Pernah dalam setahun, hingga 73% akhir pekan saya habis karena nongkrong di Warunk Upnormal.
Hah?! ๐ฑ Ngapain Aja Emangnya? ๐
Btw, konten situs blog Anandastoon ini banyak lahir dari tempat nongkrong ini.
Tahun 2017, saya dan rekan menemui tempat ini untuk pertama kalinya, saat mencari tempat makan siang setelah meeting klien yang lokasinya di daerah Sunter Utara.
Karena fasilitasnya lengkap, ada wifi, colokan, hingga musala, rekan saya menyarankan saya untuk mendatangi cabang Warunk Upnormal di dekat indekos saya buat nongkrong saat weekend seharian penuh sambil buka laptop.
Tambahnya lagi, "daripada di kosan Nanda, sumpek. Mending ke sini." ๐คฃ
Jadilah selama bertahun-tahun dari 2017 sampai setidaknya tahun 2024, akhir pekan saya kebanyakan habis di Warunk Upnormal.
Semenjak 2025, saya pindah kontrakan yang jauh lebih nyaman dan memiliki WiFi, sehingga saya sudah hampir tidak pernah lagi nongkrong di kafe kecuali hanya satu atau dua kali saja.
Saya iseng untuk menelusuri kembali sekaligus bernostalgia, mengenai kapan saja dan Warunk Upnormal cabang mana saja yang pernah saya kunjungi selama ini.
Untungnya, Google Maps punya data historikal agenda mingguan saya, setidaknya dari 2020.
Di bawah ini ada sedikit laporan dan linimasa memori (berattt bahasanya)ย yang saya catat waktu iseng sekaligus penasaran dari data historikal Google Maps tentang kunjungan saya ke berbagai cabang Warunk Upnormal, yang kebanyakannya di daerah Jakarta.
Oh iya, kebanyakannya saya sendirian nongkrong di kafe ini dari makan siang sampai mau tutup lagi. Setiap mau salat atau ke kamar kecil, laptopnya saya tinggal begitu aja. ๐
Oh iya, kalau bicara menu favorit saya di Warunk Upnormal, untuk minuman saya selalu beli Si Eko alias kependekan dari Es Kopi Susu. Saya pikir Eko beneran.
Untuk makanan, biasanya saya lebih suka yang musiman. Kayak, dulu mie goreng mala atau mie habanero suka saya pesen (meski saya kadang mencret abis itu wekekek). Untuk nasinya paling nasi gila sama nasi goreng.
Makanannya kebanyakannya kering, yang basah cuma mie kuah aja wakakak.
Peta Memori
Kelapa Gading
Sewaktu saya pertama kali pindah indekos ke Pulogadung, cabang ini yang pertama kali saya kunjungi.
Sayangnya, baru dua kali berkunjung ternyata cabangnya sudah tutup.
Cikini
Cabang yang ada di dalam hotel, jadi harus parkir pakai parkir hotel yang biayanya per jam wakakak. Padahal pakai Transjakarta rute 6H bisa.
Musalanya ada di luar, di basement.
Raden Saleh
Salah satu cabang favorit karena tempatnya bekas bangunan Belanda dan ada taman kecilnya di belakang.
AST Fair lahir di sini.
Wahid Hasyim
Saya nyebutnya sebagai cabang Sarinah karena deket banget sama Sarinah.
Lantai duanya tempat favorit saya karena meski smoking area, tapi tertutup dan banyak exhaust fan-nya. Meski, colokannya banyak yang zonk alias nggak ada listriknya. ๐
Fatmawati
Lantai duanya luas, sayang cuma boleh dipakai buat event aja. Tapi musalanya gede banget. Mungkin hampir setengahnya dari luas lantai satunya.
Kategori blog Anandastoon yang disingkat jadi ASTOON, desainnya lahir di sini.
Kemang
Saya kaget karena tiba-tiba cabang ini muncul dari antah-berantah, padahal setiap pulang dari kampus di Blok M, saya lewat sini. Mungkin pas lagi masa ekspansif-ekspansifnya.
Tempatnya besar, musalanya luas dan nyaman. Tapi sayang hanya bertahan setahun, dan tutup saat pandemi Covid-19.
Grogol
Cabang yang saya kunjungi secara dadakan setelah saya kaget tiba-tiba cabang Wahid Hasyim tutup.
Di cabang ini ada momen di mana saya belajar mengembangkan aplikasi mobile atau aplikasi untuk HP pakai Flutter.
Kemanggisan
Lokasinya pas banget di pertigaan antara Jalan Rawa Belong sama Jalan Kebon Jeruk.
Interiornya luas banget dan full beton (brutalisme) termasuk beberapa tempat duduknya, seinget saya. Saya pernah nonton serial Friends di Netflix sambil makan mie dobelnya waktu ke sini. Ternyata sudah jadi memori tersendiri.
Tanjung Duren
Hanya beberapa ratus meter di belakang Central Park. Parkirannya nyaman, tempatnya luas.
Pernah iseng pulangnya lewat jalur alternatif cuma karena pengen liat bekas kebakaran gedung Kejaksaan Agung. ๐
Taman Puring
Paling berkesan waktu banjir Jakarta tahun 2020, saya ke sini pakai Transjakarta rute 13D alias jalur langit dan melihat genangan sepanjang jalan dari atas.
Lantai duanya menyimpan banyak kenangan karena suka jadi tempat ketemuan saya dengan beberapa kenalan saya yang tinggal di Tangerang.
Ciledug CBD
Cabang pelarian sewaktu Jakarta masih PSBB dan melarang restoran pakai sistem makan di tempat (dine in) dan cuma bolehย take out.
Saya inget di sini saya mulai bikin sendiri tema atau tampilan baru untuk blog Anandastoon ini, hasilnya sudah kalian saksikan sekarang.
Cinere
Masih tempat pelarian lain yang saya kunjungi saat PSBB.
Cabang ini unik karena posisinya lumayan menjorok ke dalam dari jalan raya. Jadi bisingnya kendaraan nggak terlalu kedengeran dari sini.
Serpong
Cabang pelarian lain saat Jakarta masih PSBB, dan paling jauh. Niat betul saya waktu itu.
Saya lewatin juga Warunk Upnormal cabang Pamulang juga pas lewat sini.
Pasar Festival
Salah satu cabang yang jarang saya datengin kecuali pas makan malem saat saya lembur di kantor.
Alasan saya jarang mampir ke sini, karena nggak ada musala. Jadi saya harus keluar dulu cari di Plaza Festivalnya.
Rawamangun
Cabang paling deket indekos saya, tetapi saya lebih memilih cabang yang di Cempaka Putih sebelum tutup.
Merupakan Warunk Upnormal terakhir yang saya kunjungi sebelum saya pindah kosan.
Pejaten Ampera
Meski jauh banget dari indekos saya, cukup sering saya ke sini karena nyaman. Sempet disapa sama pegawai dari cabang Raden Saleh sama Cempaka Putih. Wah pada kenal ya? ๐
Banyak sih memorinya, sebagian game AST Fair lahir di sini.
Tebet
Cabang favorit karena mudah dijangkau dan langsung sebelahan dengan Stasiun Tebet. Bahkan sudah seperti rumah kosan kedua saya. ๐คฃ
Btw saya pernah nonton Train To Busan yang diputer di monitor dindingnya sambil nyeruput mie di sini. ๐
Bintara
Saya nggak tau, meski pas banget lokasinya pinggir Jalan Raya Kalimalang, tapi suasana perkampungan dari jendela tempat wudu di lantai tiga bikin saya inget daerah masa kecil saya.
Sebelum cabang ini tutup, saya betul-betul pernah sendirian jadi pelanggannya.
Jatimakmur
Hanya kemari saat ada temu janji dengan teman.
Nggak begitu spesial bagi saya. Mungkin karena aksesnya yang lewat Pondok Gede yang sempit dan macet hehe...
Jatiwaringin
Warunk Upnormal di perbatasan yang besar dan nyaman. Sekarang sudah jadi tempat biliar.
Cabang ini punya tempat spesial di benak saya, terutama pas saya lagi "down" parah sama keadaan. *aseekk
Sunter
Cabang paling pertama saya kunjungi bersama rekan saya seperti cerita di awal.
Nggak terlalu spesial bagi saya, tapi jadi cabang yang jadi perkenalan saya pertama kali dengan kafe ini.
Mangga Besar
Seberang stasiun Mangga Besar. Hanya sekali saja ke sini karena setelah itu cabangnya tutup.
Seingat saya, di sini saya coba menu nasi ikan tilapia hanya sekitar Rp20 ribu saja, dan rasanya cukup enak.
Cempaka Putih
Salah satu cabang paling deket kosan setelah Rawamangun. Meski bagi saya toilet dan musalanya nggak "sestandar" cabang lain karena lebih sempit, tapi saya ada perasaan homey di sini.
Sering nonton film Sonic The Hedgehog The Movie lewat monitor yang dipajang di dindingnya sambil bikin artikel blog.
Bintaro Jaya
Saya banyak menghabiskan waktu di sini setelah mampir ke rumah rekan di Bintaro Jaya.
Di sini saya pernah seharian buat game Aksariksa yang kini sudah ada di AST Fair.
Ya ampun, waktu udah berlalu. Lebih dari 7 tahun sebenernya waktu saya habis di tempat nongkrong itu seharian, dan kebanyakannya sendirian.
Sekarang masih sesekali, tapi tahun 2025 kemarin aja cuma mampir 2 kali aja dan semuanya ke cabang yang di Tebet. Sisanya udah pada tutup soalnya. ๐ซ
Setitk Galeri
