Kekhawatiran Modern: Teknologi yang Semakin Canggih

Teknologi yang Semakin Canggih“Oh, suruh si anu aja… kan bisa nanti dibawain.”

Kami ingin memesan pizza dan saya memberitahunya agar teman saya menyuruh seseorang untuk memesannya karena lebih praktis daripada kami yang harus jauh-jauh ke sana.

“Jangan! Kasihan kejauhan. Mending order dari sini aja.” Teman saya mengusap layar smartphonenya dan men-tap beberapa kali sebelum akhirnya dia ditelepon oleh seseorang.

“Iya pak, dari sana tinggal belok sama lurus aja, rumahnya yang pagar coklat ya…”

Pizza datang, bahkan saya belum sempat untuk mengedipkan mata saya sedikit pun. Sebuah contoh dari kecanggihan teknologi masa kini yang serba instan, dan membantu banyak orang dalam menyelesaikan hajatnya dengan sangat cepat. Semua tinggal sekali sentuh, di mana pun, dan kapan pun.

Tetapi diluar lingkup kenyamanan akan limpahan kemudahan yang diberikan oleh teknologi masa modern ini, saya terbetik sesuatu hal yang membuat saya sedikit tidak nyaman. Saya mencari-cari apa penyebabnya, karena perasaan tersebut tiba-tiba muncul begitu saja.


  • Semua telah diramalkan

Lebih dari 1.400 tahun yang lalu, seorang manusia yang sangat mulia, yaitu baginda Rasulullah saw. telah menggambarkan apa yang akan terjadi di masa-masa milenial. Sebuah ramalan yang hari ini benar-benar dirasakan oleh hampir setiap orang di penjuru dunia, dikemas dalam hadits-hadits ringan yang insyaAllah shahih.

  • Telepon Selular

Hari Akhir tak akan tiba sebelum seseorang berbicara dengan gagang cambuknya.
(HR. Tirmizi)

  • Internet

Sebuah suara dari langit yang mana setiap orang akan mendengarnya dalam bahasa mereka sendiri-sendiri.
(Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi ‘Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman)

  • Transportasi

Jarak-jarak yang sangat jauh akan dilintasi dengan waktu singkat.
(HR. Ahmad, Musnad)

  • Arsitektur

Tidak akan ada (Hari) Pengadilan hingga gedung-gedung yang sangat tinggi dibangun.
(Diriwayatkan oleh Abu Hurairah)

Hari ini, segala sesuatunya telah dirasakan. Setiap manusia telah larut ke dalam kesibukannya masing-masing yang hari ini sudah dapat diperingkas hanya menjadi hitungan menit.


  • Semesta yang terus meluas

Hari ini teori-teori evolusi yang pernah kita dengar sepertinya berlaku untuk setiap teknologi yang kita pandang, dan kita genggam. Dimulai dari sebuah rancangan brilian yang pertama kali ditemukan di mana ia berukuran besar dan sedikit menyeramkan, hari ini dapat dikompres menjadi ukuran yang sangat mudah ditiup angin.

Teknologi yang Semakin Canggih

Kita tahu bagaimana telepon genggam pertama kali dibuat. Ukurannya super besar dan sangat tidak nyaman digunakan dari segi apapun. Namun jika kita hidup di masa-masa itu, maka hal tersebut adalah merupakan hal paling brilian yang pernah ditemukan. Setiap masa, perangkat keras semakin memiliki ukuran yang efisien dan menyenangkan.

Masih ingat floppy disk, atau kita pernah menyebutnya disket? Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah anak-anak generasi alfa masih ingat tempat penyimpanan portabel besar yang hanya berkapasitas 1.44 MB tersebut? Kini hanya dengan ukuran yang tidak lebih dari 2cm, kita dapat menyimpan file-file yang kapasitasnya ribuan kali dari disket. Bahkan, hari ini kita dapat menyimpannya online jadi tidak perlu khawatir bagi yang tidak memiliki memori eksternal.

Saya masih ingat dahulu sebuah ponsel nokia yang pertama kali menyisipkan teknologi GPS dalam fitur handphonenya, dan dengan memori yang hanya mentok di 8GB saja, dibanderol dengan harga hingga Rp9,5 juta. Sebuah angka yang fantastis di tahun 2000an. Sekarang? Ponsel tersebut sudah digerus di mesin penggilingan dan yang masih bertahan, hanya dihargai kurang dari 1 juta rupiah.


  • Kekhawatiran HQQ

Sebenarnya mengenai dampak negatif akan canggihnya teknologi bagi kehidupan manusia telah saya bahas secara tuntas pada artikel saya berikut ini, namun sekarang saya hanya ingin berfokus kepada dampak kecanggihan teknologi terhadap teknologi itu sendiri. Mungkin kalian akan menyangka bahwa kekhawatiran yang saya alami adalah sesuatu yang terlampau jauh serta berlebihan. Tetapi, ibarat sebuah balon gas, jika memang daya tampungnya sudah tidak lagi mencukupi, balon tersebut akan menciut bahkan meledak.

Yang saya perhatikan hari ini, teknologi semakin kompleks. Dulu saya punya laptop dengan memori RAM 2GB itu sudah termasuk yang paling cepat. Kini? Laptop 4GB saya sudah tidak kuat menampung setiap requirement dari perangkat-perangkat lunak yang tadinya tidak begitu boros memori.

Begitu pula dengan smartphone. Dulu saya memiliki smartphone Android dengan RAM 768 MB sudah termasuk cepat dan stabil. Kini RAM 3GB sudah tidak terlalu menjanjikan. Bahkan sudah berapa banyak browser yang tadinya speed friendly namun sekarang butuh bermenit-menit untuk dijalankan? Dulu, internet dengan kecepatan 50KB/s saja sudah termasuk yang wow, sekarang? 100KB/s sudah dianggap lemot.

Website-website hari ini sudah memakai teknologi pengembangan yang masif. Memiliki fitur-fitur pintar, animasi-animasi yang menggugah, yang mana itu semua sarat akan pembantaian memori yang cukup intens. Saya dulu buka Photoshop tidak sampai hitungan menit, namun kini menunggu splash screen nya saja cukup membuat bosan. Terlalu banyak library untuk diload, dan spesifikasi minimum sudah harus 64-bit. Padahal saya hanya ingin membuat meme saja.

Pada akhirnya, memori RAM, prosesor, dan bahkan memori penyimpanan terkadang harus bekerja sangat keras untuk melakukan dan dilakukan berbagai optimisasi.


  • Masih seputar balon yang terus ditiup

Segala sesuatu memiliki batas, segala sesuatu memiliki limit. Setiap harinya, server Facebook dan Google terus mengalami hujaman data dari para penggunanya. Sehingga pada tadi malam, ketika saya membagikan foto dari instagram saya ke Facebook, terlihat memori yang sepertinya dikompres habis-habisan bahkan ukurannya hingga menjadi 83KB.

Lagi, saya melihat akun-akun Youtube lama yang menayangkan video-video, sudah tidak terlihat lagi berbagai balasan komentar meski masih tertera tulisan “Show Replies”. Begitu saya buka, ternyata tidak ada balasan sama sekali, dan itu bukan masalah koneksi internet atau loading yang sangat lama. Komentar-komentar balasan tersebut… sepertinya memang sudah hilang, yang tersisa hanya sedikit. Tidak percaya? Video pada link berikut adalah salah satu contohnya.

Sangat tidak menutup kemungkinan jika suatu saat kapasitas tersebut telah berada di ujung batas. Meski mungkin waktunya masih lama. Setiap pengembangan demi pengembangan terus dilakukan sebagai prevensi dari hal tersebut. Tetapi tetap saja, ukuran byte tidak akan berubah dan terus bertambah jutaan GB setiap harinya. Begitu juga dengan teknologi yang lain, ada masanya di mana mereka terus berkembang, maka daya dan resource akan terus terkuras.

Apakah kita pernah terpikirkan hal-hal yang dapat dikatakan menyeramkan seperti ini?

Beberapa ramalan ke depan ada yang mengatakan, bahwa masa-masa canggihnya teknologi ini akan menemui sebuah akhir. Sebongkah besar meteor dikabarkan akan menghantam Bumi hingga menghilangkan energi elektromagnetik Bumi yang selama ini berjasa menghidupkan setiap benda yang beraliran listrik. Elektromagnetik tersebut membuat benda-benda logam dapat menghantarkan listrik. Jika energi tersebut hilang, sudah dapat dipastikan kita semua akan kembali ke zaman batu.

Kendaraan bermotor pun membutuhkan listrik untuk hidup.


  • Kesimpulan

Yang dapat kita lakukan adalah prevensi atau pencegahan. Lakukan optimisasi-optimisasi yang paling mungkin dilakukan. Bertahanlah dengan memori yang kecil selagi memungkinkan dengan mulai menghapus file-file yang sudah tidak pernah lagi dibuka. Saya awalnya merasa sayang, tetapi saya sadar bahwa saya sudah benar-benar tidak membutuhkan dan tidak pernah membuka file tersebut lagi.

Kemudian bagi para developer website, pastikan hanya menggunakan library dan third party yang dirasa paling perlu saja. Tidak rindukah kita terhadap website-website yang diload dengan cepat dan praktis? Bahkan sekarang untuk menikmati situs berita saja, pemandangan kita sudah diganggu dengan iklan-iklan di lokasi yang tidak nyaman atau tiba-tiba popup.

Tinggalkan gadget memang tidak perlu. Sebaiknya tidak sering-sering memfoto hal-hal yang dirasa masih dapat untuk ditahan. Saya pun kadang menghapus foto-foto besar atau memperkecil ukurannya pada kamera DSLR saya. Bahkan, saya mematikan notifikasi pada gadget apapun jika memang dirasa tidak perlu.

Lampu, wifi, dan elektronik lainnya selalu saya matikan jika memang sudah waktunya dimatikan. Lampu taman pun jika memang tidak diperlukan, maka tidak ada gunanya dinyalakan. Hari ini kita sudah sulit melihat bintang-bintang karena terlalu banyak polusi cahaya yang dibombandir ke langit, membuat spot untuk berfoto dengan bintang sudah semakin sedikit.

Naiklah kendaraan umum, karena kuantitas kendaraan dan populasi manusia terus bertambah. Sekarang, jalanan yang lebar dan jalanan perkampungan pun sudah macet. Belum lagi ditambah polusi yang kian menutupi pemandangan di beberapa tempat yang seharusnya terlihat indah.

Sifat konsumtif perlu dimanajemen, karena optimisasi yang dilakukan dapat memperlambat teknologi sampai kepada limitnya.

Yuk, kurangi sampah digital…


—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Ada yang belum jelas? Mengapa tidak berkomentar? :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Untuk peningkatan pelayanan Anandastoon kepada para pembaca, apakah website anandastoon.com lambat untuk dimuat? (Pastikan bukan karena faktor koneksi internet yang mungkin sedang lambat)

    Mohon agar setiap saran, komplain, dan keluhan yang dialami oleh para pembaca anandastoon.com agar disampaikan ke anandastoon@gmail.com supaya dapat dijadikan pertimbangan untuk dijadikan sebagai peningkatan pelayanan situs anandastoon.com kepada para pembaca. Terima kasih. :)