti ‘F Fanta, F garpu’, ‘V Victory, V Vespa’ dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang mereka mengeja huruf ‘V’ dengan ‘Vi’.

     Padahal beberapa stasiun televisi mengeja ‘V’ dengan ejaan murni bahasa Indonesia seperti SCTV, ANTV, atau TVRI di mana ‘V’ dieja sebagai ‘Ve’ dan bukan ‘Vi’ kecuali memang terdapat bahasa asing di dalam penamaannya seperti ‘TV One’ dan ‘Metro TV’. Karena untuk yang dasar saja seperti mengeja ternyata masih banyak yang tidak benar-benar bisa, bagaimana dengan tingkatan yang setelah itu?

     Hati-hati dengan penulisan, jangan sampai tertukar huruf seperti yang seharusnya “Aktivitas” justru ditulis “Aktifitas“, dan sebagainya.

 

  • Hindari penggunaan huruf kapital dan tanda seru yang berlebihan

     Hal tersebut hanya terkesan bahwa kita adalah seseorang yang tidak penyabar. Hal ini sangat buruk jika diketahui bahwa kita ingin orang lain lihat bahwa kita sedang penuh emosi, sedangkan gaya penulisan sangat kekanak-kanakan. Justru ini hanya membuat seseorang semakin tidak dihargai lagi sangat tidak dewasa.

     Beberapa orang menggunakan huruf kapital hanya untuk mempertegas suatu bentuk kata terhadap yang menjadi sasaran tulisannya, namun biasanya huruf kapital hanya diberlakukan dalam suatu kata saja. Ambigu mulai terlihat di sini, di mana kita tidak tahu apa tujuan seseorang menulis sebuah kata tersebut dengan huruf kapital. Apakah ia sedang marah-marah, atau hanya ingin mempertegas belaka? Namun hal itu dapat dengan mudah dilihat dari konteks tulisan yang ditulisnya.

 

  • Sangat tidak dianjurkan memakai bahasa ‘Alien’

     Saya sangat tidak menyarankan seseorang secara keras agar tidak menggunakan bahasa macam-macam dalam penulisan baik itu resmi atau tidak di mana target pembacanya adalah orang banyak. Kecuali dalam maksud-maksud tertentu seperti penulisan skrip untuk sebuah karakter yang memang memiliki sifat demikian. Seringnya menulis dengan metode yang menurut istilah masa kininya adalah “Alay” justru hanya akan melukai kepribadian si penulis dan memberikan orang lain opini bahwa penulis adalah orang yang mudah ‘terbawa arus’.

     Mungkin adakalanya seseorang menulis dengan diawali simbol-simbol tertentu yang membuat tulisannya menjadi ‘cantik’ tidak termasuk kedalam kategori ini. Begitu juga dengan penulisan bunyi tertawa yang seperti “wkwkwk..”, “Agkgkgk”, dan lain sebagainya, semuanya tidak termasuk ke dalam kategori bahasa ‘Alien’.

 

  • Gunakan tanda baca yang baik dan benar

     Pemakaian tanda baca juga termasuk salah satu hal yang wajib diperhatikan, masih termasuk ke dalam kategori bahasa ‘Alien’, beberapa anak-anak seusia saya atau yang di bawahnya kadang sering mengubah fungsi tanda tanya menjadi titik, titik menjadi koma, bahkan seringnya memberi tanda baca yang menginstruksikan bahwa pembaca harus menjeda bacaannya dalam suatu kalimat meskipun pernyataannya masih jauh dari kata selesai, meskipun hanya dipisahkan dengan koma.

     Jujur, saya pernah terkecoh dengan seseorang yang merubahfungsikan tanda tanya menjadi sebuah titik. Saya mengira seseorang tersebut bertanya kepada saya dengan bertubi-tubi, tapi ternyata… Ya ampun…

     Kadang jika menuliskan sebuah pertanyaan yang memang tidak mesti dijawab, dengan alasan gaya tulis, maka mengubah tanda tanya menjadi tiga titik pun dibolehkan, karena saya pun sering melakukan hal yang demikian.

 

  • Jangan mencampuradukkan bahasa

     Jika memang niatnya menulis dengan bahasa Indonesia, tulislah seluruhnya dengan bahasa Indonesia. Jika memang niatnya menulis dengan bahasa asing, maka tulislah seluruhnya dengan bahasa asing. Kecuali jika memang diperuntukkan untuk sesuatu yang lain semisal lirik lagu, puisi, pantun, atau memang suatu hal yang memang umum dibicarakan seperti, “Upload fotonya sudah selesai.” Meskipun “upload” merupakan bahasa asing dan telah diterjemahkan dengan “unggah”, namun dengan tujuan tidak untuk menyulitkan pembaca, maka hal itu diperbolehkan.

     Salah satu contoh yang saya maksud adalah, “Membuang sampah yang tidak pada tempatnya dapat berakibat negative untuk kesehatan.” Tentu saja hal itu sangat tidak resmi, di mana “negative” yang merupakan bahasa asing seharusnya ditulis “negatif“.

     Juga jangan salah menerjemahkan bahasa, sehingga tidak menjadi sesuatu yang fatal. Salah satu contoh yang umum adalah, “Nawaitu kami“, Padahal “Nawaitu” itu sendiri artinya “Saya (telah) berniat” yang merupakan fi’il madhi atau past tensenya dari Tata Bahasa Arab bagian sharaf. Sehigga sangat tidak masuk di akal jika disandingkan dengan kata “Kami.

 

  • Gunakan kutip untuk sebuah konotasi

     Beberapa orang akan salah sangka jika kita menuliskan sebuah kata atau kalimat yang mengandung makna kiasan sedangkan kita tidak memberikan tanda bahwa itu adalah kiasan. Seperti contoh, “Jika hal itu terjadi, maka saya akan “mati”. Tentu saja dia tidak berniat mati dalam arti sungguhan, dengan adanya tanda kutip seperti itu maka penulis memberikan isyarat kepada pembaca agar tidak mengartikan pernyataan tersebut secara langsung.

 

  • Perhatikan ‘sedikit’ EYD

     Saya katakan “sedikit” di sini merujuk kepada perumusan umum dari beberapa EYD umum yang sering digunakan dalam keseharian. Seperti awalan “di” atau “ke” yang harus dipisah jika bertemu kata benda, dan harus disambung jika bertemu kata kerja. Seperti contoh, “Di awal kata tersebut diawali dengan salam.” Atau, “Ibu pergi ke pasar, karena di dalamnya banyak didapatkan kebutuhan sehari-hari.

 

  • Hindari segala bentuk kepura-puraan

     Banyak sekali fenomena-fenomena di mana seseorang membagus-baguskan kata-kata hanya untuk menguatkan argumennya saja. Bahkan lebih parah lagi, agar mereka membuat lawan berpikir mereka mengira mereka adalah golongan orang-orang yang memiliki kata-kata luhur. Sekali lagi tidak! Itu hanyalah cara ‘murahan’ yang justru berdampak negatif kepada diri mereka sendiri.

     Contohnya banyak yang secara mendadak seseorang menggunakan kata sapa “Anda” dalam suatu perdebatan yang memang mereka sendiri tidak terbiasa memakai kata itu dan memiliki maksud yang lain diluar kode etik pastinya. Padahal jelas membagus-baguskan kata untuk sebuah kepura-puraan atau agar dipandang dengan sesuatu yang tidak setaraf dengan kualitasnya adalah suatu hal yang dilarang.

 

  • Sering-sering menonton film terjemahan

     Banyak sekali film-film luar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan teks penerjemah ataupun yang memakai sistem pengisian suara atau dubbing. Saya sering sekali melihat film-film kartun yang bahkan bertemakan humor lawak atau anak-anak sekalipun masih memiliki grammar-grammar Bahasa Indonesia yang baik nan indah. Tak ada salahnya untuk ditiru sesuatu yang baik itu, atau bisa saja diambil dari sebuah karya tulis, ataupun dari sesuatu yang agung seperti terjemah kitab suci, Al-Qur’an.

 

  • Mulai hari ini dan konsisten

     Ini merupakan langkah paling berat di antara yang lainnya, karena suatu hal yang tidak biasa akan menuai banyak tekanan baik tekanan yang berasal dari diri pribadi atau lingkungan sekitar. Juga tidak jarang seseorang yang mencoba namun tidak konsisten sehingga meninggalkannya. Adakalanya itu bagus untuk sering-sering berbicara meniru kata-kata yang memang baik dan indah sendirian sebagai latihan selama tidak mengganggu sekitar. Asal dengan niat yang bagus, dan memiliki komitmen, insya Allah semua akan berjalan dengan lancar.

Semoga bermanfaat

2 Comments:

  1. Assalamu’alaikum..
    Gimana kabarnya Bang Ananda?. Sungguh pencerahan yang bermanfaat. :D. Tapi ada sedikit koreksi dari saya, mungkin maksud bang ananda pada poin ke-5, paragraf ke-2 itu seperti ini : “…, di mana “negative” yang merupakan bahasa asing seharusnya ditulis “negatif“. …”.
    Syukron 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)