Sebelum menyinggung ADHD, saya mau menyinggung ini dulu:
Saya sudah cukup lelah dengan para introvert “jejadian” yang mengaku introvert padahal hanya insecure, atau sekadar baterai sosialnya yang memang sedang habis.
Terlebih mereka yang bilang, “Kayaknya makin ke sini gue makin introvert deh?”
Itu sama saja seperti bilang, “Kayaknya semakin ke sini pohon jambu gue berubah jadi pohon pisang deh?”
Banyak yang diagnosa mandiri padahal pengetahuan dasarnya saja mereka tidak punya, bahkan sebagiannya lagi peduli dengan kesehatan mental pun tidak.
Introvert dan ekstrovert itu bakat. Artinya sudah pakem menempel dalam DNA dan struktur tubuh seseorang saat baru lahir ke dunia.
Begitu juga dengan neurodivergent, mencakup ADHD dan autisme. Itu salah satu karakter spesial bawaan yang tidak bisa berubah begitu saja.
Mereka punya fungsinya masing-masing, sebab memang itulah fungsi bakat manusia.
Orang introvert cocok bekerja di belakang layar. Ekstrovert cocok bekerja yang sarat menjalin hubungan dengan manusia lain.
Itu semuanya bagian dari fungsionalitas yang harus diperhatikan oleh seluruh kalangan masyarakat kalau ingin menumbuhkan sumber daya manusia yang mumpuni.
Nah, kita balik lagi membahas ADHD.
Sekumpulan Bahaya yang Mengintai
Ada lho, orang yang mencap anak nakal dan kurang ajar sebagai ADHD. Alasannya karena “terlihat” ADHD padahal yang menuduh bukanlah ADHD sama sekali dan tidak punya pengetahuan tentang itu.
Akibatnya itu bisa jadi fitnah. Menuduh tanpa bukti adalah fitnah. Apa bedanya dengan menuduh orang kaya raya hasil dari pesugihan hanya lewat “kelihatan”nya?
Belum lagi ada orang yang serta-merta mengaku ADHD karena dia hanya murni malas.
Kemudian ada pula yang mengaku ADHD hanya karena dia sedang burnout atau lelah mental.
Diagnosis mandiri ini sangat berisiko tinggi karena tentu saja bisa mengaburkan orang yang benar-benar punya ciri-ciri itu.
Jadi jangan heran jika masyarakat kemudian memandang sebelah mata hingga mengucilkan orang yang benar-benar memiliki karakteristik tersebut.
“Ih, ADHD! Pasti males. Pasti nakal. Pasti suka telat.”
Lucunya, alih-alih mengobrol dengan seorang psikolog yang tarifnya hanya ratusan ribu untuk sekali pertemuan saja (tidak sampai satu juta), banyak orang yang lebih memilih cocoklogi sesuai seleranya sendiri.
Maksudnya, bisa saya mengerti bahwa brain mapping itu harganya mahal. Tetapi setidaknya hubungilah terlebih dahulu mereka yang lebih paham.
Sejujurnya di zaman dulu, praktik pengobatan primitif yang hanya berdasarkan tahayul justru menghasilkan lebih banyak korban jiwa sebelum adanya ilmu kedokteran modern.
Mencari Partner Sejati
Seorang musisi sejati bisa mengenali sesamanya saat mereka mengobrol masalah nada mendalam yang begitu sepele di mata orang lain.
Seorang gamer akan sangat berbahagia jika ia menemukan rekan mengobrol mengenai teknik tersembunyi dalam sebuah video game yang sering diabaikan para gamer lain yang hanya sekadar main kemudian sudah.
Maka benar, tidak ada yang lebih mengenali seseorang yang memiliki sebuah karakteristik selain orang yang juga memiliki karakteristik serupa.
Saya, sebagai seorang neurodivergent, lebih mengetahui sesama neurodivergent daripada kebanyakan orang.
Saya paham lelahnya, saya paham kewalahannya, saya paham bagaimana seorang neurodivergent mengatur waktunya, dan lain sebagainya.
Bahkan psikolog yang mendiagnosa saya sebagai seorang neurodivergent pun belum sampai kepada tahap memahami watak saya yang unik beserta gundah gulananya.
Wajar, karena beliau memang bukan seorang neurodivergent. Jadi beliau tidak pernah merasakan repotnya mengatur fokus, lelahnya masking, dalamnya rasa sepi karena merasa berbeda, hingga burnout karena seringnya respon fight or flight.
Tidak masalah sama sekali, bahkan saya yang berterima kasih kepada beliau karena setidaknya beliau langsung memahami bahwa saya adalah seorang neurodivergent.
Seluruh teori tentang neurodivergent yang telah beliau pelajari, semuanya ada pada diri saya.
Hyper-justify, hyper-empathy, kental dengan dunia sendiri, fokus kepada pemecahan masalah (problem solving) untuk sesuatu yang di mata beliau sepele, masih banyak lagi.
Semuanya itu berlangsung selama dua jam, padahal satu sesi hanya bisa satu setengah jam saja, dan bahkan saya mendapatkan diskon Rp50.000.
Jika Kamu ADHD Betulan
Setidaknya ada salah satu dari tiga hal yang bisa membuat seseorang bisa dikatakan ADHD, autisme, atau neurodivergent.
Saya urutkan dari yang paling kuat dan paling valid terlebih dahulu:
- Brain mapping
- Diagnosis psikolog
- Konfirmasi dari neurodivergent lain
Nomor tiga itu paling lemah, namun setidaknya seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa tidak ada yang lebih mengenal seorang neurodivergent daripada neurodivergent itu sendiri.
Dan jika kamu benar-benar seorang neurodivergent, selamat datang! Ambillah secangkir minuman hangat favoritmu dan kemarilah, kita berkumpul di lingkaran kecil kita ini…